<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223</id><updated>2011-04-22T02:57:01.355+07:00</updated><category term='MDMTK'/><category term='Penyimpangan IM'/><category term='Pemikiran Sayyid Quthb'/><title type='text'>Al-Ikhwanul Al-Muslimun</title><subtitle type='html'>Dakwah Ikhwaniyyah Memang Bukanlah Dakwah Bijak</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>33</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-2553781116581024463</id><published>2008-06-23T22:02:00.002+07:00</published><updated>2008-06-24T17:48:03.547+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Sayyid Quthb'/><title type='text'>Membantah Aqidah Sayyid Quthb tentang Kenikmatan Akhirat dalam Bukunya Azh-Zhilal</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Nampak di buku ini kalau sebagian aqidahnya telah berubah, namun disayangkan bahwa dia berpindah kepada aqidah rusak lainnya, yakni aqidah sufi ekstrem yang disifati oleh para ulama sebagai aqidah zindiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Quthb berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Azh-Zhilal&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; 6/3292:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;((Sesungguhnya gambaran-gambaran inderawi tentang kenikmatan dan adzab ini tersebut dalam Al-Qur'an pada beberapa tempat, kadang disebutkan bersamanya gambaran maknawi dan kadang pula hanya sendiri. Sebagaimana gambaran-gambaran tentang kenikmatan dan adzab yang terlepas dari inderawi juga disebutkan dalam beberapa tempat. Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; yang telah menciptakan manusia, Dialah yang paling berilmu dengan ciptaan-Nya itu, paling mengetahui apa-apa yang dapat memberikan pengaruh terhadap qalbu mereka, pendidikan terbaik untuk mereka, lalu yang paling tepat untuk kenikmatan dan adzab-Nya.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Manusia berlainan sifat, beragam jiwa, dan tabiat yang berbeda-beda. Semuanya bertemu dalam fitrah kemanusiaan, lalu berbeda dan beragam sesuai dengan masing-masing manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; merinci macam-macam kenikmatan dan adzab, begitu juga dengan beragam keindahan dan penderitaan, sesuai dengan ilmu-Nya yang mutlak terhadap hamba-hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada manusia yang cocok di-&lt;em&gt;tarbiyah&lt;/em&gt; (dididik), dibangkitkan geloranya untuk beramal, tepat untuk mendapatkan balasan, serta jiwa mereka pantas memperoleh sungai-sungai air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai khamr yang lezat bagi peminumnya, sungai-sungai madu yang disaring, berbagai macam buah, beserta maghfirah dari Rabb mereka dengan Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; memberikannya jaminan selamat dari api Neraka dan kenikmatan Surga-Surga……..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merekalah orang-orang yang tepat untuk di-&lt;em&gt;tarbiyah&lt;/em&gt; dan layak untuk dibalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara manusia pula, ada yang beribadah kepada-Nya sebab kesyukuran akan segala nikmat-Nya yang tidak sanggup dia hitung. Atau mencintai-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan amalan ketaatan layaknya pendekatan seorang pecinta kepada kekasihnya. Atau dia malu kalau Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; melihatnya dalam suatu keadaan yang tidak Dia sukai, tanpa melihat apa yang ada di belakangnya berupa surga atau neraka, kenikmatan atau adzab sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merekalah orang-orang yang tepat untuk mendapatkan &lt;em&gt;tarbiyah&lt;/em&gt; dan balasan, Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; berflrman pada mereka:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Maryam : 96)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Atau mereka diberitahukan bahwa mereka akan berada:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Maha Berkuasa."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Al-Qamar : 55)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Telah diriwayatkan tentang Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bahwa Beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dahulu shalat sehingga bengkak kedua kakinya, maka 'Aisyah &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anha&lt;/em&gt; berkata: &lt;em&gt;"Mengapa engkau melakukan hal ini ya Rasulullah, padahal telah diampuni semua dosa-dosamu baik yang telah lalu maupun yang akan datang?"&lt;/em&gt; Beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; menjawab: &lt;em&gt;"Apakah aku tidak suka untuk menjadi seorang hamba yang bersyukur?!"&lt;/em&gt; (HR. Al-Bukhari 4837)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabi'ah Al-Adawiyyah berkata: &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;"Apakah kalau tidak ada surga dan neraka maka tidak ada seorang pun yang mau menyembah-Nya dan tidak seorang pun yang mau khusyu' kepada-Nya ?!"&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dia menjawab Sufyan Ats-Tsauri yang bertanya kepadanya: &lt;em&gt;"Apakah hakikat keimananmu?"&lt;/em&gt;, dia menjawab, &lt;em&gt;"Saya tidaklah menyembah-Nya sebab takut pada neraka-Nya dan tidak pula sebab senang pada surga-Nya sehingga saya menjadi layaknya pekerja yang buruk, namun saya menyembah-Nya karena rindu kepada-Nya."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dia jelaskan jenis ini dan beragam jenis itu dari jiwa dan tabi'at…… Semuanya engkau mendapatkannya -pada nikmat, adzab, dan beragam balasan yang dijadikan oleh Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt;- apa-apa yang cocok untuk memberikan &lt;em&gt;tarbiyah&lt;/em&gt; di muka bumi serta balasan yang pantas di sisi Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil kesimpulan umum bahwa segala gambaran nikmat dan adzab dapat melembutkan dan menyembuhkan setiap kali pendengar menanjak naik ke pendakian &lt;em&gt;tarbiyah&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;tahzib &lt;/em&gt;(pembersihan jiwa) sepanjang turunnya Al-Qur'an, sesuai dengan jenis manusia yang diajak berbicara dan berbagai keadaan yang ayat-ayat telah mengarahkan pembicaraan kepadanya. Yaitu keadaan dan permisalan yang senantiasa berulang dalam kemanusiaan di setiap masa.))&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saya katakan&lt;/em&gt;: Ini adalah kebohongan dan kalimat kebatilan, Rasul yang paling afdlalpun &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; takut pada adzab Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; di negeri akhirat. Inilah Rasulullah Muhammad&lt;em&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; yang bersabda (berdasarkan perintah Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt;):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Katakanlah: 'Sesungguhnya aku takut akan adzab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku'."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Az-Zumar : 13 dan Al-An'am : 15)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersabda Rasul termulia Muhammad &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Yunus : 15)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga Beliau bersabda: &lt;em&gt;"Adapun, demi Allah, maka sesungguhnya akulah yang paling takut dan bertaqwa pada Allah daripada kalian."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR. Al-Bukhari 5063)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Khalilullah Ibrahim &lt;em&gt;‘alahis sallam&lt;/em&gt; berkata:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Asy-Syu'araa': 87)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Serta seluruh para nabi, mereka menyembah Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; dengan perasaan harap dan takut, Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Al-Anbiyaa': 90)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; berfirman mengabarkan ucapan Khalil-Nya Ibrahim &lt;em&gt;‘alahis sallam&lt;/em&gt;:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Asy-Syu'araa': 85)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dahulu Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; tengah bersabda tatkala para shahabat tengah menggali &lt;em&gt;khandaq&lt;/em&gt; (parit): &lt;em&gt;"Ya Allah, sesungguhnya kehidupan adalah kehidupan akhirat, maka berilah maghfirah untuk Anshar dan Muhajirin",&lt;/em&gt; maka mereka berkata menyambung Beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Kamilah orang-orang yang telah berbai'at kepada Muhammad untuk berjihad selama kami masih hidup."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR. Al-Bukhari: 4100)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; berdiri tegak di medan jihad mempidatokan kalimatnya: &lt;em&gt;"Ketahuilah bahwa sesungguhnya surga itu di bawah bayangan pedang".&lt;/em&gt; (HR. Al-Bukhari: 2818). Sementara di antara para shahabat ada Abu Bakar, 'Umar, dan dan para tokoh shahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(At-Taubah : 111)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; berfirman mengabarkan ucapan istri Fir'aun:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Ta Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam Surga."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(At-Tahrim : 11)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Serta Jibril &lt;em&gt;‘alaihis sallam&lt;/em&gt; berkata kepada Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;: &lt;em&gt;"Gembirakanlah Khadijah dengan satu rumah dari mutiara cekung tiada kegaduhan padanya dan tidak pula ada keletihan".&lt;/em&gt; Sedangkan Khadijah &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anha&lt;/em&gt; lebih afdlal dari Rabi'ah, bahkan lebih afdlal dari semua shahabat wanita apalagi hanya selainnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa sering Allah membangkitkan kerinduan para mukmin, utamanya terhadap surga, semisal firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Ash-Shaff : 10-12)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di sini Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; telah menyeru mereka menuju jihad untuk selamat dari neraka dan sukses mendapatkan surga, maka mereka pun dengan ringan mempersembahkan jiwa mereka demi untuk selamat dari neraka dan menang meraih Surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; mengabarkan tentang para tokoh kaum mukmin:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdosa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(As-Sajdah: 16-17)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah keadaan para nabi dan para mukmin utama dari kalangan shahabat, shiddiq, syuhada', dan ulama. Merekalah manusia-manusia yang paling besar kesyukurannya kepada Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt;, paling malu dari-Nya, mencintai-Nya, serta banyak di antara mereka adalah kekasih Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; yang memiliki puncak derajat cinta. Maka perbuatan Sayyid Quthb adalah sebuah klasifikasi manusia yang paling batil dan bagian dari khurafat kaum sufi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah seorang muslim akan memilih untuk mengambil Al-Qur'an, As-Sunnah, uswah para nabi, dan teladan para pengikut mereka yang sejati ataukah dia lebih memilih ajaran &lt;em&gt;zindiq&lt;/em&gt; ini yang disandarkan secara bohong terhadap Rabi'ah dan Sufyan Ats-Tsauri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi kemestian bagi seorang hamba untuk mempunyai kecintaan kepada Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt;, takut akan adzab-Nya, serta berantusias besar terhadap pahala-Nya. Para ulama menetapkan bahwa siapa yang menyembah Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; semata dengan perasaan &lt;em&gt;khauf&lt;/em&gt; (takut) saja maka dia adalah &lt;em&gt;khariji&lt;/em&gt; (khawarij), sedangkan barangsiapa yang menyembah-Nya hanya dengan &lt;em&gt;raja' &lt;/em&gt;(harap) tanpa disertai rasa takut maka dia orang &lt;em&gt;zindiq&lt;/em&gt;, akhirnya siapa saja yang beribadah kepada-Nya dengan &lt;em&gt;raja'&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;khauf&lt;/em&gt; maka dialah mukmin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dari mana Sayyid Quthb mengambil klasifikasi batil ini lalu dengannya dia mengkelas-kelaskan manusia?? Kalau para nabi menyembah Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; dengan takut dari adzab-Nya dan berantusias pada surga-Nya, maka apakah kelas-kelas lain yang masuk di dalamnya para sufi lebih afdlal dari para nabi &lt;em&gt;‘alahimus sallam&lt;/em&gt;?? Kita berlindung kepada Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; dari kejahilan dan kesesatan serta kita berlepas diri kepada Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; dari aqidah yang membinasakan ini. Para thalibul 'ilmi, janganlah lupa jika aqidah ini tegak di atas faham melebihkan para wali di atas para nabi dan rasul, juga dari situlah berangkat dukun besar para sufi ibnu 'Arabi dalam ucapannya: &lt;em&gt;"Tingkatan Nubuwah di alam Barzakh sedikit di atas rasul namun di bawah wali."&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang sempat saya paparkan dan diskusikan atas ajaran-ajaran pokok laki-laki ini serta apa-apa yang dia bangun di atasnya berupa: perkataan, sikap, teori, serta perilaku yang mengotori Islam dan Al-Qur'an. Sementara saya belum sanggup untuk menyebutkan keseluruhan yang harus dipaparkan dan didebatkan, namun saya baru sanggup untuk meletakkan kunci-kunci di tangan siapa yang berkehendak untuk menolong Islam dan Al-Qur'an, serta membelanya dari tindakan aniaya laki-laki ini dan semisalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalawat dan salam bagi Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para shahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari: &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Nadzaraat fii Kitaabi At-Tashwiir Al-Fanniy fil Qur'aan Al-Kariim li Sayyid Quthb&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Penulis: &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhaly&lt;/strong&gt;; Edisi Indonesia: &lt;strong&gt;Bantahan Terhadap Kitab At-Tashwirul Fanniy Fil Qur'an karya Sayyid Quthb&lt;/strong&gt;; Hal: 115-124; Penerjemah: Muhammad Fuad, Lc; Cetakan: Pertama, Maret 2008; Penerbit: Pustaka Ar Rayyan]&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-2553781116581024463?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/2553781116581024463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=2553781116581024463' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/2553781116581024463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/2553781116581024463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/06/membantah-aqidah-sayyid-quthb-tentang.html' title='Membantah Aqidah Sayyid Quthb tentang Kenikmatan Akhirat dalam Bukunya Azh-Zhilal'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-6377994499577244435</id><published>2008-06-23T21:55:00.002+07:00</published><updated>2008-06-23T22:01:42.842+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Sayyid Quthb'/><title type='text'>Membantah Buku Masyahidul Qiyamah Fil Qur'an yang Berjalan Berdasarkan Kaidah Sayyid Quthb dalam At-Tashwirul Fanniy</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Dia katakan dalam menafsirkan firman Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; di surat Ar-Rahman dari ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Ar-Rahman : 46)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhir surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melakukan studi banding antara dua surga dengan segala kenikmatannya, kenikmatan kota dan kenikmatan desa.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dia katakan:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;((Keduanya adalah dua derajat kenikmatan. Yang pertama tampil dalam bentuk kemewahan kota, sedangkan yang kedua tampil dalam gaya kemewahan pedalaman. Engkau melihat semua bentuk dan gambar ini semata sebagai contoh bagi kenikmatan untuk mendekatkannya kepada indera dan menggambarkannya dalam khayalan. Saya tidak sanggup untuk memastikan apapun, saya tidak mempunyai hujah yang jelas)).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: dia tidak bisa menentukan adanya kenikmatan inderawi jasmani dari dua surga yang padanya ada banyak mata air yang mengalir, pepohonan, buah-buahan, dan bidadari yang laksana permata Ya'qut dan Marjan, permadani yang bagian dalamnya sutera, rumah, dan bantal-bantal hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak sanggup untuk memastikan bahwa semua hakikat ini &lt;em&gt;tsabit&lt;/em&gt; (benar adanya) yang dapat dlsaksikan oleh mata kepala, juga tidak bisa mengatakan bahwa kenikmatan yang ada di dalamnya bersifat inderawi; makan, minum, bertelekan, serta berhubungan dengan bidadari yang memiliki puncak kecantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak mampu untuk memutuskan adanya sesuatu dari semua ini secara wujud, sebab ia hanyalah contoh bagi kenikmatan yang mendekatkannya kepada indera dan menggambarkannya dalam khayalan. Dia tidak mempunyai hujah yang jelas bahwasanya semua itu hakikat yang tersentuh dan disaksikan serta kenikmatannya kenikmatan jasadi. Lihat bukunya&lt;strong&gt;&lt;em&gt; Al-Masyahid&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; halaman 216.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia katakan dalam memberikan penafsiran terhadap firman Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; di surat Al-Muddatstsir:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka saling bertanya tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (Neraka) ?'."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Al-Muddatstsir : 38-42)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;((Kenikmatan di sini bukan sekedar keselamatan dan keterlepasan saja. Akan tetapi juga merasakannya dan teristimewakan dari kaum jahat, ia sebuah kenikmatan jiwa yang maknawi yang dilukiskan dalam pemandangan dialog antara dia dengan para pelaku kejahatan:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (Neraka)?"&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Al-Muddatstsir : 42) ))&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak mengimani kenikmatan materi, inderawi, dan jasmani di surga, semuanya itu dalam aqidahnya hanyalah kenikmatan jiwa, ruh, dan maknawi. Inilah aqidah faham kebathinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari: &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Nadzaraat fii Kitaabi At-Tashwiir Al-Fanniy fil Qur'aan Al-Kariim li Sayyid Quthb&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Penulis: &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhaly&lt;/strong&gt;; Edisi Indonesia: &lt;strong&gt;Bantahan Terhadap Kitab At-Tashwirul Fanniy Fil Qur'an karya Sayyid Quthb&lt;/strong&gt;; Hal: 112-114; Penerjemah: Muhammad Fuad, Lc; Cetakan: Pertama, Maret 2008; Penerbit: Pustaka Ar Rayyan]&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-6377994499577244435?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/6377994499577244435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=6377994499577244435' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/6377994499577244435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/6377994499577244435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/06/membantah-buku-masyahidul-qiyamah-fil.html' title='Membantah Buku Masyahidul Qiyamah Fil Qur&apos;an yang Berjalan Berdasarkan Kaidah Sayyid Quthb dalam At-Tashwirul Fanniy'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-7458590411052385310</id><published>2008-06-23T21:44:00.002+07:00</published><updated>2008-06-23T21:53:57.204+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Sayyid Quthb'/><title type='text'>Orang-orang Kafir Tidaklah Menyebutkan Kata ‘Sihir’ untuk Al-Qur'an dan Rasulullah Melainkan untuk Celaan dan Hinaan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Shaad, demi Al-Qur'an yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: 'Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta'. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): "Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (meng-esakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan, mengapa Al-Qur'an itu diturunkan kepadanya di antara kita?" Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Al-Qur'an-Ku, dan sebenarnya mereka belum merasakan adzab-Ku."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Shaad : 1-8)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ini bentuk perlawanan dalam memerangi Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dan Al-Qur'anul Karim. Mereka berada dalam kesombongan, permusuhan sengit, kekufuran, dan pembangkangan. Tidaklah mereka inginkan dalam menyebutkan kata sihir dan dusta terhadap Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; melainkan untuk menghinakan Beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dan menghalangi manusia dari mengikutinya. Sedangkan sumber peperangan ini ialah pendustaan dan keraguan akan apa yang diturunkan kepada Beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya). Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al-Qur'an pun yang baru (diturunkan) dan Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang dzalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: 'Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (juga) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya?' Berkatalah Muhammad (kepada mereka): 'Tuhanku mengetahui semua perkataan di langit dan di bumi dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui'. Bahkan mereka berkata (pula): '(Al-Qur'an itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mu’jizat, sebagaimana rasul-rasul yang telah lalu diutus'."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Al-Anbiyaa': 1-5)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mereka berada dalam kedunguan dan berpaling, orang yang hatinya dipenuhi oleh kelalaian. Mereka dalam mendengarkan Al-Qur'an hanya bermain-main, serta ahli makar, tipu daya, dan zhalim dalam memerangi Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dan Al-Qur'an. Mereka tak kenal lelah dalam memburukkan Rasulullah dan Al- Qur'anul Karim, tidak pula dalam merintangi Islam. Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dalam pandangan mereka adalah manusia, maka mustahil kalau Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; mengutusnya, inilah keadaannya. Adapun apa yang diturunkan kepadanya adalah sihir dan mimpi kacau yang dia buat-buat. Bahkan dia seorang penyair, sedangkan Al-Qur'an itu syair dan sihir. Bagi mereka inilah puncak pemburukan, pembusukan, dan pendustaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Dan tak ada suatu ayatpun dari ayat-ayat Tuhan sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya (mendustakannya). Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang haq (Al-Qur'an) tatkala sampai kepada mereka. Maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Al-An'aam : 4-5)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; menjawab mereka dengan ancaman pembinasaan sebab pendustaan dan pemburukan mereka. Lalu Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; berfirman dalam susunan kalimat ini menerangkan demikian kuatnya mereka dalam pembangkangan, aniaya, dan mendustakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang yang kafir itu berkata: 'Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata’. Dan mereka berkata: 'Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang Malaikat?' dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikitpun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-Iaki), Kamipun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu. Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (adzab) olok-olokan mereka."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Al-An'am : 7-10)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka dalam memerangi Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dan kebenaran telah menggunakan senjata yang paling diandalkan. Maka di sisi mereka tidak ada yang paling buruk daripada 'sihir', akhirnya Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; memburukkan mereka. Mereka tidak sanggup memalingkan orang- orang selain dengan kata ini diikuti dengan olokan dan ejekan untuk menambah pengkaburan, serta mereka mempertimbangkan sangat dalam apa yang dapat menghalangi manusia dari beriman pada Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dan Al-Qur'an, sebagaimana keadaan para musuh rasul-rasul sebelum mereka, bahkan kaum jahiliyah yang ini lebih keras dalam memberikan perlawanan dan memerangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Maka tetaplah memberi penngatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan: "Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya". Katakanlah: "Tunggulah, maka sesungguhnya akupun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu". Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas? Ataukah mereka mengatakan: "Dia (Muhammad) membuat-buatnya". Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Qur'an itu jika mereka orang-orang yang benar."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Ath-Thuur : 29-34)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di sini mereka menyifati Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dan Al-Qur'an dengan sifat paling buruk yang sudah dikenal di kalangan mereka yang menandakan demikian kuatnya pengkaburan dan upaya mereka membuat manusia lari menjauh. Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dikatakan ahli tenung dan orang gila, sedangkan ajarannya mantera dan kegilaan. Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; penyair yang membuat-buat perkataan terhadap Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt;, sedangkan ajarannya kepalsuan dan kedustaan. Sumber dan akar dari kesemuanya itu adalah kekafiran dan kelaliman, mereka tidak memaksudkan dengannya selain menikam dan mengkaburkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ternyata demikian realitas kuffar yang mendustakan dan begitu maksud tujuan hina mereka, tentunya tidak boleh mengatakan Al-Qur'an itu sihir, sebagaimana tidak boleh menyebutnya syair, tidak juga mantera perdukunan. Sebagaimana tidak boleh mengatakan Rasulullah sebagai seorang penyihir, penyair, dukun, pendusta, gila,….. Jadi pengharaman dan larangan menggelari sihir Al-Qur'an dan Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; sama dengan keharaman menyebutkan dusta, dukun, syair, gila, dan segala macam celaan kuffar terhadap Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dan risalahnya untuk mendustakan, mengolok, mengejek, memburukkan, dan membuat lari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa mengatakan bahwa orang-orang kafir menyatakan Al-Qur'an dan Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; adalah sihir bukan dengan semua maksud yang dinyatakan oleh Al-Qur'an dan bukan sebab motivasi yang ditegaskan oleh Al-Qur'an, maka dia tidak lain dari seorang yang berbicara sembrono, asal ngomong, dan menabrak Al-Qur'anul Karim yang diturunkan dari Yang Maha Berilmu dan Maha Tahu dengan ucapan-ucapan kuffar yang mendustakan itu:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Katakanlah: "Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah?!"&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Al-Baqarah : 140)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;[Dari: &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Nadzaraat fii Kitaabi At-Tashwiir Al-Fanniy fil Qur'aan Al-Kariim li Sayyid Quthb&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Penulis: &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhaly&lt;/strong&gt;; Edisi Indonesia: &lt;strong&gt;Bantahan Terhadap Kitab At-Tashwirul Fanniy Fil Qur'an karya Sayyid Quthb&lt;/strong&gt;; Hal: 104-111; Penerjemah: Muhammad Fuad, Lc; Cetakan: Pertama, Maret 2008; Penerbit: Pustaka Ar Rayyan]&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-7458590411052385310?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/7458590411052385310/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=7458590411052385310' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/7458590411052385310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/7458590411052385310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/06/orang-orang-kafir-tidaklah-menyebutkan.html' title='Orang-orang Kafir Tidaklah Menyebutkan Kata ‘Sihir’ untuk Al-Qur&apos;an dan Rasulullah Melainkan untuk Celaan dan Hinaan'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-3583668464680399593</id><published>2008-06-23T21:01:00.002+07:00</published><updated>2008-06-23T21:42:45.349+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Sayyid Quthb'/><title type='text'>Membantah Sayyid Yang Menamakan Al-Qur'an dengan 'Sihir' Berulang-ulang Kali</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kaum kuffar musyrikin telah menyifati Al-Qur'an yang agung dan Rasulullah yang mulia &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dengan banyak gelar yang buruk, di antaranya; sihir, dukun, dusta, palsu, dan berbagai tuduhan busuk lainnya untuk menghinakan Al-Qur'an dan Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; sehingga manusia lari dari keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah membantah mereka dengan bantahan yang sangat kuat sehingga semua pemburukan dan pemalsuan ini dapat dienyahkan untuk membela nash-nash Kitab-Nya dan Rasul-Nya yang jujur terpercaya, seorang utusan sebenarnya dari Rabb sekalian alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau realitasnya seperti ini, maka tidak boleh sama sekali menyifati Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dengan gelar 'penyihir', sebagaimana tidak boleh menyifatinya sebagai dukun dan pendusta. Demikian juga dengan Al-Qur'an tidak boleh disebut 'sihir' sebagaimana tidak boleh menyebutnya mantera dukun, kedustaan, atau cerita fiksi. Semuanya gelar buruk yang dibuat-buat oleh para pendusta yang menolak Al-Qur'an yang agung dan Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; yang jujur terpercaya.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tidak boleh menyifatinya sebagai syair, mantera dukun, cerita, serta semua lafazh buruk yang dipergunakan kuffar dalam memburukkan Al-Qur'an dan mengaburkan kewibawaan Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; untuk menghalangi manusia dari beriman dan mengikuti Beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Sayyid Quthb justru menyebutkan lafazh tercela lagi hina di pandangan seluruh umat manusia ini berulang-ulang. Saya akan menyebutkan sebagiannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] - Halaman 8: &lt;strong&gt;"Akan tetapi sihir dan daya tariknya senantiasa ada".&lt;/strong&gt; Yakni gambar-gambar yang dia khayalkan pada Al-Qur'an.&lt;br /&gt;[2] - Halaman 11, dia beri judul &lt;strong&gt;'Sihir Al-Qur'an'&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;[3,4] - &lt;strong&gt;'Sihir Al-Qur'an terhadap bangsa Arab'&lt;/strong&gt;. Dia katakan tentang kisah 'Umar &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt; dan Al-Walid bin Al-Mughirah: &lt;strong&gt;"Keduanya dapat menemukan sihir ini."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;[5] - Halaman 11: &lt;strong&gt;"Kemampuan sihir yang menaklukkan ini, di mana kaum mukmin dan kuffar sama-sama mengakuinya."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;[6] - Halaman 13: &lt;strong&gt;"Hanya saja semua sebab ini tidaklah menafikan bahwa ia adalah sebab sihir Al-Qur'an."&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;[7,8,9,10] - Halaman 14 &lt;strong&gt;'Sihir yang dipelajari': "Dia menyebutkan sebab imannya pada sihir ini. Ini sungguh menunjukkan sihir Al-Qur'an terhadap bangsa 'Arab, di sinilah bertemu kisah kufur dan kisah iman dalam pengakuan terhadap sihir Al-Qur'an. Tidaklah lebih kurang dari kedua kisah tersebut dalam penunjukan terhadap sihir ini, apa yang diceritakan oleh Al-Qur'an…… dari sebagian kuffar: Janganlah kalian mendengarkan Al-Qur'an ini!"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;[11] - Halaman 17: Tema &lt;strong&gt;'Sumber sihir ini'&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;[12] - &lt;strong&gt;"Bagaimanakah bersepakat mengakui sihirnya baik kaum mukmin maupun kuffar". &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Saya katakan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: Mustahil kaum mukmin menyetujui bahwa ia sihir, akan tetapi mereka hanya beriman bahwasanya ia adalah wahyu dari sisi Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13,14] - Halaman 18: &lt;strong&gt;"Wajib atas kita untuk mencari mata air sihir ini di dalam Al-Qur'an".&lt;/strong&gt; Dan: &lt;strong&gt;"Walau begitu namun dia mengandung sumber mata air ini yang dirasakan oleh bangsa 'Arab lalu mereka berkata: &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Ini hanyalah sihir yang dipelajari."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saya katakan&lt;/em&gt;: Telah diketahui dengan baik bahwa mereka tidaklah mengucapkannya dalam rangka memuji bahkan mereka mengatakannya untuk mencela yang motivasinya adalah dengki, sombong, dan permusuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15,16,17] - Halaman 19: &lt;strong&gt;"Hendaklah kita memerhatikan surat-surat ini sebagai contoh, agar kita dapat melihat &lt;em&gt;sihir&lt;/em&gt; apa yang terkandung di dalamnya yang membuat Al-Walid terguncang dengannya". "Di manakah &lt;em&gt;sihir&lt;/em&gt; yang diomongkan oleh Walid bin Al-Mughirah[15] setelah berpikir dan meraba-raba". "Maka mesti &lt;em&gt;sihir &lt;/em&gt;yang dia maksudkan itu tersembunyi di sisi selain bagian &lt;em&gt;tasyri'&lt;/em&gt; (penetapan syari'at)".&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saya katakan&lt;/em&gt;: Telah diketahui jelas bahwa Al-Walid tidaklah mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Ini hanyalah sihir yang dipelajari.&lt;/em&gt;" &lt;strong&gt;(Al-Muddatstsir : 24)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melainkan untuk menjelekkan, memburukkan, dan menjauhkan manusia darinya, makanya Allah mencelanya dengan sangat keras dan mengancamnya bahwa Dia akan memasukkannya ke dalam Neraka Saqar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[18] - Halaman 24: &lt;strong&gt;"Marilah kita memperhatikan surat-surat ini secara global agar kita dapat melihat &lt;em&gt;sihir&lt;/em&gt; apakah yang ada padanya yang telah memengaruhi orang-orang terdahulu yang pertama mengikuti Muhammad, sampai sebelum Islam berjaya dengan 'Umar."&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;[19,20, 21,22] - Dia katakan tentang bangsa 'Arab yang hidup di masa turunnya Al-Qur'an, halaman 25: &lt;strong&gt;"Sesungguhnya mereka sesekali menamakannya syair dan sesekali dengan sihir". Lalu dia katakan: "Orang-orang yang tersihir telah menyambutnya dengan penerimaan, baik mereka yang beriman atau yang kafir. Mereka yang ini disihir maka menyambut dengan iman, sedangkan mereka yang itu disihir maka lari. Lalu kedua kelompok berbicara tentang apa yang telah &lt;em&gt;mengenai &lt;/em&gt;mereka dari sihir itu, ternyata ia adalah pembicaraan yang gelap dan tidak menampakkan bagimu lebih dari sekedar gambaran seorang yang tersihir sedang terengah-engah tanpa mengetahui di mana letak kekuatan sihirnya." &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah bagaimana Sayyid memakai kata &lt;em&gt;‘kena’&lt;/em&gt; yang dihubungkan dengan orang yang terkena sihir dan jin. Bisa jadi engkau akan mengatakan: Sayyid hanyalah memaksudkan pengaruh Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saya tegaskan&lt;/em&gt;: "Ya, tapi apakah dia tidak bisa menggunakan kata ‘pengaruh', 'kekuatan pengaruh', dan semisalnya?! Jelas ia bisa, hanya saja Sayyid telah menyatakan jika dirinya memang tidak tunduk dalam pekerjaannya ini akan suatu aqidah keagamaan yang bisa membelenggu pikirannya dari pemahaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dikatakannya di halaman 25: &lt;strong&gt;"Sesungguhnya kita benar-benar sanggup untuk meninggalkan sementara kesucian Al-Qur'an yang bersifat keagamaan."&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Inilah rahasia menyebutkan sihir untuk Al-Qur'an, serta penyebutan panggung sandiwara, film, musik dan lain sebagainya yang tidak pantas untuk diberikan kepada kalimat seorang manusia yang menghargai dirinya dan kalimatnya, lalu bagaimanakah akan diberikan untuk kalimat para nabi, lantas bagaimana lagi jika dilekatkan pada kalimat Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt;??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Quthb berpandangan dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;At-Tashwir&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; halaman 25 bahwa dia telah mendatangkan apa yang tidak disanggupi oleh para generasi awal dalam memahami Al-Qur'an, termasuk mereka semua itu: para shahabat, para ahli tafsir, para ahli &lt;em&gt;balaghah&lt;/em&gt; (keindahan bahasa), dan lain semuanya. Diapun berkata 'Bagaimana memahami Al-Qur'an':&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;((Kita tidak sanggup mendapatkan dalam pembicaraan bangsa 'Arab yang hidup di masa turunnya Al-Qur'an gambaran yang tertentu akan keindahan seni ini yang mereka kadang menamakannya sya'ir dan kadang pula sihir. Walaupun kita sanggup untuk melihat sepintas gambaran pengaruh yang &lt;em&gt;mengenai&lt;/em&gt; mereka. la telah disambut oleh semua yang tersihir, sama halnya mereka yang beriman atau kuffar. Yang satunya disihir lalu merekapun datang dengan iman, sedangkan yang lainnya disihir maka mereka lari. Kemudian masing-masing membicarakan apa yang telah mengenai dirinya dari sihir itu, ternyata ia adalah pembicaraan yang gelap dan tidak menampakkan bagimu lebih dari sekedar gambaran seorang yang tersihir sedang terengah-engah tanpa mengetahuil[16] di mana letak kekuatan sihirnya pada puitisasi menakjubkan yang mereka dengarkan, walaupun mereka benar-benar merasakan keindahan puitisasi itu di kedalaman hatinya berupa pengaruh aneh tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah 'Umar bin Al-Khaththab &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt; yang berkata pada suatu riwayat: "Sewaktu saya mendengarkan Al-Qur'an maka menjadi lembutlah hatiku, saya menangis, dan dia membawaku masuk Islam" Ada yang meriwayatkan tentangnya bahwa dia berkata: "Alangkah indah dan mulianya kalimat ini" Lalu Al-Walid bin Al-Mughirah yang berkata sementara dia seorang yang kafir pada Muhammad dan Al-Qur'an tanpa peduli akan cinta dan loyalnya: "Demi Allah, ia benar-benar mempunyai kemanisan, memiliki keindahan menghancurkan apa yang ada di bawahnya, serta dia tinggi dan tidak tertandingi" sesudah itu dia berkata: "Itu hanyalah sihir yang dipelajari."))&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KOMENTAR:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;1. Tidak boleh melekatkan untuk Al-Qur'an nama sihir dan tidak juga untuk pengaruh yang ditimbulkannya terhadap jiwa dan akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menggambarkan pemahaman 'Arab -yang masuk di antara mereka para shahabat Muhammad &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; terutama 'Umar bin Al-Khaththab &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;- bahwa pembicaraan mereka tentang pengaruh Al-Qur'an -yang disifatkan Sayyid Quthb sebagai sihir- terhadap jiwa mereka adalah pembicaraan yang gelap dan pembicaraan orang yang tidak mengetahui letak kekuatan pengaruh adalah suatu tindakan biadab. Terlebih lagi di antara mereka ada 'Umar &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt; yang disebutkannya, sementara beliau seorang yang Al-Qur'an telah turun menyepakatinya dan mendukung pandangan-pandangannya yang dalam, dipersaksikan baginya oleh Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; sebagai ahli ilmu, Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda: &lt;em&gt;"Tatkala aku sedang tidur, aku dibawakan segelas susu, aku pun minum sehingga dengan jelas saya melihat sesuatu yang indah keluar dan jari-jariku. Lalu aku memberikan sisa minumanku untuk 'Umar bin Al-Khaththab". Para shahabat bertanya, "Bagaimana anda menakwilkannya, ya Rasulullah?" Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: llmu"&lt;/em&gt;. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab &lt;strong&gt;&lt;em&gt;llmu&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, hadits no. 82 dan Muslim pada kitab &lt;strong&gt;&lt;em&gt;llmu&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; hadits no.2671. Sedangkan Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; berfirman tentang para shahabat Muhammad &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Sebenarnya, Al-Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu."&lt;/em&gt;&lt;strong&gt; (Al-Ankabuut : 49)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah pandangan Sayyid Quthb tentang ilmu dan pemahaman mereka ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangannya ialah (bencana....!) pembicaraan mereka tentang pengaruh Al-Qur'an gelap, serta mereka tidak tahu di manakah letak kekuatan pemberian pengaruhnya dalam puitisasi yang begitu menakjubkan yang mereka dengarkan itu. Padahal Al-Qur'an turun dengan bahasa mereka, mereka memahami maksud-maksud tujuannya lebih dari orang lain, serta mereka menggapai &lt;em&gt;balaghah&lt;/em&gt; dan kemu'jizatan bahasanya hingga ke tingkat yang mereka tidak dilampaui oleh para tokoh ahli bahasa dan ilmu di setiap disiplin ilmu. Semua hal ini diakui oleh semisal Imam Asy-Syafi'i, Al-Ashma'i, Abu 'Ubaid Al-Qasim bin Salam, bahkan oleh seluruh kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu datang Sayyid Quthb yang mengomentari keilmuan dan pemahaman mereka dengan komentarnya itu, kemudian menganggap dirinya telah diberikan apa yang tidak diberikan kepada mereka semua, mengetahui apa yang tidak diketahui oleh mereka,…..??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah, andaikan itu adalah ilmu yang benar dan bermanfaat maka tentu orang yang terbawah (tingkatan) nya dari kalangan mereka akan mengungguli Sayyid Quthb, lebih-lebih lagi mereka yang paling di atas. Akan tetapi, tidak ada yang baik menurut Sayyid Quthb selain menundukkan semua nash kepada kesenian bathilnya yang dia ambil dari pertunjukan, film, musik, sandiwara, ……. dari Eropa. Sangat disayangkan !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; telah menyucikan Islam dan Al-Qur'an dari apa yang ditempelkan Sayyid Quthb padanya. Sebagaimana Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; telah membersihkan akal, akhlak, dan Dien para shahabat dari memahami Kitabullah yang agung semisal pemahaman Sayyid Quthb yang tidak lain sekedar sebuah bisikan dan khayalan setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari: &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Nadzaraat fii Kitaabi At-Tashwiir Al-Fanniy fil Qur'aan Al-Kariim li Sayyid Quthb&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Penulis: &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhaly&lt;/strong&gt;; Edisi Indonesia: &lt;strong&gt;Bantahan Terhadap Kitab At-Tashwirul Fanniy Fil Qur'an karya Sayyid Quthb&lt;/strong&gt;; Hal: 95-103; Penerjemah: Muhammad Fuad, Lc; Cetakan: Pertama, Maret 2008; Penerbit: Pustaka Ar Rayyan] &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-3583668464680399593?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/3583668464680399593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=3583668464680399593' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/3583668464680399593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/3583668464680399593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/06/membantah-sayyid-yang-menamakan-al.html' title='Membantah Sayyid Yang Menamakan Al-Qur&apos;an dengan &apos;Sihir&apos; Berulang-ulang Kali'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-682083179175749874</id><published>2008-06-23T20:43:00.002+07:00</published><updated>2008-06-23T20:58:50.972+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Sayyid Quthb'/><title type='text'>Membantah "Visualisasi Seni Dalam Al-Qur'an"</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Dia katakan di bawah tema ini halaman 36:  &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;((Visualisasi adalah sarana paling utama dalam uslub Al-Qur'an, dia mengungkapkan dengan gambaran inderawi imajinasi sesuatu yang maknawi, keadaan kejiwaan, kejadian inderawi, peristiwa yang dapat dilihat, serta contoh kemanusiaan dan tabiatnya. Lalu ia naik kepada gambar yang dilukiskannya, dia memberikan padanya sosok kehidupan atau gerakan yang dinamis, maka tiba-tiba makna yang ada dalam pikiran itu mewujud suasana dan gerakan, seketika itu ihwal kejiwaan menjadi layar tontonan, waktu itu juga contoh kemanusiaan menjadi satu sosok yang hidup, serta tabiat kemanusiaan pun menjadi pribadi yang tampil.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Adapun peristiwa, kejadian, kisah, dan pemandangan maka ia menjadi kelihatan jelas di hadapan. Padanya ada kehidupan dan gerakan dinamis, lalu tatkala ditambahkan kepadanya percakapan, maka sempurnalah semua unsur imajinasi. Hampir tidak pernah ia memulai suatu visualisasi melainkan ia mengubah para pendengar menjadi penonton dan memindahkan mereka ke panggung peristiwa pertama yang terjadi padanya atau akan terjadi sewaktu berputar seri demi seri pertunjukan dan berjalan dinamis semua gerakan. Pendengar lupa kalau ini hanyalah kalimat yang dibacakan dan contoh yang diperdengarkan, dia mengkhayalkannya sebagai tontonan yang ditampilkan dan peristiwa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan inilah yang senantiasa ada di atas panggung, inilah reaksi beragam perasaan yang timbul sebab fase-fase yang sejalan dengan semua peristiwanya, serta inilah kalimat yang lidah terus bergerak menyebutkannya, lalu tampak dalam perasaan jiwa sebagai suatu kehidupan, bukannya cerita tentang kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala kita teringat bahwa sarana yang menggambarkan makna dalam pikiran dan keadaan kejiwaan juga bahwa sarana yang menampilkan contoh kemanusiaan atau peristiwa yang diceritakan, hanyalah sebuah lafazh-lafazh yang beku tanpa ada warna yang menggambarkan dan sosok yang mengungkapkan, maka kitapun tahu sebagian rahasia kemu'jizatan dalam bentuk ini pada pengungkapan Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permisalannya adalah seluruh Al-Qur'an di manapun, dia dipertunjukkan untuk suatu maksud yang telah kami sebutkan, kapanpun dia kehendaki untuk mengungkapkan suatu makna murni, keadaan kejiwaan, sifat maknawi, contoh kemanusiaan, peristiwa kejadian, kisah masa lalu, suatu pemandangan hari kiamat, serta keadaan nikmat dan adzab, atau di manapun dia berkehendak untuk membuat contoh apakah perdebatan atau penunjukan hujjah, bahkan kemanapun dia menghendaki perdebatan ini secara mutlak dan berpegang pada realitas inderawi, khayalan, dan pandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang kami maksudkan sewaktu kami katakan: "Sesungguhnya visualisasi itulah sarana yang paling utama dalam uslub Al-Qur'an". la bukanlah uslub hiasan dan bukan pula sesuatu yang liar berhenti di mana saja secara kebetulan, tapi ini adalah mazhab tetap[13], satu kesatuan alur, kekhususan universal, dan jalan yang tertentu, sangat menarik sewaktu dipergunakan dengan berbagai cara, suasana yang bermacam-macam, hanya saja terakhir dia kembali juga kepada kaidah besar ini: 'Visualisasi seni'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib bagi kita untuk memperluas makna visualisasi sampai kita berhasil mencapai semua ufuq visualisasi seni dalam Al-Qur'an. Dia adalah visualisasi dengan warna, gerakan, dan khayalan. Sebagaimana ia juga visualisasi dengan irama yang memberi warna dalam pertunjukan, seringkali berpadu padanya penggambaran, dialog, intonasi kata, serta nada ungkapan dan kalimat dalam menampakkan suatu bentuk yang dinikmati oleh mata, telinga, rasa, khayalan, pikiran, dan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah visualisasi hidup yang diambil dari alam makhluk hidup, bukan sekedar warna dan goresan yang beku. Ia adalah visualisasi yang mengukur jarak nan jauh dengan perasaan dan jiwa. Makna-makna yang dilukiskan memengaruhi jiwa anak Adam yang hidup atau pemandangan alam yang tidak memiliki kehidupan.))&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah istilah-istilah yang digunakannya: pemandangan, gambar, lukisan, layar, kisah, dialog, penonton, panggung, sarana visualisasi, peristiwa yang diceritakan dan yang digolongkan ke dalamnya; irama, musik, film, akting, nada, senandung, pensil lukis paling canggih (halaman 251), serta lensa foto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas semua istilah inilah tegak pekerjaannya yang memurkakan Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; serta meremukkan Dien dan akhlak, dibuat oleh para peletak perfilman dan panggung sandiwara, penulis skenario, dan sutradara film. Berkumpul padanya orang-orang yang paling rendah akhlak dan agamanya, bisa jadi Yahudi atau Nasrani bahkan orang-orang Komunis zindiq. Mereka mempunyai tujuan yang sangat busuk untuk menghancurkan Dien, akhlak, akal, adat istiadat yang baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Di samping itu ada juga tujuan materialis, miliaran dollar yang mereka cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut keyakinanku Sayyid Quthb juga mengetahui semuanya setelah dia mengenali kandungan aktivitas ini dan pengetahuannya tentang jenis ragam manusia penyuka aktivitas ini yakni para penonton dan pendengarnya, bahwasanya kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang paling rendahan. Sedangkan manusia-manusia yang mulia baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan semuanya berlepas diri dari aktivitas semacam ini yang berisi panggung, bioskop, penonton, dan pendengar yang tenggelam dalam kelezatan syahwat, perbuatan sia-sia, membuang waktu percuma, dan melalaikan shalat sehingga mereka dimurkai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas kenapakah dia mempergunakan istilah-istilah yang sangat hina ini (serendah orang-orang yang meramaikannya, pementasannya, tokoh seninya penonton, pemusik, penyanyi, serta penarinya yang laki atau perempuan)?? Mengapa dia menjadikan Kitab Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; yang agung sebagai lapangan untuk menerapkan istilah-istilah busuk ini seburuk para produsernya dan semua yang terlibat di dalamnya?? Lalu menganggapnya sebagai mazhab tetap Al-Qur'an, kesatuan alur......??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau dia harus menerapkan semua istilah yang berada di bawah kaidahnya Visualisasi seni' ini silakan saja dia memilih apa yang dia kehendaki dari sya'ir dan centa-cerita buatan manusia (tapi bukan Al-Qur'an) baik dari para penulis cerita atau penyair Eropa serta siapa saja yang dia bertaklid padanya dari kalangan orang-orang yang melenceng baik dari bangsa Arab atau Ajam (non Arab).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara sudah menjadi kewajibannya untuk menyucikan Kitab Allah subhanahu wa ta’ala kalimat Rabb sekalian alam yang agung dari kaidah seni ini dan penerapan semua istilah ini yang dibangun di atas kaidah tersebut sementara bangsa Arab belum pernah mengenalnya padahal Al-Qur'an turun dengan bahasa mereka. Di mana bangsa 'Arab tidak mengenal panggung sandiwara, bioskop, pertunjukan, dan tontonan mereka tidak mengenal musik, kaidah dan ragamnya. Bahkan andaikan mereka mengenalinya di masa kejahiliahan mereka, terlebih lagi setelah Islamnya tentunya mereka akan melihatnya sebagai urusan yang sangat hina dan membersihkan tangan mereka darinya. Sebab aktivitas ini menafikan kejantanan, kesatriaan, dan harga diri. Maka apakah hubungan semua urusan ini dengan Al-Qur'an yang Sayyid telah menjadikan seluruhnya sebagai lapangan guna mempraktikkan perkara tersebut, sangat disayangkan…..!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi keadaan buruk yang telah dia pilihkan untuk dirinya sendiri dan dia menyatakan dengan terang-terangan dalam ucapannya: &lt;strong&gt;"Saya menegaskan dengan terang hakikat terakhir ini lalu saya nyatakan bersamanya, bahwa sesungguhnya saya tidaklah tunduk dalam urusan ini kepada suatu aqidah keagamaan yang membelenggu pikiranku dari pemahaman." (&lt;em&gt;At-Tashwi&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;r&lt;/em&gt;, hal. 255)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau sudah begini keadaan Sayyid dan pengakuannya terhadap dirinya sendiri, maka apakah yang berdiri di depannya dan apakah yang menghalanginya??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak kebesaran Al-Qur'an, tidak kedudukan para Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alahi wa sallam&lt;/em&gt;, dan tidak pula merasakan pengawasan Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt;. Oleh sebab itulah sehingga dia telah bertindak sangat buruk memperlakukan kebesaran Kitab Allah, lantas diapun melanglang buana dengan kaidah yang rusak dan pengistilahannya yang tunduk kepadanya manusia-manusia yang paling hina serta dikerjakan oleh seburuk-buruk dan senista-nistanya manusia di tempat yang paling dimurkai oleh Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt;. Diapun menjadikan Kitabullah dan nash-nashnya yang suci layaknya pertunjukan, kisah, dan cerita yang dipanggungkan dan difilmkan, &lt;em&gt;innaa lillaahi wa innaa ilahi raaji'uun&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim sejati teramat sangat menyayangkan bahwa buku ini dan pengarangnya disambut riuh dengan pengkultusan, demikian juga dengan semua karangan-karangannya yang lain. Hal ini menjadi bukti bahwa mayoritas manusia telah sangat dangkal kesadarannya hingga ke dasar jurang, akalnya tertutup, motivasi agamanya amat lemah, demikian juga penghormatan terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah dalam jiwa mereka. Kita memohon kepada Allah Al-Karim untuk merahmati dan menyelamatkan mereka dari bala' yang sedang mereka derita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid katakan di halaman 53 dari sebuah pasal ‘visualisasi seni dalam Al-Qur'an', dia mengemukakan beberapa contoh pengisahan di dalam memberi komentar terhadap firman Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil) nya di pagi hari, dan mereka tidak mengucapkan: 'Insyaa Allah'."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Al-Qalam : 17-18)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;((Mereka telah memutuskan untuk memetik buahnya di pagi hari tanpa menyisihkan sedikitpun untuk orang-orang miskin. Marilah kita meninggalkan mereka dengan keputusan mereka, untuk melihat apa yang terjadi sekarang di gulita malam, di mana mereka tersembunyi dan tidak nampak di atas panggung. Lalu tiba-tiba apakah yang dilihat oleh para penonton?? Terjadi perampasan dan gerakan tersembunyi laksana gerakan bayangan di kegelapan:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dan Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Al-Qalam : 19-20)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Saat itu…..Inilah mereka yang berpagi-pagi bangun, sementara mereka tidak mengetahui apa yang telah menimpa kebun mereka di kegelapan malam:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Lalu mereka panggil memanggil di pagi hari: 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya'. Maka pergilah mereka saling berbisik. 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskinpun masuk ke dalam kebunmu'."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Al-Qalam : 21-24)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hendaklah para penonton menahan lidahnya[14], jangan memberitahukan para pemilik kebun tersebut akan apa yang telah menimpa kebun mereka, serta hendaklah para penonton menyembunyikan tawa geli yang hampir meletup dari mereka tatkala melihat para pemilik kebun telah tertipu, saling memanggil dengan berbisik-bisik agar kaum faqir miskin tidak ikut serta. Hendaklah mereka menyembunyikan tawa ejekan, akan tetapi…. lepaskanlah tawa! Inilah pengundang tawa yang terbesar……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah mereka yang kaget!! Silakan para penonton tertawa sekehendak hati:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;"Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)……’."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Al-Qalam : 26) ))&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dia katakan di tempat yang lain halaman 189:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;((Demikian kita para penonton masih terus tertawa mengejek mereka, sementara mereka saling memanggil dan berbisik, padahal kebun telah kosong laksana hangus. Sampai akhirnya nampaklah bagi mereka rahasia yang tersembunyi, setelah kita kenyang mengejek:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: "Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dan memperoleh hasilnya)"."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Al-Qalam : 26-27) ))&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Saya katakan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; : Apa keterlibatan sandiwara dan penonton juga campur tangan tawa serta ejekan terhadap tafsir ayat-ayat mulia ini yang telah disebutkan oleh Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; untuk diambil pelajaran dan nasihat darinya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa motivasinya membawa jatuh Kitabullah ke dalam limbah penafsiran yang sangat aneh ini?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Sayyid Quthb mempunyai hobi yang hendak dia lakukan, seharusnya dia mencari medan yang pas untuk mempraktikkan hobinya itu, seperti kisah dan pertunjukan yang sesuai dengan selera akhlak para penonton yang tidak mempunyai pekerjaan berguna itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sandiwara ini ada kedustaan, sebab Sayyid Quthb dan orang semasanya mempunyai jarak abad yang sangat jauh dengan kejadian para pemilik kebun itu, maka bagaimana mungkin bisa dikatakan &lt;strong&gt;"kita para penonton masih terus tertawa mengejek mereka"&lt;/strong&gt;, yakni mereka melihat para pemilik kebun?? Inilah ihwal sandiwara dan pertunjukan (yaitu: kebohongan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah bahasa tukang cerita yang tidak mempunyai kegiatan berguna dan kehidupannya larut dalam kebatilan panggung sandiwara dan film. Bukan bahasa Al-Qur'an yang menggunakan bahasa Arab yang telah turun kepada Rasul yang paling afdlal untuk memberikan hidayah kepada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada halaman 186 sub bab keistimewaan seni dalam kisah, dia katakan: &lt;strong&gt;[Sesekali terbuka sebagian rahasia atas penonton sedangkan ia masih tersembunyi bagi sang tokoh, sedang di kali lain tersembunyi bagi penonton sekaligus bagi tokoh dalam satu kisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, singgasana Balqis yang didatangkan dalam sekejap mata. Kita telah mengetahui bahwa ia sudah berada di hadapan Sulaiman sewaktu Balqis masih tidak tahu apa yang telah kita ketahui itu:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: 'Seperti inikah singgasanamu?' Dia menjawab: 'Seakan-akan singgasana ini singgasanaku'."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(An-Naml : 42)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ini sebuah kejutan yang telah kita ketahui rahasianya lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi kejutan istana licin yang terbuat dari kaca sebelumnya masih tersembunyi bagi kita juga bagi Balqis, sehingga tiba-tiba kita dan Balqis dikagetkan dengan rahasianya, tatkala:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Dikatakan kepadanya: 'Masuklah ke dalam istana'. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(An-Naml : 44)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah dia menafsirkan kalimat mulia ini dengan kedustaan. Ini buah pahit dari bergantung mengandalkan seni dan keterlepasan dari aqidah yang dianggapnya sebagai belenggu. Manakah hubungan antara Kalamullah dengan sandiwara yang menjadikan bohong sebagai salah satu rukunnya yang harus ada serta tidak dirakit kecuali oleh para pendusta, buktinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apakah Sayyid Quthb termasuk di antara mereka yang hadir menyaksikan ketika itu dan apakah dia mengetahui datangnya singgasana Balqis ke hadapan Sulaiman sebelum Balqis tahu?? Dan siapakah para penonton itu?? Apakah pemeran utama ini laki-laki atau perempuan?? Begitulah seterusnya hingga akhir komedi yang dengannya Sayyid Quthb menafsirkan Kalamullah atas nama seni yang dalam pandangan Sayyid sekelas dengan Dien. Apakah benar kalau ini adalah keistimewaan seni dalam Al-Qur'an??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia katakan di halaman 187:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;((Keistimewaan seni yang ketiga yang terdapat dalam pertunjukan kisah ini ialah jeda yang terdapat antara satu visualisasi kepada visualisasi selanjutnya, yaitu pembagian babak, di mana dilakukan oleh sandiwara panggung masa kini dengan menurunkan layar juga perfilman modern dengan berganti seri. Di mana di antara setiap seri ada tenggang waktu yang dipenuhi dengan khayalan dan dinikmati dengan menegakkan jembatan penghubung antara satu serial dengan yang selanjutnya. Inilah metode yang jadi patokan dalam semua kisah-kisah Al-Qur'an)).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kami katakan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; : Maha Suci Allah, ini sebuah kedustaan besar, sangat jauhlah Kitabullah dari apa yang dilekatkan oleh laki-laki ini. Apakah engkau akan menafsirkan Kitabullah dengan seni-seni yang kacau ini, hasil produksi para komunis dan orang-orang fasiq Barat??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Sayyid Quthb menyambung penafsirannya terhadap ayat-ayat Allah yang mulia di surat Yusuf dengan cara penayangan film, sesekali dengan mengangkat layar lalu di kali lain menurunkannya dalam beberapa putaran yang dia menamainya 'adegan'. Dia katakan &lt;strong&gt;"Padanya ada 28 seri tontonan"&lt;/strong&gt;. Setelah itu dia menyebutkan sebagian, sedangkan bagian lain menurut pandangannya sesuai dengan semua kaidahnya yang bathil.[*]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia berkata: &lt;strong&gt;((Berjalan kisah Ashhabul kahfi, Maryam, dan Sulaiman atas satu metode yang sama, kami akan memaparkannya dengan terperincinya di poin berikut)).&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Diapun menyebutkan kisah Ashhabul kahfi dalam beberapa adegan, menurunkan dan mengangkat layar, mengisyaratkan kepada kisah para pemilik kebun, pemandangan Ibrahim dan Ismail di depan Ka'bah, serta Nuh di hadapan air bah semuanya itu dalam pandangannya berada pada satu alur. Demikianlah Sayyid menerapkan berbagai seni jahiliah Barat terhadap Kitabullah yang agung, Maha Tinggi dan Suci Yang telah menurunkannya lalu berfirman tentangnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur'an) kebatilan baik dari depan maupun dan belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Tang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji"&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Fushshilat : 42)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halaman 195-199, dia menyebutkan kisah Maryam di surat Maryam, membaginya dalam beberapa episode sesuai dengan cara sandiwara, padanya ada sela-sela waktu, kejutan, penurunan layar, sampai ia berkata di halaman 199: &lt;strong&gt;((Andaikan kami belum mencoba sebelumnya, maka tentu kaki kami akan meloncat kaget atau sungguh kami akan bergadang semalaman dikarenakan terkejut ataupun benar-benar kami akan bengong/ mengangakan mulut keheranan. Akan tetapi kami telah mencobanya, maka silakan mata kami mengalirkan air mata sebab tergetar dan silakan telapak tangan kami bertepuk karena takjub. Kemudian di tenggang waktu ini layar diturunkan, sementara air mata mengalir mengharapkan kemenangan dan tangan bersuara dengan tepukan.))&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Inilah keistimewaan-keistimewaan seni yang tidak diraih oleh orang-orang sebelum Sayyid Quthb dari kalangan para shahabat, tabi'in, serta seluruh ahli tafsir, sedangkan Sayyid Quthb "sangat beruntung" menemukan dan menggapainya. Lalu Sayyid Quthb bermulut besar &lt;strong&gt;"Tidak akan sempurna keindahan dan kemu'jizatan bahasa kecuali dengannya."&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;2. Apakah para shahabat, tabi'in, atau seluruh kaum muslimin, bahkan orang-orang bodoh dan fasiq dari kalangan muslimin semuanya bertepuk tangan sewaktu mendengarkan Al-Qur'an?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; berfirman menyifati kaum mukmin dan menjelaskan keadaan mereka ketika mendengarkan Al-Qur'an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(As-Sajdah : 15)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat yang menjelaskan tergetarnya hati seorang mukmin tatkala mendengarkan Al-Qur'an banyak, hal itu sesuai dengan kemuliaan Al-Qur'an. Pengaruh positif yang terpuji inilah yang dikehendaki oleh Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; dan Dia ridlakan untuk para hamba-Nya, bukannya tawa dan tepuk tangan yang dimaksudkannya……. hingga akhir ucapan Sayyid Quthb yang berisi cerita jenaka, kesia-siaan, dan bermain-main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;______________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari: &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Nadzaraat fii Kitaabi At-Tashwiir Al-Fanniy fil Qur'aan Al-Kariim li Sayyid Quthb&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Penulis: &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhaly&lt;/strong&gt;; Edisi Indonesia: &lt;strong&gt;Bantahan Terhadap Kitab At-Tashwirul Fanniy Fil Qur'an karya Sayyid Quthb&lt;/strong&gt;; Hal: 79-94; Penerjemah: Muhammad Fuad, Lc; Cetakan: Pertama, Maret 2008; Penerbit: Pustaka Ar Rayyan]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-682083179175749874?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/682083179175749874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=682083179175749874' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/682083179175749874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/682083179175749874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/06/membantah-visualisasi-seni-dalam-al.html' title='Membantah &quot;Visualisasi Seni Dalam Al-Qur&apos;an&quot;'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-3625998840055395513</id><published>2008-06-23T17:39:00.002+07:00</published><updated>2008-06-23T17:48:33.876+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Sayyid Quthb'/><title type='text'>Membantah “Bagaimana Kita Memahami Al-Qur'an"</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ini merupakan salah satu tema Sayyid Quthb dalam bukunya &lt;strong&gt;&lt;em&gt;At-Tashwirul Fanniy fil Qur'an&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; halaman 25.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pasal ini Sayyid Quthb berbicara tentang tafsir dan para ahli tafsir, juga tentang para ahli bahasa dan pembahasan balaghah (sastra), di mana dia menampakkan kekurangan semuanya menurut pandangannya, lalu dia katakan di halaman 34:&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;(("Apapun juga sumbangan tenaga yang telah dikuras dalam tafsir, pembahasan balaghah, dan kemu'jizatan Al-Qur'an, maka ia terhenti di batas-batas pemikiran kritis 'Arab masa silam. Ia pemikiran parsial yang mengambil ayat demi ayat, lalu menjelaskannya secara &lt;em&gt;tahlili&lt;/em&gt; (diuraikan) dan ditampakkan keindahan seni yang terdapat pada ayat tersebut sampai batas kemampuannya, tanpa melintas kepada pencapaian keistimewaan-keistimewaan umum dalam fungsi seni seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran ini sangat nampak jelas dalam pembahasan tingkat balaghah Al-Qur'an, tidak seorang pun yang menyeberang melewati satu nash kepada keistimewaan-keistimewaan seni secara umum, kecuali apa yang dibicarakan tentang keselarasan susunan Al-Qur'an dan lafazh-lafazhnya, atau puitisasi yang terdapat di dalamnya bahwa telah memenuhi syarat-syarat tingkat kefasihan dan balaghah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua keistimewaan ini -sebagaimana yang dinyatakan sebenarnya oleh 'Abdul Qahir- tidaklah disebutkan untuk menjelaskan kemu'jizatan (bahasa), sebab hal itu mudah bagi setiap penyair dan penulis. Dan juga dikarenakan para pembahas terhenti pada balaghah Al-Qur'an di sisi keistimewaan nash-nash yang berdiri sendiri lalu tidak melewatinya kepada keistimewaan universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka telah sampai kepada tahapan yang kedua dari tahapan-tahapan memandang kepada jejak-jejak seni, yakni fase pencapaian tempat-tempat indah yang berpencar lalu menjelaskan setiap tempat secara terpisah. Demikianlah, namun sesuai dengan apa yang kami sebutkan di depan bahwa pencapaian ini sangat jelas masih kurang."))&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saya katakan:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;1. Andaikan demikian keadaan orang yang menduduki tahapan kedua bahwa pencapaian mereka jelas kurang, maka bagaimanakah keadaan orang di tahapan pertama, bahkan bagaimanakah keadaan orang yang sebelum mereka dari kalangan para shahabat dan tabi'in?! Kita tidak sanggup mengucapkan apa-apa selain mengatakan: &lt;em&gt;Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Seolah Sayyid tidak menganggap apa-apa yang disebutkan tentang Al-Qur'an dari kefasihan, balaghah, serta keselarasan susunan dan lafazh sebagai kemu'jizatan (bahasa). Namun kemu'jizatan hanyalah inovasi yang dia dapatkan berupa beragam bentuk visualisasi seni dan metodologi seni modern yang dilariskan oleh peran film dan sandiwara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mendebat "Pencapaian penemuan manhaj baru Sayyid Quthb yang belum dicapai oleh seluruh ulama umat ini sebelumnya"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Lalu dia katakan: &lt;strong&gt;"Adapun tahapan ketiga -fase pencapaian keistimewaan universal-, maka mereka belum mencapainya sama sekali, tidak dalam &lt;em&gt;adab&lt;/em&gt; (kesusasteraan) dan tidak juga pada Al-Qur'an. Maka tinggallah ciri khas seni Al-Qur'an yang paling istimewa menjadi terlalaikan dan tersembunyi. Sehingga menjadi hal darurat untuk mempelajari kitab mu'jizat ini dengan metode baru, membahas sendi-sendi universal keindahan seni padanya, menjelaskan ciri khas yang mengistimewakan keindahannya dibandingkan dengan semua kesusasteraan yang telah diketahui oleh bahasa ‘Arab, serta menafsirkan kemu'jizatan seni dengan cara menarik dari sumber yang menjadi ciri istimewa dalam Al-Qur'an yang tiada tara."&lt;/strong&gt; (Halaman 34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah &lt;em&gt;manhaj bid'ah&lt;/em&gt; yang ditimba Sayyid Quthb dari lingkungannya dan kehidupan yang mengitarinya, padanya ada panggung sandiwara, bioskop, diskotik, dan lain sebagainya yang masuk ke negerinya dan negeri lainnya dari Eropa dan Amerika. Kalau urusannya demikian, maka jangan sampai metode baru ini terlintas di benak seseorang. Semoga Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; membangkitkan mereka untuk berlepas diri dari manhaj ini dan memeranginya, sebab padanya ada penghinaan terhadap Al-Qur'an dan membawanya turun dari kedudukannya yang tinggi kepada peradaban yang paling hina dina, sebagaimana yang akan nampak bagi pembaca setelah meneliti manhaj baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kaidah besar yang Sayyid Quthb berangkat darinya dalam penulisan buku ini, &lt;em&gt;Azh-Zhilal&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Al-Masyahid&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Itulah 'visualisasi seni'. Visualisasi di sisinya merupakan sarana paling utama dalam uslub Al-Qur'an. Sayyid Quthb mengatakan di halaman 36:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;((Contoh-contoh atas apa yang kami katakan adalah Al-Qur'an seluruhnya…….. Kita wajib memperluas makna visualisasi, agar kita dapat menggapai cakrawala visualisasi seni dalam Al-Qur'an. la adalah visualisasi dengan warna, gerakan, dan khayalan, sebagaimana juga termasuk visualisasi dengan senandung yang menduduki posisi warna dalam pertunjukan. Di situ sering kali ikut serta pengkarakteran, dialog, dendang kata, senandung ungkapan, serta nada kalimat dalam menampakkan suatu gambar yang dinikmati oleh mata, telinga, rasa, khayalan, pikiran, dan jiwa."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TANGGAPAN:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar kaidah pertama yang berbahaya ini, atas dasar kaidahnya yang kedua 'Keterlepasan dari ikatan aqidah, atas dasar kaidah ketiga 'Dien dan seni sekelas', dan atas segala macam asasnya dia telah mengubah ayat-ayat Al-Qur'an menjadi tontonan, pertunjukan, sandiwara, film, musik, tepuk tangan….. hingga akhir ilmu yang diketahui oleh para tokoh perfilman dan sandiwara, bukan yang diketahui oleh para cerdik pandai yang Al-Qur'an menyebutkan tentang mereka, Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Thaahaa : 54)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya)."&lt;/em&gt;&lt;strong&gt; (An-Nahl : 12)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Qaaf : 37)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Merekalah ahli iman, khusyu', dan taqwa, bukannya ahli kenikmatan syahwat dari para penggiat perfilman, sandiwara, serta penari yang diiringi musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita melihat bagaimana kaidah ini berbuat terhadap dirinya, otaknya, dan tindak tanduknya selain keburukan yang disebutkan sebelumnya. Kita tidak sanggup untuk mengukur betapa jauh dampak buruk dari semua kaidah itu terhadap buku ini, semua isinya adalah penerapan kaidah-kaidah itu. Hanya saja kita akan mencukupkan sebagian contoh yang dengannya seorang yang cerdik dapat mengetahui betapa lancangnya laki-laki ini terhadap Kitab Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; dan terhadap sebagian Nabi pilihan-Nya (yakni Musa &lt;em&gt;‘Alahis sallam&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari: &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Nadzaraat fii Kitaabi At-Tashwiir Al-Fanniy fil Qur'aan Al-Kariim li Sayyid Quthb&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Penulis: &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhaly&lt;/strong&gt;; Edisi Indonesia: &lt;strong&gt;Bantahan Terhadap Kitab At-Tashwirul Fanniy Fil Qur'an karya Sayyid Quthb&lt;/strong&gt;; Hal: 73-78; Penerjemah: Muhammad Fuad, Lc; Cetakan: Pertama, Maret 2008; Penerbit: Pustaka Ar Rayyan]&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-3625998840055395513?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/3625998840055395513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=3625998840055395513' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/3625998840055395513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/3625998840055395513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/06/membantah-bagaimana-kita-memahami-al.html' title='Membantah “Bagaimana Kita Memahami Al-Qur&apos;an&quot;'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-7157535173777349585</id><published>2008-06-23T17:29:00.002+07:00</published><updated>2008-06-23T17:38:28.893+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Sayyid Quthb'/><title type='text'>Membantah "Adegan Film dalam Al-Qur'an Menurut Pandangan Sayyid Quthb"</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Di pasal visualisasi kisah setelah tema ini pada halaman 190-191, Sayyid Quthb berkata: &lt;strong&gt;((Terakhir, kami mengkhususkan tema ini pada bagian khusus keempat, keistimewaan seni pada kisah ini paling transparan dan paling berhubungan erat dengan tema buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah lalu kami katakan "Pengungkapan Qur'ani mencakupkan pada kisah ini pensil lukis inovatif yang dicapai dengannya semua pemandangan yang ditampilkannya, sehingga kisah memberikan visualisasi dan panggung kejadian yang sementara berputar, bukan sekedar kisah yang diceritakan dan bukan juga kejadian yang telah berlalu.)) &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perhatikanlah kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Sayyid ini agar engkau dapat melihat bahwa pemaparan Al-Qur'an menurut pandangan Sayyid Quthb hanyalah adegan film yang dia dan semisalnya serap dari musuh-musuh Islam, kemudian dia praktikkan dengan segala sikap &lt;em&gt;barbarisme&lt;/em&gt; terhadap kitab Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; yang tidaklah tersentuh oleh kebatilan, baik dari depan maupun belakang. Maha benar firman Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat suatu permainan, tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya). Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu menyifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya)."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Al-Anbiyaa': 16-18)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kita yang melontari semua kebatilan Sayyid Quthb dengan Al-Qur'an, maka Al-Qur'an akan menghancurkannya beserta segala permainan yang ada di dalamnya, visualisasi pertunjukan bioskop dan drama panggung. Kita katakan padanya dan kepada semua guru-gurunya dari Eropa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu menyifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya)."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Al-Anbiyaa': 18)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya tidaklah mengetahui ada orang yang menandingi &lt;strong&gt;kekurangajaran Sayyid Quthb terhadap Al-Qur'an&lt;/strong&gt; dalam lembaran keagamaan dan kesenian di mana menurutnya 'seni itu sederajat dengan Dien’. Lalu Sayyid Quthb berkata setelah itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;((Sekarang kami katakan: Visualisasi pertunjukan kisah ini beraneka warna, sebuah warna yang menampilkan kekuatan gambaran dan lebih hidup, sebuah gambar yang melahirkan perasaan dan keadaan jiwa, serta gambar yang melukiskan kepribadian. Warna-warna ini tidaklah terpisah satu dari lainnya, akan tetapi salah satu darinya nampak jelas pada suatu posisi tapi kelihatan pada dua warna lainnya lalu dinamai dengan namanya. Adapun yang paling tepat ialah bahwa semua sentuhan seni ini nampak dalam pemandangan kisah secara keseluruhan…………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, "panggung"-lah yang dapat menerangkan apa yang tidak sanggup dijelaskan oleh perkataan semata. Kita ambil pemaparannya dan kisah para pemilik kebun, penampilan Ibrahim dan Ismail di depan Ka'bah, visualisasi Nuh dengan anaknya di hadapan air bah…….. Semuanya adalah contoh kekuatan visualisasi yang hidup, sampai pembacapun benar-benar menyangka peristiwa itu ada di hadapannya, dia dapat merasakan dan melihatnya sesuai dengan apa yang telah kami jelaskan. Adapun sekarang, maka kami akan menambahkan contoh yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kita yang menyaksikan kisah &lt;em&gt;ashhabul kahfi&lt;/em&gt; (para penghuni goa). Mereka memusyawarahkan urusan mereka setelah diberi hidayah oleh Allah subhanahu wa ta’ala, berpisah dari kaum musyrikin:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguh-nya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: "Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dan kebenaran". Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih dzalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu."&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Al-Kahfi : 13-16)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sampai di sini selesailah pertunjukan dan diturunkanlah tirai, ataupun berakhir babak/seri pertama ini dengan gaya paling maju, di mana perfilman dan sandiwara panggung abad ke-20 diberi hidayah hingga mengetahuinya. Sewaktu diangkat tirai selanjutnya, maka kitapun telah mendapatkan mereka sudah melaksanakan keputusan yang mereka pilih. Inilah mereka yang berada di goa itu, inilah mereka yang dapat kita lihat dengan mata kepala. Pengungkapan di sini tidak meninggalkan satupun keraguan bahwa kita benar-benar melihatnya secara yakin )).&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kedustaan yang jelas dalam menafsirkan kitab Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; yang berisi kisah terbaik. Perhatikanlah bagaimana dia melumuri tafsir kitab Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; dengan kotoran-kotoran dari tempat yang paling Allah tidak sukai di muka bumi, kotoran-kotoran yang dipergunakan dalam sandiwara dan drama, di mana dia berprasangka kalau dunia perfilman dan sandiwara abad ke-20 telah mendapatkan hidayah hingga mencapainya. Siapakah yang memberikan mereka hidayah? Setan? Siapakah yang mendapatkan hidayah semacam ini? Mereka adalah gembong Yahudi, Nasrani, dan Komunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah boleh kita menafsirkan kitab Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/em&gt; yang agung dengan hasil terhina dan terkotor yang berasal dari otak-otak yang busuk dan buruk di abad ke-20. Celakalah &lt;em&gt;ahli hawa nafsu&lt;/em&gt; dan kesesatan, yakni orang-orang yang bertaklid pada Yahudi dan Nasrani dengan membebek, kemudian mereka mengaku-ngaku sebagai para pemilik ide merdeka dan akal cemerlang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari: &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Nadzaraat fii Kitaabi At-Tashwiir Al-Fanniy fil Qur'aan Al-Kariim li Sayyid Quthb&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Penulis: &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhaly&lt;/strong&gt;; Edisi Indonesia: &lt;strong&gt;Bantahan Terhadap Kitab At-Tashwirul Fanniy Fil Qur'an karya Sayyid Quthb&lt;/strong&gt;; Hal: 67-72; Penerjemah: Muhammad Fuad, Lc; Cetakan: Pertama, Maret 2008; Penerbit: Pustaka Ar Rayyan]&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-7157535173777349585?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/7157535173777349585/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=7157535173777349585' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/7157535173777349585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/7157535173777349585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/06/membantah-adegan-film-dalam-al-quran.html' title='Membantah &quot;Adegan Film dalam Al-Qur&apos;an Menurut Pandangan Sayyid Quthb&quot;'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-3339081251607731727</id><published>2008-05-23T21:54:00.004+07:00</published><updated>2008-05-23T22:39:48.270+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Sayyid Quthb'/><title type='text'>Menyoroti Adab Sayyid Quthb dalam Berinteraksi dengan Rasul dan Kalim Allah Musa 'Alahissallam</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Dia katakan dalam buku &lt;strong&gt;At-Tashwirul Fanniy fil Qur'an&lt;/strong&gt; halaman 200-205:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(("Sebelum ini kita telah memaparkan kisah dan pemilik dua kebun dengan temannya dan kisah Musa dengan gurunya, pada keduanya ada perumpamaan yang terlihat jelas. Contoh-contoh berdasarkan visualisasi warna inilah adanya seluruh kisah Al-Qur'an. Itulah ciri yang nampak pada kisah-kisahnya, yakni ciri seni yang murni. Ia sendiri menjadi tujuan dari kisah-kisah seni bebas. &lt;strong&gt;[4]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Inilah kisah Qur'ani yang arah utamanya adalah da'wah keagamaan. Ia (Al-Qur'an) dengan cerdik memiliki ciri ini dalam perjalanannya lalu tampil jelas dalam semua kisahnya. Dia melukiskan beberapa figur kemanusiaan melalui para pemeran yang melewati batas-batas kepribadian maknawi kepada kepribadian percontohan.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Kami akan menampilkan beberapa kisah secara global, setelah itu memberikan perincian untuk sebagiannya:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Kita ambil Musa. Dia adalah contoh seorang pemimpin yang temperamental, fanatik kesukuan, dan labil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah dia, dibesarkan dalam istana Fir'aun, di bawah pendengaran dan penglihatannya, akhirnya menjadi seorang pemuda yang kuat [5]:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Qashash :15)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Di sini tampak sikap fanatik kesukuan dan emosional. Maka dengan segera percikan api fanatik kesukuan menyala membakar jiwanya, layaknya kebiasaan para ahli fanatik lainnya [6]:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhan-nya).’ Musa berdo’a: ‘Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku’. Maka Allah mengampuninya, Sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Musa berkata: ‘Ya Tuhanku, demi nikmat yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku, Aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa".&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Qashash :15-17)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya)."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Qashash :18)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ini adalah sebuah pengungkapan tentang keadaan yang sudah dikenal baik: keadaan gugup, kehilangan konsentrasi, dan takut akan bahaya yang akan menimpa pada segala tindak-tanduknya. Ini juga ciri dari para ahli fanatisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau demikian, walaupun dia telah berjanji untuk tidak membantu para pelaku kejahatan, namun marilah kita lihat apa yang dilakukannya ………. Dia melihat:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa Berkata kepadanya.”&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Qashash:18)&lt;/strong&gt; Yakni kali selanjutnya terhadap laki-laki lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Musa berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya)’."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Qashash:18)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akan tetapi dia bermaksud menimpakan kepad laki-laki kedua ini sebagaimana yang telah dilakukannya kemarin. &lt;i&gt;Ta’ashub&lt;/i&gt; (fanatik kesukuan) dan emosionalnya telah membuat dia lupa akan istighfar, penyesalan, takut, dan kekhawatiran kemarin, jika saja tidak diingatkan oleh calon korbannya dari tindakannya tersebut, sehingga diapun teringat dan takut. [7]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Maka tatkala Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: 'Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dan orang-orang yang mengadakan perdamaian."&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; (Al-Qashash :19)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Maka ketika itulah datang seorang dari pinggiran kota dengan tergopoh-gopoh menasihatinya agar segera pergi, maka diapun pergi sebagaimana yang telah kita ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita meninggalkannya di sini untuk kita bertemu kembali dalam fase kedua kehidupannya setelah sepuluh tahun. Barangkali dia sudah tenang dan menjadi seorang yang bertabiat stabil dan berjiwa santun. [8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak demikian! Inilah dia yang diteriaki di sisi kanan bukit Thursina "Lemparkan tongkatmu!", diapun melemparkannya, maka tiba-tiba tongkat itu menjadi ular yang bergerak. Begitu melihatnya, dia segera loncat berlari terbirit-birit tanpa berbalik ….. Dia masih pemuda yang fanatik itu. Andai saja dia telah menjadi seorang yang dewasa!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa selainnya juga tentu akan takut, ya. Tapi kalau saja dia sekedar menjauh, setelah itu berhenti memikirkan keajaiban yang sangat besar ini.[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali marilah kita meninggalkannya sementara untuk melihat apakah yang diperbuat oleh zaman terhadap urat-urat syarafnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia telah menang melawan para penyihir, menyelamatkan bani Israil dengan membawa mereka menye-berangi lautan, setelah itu dia pergi untuk memenuhi perjanjian dengan Rabbnya, serta benar dia adalah seorang nabi. Namun, inilah dia yang meminta kepada Rabbnya sebuah permintaan yang sangat mengherankan:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Berkatalah Musa: 'Ya Tuhanku, nampakkanlah (din Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau'. Tuhan berfirman: 'Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku'."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-A'raaf :143)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lalu terjadilah apa yang tidak sanggup dipikul oleh urat syaraf manusia, bahkan tidak juga oleh urat syaraf Musa [10]:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: 'Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman"."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-A'raaf:143)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kembalinya syaraf dan emosi dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, inilah dia kembali lagi, lantas dia mendapatkan kaumnya telah mengambil patung anak sapi sebagai ilah sesembahan, sementara di kedua tangannya ada lembaran-lembaran yang telah Allah&lt;i&gt; subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; wahyukan kepadanya, maka tanpa tanggung-tanggung dan tidak pula lemah:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan Musapun melemparkan lauh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-A'raaf:150)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Begitulah dia berlaku emosional menarik rambut dan jenggot saudaranya tanpa mau mendengarkan sepatah katapun darinya:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Harun menjawab: 'Hai putera ibuku janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): Kamu telah memecah antara Bani lsrail dan kamu tidak memelihara amanatku."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Thaahaa : 94)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketika dia telah mengetahui bahwasanya Samiri-lah dalang perbuatan tersebut, maka dia berpaling kepadanya dengan kemurkaan dan bertanya kepadanya dengan nada tinggi, tatkala telah mengetahui teka-teki di balik patung anak sapi itu:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Berkata Musa: 'Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: 'Janganlah menyentuh (aku)'. Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan)."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Thaahaa : 97)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Demikianlah kobaran emosi yang sangat terlihat dan perilaku yang penuh ketegangan [11]. Mari kita meninggalkannya hingga beberapa tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaumnya telah pergi dalam kesesatan, menurut sangkaan kami dia sudah menjadi seorang tua tatkala berpisah dengan kaumnya. Dia menemui sang lelaki tersebut (Khidhir) yang dimintainya agar sudi untuk diikuti semoga dia mengajarkannya ilmu yang telah diberikan oleh Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt;. Kita tahu bahwa Musa tidak sanggup bersabar sampai Khidhir memberitahukannya rahasia yang terdapat dalam perbuatan yang Khidhir lakukan, kali pertama, kedua, dan ketiga, akhirnya mereka berdua berpisah ……….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kepribadian yang menyatu sangat jelas dan contoh kemanusiaan yang terang dalam semua tahapan kisah. [12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berlawanannya kepribadian Musa dan Ibrahim ………….. Ini adalah contoh ketenangan, pemaaf, dan santun:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Huud : 75)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Inilah dia ketika kecilnya menyendiri dalam proses berpikirnya, mencari tentang Ilahnya:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, Pastilah Aku termasuk orang yang sesat. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, Ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya Aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan Aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Dan dia dibantah oleh kaumnya. dia berkata: "Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal Sesungguhnya Allah Telah memberi petunjuk kepadaku". dan Aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?"&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-An’am: 76-80)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tidak lama setelah dia mencapai keyakinan Ini, maka diapun berusaha dengan baik dan penuh rasa kasih sayang menunjuki ayahnya dengan lafazh yang terindah dan paling hidup:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Ingatlah ketika ia Berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, Mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, Sesungguhnya Telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah aku, niscaya Aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, Sesungguhnya Aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha pemurah, Maka kamu menjadi kawan bagi syaitan".&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Maryam: 42-45)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hanya saja ayahnya mengingkari perkataannya dan membalas dengan ucapan yang kasar disertai dengan ancaman keras:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Berkata bapaknya: 'Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama'."&lt;/i&gt;   &lt;strong&gt;(Maryam : 46)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sikap kasar itu tidaklah membuat dia keluar dari adab yang tinggi, tabiatnya yang penuh kasih sayang, serta tidak membuatnya bercuci tangan dari ayahnya:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Berkata Ibrahim: 'Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, serta aku akan berdo’a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo'a kepada Tuhanku'."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Maryam : 47-48)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lalu, inilah dia yang menghancurkan patung-patung mereka. Mungkin ini satu-satunya tindak kekerasan yang pernah dilakukannya. Hanya saja yang memotivasinya melakukan tindakan ini ialah kecintaan yang demikian besar diiringi harapan bahwa kaumnya akan beriman ketika melihat sesembahan mereka telah hancur berantakan, kala mereka telah mengetahui bahwa sesembahan itu tidak sanggup untuk membela diri mereka sendiri. Memang benar, hampir saja mereka benar-benar beriman, tatkala itu:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orangyang menganiaya (din sendiri)'."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Anbiyaa': 64)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Namun mereka kembali (pada ketidaksadaran lagi), lalu bermaksud untuk membakar Ibrahim, maka ketika itu:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Kami berfirman: 'Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim'."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Anbiyaa': 69)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ibrahim telah meninggalkan mereka dalam jangka waktu yang panjang bersama dengan sekelompok manusia yang juga beriman, di antaranya; sepupu beliau Luth ………))&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak jika maksud Sayyid Quthb menyebutkan kisah Nabi Ibrahim &lt;i&gt;‘alahis sallam&lt;/i&gt; secara berlawanan dengan gambarannya tentang Nabi Musa &lt;i&gt;‘alahis sallam&lt;/i&gt; adalah untuk menegakkan kaidah "Melalui lawannya, maka sesuatu itu akan menjadi jelas". Bahkan dia dengan terang-terangan mengatakan pertentangan yang dia maksudkan&lt;br /&gt;ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu dia juga membenturkannya dengan Yusuf &lt;i&gt;‘alahis sallam&lt;/i&gt;, dia berkata: &lt;strong&gt;"Sedangkan Yusuf adalah contoh seorang laki-laki yang berkesadaran tinggi lagi kokoh"&lt;/strong&gt;. Sayyid Quthb memaksudkan kalau Musa &lt;i&gt;‘alahis sallam&lt;/i&gt; sebaliknya dalam hal ini. Dia mengulang-ulangi menyifatkan Yusuf dengan kesadaran tinggi dan teguh di tengah-tengah dia menjelaskan kisahnya untuk menguatkan maksudnya, demikianlah keadaan Yusuf &lt;i&gt;‘alahis sallam&lt;/i&gt; dan demikian pulalah kondisi Musa &lt;i&gt;‘alahis sallam&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang benar ialah: beliau Musa &lt;i&gt;‘alahis sallam&lt;/i&gt; mempunyai kedudukan yang agung lagi tinggi di sisi Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; yang mewajibkan atas manusia untuk memuliakan dan mengagungkannya layaknya seluruh para Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alahi wa sallam&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; berfirman tentangnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Ahzab : 69)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Thaahaa:13)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya cukuplah bagi Sayyid untuk membaca hadits-hadits tentang para nabi di kitab &lt;strong&gt;Shahih Al-Bukhari&lt;/strong&gt;, agar dapat mengetahui jika dia telah melampaui batas, melenceng, melayang jauh dalam khayalannya yang membawa terbang, metode pengisahannya yang menjelekkan, serta perumpamaan yang dia lekatkan berupa; temperamental, fanatik suku, kasar, suka gugup, dan tegang kepada Kalimullah dan Rasul-Nya Musa &lt;i&gt;‘alahis sallam&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Bukhari &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; telah mengeluarkan dalam &lt;i&gt;Shahih&lt;/i&gt;-nya dari Abdullah bin Mas'ud &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt; yang berkata: Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alahi wa sallam&lt;/i&gt; membagikan pembagian, lalu seseorang berkomentar "Sesungguhnya ini adalah pembagian yang tidak diinginkan dengannya Wajah Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt;". Saya pun menghadap Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alahi wa sallam&lt;/i&gt; dan melaporkannya, maka Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alahi wa sallam&lt;/i&gt; murka. Saya melihat kemarahan tampak pada wajahnya, lalu Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alahi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;i&gt;Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati Musa ‘alahis sallam. Sesungguhnya dia telah disakiti lebih dari ini dan dia bersabar."&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya apa yang dinisbatkan oleh Sayyid kepada Kalimullah dan Nabi-Nya Musa ‘&lt;i&gt;alahis sallam&lt;/i&gt; itu menafikan apa yang seharusnya beliau&lt;i&gt; ‘alahis sallam&lt;/i&gt; dapatkan berupa penghormatan dan pemuliaan. Ini adalah perkara yang membuat berdiri bulu kuduk, serta hukum dari perbuatan berbahaya ini sangat besar dan berat di sisi para ulama. Silakan merujuk kepada kitab &lt;strong&gt;Asy-Syifa'&lt;/strong&gt; karya Qadhi 'Iyadh  &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; dan &lt;strong&gt;Ash-Sharimil Maslul 'Ala Syatimir Rasul&lt;/strong&gt; karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;__________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Apakah yang dia maksud dengan kisah seni bebas??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Kita tidak tahu, apakah Sayyid Quthb telah melupakan pemuliaan Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; terhadap Nabi-Nya Musa&lt;i&gt; ‘alahis sallam&lt;/i&gt; dalam firman-Nya: Lalu dia mengatakan ucapannya ini, ataukah dia pura-pura lupa agar dapat selaras dengan ejekannya terhadap Nabi ini??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Lihatlah bagaimana celaannya kepada Nabiyullah Musa &lt;i&gt;‘alahis sallam&lt;/i&gt; dalam komentarnya ini. Sikap fanatik kesukuan tercela, sifat temperamental tercela, tapi ucapannya 'sebagaimana kebiasaan para ahli fanatisme' sungguh adalah puncak celaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Tidak demikian, tidak ada ta'ashub atau emosional, Musa &lt;i&gt;‘alahis sallam&lt;/i&gt; tidaklah lupa akan apa yang telah dia katakan, di mana beliau &lt;i&gt;'alahis sallam&lt;/i&gt; tetap tidak menjadi penolong bagi pelaku kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Ini benar-benar puncak celaan dan penistaan. Artinya beliau &lt;i&gt;‘alahis sallam&lt;/i&gt; tidak mempunyai ketenangan dan sikap santun, bankan beliau ‘&lt;i&gt;alahis sallam&lt;/i&gt; mempunyai sifat yang berlawanan dengan keduanya menurut Sayyid Quthb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Di sini juga ada celaan yang sangat buruk dan olokan terhadap Nabi yang mulia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Terkandung celaan dan penghinaan yang luar biasa. Artinya penyakit syaraf yang diderita oleh Musa &lt;i&gt;‘alahis sallam&lt;/i&gt; tidak ada yang menandinginya. (Menurut Sayyid)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Lihatlah, betapa jahat tikamannya di dalam lembaran bukunya ini. Demi Allah, andaikan celaan dan penghinaan ini diarahkan kepada manusia yang paling hina sekalipun, maka tentu semua itu akan diingkari dan dianggap buruk oleh para cendekiawan mulia. Sementara kalimat itu dengan sangat kurang ajar justru ditujukan kepada seorang Rasul mulia, seorang pembesar para rasul, dan termasuk Ulul 'azmi yang Rasulullah&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; telah diperintahkan untuk mengambil keteladanan dalam kesabaran dari mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Maka bersabarlah kamu sebagaimana orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Ahzab:   )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;[12] Dalam semua yang telah lalu ada celaan buruk terhadap Nabi mulia ini, hendaklah pembaca mengingat ucapan Sayyid Quthub secara terang-terangan bahwa &lt;strong&gt;'Tidak ada aqidah keagamaan yang membelenggunya dari pemikiran'.&lt;/strong&gt; Inilah hasil keterlepasannya dari aqidah Islam tentang Musa &lt;i&gt;‘alahis sallam&lt;/i&gt; dan selainnya, serta juga tentang Al-Qur'an itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;[Dari: &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Nadzaraat fii Kitaabi At-Tashwiir Al-Fanniy fil Qur'aan Al-Kariim li Sayyid Quthb&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Penulis: &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhaly&lt;/strong&gt;; Edisi Indonesia: &lt;strong&gt;Bantahan Terhadap Kitab At-Tashwirul Fanniy Fil Qur'an karya Sayyid Quthb&lt;/strong&gt;; Hal: 50-66; Penerjemah: Muhammad Fuad, Lc; Cetakan: Pertama, Maret 2008; Penerbit: Pustaka Ar Rayyan]&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-3339081251607731727?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/3339081251607731727/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=3339081251607731727' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/3339081251607731727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/3339081251607731727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/menyoroti-adab-sayyid-quthb-dalam.html' title='Menyoroti Adab Sayyid Quthb dalam Berinteraksi dengan Rasul dan Kalim Allah Musa &apos;Alahissallam'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-6989212357897093955</id><published>2008-05-21T19:51:00.002+07:00</published><updated>2008-05-21T20:02:34.507+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Sayyid Quthb'/><title type='text'>Membantah "Imajinasi Inderawi dan Jasadi"</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ini adalah salah satu tema Sayyid Quthb dalam buku &lt;strong&gt;At-Tashwirul Fanniy fil Qur'an&lt;/strong&gt; di halaman 71-72. la berkata di sana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;((Ketika kita katakan "Visualisasi ialah sarana yang paling diutamakan oleh uslub Al-Qur'an dan kaidah yang terpenting dalam penjelasannya", maka kita belum lagi selesai dari pembicaraan tentang pemandangan universal ini. Sesungguhnya di belakang hal itu masih ada yang pantas untuk disendirikan dalam pasal khusus ini, maka atas Kaidah apakah tegaknya visualisasi ini?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Kami telah singgung di pasal yang lalu, ketika Kami katakan "Dia mengung-kapkan gambaran mderawi dan khayalan tentang makna dalam pikiran, keadaan jiwa, serta tentang contoh dan tabiat kemanusiaan, layaknya pengungkapan tentang kejadian inderawi dan pemandangan yang nampak, setelah itu dia naik kepada gambar yang dilukiskannya dan memberikannya kehidupan yang jelas atau gerakan dinamis, maka seketika makna pikiran itu menjadi sebuah suasana atau gerakan, tiba-tiba keadaan jiwa menjadi layar atau panggung, serta jadilah contoh kemanusiaan itu sosok yang hidup. Adapun peristiwa, tontonan, kisah dan penampilan, maka padanya ada sosok kehidupan dan kedinamisan, sehingga jika ditambahkan kepadanya dialog maka sempurnalah semua unsur khayalan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semua contoh yang telah lalu di pasal muka, layak untuk menjadi bukti bagi kenyataan ini, walaupun bentuk kalimat di pasal itu sepintas lalu, yakni hanya sekedar bukti bahwa visualisasi adalah sarana yang diutamakan oleh uslub Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dalam pasal ini kami tidak akan sekedar mengalihkan (pembaca) kepada contoh-contoh tersebut. Al-Qur'an yang ada di hadapan kita kaya dengan perumpamaan yang baru. Kami akan memilih sebagian darinya yang memiliki penunjukan khusus terhadap metode ini "Pemandangan khayalan inderawi dan jasadi dalam visualisasi ……..))&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Sayyid Quthb katakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(("Gambaran lain yang nampak jelas dalam visualisasi Al-Qur'an yakni penjasadan,] menjasadkan   hal-hal   maknawi   murni   dan menampakkannya sebagai tubuh-tubuh makhluk hidup atau benda-benda inderawi lainnya secara umum. Persoalan ini sampai pada pencapaian yang jauh sampai dia mengungkapkan dengannya pada beberapa tempat yang sangat berhubungan dengan perasaan, di mana Dien Islam sangat antusias untuk memisahkannya sebagai Dzat Ilahiyah beserta sifat-sifatnya. Masalah ini mempunyai penunjukan pasti di atas penunjukan-penunjukan lainnya bahwa metode 'penjasadan' adalah uslub yang diutamakan dalam visualisasi Al-Qur'an dengan menjaga dan memperingatkan akan bahaya penjasadan dalam bayangan sangkaan lemah. Sekarang kami memulai menunjukkan contoh-contoh ……….."))&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mulailah Sayyid Quthb menyebut bermacam-macam jenis khayalan dan penjasadan di dalam Al-Qur'an sesuai gambaran pikirannya, lalu dia katakan di halaman 83: &lt;strong&gt;(("Yang ketujuh: Lalu ketika penjasadan ini adalah sebuah perkara umum, maka Dia &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; menggambarkan perhitungan kebajikan dan keburukan di akhirat layaknya pemandangan lahiriyah:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Anbiyaa': 47)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Qaari'ah : 6-9)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Semua itu sejalan dengan penjasadan Al-Qur'an."))&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi mizan menurut Sayyid Quthb hanyalah maknawi murni dan bukan sesuatu yang lahiriah di mana terjadi padanya penimbangan secara hakiki berdasarkan penetapan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Maka dalam hal ini dia telah berjalan mengikuti manhaj para pemuja akal '&lt;i&gt;Mu'tazilah&lt;/i&gt;’. Sampai dia katakan di pasal ini 'Khayalan dan penjasadan' pada jenis ketujuh darinya di halaman 85:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(("Dengan metode yang diutamakan dalam pengungkapan makna murni inilah berjalan uslub Al-Qur'an dalam urusan yang paling khusus yang mewajibkan pemisahan secara mutlak dan pensucian sempurna, maka Dia &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; berfirman:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tangan Allah di atas tangan mereka."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Fath 10)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Huud : 7)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Kursi Allah meliputi langit dan bumi"&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Baqarah : 255)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Lain Dia beristiwa' di atas Arsy."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(As-Sajdah : 4)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Fushshilat : 11)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya."&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; (Az-Zumar : 67)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Anfaal: 17)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan Allah  menyempitkan  dan  melapangkan (rezeki)."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Baqarah : 245)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan datanglah Tuhanmu; sedangMalaikat berbaris-baris."&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; (Al-Fajr : 22)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Orang-orang Yahudi berkata: 'Tangan Allah terbelenggu', sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Maa'idah : 64)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Ali 'Imran:  55) …………… Hingga akhirnya.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lalu berkobarlah perdebatan seru seputar kalimat-kalimat ini, ketika perdebatan menjadi pekerjaan dan ucapan menjadi hiasan. Sebenarnya ia hanyalah berlayar di atas jalur yang telah diikuti dalam pengungkapan, dilontarkan untuk menerangkan makna-makna murni dan menetapkannya, serta berjalan di atas jalan umum tanpa bergeser atau menyimpang darinya, yakni jalan imajinasi inderawi dan penjasadan pada setiap pekerjaan visualisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi mengikuti metode ini di jalan ini sendiri memberikan penunjukan yang pasti -sebagaimana yang telah kita katakan- bahwa di dalam Al-Qur'an metode ini sangat asasi pada visualisasi, sebagaimana 'Visualisasi itu adalah sendi paling utama dalam pengungkapan'."))&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah lelaki ini menempuh jalan orang-orang&lt;i&gt; ahli ta'thil&lt;/i&gt; (Orang-orang yang menolak dan menafikan sifat-sifat bagi diri Allah. (-Pent)) yang sangat menyimpang yang menghilangkan makna bagi sifat-sifat Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; dan lainnya, maka Allah&lt;i&gt; subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; tidak mempunyai: tangan, Arsy, air, tangan kanan yang dengannya Dia melipat seluruh langit, tidak menggengam bumi, tidak menggengam dan tidak membentangkan tangan-Nya, Allah Maha Suci dari semua itu menurut pandangannya. Rabb kita tidak akan datang pada hari kiamat, tidak mempunyai dua tangan, dan 'Isa &lt;i&gt;‘alahis sallam&lt;/i&gt; tidaklah diangkat kepada Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia telah men-&lt;i&gt;ta'thil&lt;/i&gt; apa yang sanggup dia hilangkan dari sifat-sifat Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt;, di antaranya pen-&lt;i&gt;ta'thi&lt;/i&gt;l-an sifat ber-&lt;i&gt;istiwa'&lt;/i&gt; di atas ‘Arsy, perkataan bahwa Al-Qur'an adalah buatan -maksudnya: makhluk-, mengingkari kalau Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; telah berbicara kepada Musa &lt;i&gt;‘alahis sallam&lt;/i&gt; dengan jalan dialog, serta mengingkari akan melihat Allah, sebagaimana yang tersebut di dalam &lt;strong&gt;Azh-Zhilal&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Al-Masyahid&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini pembaca bisa melihat apa yang dilakukannya terhadap sifat-sifat Allah dan lainnya berdasarkan prinsip&lt;i&gt; jahmi&lt;/i&gt; dan asasnya sendiri dalam metode visualisasi dan imajinasi, serta asas &lt;i&gt;jahmi&lt;/i&gt; di mana mereka menjadikan dalih menyucikan Allah&lt;i&gt; subhanahu wa ta’ala &lt;/i&gt;sebagai anak tangga untuk naik men-&lt;i&gt;ta'thil&lt;/i&gt; sifat-sifat-Nya &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini pembaca dapat melihat pula ketergabungan Sayyid Quthb dalam kelompok &lt;i&gt;Jahmiyyah&lt;/i&gt; ahli ta'thil dan bantahannya terhadap ahli kebenaran Ahlussunnah wal Jama'ah yang berdiri tegak di atas nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah yang terang, juga kepada ijma' para shahabat &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhum&lt;/i&gt; dan tabi'in&lt;i&gt; radhiyallahu ‘anhum&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca dapat melihat bagaimana dia memberikan keterangan palsu, lalu menampak-nampakkan diri sebagai orang yang mengingkari perdebatan yang lagi hangat di sekitar permasalahan ini. Semuanya itu setelah dia bergabung bersama orang-orang yang mendebat ayat-ayat Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; dengan bathil dalam rangka menghapus kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari: &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Nadzaraat fii Kitaabi At-Tashwiir Al-Fanniy fil Qur'aan Al-Kariim li Sayyid Quthb&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Penulis: &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhaly&lt;/strong&gt;; Edisi Indonesia: &lt;strong&gt;Bantahan Terhadap Kitab At-Tashwirul Fanniy Fil Qur'an karya Sayyid Quthb&lt;/strong&gt;; Hal: 43-49; Penerjemah: Muhammad Fuad, Lc; Cetakan: Pertama, Maret 2008; Penerbit: Pustaka Ar Rayyan]&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-6989212357897093955?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/6989212357897093955/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=6989212357897093955' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/6989212357897093955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/6989212357897093955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/membantah-imajinasi-inderawi-dan-jasadi.html' title='Membantah &quot;Imajinasi Inderawi dan Jasadi&quot;'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-4339535868901847391</id><published>2008-05-21T19:38:00.002+07:00</published><updated>2008-05-21T19:48:44.912+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Sayyid Quthb'/><title type='text'>Membantah "Dien, Seni, dan Kisah"</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Judul ini merupakan salah satu pasal yang terdapat dalam &lt;strong&gt;At-Tashwirul Fanniy&lt;/strong&gt; halaman 171 Sayyid Quthb berkata di bawah judul ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Dahulu kita katakan bahwa tunduknya 'kisah' kepada maksud keagamaan tidaklah menghalangi terlihatnya kekhususan-kekhususan seni sewaktu ditampilkan. Sekarang kita katakan bahwa sebab pengaruh ketundukan inilah makanya nampak keistimewaan-keistimewaan seni itu sendiri yang diperhitungkan pada tinjauan seni tentang kisah (cerita) dalam dunia kesenian yang bebas.”&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dia katakan dalam menafsirkan firman Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: 'Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.' Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya, dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Fajar : 21-26)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia katakan: &lt;strong&gt;"Di tengah-tengah ketakutan ini yang disebarkan oleh tontonan barisan ketentaraan disertai dengan Jahannam dengan nada (kobaran) barisan ketentaraan yang sangat teratur dan muncul dari bangunan lafazh yang keras bentuknya bersama dengan adzab tunggal tiada duanya dan permisalan ikatan, dikatakan kepada orang-orang yang beriman:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Fajr : 27-30)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Quthb pun menafsirkan ayat ini dengan uslub bahasanya, hingga ucapannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Dengan keharmonisan yang memenuhi seluruh ruang udara dengan ridla dan sambutan kelembutan ini:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Maka masuklah dalam kelompok hamba-hamba-Ku) &lt;/i&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;berbaur dengan mereka dan saling mencintai:&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Dan masuklah dalam Surga-Ku). &lt;/i&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;Disambungkan dengan bunyi 'Lii' beserta suatu jenis nada di sekitar pemandangan yang menentramkan berisi gelombang suka cita yang menghanyutkan, berlawanan dengan nada ketentaraan yang keras itu."&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia katakan: &lt;strong&gt;"Adapun beragamnya musik, meletakkannya sesuai dengan ragam bagian yang diilustrasikannya. Maka di sisi kami ada yang kami pegangi untuk memastikan bahwasanya dia mengikuti aturan khusus dan selaras dengan suasana umum tanpa terkecuali. Kadang kita membutuhkan di dalam meletakkan batasan bagi perbedaan-perbedaan ini dan sewaktu menerangkannya, kaidah-kaidah nada secara khusus dan istilah-istilah nada, di mana tidak semua pembaca mempunyai kesiapan untuk menerima ilmu tersebut, demikian juga dengan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja kita menilai masalah ini lebih mudah dari hal tersebut, jikalau kita memilih jenis-jenis yang berjauhan dan berbagai bentuk nada yang berbeda pada surat An-Naazi’at. Dua bentuk nada dan pemaduan yang harmonis bersama keadaan keduanya        secara sempurna…………" (At-Tashwirul Fanniy&lt;/strong&gt;: 110-111)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia melanjutkan menyebutkan macam-macam nada, intonasi, dan penerapan-nya, serta bahwasanya nada sangat jelas pada sebagian ayat yang membuat tidak butuh lagi mengetahui kaidah-kaidah musik (halaman 112-113). Sedangkan pada halaman 114-115, dia berbicara tentang visualisasi serta pembauran berbagai gambar dan lukisan. Dia katakan: &lt;strong&gt;"Keserasian warna ini adalah kunci jalan menuju keserasian yang kita maksudkan itu sendiri di sini. Yang kita maksudkan itu ialah:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Apa yang dinamakan 'Kesatuan lukisan', di mana seorang pemula dalam kaidah-kaidah ini pun memiliki pengetahuan tentang kesatuan ini, sehingga kami tidak berhajat untuk menjelaskannya, namun cukuplah kami katakan: Sesungguhnya kaidah-kaidah dasar seni lukis mengharuskan adanya kesatuan antara tiap-tiap bagian gambar sehingga tidak kacau masing-masing bagiannya.&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Penyebaran bagian-bagian gambar -setelah penyesuaian- di atas papan dengan ukuran-ukuran tertentu agar sebagiannya tidak menyerempet bagian yang lain dan ia tidak kehilangan keharmonisan dalam keseluruhannya.&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Warna yang dipakai melukis dengannya dan bertahap dalam bayangan agar merealisasikan iklim kebersamaan yang berpadu dengan ide dan tema. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Penggambaran dengan warna-warna sangat memerhatikan keterpaduan ini, sebagaimana hal tersebut diperhatikan pada pembagian peran dalam adegan sandiwara dan film. Penggambaran dalam Al-Qur'an tegak di atas asas itu, walaupun satu-satunya sarana yang dia gunakan hanyalah lafazh-lafazh, maka dengan itu meninggilah nilai mu'jizat-nya dibandingkan semua usaha tersebut."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Sayyid Quthb mengatakan pada halaman 114 dalam buku &lt;strong&gt;At-Tashwir&lt;/strong&gt;, dia mempersilakan professor seni Dhiyauddin Muhammad, seorang pengawas lukisan di kementerian ilmu pengetahuan untuk memberikan koreksi atas bagian khusus tentang keserasian visualisasi, maka diapun berkata: &lt;strong&gt;"Ambillah sebuah surat pendek yang bisa saja disangka oleh sebagian orang serupa dengan mantera dukun atau perkataan sajak. Dan ambillah surat Al-Falaq! Suasana  apakah  yang  hendak  dibangun  di dalamnya? la adalah suasana pengucapan mantera sebab padanya ada suara tersembunyi, samar, pelan, dan memberikan khayalan."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah saya menyangka/mengira ada seorang muslim yang mengatakan ucapan seperti ini dalam menafsirkan Al-Qur'an, akan tetapi inilah keterlepasan dari aqidah. Kemudian dia menafsirkan surat ini berdasarkan kaidahnya, berupa gambar-gambar, foto, perpaduan bagian-bagian, dan pemandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia katakan di halaman 117: &lt;strong&gt;"Bagian-bagian ini tersebar di atas papan dengan selaras berpadu sebagai keterpaduan yang sangat dalam, semuanya mempunyai satu warna, ia adalah hal-hal yang tersembunyi dan menakutkan, dilipat oleh ketersembunyian dan kegelapan, sedangkan suasana umum tegak di atas asas satu kesatuan bagian dan warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada dalam penjelasan ini sedikit pun tipu daya, tidaklah nilai kedalaman dari semua ketelitian ini kosong tanpa tujuan, serta bukanlah tujuan ini sebuah hiasan yang fana. Permasalahannya bukanlah persoalan lafazh atau pertemuan perasaan, namun ia adalah layar, suasana, keserasian, dan perpaduan visual yang ternilai sebagai seni kelas tinggi dalam bidang visual. Ini adalah kemu'jizatan jika diperankan daripada sekedar ungkapan saja."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan: Ini adalah tikaman yang sangat mengherankan terhadap kitab Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt;, tindakan yang sangat buruk kepada Rabb alam semesta, dan itulah tipu daya yang sebenarnya. Seolah Allah&lt;i&gt; subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; seorang seniman yang tidak mempunyai tujuan selain mengundang decak kagum para seniman dan pelukis, seolah Al-Qur'an tidak menjadi mu'jizat kecuali jika berada di atas metode Sayyid Quthb berikut kaidahnya yang sesat dan rusak yang terlepas dari aqidah. Lantas meremehkan tindakan barbar terhadap kedudukan dan kesucian Al-Qur'an juga terhadap keagungan orang yang berbicara dengannya &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;  yang telah Allah&lt;i&gt; subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; berikan wahyu untuk menunjuki para hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Quthb berkata pada pasal 'Keharmonisan seni' halaman 86: &lt;strong&gt;"Ketika kita berkata (sesungguhnya visualisasi adalah kaidah dasar uslub Al-Qur'an, lalu imajinasi dan mewujudkan secara jasadi adalah pemandangan yang sangat jelas dalam visualisasi ini), maka kita tidaklah berlebihan dalam memberikan penjelasan tentang keistimewaan-keistimewaan Al-Qur'an secara umum dan juga tidak dengan keistimewaan-keistimewaan visual Al-Qur'an secara khusus. Di luar semua ini, masih banyak cakrawala lain yang dicapai oleh keselarasan rangkaian Al-Qur'an serta dengannyalah penyempurnaan. Darinya didapatkan kesesuaian dalam penampilan seni dan darinya pula lahir musik yang muncul dari pemilihan lafazh dan perangkaiannya dalam aturan khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu karena pemandangan ini terlalu sangat terang dalam Al-Qur'an dan ia teramat sangat dalam membangun seni, maka sesungguhnya pembicaraan mereka tentangnya tidaklah melampaui batas pemandangan yang nampak tersebut, tidak naik kepada pencapaian beragam uslub nada, keterpaduan semuanya itu dengan suasana di mana dillustrasikan dengan musik ini, serta peranan yang dimainkannya di setiap bentuk kalimat."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Sayyid Quthb mengemukakan keistimewaan-keistimewaan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu dia katakan di halaman 89:&lt;strong&gt; "Bersamaan dengan keistimewaan-keistimewaan yang ia ciptakan secara hakiki dan berkualitas, sesungguhnya ia senantiasa menjadi pemandangan keselarasan terbaik yang dapat disentuh oleh seorang pembahas Al-Qur'an. Di belakangnya masih ada banyak cakrawala lain yang belum mereka singgung sama sekali selain pemandangan nada musik yang merupakan salah satu ufuk tinggi tersebut. Hanya saja, mereka sebagaimana yang telah saya katakan terhenti pada pemandangan-pemandangan luar. Lalu ketika visualisasi Al-Qur'an adalah perkara yang belum mereka paparkan dengan menjadikannya sebagai asas pengungkapan Qur'ani secara global, maka masih tersisa keselarasan seni dalam visualisasi ini yang jauh dari ufuq pembahasan mereka sesuai tabiat keadaan."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan: Segala puji bagi Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; yang telah memberikan mereka semua kesehatan dan keselamatan dan menjauhkan mereka dari bala' yang ditimpakan kepadamu dengan sebab kenekatan dan keberpijakanmu yang tanpa aqidah dalam membuat-buat perkataan terhadap Kitab Allah yang agung yang telah engkau jadikan sebagai medan penerapan seni yang terendah. Apakah para seniman dan manusia lainnya mempunyai hak untuk meluruskan Al-Qur'an secara benar??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Quthb berkata dalam pasal 'Kisah di dalam Al-Qur'an' halaman 143-144: &lt;strong&gt;"Hakikat Al-Qur'an yang terbesar dalam pengungkapan adalah visualisasi"&lt;/strong&gt;. Juga dia katakan&lt;strong&gt; "Seni dan Dien dua hal yang setingkat di dalam kedalaman jiwa".&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami katakan: Andaikan perkaranya seperti yang lelah engkau sebutkan, maka tentu Islam tidak akan memisahkan antara Dien dan seni, padahal Islam mengharamkan lagu, alat senda gurau yang masuk di dalamnya musik dan gendang, juga Islam mengharamkan gambar (yang bernyawa,&lt;i&gt;-pent&lt;/i&gt;) dan mengabarkan bahwa para pembuat gambar adalah orang yang akan mendapatkan adzab yang terberat di hari kiamat serta Islam melaknat para pembuat gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan urusannya sebagaimana yang engkau katakan, maka tentu para nabi, shahabat, dan manusia pilihan umat ini yakni ulama akan menjadi orang yang paling memerhatikan bidang seni. Sangat mustahil Dien menilai seni setingkat dengannya, serta sangat jauh orang pilihan umat ini bahkan orang terburuknya pun dari menganggap Dien dan seni sebagai dua hal yang sederajat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan masalahnya seperti yang diucapkan oleh Sayyid Quthb, maka tentu engkau akan mendapatkan sekolah-sekolah seni akan selalu berdampingan dengan sekolah-sekolah Dien. Bagaimanapun ulama umat ini adalah manusia yang terpintar tentangnya, namun Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; melindungi mereka dari was-was semua setan, baik setan manusia maupun jin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari: &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Nadzaraat fii Kitaabi At-Tashwiir Al-Fanniy fil Qur'aan Al-Kariim li Sayyid Quthb&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Penulis: &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhaly&lt;/strong&gt;; Edisi Indonesia: &lt;strong&gt;Bantahan Terhadap Kitab At-Tashwirul Fanniy Fil Qur'an karya Sayyid Quthb&lt;/strong&gt;; Penerjemah: Muhammad Fuad, Lc; Cetakan: Pertama, Maret 2008; Penerbit: Pustaka Ar Rayyan]&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-4339535868901847391?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/4339535868901847391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=4339535868901847391' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/4339535868901847391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/4339535868901847391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/membantah-dien-seni-dan-kisah.html' title='Membantah &quot;Dien, Seni, dan Kisah&quot;'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-4546072822915907443</id><published>2008-05-21T19:29:00.002+07:00</published><updated>2008-05-21T19:37:23.130+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Sayyid Quthb'/><title type='text'>Membantah “Metode-metode Manusia dalam Menafsirkan Al-Qur’an”</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ahlussunnah mengambil pemahaman, dari Kitab Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; dan Sunnah Rasulullah&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dengan cara yang ditempuh oleh para shahabat dan tabi'in dalam aqidah, ibadah, dan mu'amalah, serta mereka mengembalikan nash-nash yang &lt;i&gt;mutasyabih&lt;/i&gt; (tidak tegas/samar) kepada nash-nash yang &lt;i&gt;muhkam&lt;/i&gt; (tegas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan golongan-golongan &lt;i&gt;ahlul hawa&lt;/i&gt; (pengikut bisikan nafsu) menafsirkan Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai dengan bisikan hawa nafsu mereka, serta mendahulukan ayat-ayat yang &lt;i&gt;mutasyabih&lt;/i&gt; atas ayat-ayat yang &lt;i&gt;muhkam&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap kelompok (dari mereka yang sesat ini) menafsirkan Al-Qur'an dan nash-nash As-Sunnah sesuai dengan hawa nafsunya lalu mengaku-ngaku berada di atas kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Jahmiyyah&lt;/i&gt; menafsirkan Al-Qur'an sesuai dengan dasar-dasar &lt;i&gt;Jahmiyyah filsafat&lt;/i&gt;, sedangkan &lt;i&gt;mu’tazilah&lt;/i&gt; menafsirkan Al-Qur'an sesuai dengan dasar-dasar &lt;i&gt;mu'tazili&lt;/i&gt;-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Rawafidl&lt;/i&gt; (Syi'ah) menafsirkan Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai dengan hawa nafsu mereka dan sendi-sendi &lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt;-nya, demikian juga &lt;i&gt;Rawafidh&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Shufiyyah&lt;/i&gt; (Sufi) menafsirkan Al-Qur'an sesuai dengan hawa nafsu mereka dan kaidah-kaidah sufinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu datang di masa ini Sayyid Quthb yang menafsirkan Al-Qur'an juga sesuai dengan hawa nafsunya, berdasarkan kaidah-kaidah seni gambar dan musik beserta dasar-dasarnya, berpedoman pada kaidah-kaidah perfilman dan sandiwara, setelah itu ekor-ekornya seperti seni peran, tontonan, layar, alat lukis, penonton, dan kejutan-kejutan. Kemudian, diapun menganggap dirinya telah mendapatkan petunjuk inovasi dalam metode penafsiran ini apa yang belum didapatkan oleh selainnya. Ditambah-kanlah pada segala apa yang telah dia warisi berupa ajaran-ajaran dasar berbagai kelompok sesat yang beraneka macam coraknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari: &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Nadzaraat fii Kitaabi At-Tashwiir Al-Fanniy fil Qur'aan Al-Kariim li Sayyid Quthb&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Penulis: &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhaly&lt;/strong&gt;; Edisi Indonesia: &lt;strong&gt;Bantahan Terhadap Kitab At-Tashwirul Fanniy Fil Qur'an karya Sayyid Quthb&lt;/strong&gt;; Penerjemah: Muhammad Fuad, Lc; Cetakan: Pertama, Maret 2008; Penerbit: Pustaka Ar Rayyan]&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-4546072822915907443?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/4546072822915907443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=4546072822915907443' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/4546072822915907443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/4546072822915907443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/membantah-metode-metode-manusia-dalam.html' title='Membantah “Metode-metode Manusia dalam Menafsirkan Al-Qur’an”'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-6898242957504231362</id><published>2008-05-21T18:49:00.004+07:00</published><updated>2008-05-21T19:28:17.750+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Sayyid Quthb'/><title type='text'>Membantah Ushul yang dipegangi Sayyid Quthb dalam Menafsirkan Ayat-Ayat Al Qur’an yang menjadi Ajang  Praktik Ushul dan Teorinya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sayyid Quthb telah membangun perbuatan fatalnya di dalam buku ini dan selainnya di atas dasar-dasar yang rusak lagi menghancurkan, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kaidah &lt;strong&gt;Tashwirul fanniy&lt;/strong&gt; (visualisasi seni) dan rentetannya yang bersumber dari kaidah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Keyakinan bahwa Dien dan seni setara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpijak dari sini dan dari dasarnya ini, dia berpendapat bolehnya hasil gambar tangan beserta apa yang menyertainya berupa alat lukis/gambar dan medianya (papan, kanvas, kertas, dll). Dia telah meminta bantuan ahli gambar (tashwir) dalan pekerjaannya menyusun &lt;strong&gt;At-Tashwirul Fanniy&lt;/strong&gt; Sesungguh-nya itu merupakan gambar yang diharamkan dan telah tersebut riwayat yang berisi laknat dan kecaman keras tentangnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari sini jugalah dia berpendapat bolehnya permainan musik dengan ragamnya, padahal ia diharamkan dan seburuk-buruk alat yang melalaikan (dari mengingat Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt;). Dia telah menggunakan pula dalam perkerjaannya ini ahli musik, sebagaimana pernyataannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Keterlepasannya dari aqidah yang dia sendiri menegaskan: &lt;strong&gt;"Saya dengan terang-terangan mengatakan hakikat yang terakhir ini, juga menyatakan dengan gamblang bersamanya, bahwa dalam hal ini saya tidak tunduk pada aqidah religius yang membelenggu pikiranku dari pemahaman." (At-Tashwirul Fanniy&lt;/strong&gt; hal. 255)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dia berpegang pada pemikiran dalam apa yang telah dia tetapkan dari Al-Qur'an dan hakikat-hakikat lainnya, di mana dia katakan dalam bentuk kalimat pembelaan terhadap Al-Qur'an dan semua ketetapan-nya  -berdasarkan pemahamannya-: &lt;strong&gt;"Saya dalam titik ini bukanlah pria agamis yang diikat oleh aqidah murni sehingga tidak bisa melakukan telaah bebas. Bahkan saya adalah pria pemikir yang menghormati akalnya daripada sifat kufur nikmat dan cerita berhiaskan kebohongan." (At-Tashwirul Fanniy&lt;/strong&gt;, hal. 258)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata realitas tidak sama dengan sangkaannya. Dia justru banyak melakukan kekufuran dan membuat cerita berhiaskan kebohongan disebabkan keterlepasannya dari aqidah dan anggapannya akan pemikirannya. Dia mengulang-ulangi pengungkapan kemuliaan yang dirasakannya dengan kebebasan berpikir ini, lalu dia katakan di dalam &lt;strong&gt;Masyahidul Qiyamah fil Qur'an: "Ini bukan sama sekali kalimat yang berasal dari seorang laki-laki yang terkurangi dari kebebasan berpikir. Sesungguhnya saya berbangga dengan kalimat singkat yang pasti yang diungkapkan oleh professor peneliti besar ‘Abdul ‘Aziz Fahmi Basya yang menyifati arah pemikirannya ini: 'la memberikan semerbak kebebasan akal yang belum pernah kita dengarkan sebelumnya'."&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Benarlah, 'Abdul 'Aziz Fahmi Basya berkata bahwa dia tidak pernah mendengarkan kebebasan yang semisal (gilanya) kebebasan Sayyid Quthb!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dalam pekerjaannya ini, dia tidak dikekang oleh suatu aqidah apapun dalam mempraktikkan kaidahnya yang rusak di atas nash-nash Al-Qur'an. Begitu pula dengan rentetan kaidah tersebut, berupa: pementasan teater, tontonan panggung, drama, gambar, musik dengan beragam jenisnya, pertunjukan di mana dia telah menjadikan mayoritas nash-nash Qur'ani sebagai panggung yang luas untuk inovasi Yahudi dan Nasrani, bahkan komunis demi merusak Dien dan akhlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dia beranjak dari pemikiran dasar &lt;i&gt;Jahmiyyah&lt;/i&gt; yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; 'Dia adalah sumber mata air bid'ah' (yakni argumennya akan barunya (bukan azali) alam dengan barunya jasad dan juga argumennya akan barunya jasad dengan barunya unsur materi):&lt;br /&gt;((&lt;i&gt;Jahmiyah berkata: "Jasmani tidak terpisah dan unsur materi yang baru, sedangkan apa saja yang tidak terpisah dan yang baru atau apa saja yang tidak mendahului yang baru, maka dia juga baru&lt;/i&gt;)). (Lihat &lt;strong&gt;Minhajus Sunnah&lt;/strong&gt; 1/112-113 cetakan lama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga katakan di tempat lain dalam&lt;strong&gt; Minhaj&lt;/strong&gt; 1/403 cetakan baru: "Berargumen dengan cara ini mengakibatkan penafian sifat yang dimiliki Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; dan menyebabkan munculnya bid'ah&lt;i&gt; Jahmiyyah&lt;/i&gt; yang telah dikenal oleh Salaf umat ini, serta memberikan bagi golongan&lt;i&gt; dahriyyah&lt;/i&gt; [Golongan yang mengingkari adanya hari kebangkitan. (-pent.)] alasan terbesar untuk menyerang ajaran yang dibawa oleh para rasul dari Allah&lt;i&gt; subhanahu wa ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Quthb telah mengumpulkan kedua dasar yang rusak ini untuk menta'thilkan sifat &lt;i&gt;istiwa'&lt;/i&gt; (bersemayam) Allah di atas Arsy-Nya dan sifat ketinggian-Nya di atas para makhluk. Dia katakan pada tafsir surat Yunus dalam &lt;strong&gt;Azh-Zhilal&lt;/strong&gt; 3/1762 di pasal 'Imajinasi inderawi dan jasadi' halaman 71-72:&lt;strong&gt; "Ketika kita mengatakan bahwa tashwir (visualisasi) adalah sarana paling diutamakan dalam uslub (metode) Al-Qur'an serta kaidah utama dalam penjelasan, maka kita belum lagi selesai berbicara tentang pemandangan universal ini. Di mana sesungguhnya di belakang itu masih tersisa persoalan yang patut untuk kita pisahkan kedalam pasal khusus."&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia menyambung menjelaskan pemikirannya yang bathil, dia katakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Lalu Dia beristiwa' di atas 'Arsy."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(("Beristiwa' di atas Arsy, kalimat majazi untuk mengungkapkan posisi kekuasaan yang tertinggi, teguh, dan kokoh dengan bahasa yang difahami oleh manusia. Lalu tergambar dengannya makna-makna sesuai cara Al-Qur'an dalam memberikan gambaran. Sebagaimana yang telah kami rincikan dalam pasal Imajinasi inderawi dan jasadi' dalam buku At-Tashwirul Fanniy fil Qur'an.")) (Fi Zhilalil Qur'an 3/1762)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia katakan dalam &lt;strong&gt;Azh-Zhilal&lt;/strong&gt; sewaktu menafsirkan surat Thaahaa 4/2328: &lt;strong&gt;"Beristiwa' di atas 'Arsy adalah ungkapan majazi tentang puncak kekuasaan dan ketinggian."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tafsir surat Al-Furqan dalam &lt;strong&gt;Azh-Zhilal&lt;/strong&gt; 5/2807, ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Lalu Dia beristiwa' di atas 'Arsy."&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Beristiwa di atas Arsy: simbol ketinggian-Nya di atas seluruh makhluk. Adapun Arsy itu sendiri maka tidak ada celah untuk mengatakan sesuatu tentangnya, namun harus berhenti pada lafazhnya. Berbeda dengan kata istiwa', yang nampak ini adalah ungkapan majazi tentang ketinggian. Sedangkan lafazh 'lalu' secara pasti tidak mungkin bermakna berurutannya waktu, karena Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; tidak mengalami keadaan yang berubah-ubah, tidak mungkin Dia &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; berada dalam suatu keadaan lalu berada pada keadaan yang lain. Namun yang dimaksudkan di sini hanyalah urutan maknawi: 'Lalu ketinggian adalah derajat di atas makhluk', ini diungkapkan dalam bentuk kalimat seperti itu."&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, dia mengulang-ulangi kata 'ketinggian' dan 'kekuasaan' dalam bentuk kalimat yang menunjukkan bahwa dia tidak mengakui adanya Arsy sebagai makhluk yang Ar-Rahman beristiwa' di atasnya, sebagaimana dia telah menyebutkannya berulang-ulang yang sebagiannya kian menegaskan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsir surat Ar-Ra'd dalam &lt;strong&gt;Zhilalil Qur'an&lt;/strong&gt; 4/ 2044-2045, ia katakan: &lt;strong&gt;"Dari pemandangan yang luar biasa ini, di mana manusia dapat melihatnya hingga kepada keluarbiasaan yang jauh tersembunyi yang tidak sanggup untuk dicapai oleh semua pandangan mata dan pemahaman:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Lalu Dia beristiwa' di atas Arsy."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Jikalau ia adalah ketinggian maka ini yang tertinggi dan seandainya ia adalah keagungan maka ini yang teragung, yakni ketinggian mutlak yang Dia gambarkan dalam bentuk wujud berdasarkan cara Al-Qur'an di dalam memberikan pendekatan tentang persoalan-persoalan yang mutlak bagi kemampuan pemahaman manusia yang terbatas. Ini juga merupakan sentuhan keluarbiasaan selanjutnya dari goresan-goresan pensil mu'jizat, sentuhan tentang ketinggian mutlak di samping sentuhan pertama tentang ketinggian yang dapat dilihat, keduanya berdampingan dan bersatu di dalam satu ungkapan. Serta dari ketinggian mutlak kepada penundukan/ pengendalian……"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat Al-Hadiid di dalam &lt;strong&gt;Azh-Zhilal&lt;/strong&gt; 6/ 3480, ia katakan: &lt;strong&gt;"Dan demikian juga dengan 'Arsy, kita beriman kepadanya sebagaimana yang Dia sebutkan sementara kita tidaklah mengetahui hakikatnya. Adapun beristiwa' di atas 'Arsy, maka kita sanggup untuk berkata bahwa 'la adalah ungkapan kiasan tentang kekuasaan di atas seluruh makhluk', ini berdasarkan apa yang kita ketahui dari Al-Qur'an secara yakin bahwa Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; tidaklah berubah-ubah keadaan-Nya. Tidak mungkin Allah awalnya tidak beristiwa' di atas 'Arsy lalu setelah itu beristiwa'. Pendapat lain: "Kita beriman kepada istiwa' namun kita tidak mencapai &lt;i&gt;ziyyat&lt;/i&gt; (gambaran bagaimana)-nya". Pendapat ini tidak menafsirkan:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Lalu Dia beristiwa' di atas Arsy."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hanya saja, lebih utama kita katakan "la adalah kata kiasan dari kekuasaan", sebagaimana yang telah kita sebutkan. Takwil di sini tidak keluar dari metode yang kita sebutkan tadi, karena ia tidak bersumber dan ketetapan-ketetapan yang berasal dari diri kita sendiri, bahkan ia bersandar kepada ketetapan-ketetapan Al-Qur'an sendiri dan gambaran yang diwahyukannya tentang Dzat Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; juga sifat-sifat-Nya."&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pembaca dapat melihat Sayyid Quthb menakwilkan sifat istiwa' dan ketinggian di manapun letaknya (dalam Al-Qur'an) dengan penafsiran&lt;i&gt; Jahmiyyah&lt;/i&gt; ini. Dia juga membangun tafsirnya di atas kaidah&lt;i&gt; Jahmiyyah&lt;/i&gt; sang sumber bid'ah. Lantas dia menguatkannya dengan kaidah yang dia buat dalam 'Visualisasi seni' dan ekornya 'Mengkhayalkan dan melahirkan dalam bentuk jasadi'. Kaidah ini juga merupakan sumber lain dari bid'ah-bid'ah yang buruk dan telah dia ukir dalam bukunya; &lt;strong&gt;At-Tashwirul Fanniy, Al-Masyahid&lt;/strong&gt;, dan &lt;strong&gt;Azh-Zhilal&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapannya:&lt;strong&gt; "Takwil di sini tidak keluar dari metode yang kita sebutkan tadi, karena ia tidak bersumber dari ketetapan-ketetapan yang berasal dari diri kita sendiri, bahkan ia bersandar kepada ketetapan-ketetapan Al-Qur'an sendiri."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini perkataan batil, ia sama sekali tidak bersandar kepada ketentuan-ketentuan Al-Qur'an. Namun justru bersandar kepada ketentuan-ketentuan sebelumnya yang bersumber dari filosofi &lt;i&gt;Jahmiyyah&lt;/i&gt; sesat, di mana mereka meneguknya dari buku-buku ahli bid'ah lagi sesat dan filosofi kelompok sufi ekstrem yang telah membawa mereka dan diri Sayyid sendiri sampai kepada ajaran &lt;i&gt;wihdatul wujud&lt;/i&gt; [Reinkarnasi atau istilah jawanya 'Manunggaling kawula Gusti', (keyakinan yang menyatakan bersatunya Allah dengan makhluk-Nya).&lt;i&gt; (-Penerbit)&lt;/i&gt;]. Kemudian dia menguatkan hal itu dengan filosofi barunya yang dia ambil dari peranan bioskop dan panggung sandiwara beserta apa yang mengikuti dan bersumber darinya, berupa; tontonan, pertunjukan, serta teori, kaidah-kaidah visualisasi, dan dasar-dasar berbagai bidang seni perfilman yang telah dia praktikkan atas Al-Qur'an dengan segala kebiadaban/keberanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Quthb dalam hal pengaburan dan menimbulkan kerancuan mempunyai bandingan, ketika dia men-&lt;i&gt;ta'thil&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;[2]&lt;/strong&gt; sifat-sifat Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt;. Dia mengatakan semisal ucapan di atas dan sewaktu dia menghina para shahabat &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhum&lt;/i&gt; dia katakan&lt;strong&gt; 'Saya bukanlah kaum Syi'ah'&lt;/strong&gt;, sebagaimana yang dikatakannya dalam&lt;strong&gt; Kutub wasy Syakhsiyyat&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengikut Sayyid Quthb telah mengambil pelajaran darinya berupa cara seperti ini, di mana mereka memerangi manhaj dan pembela Salaf, setelah itu mengaku-ngaku sebagai orang-orang salafi. Mereka juga menempuh jalannya dalam memberikan pengakuan palsu dan pengaburan. Hati mereka serupa dan arwah itu berkelompok-kelompok, maka apa yang sejalan ia pun bersatu dan apa yang tidak sehati ia pun berselisih. Jiwa mereka telah bersimpangan dengan jiwa para salafiyyin, serta jiwa mereka telah bersatu dengan jiwa Sayyid Quthb dan lain semisalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Sangat berlebihannya dalam memberikan penilaian bagi perfilman, seni peran, dan musik, sehingga jadilah seni dan Dien sebagai dua hal yang sepadan (sederajat) bagi Sayyid Quthb, sebagaimana yang dia katakan pada halaman 143-144 dalam buku &lt;strong&gt;At-Tashwirul Fanniy&lt;/strong&gt; dan halaman 231-232 pada &lt;i&gt;Al-Masyahid&lt;/i&gt;&lt;strong&gt;:"Dien dan seni adalah dua hal yang sepadan di kedalaman jiwa dan penegasan indera. Sementara tercapainya keindahan seni menjadi rambu adanya kesiapan untuk menerima pengaruh keagamaan [3], ketika seni naik ke tingkat setinggi ini dan ketika jiwa menjadi jernih untuk menerima &lt;i&gt;misi&lt;/i&gt; keindahan itu".&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam keyakinan batil ini ada kedustaan terhadap Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt;. Dien Islam dalam semua misi kerasulan merupakan syari'at Allah&lt;i&gt; subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; Rabb alam semesta. Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dia telah mensyari’atkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ha yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya)."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Asy-Syuura: 13)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah&lt;i&gt; subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut'."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(An-Nahl : 36)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk dari&lt;i&gt; thaghut&lt;/i&gt;: gambar (patung) yang diajarkan oleh setan dan dia telah menyesatkan generasi demi generasi dari masa Nuh&lt;i&gt; ‘alaihis sallam&lt;/i&gt; hingga hari kita ini. Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; telah mengutus para nabi untuk mencampakkan, menghancurkan, dan membersihkan bumi dan akal darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Bukhari &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; telah meriwayatkan dalam&lt;i&gt; Shahih&lt;/i&gt;-nya pada tafsir surat Nuh nomor 4920: "Sesungguhnya Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr adalah nama orang-orang Shalih dari kaum Nuh &lt;i&gt;‘alaihis sallam&lt;/i&gt;. Ketika mereka semua telah meninggal, maka setan membisikkan kepada kaum mereka untuk membangun patung (mereka) dan menamakan semuanya dengan nama-nama mereka ditempat majlis-majlis mereka yang dahulu mereka (orang-orang shaleh) duduk ditempat tersebut. Mereka pun melakukannya, namun saat itu belum disembah. Hingga tatkala mereka semua telah meninggal sedangkan ilmu telah terhapus, patung-patung itupun disembah (oleh generasi selanjutnya)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi saksi dalam hadits ini bahwa penggambaran (makhluk bernyawa) berasal dari bisikan setan, sementara Rasululah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; telah melaknat para pembuat gambar, juga Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;i&gt;"Sesungguhnya manusia yang paling berat siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah para pembuat gambar."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(HR. Al-Bukhari no. 5950)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan telah tersebut banyak hadits selain kedua hadits di atas yang menjelaskan kerasnya pengharaman gambar serta penggolongannya ke dalam dosa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Sayyid Quthb menghalalkannya, menafsirkan dengannya kitab Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt;, dan berpendapat itulah metode penafsiran Al-Qur'an yang tertinggi. Dia telah meminta bantuan untuk bukunya &lt;strong&gt;At-Tashwirul Fanniy fil Qur'an&lt;/strong&gt; kepada professor seni Diyauddin Muhammad, seorang pengawas bidang melukis di Kementrian Ilmu Pengetahuan agar memeriksa bagian khusus tentang kesejiwaan gambar. Lihat &lt;strong&gt;At-Tashwir&lt;/strong&gt; halaman 114.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun seni peran, maka ia berasal dari peribadatan berhala yang diciptakan oleh bangsa Yunani lantas diadopsi bangsa Romawi, setelah itu disebarkan oleh kuffar di negeri-negeri kaum muslimin ketika mereka menjajahnya serta menggunakannya sebagai senjata yang merusak Dien kaum muslimin dan akhlak. Termasuk di antaranya: bioskop, panggung sandiwara, musik, dan seni peran setan. Tidaklah diragukan bahwa seni peran/drama itu haram, sebab:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Padanya ada kedustaan, karena dusta adalah salah satu rukunnya yang harus ada. Demikianlah tatkala Sayyid Quthb memanfaatkannya diapun terjatuh dalam kedustaan, sebagaimana yang akan kami jelaskan di tempat mendiskusikan perkara ini.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penyerupaan diri dengan kuffar dan bertaklid buta terhadap mereka.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Laki-laki bisa berperan sebagai perempuan dan perempuan berperan laki-laki, lalu ber-&lt;i&gt;ikhtilath&lt;/i&gt; (bercampur baur) di dalamnya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Oleh sebab itulah banyak dari para ulama yang mengingkarinya dengan sangat tegas, di antaranya Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Abdillah bin Baz, Syaikh Al-Albani, Syaikh Hammud at-Tuwaijiriy, Syaikh Shalih al-Fauzan, dan Syaikh Shalih al-Luhaidan. Juga telah sangat banyak karangan buku Ahlussunnah yang mengharam-kannya, bahkan kalangan ahlil bid'ahpun ikut menyusun buku tentang keharamannya semisal Al-Ghummariy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun melodi musik &lt;strong&gt;(gitar atau piano atau organ????)&lt;/strong&gt;, maka ia adalah seburuk-buruk alat musik senda gurau yang melalaikan, banyak hadits shahih yang diriwayatkan berisi pengharamannya, juga para ulama Islam telah mengharamkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan merujuk kepada kitab &lt;strong&gt;Tahriim Aalaatith Tharbi &lt;/strong&gt;(Haramnya Alat Musik) karangan Al-Allamah Al-Muhaddits Al-Albani, jika engkau mau maka bacalah semuanya. Jika tidak, maka cukuplah pasal pertama halaman 36-74, di mana beliau &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; menyebutkan tujuh hadits dalam pembahasan ini yang menunjukkan diharamkannya lagu dan alat 'senda gurau' (musik). Beliau mempunyai kalimat sangat bagus tentang musik yang beliau&lt;i&gt; rahimahullah&lt;/i&gt; sebutkan di pembukaan kitab tersebut. Beliau &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; katakan pada halaman 15: "Di antara hal tersebut, kolom lain yang juga disiarkan oleh majalah &lt;i&gt;Ikhwanul Muslimun&lt;/i&gt; di edisi kelima dalam tema 'Musik Islami'. Tersebut padanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nada simponi (klasik) sebagai jenis musik kelas tertinggi yang dicapai oleh para musikus, seperti Beethoven, Straub, Mozart, dan Chicofisky. Semua itu mengungkapkan perasaan kejiwaan yang ada dari balik tabiat manusia, di dalamnya tergabung para pemusik handal dalam jumlah terbesar dengan alat musik paling modern yang beragam, agar lebih tepat dalam memberikan ungkapan dengan segala kemampuan yang dimiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok simponis Mesir yang berjumlah lebih dari 30 orang pemusik telah terbentuk, mereka dibantu oleh Yayasan Pemuda Kristen(?!) lantas bermain musik di salah satu universitas di Amerika(?!). Betapa pantasnya untuk kita menguasai bidang ini, betapa butuhnya kita kepada semangat baru yang akan menjadi pendobrak blantika musik dan meraih kemajuan internasional dalam bidang ini. Di saat itu, nampaklah sebuah warna tersendiri yang menguasai hati dunia internasional, yaitu musik Islami(?!) sebagai pengganti dari musik timur ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Al-'Allamah&lt;/i&gt; Syaikh Al-Albani mengatakan: "Saya katakan, inilah bukti terbesar bahwa anggapan kehalalan alat-alat musik telah tersebar pada kaum muslimin sampai pun oleh sebagian orang-orang yang menyerukan ‘Pengembalian kemuliaan kaum muslimin dan penegakan Daulah Islam', semisal &lt;i&gt;Ikhwanul Muslimun&lt;/i&gt;. Andaikan tidak demikian, maka tentu majalah mereka tidak akan mau untuk menyebarkan kalimat yang sangat jelas menghalalkan musik yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala ini. Tidak berhenti sekedar itu bahkan mengajak kepadanya, lantas menamakannya dengan 'musik Islami' di atas timbangan sosialis "Islam", demokrasi "Islam", .. ..dan lainnya yang membuat mereka terkena firman Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. "&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(An-Najm : 23)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; telah mengisyaratkan sebagiannya dalam sabda Beliau  &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam: "Sungguh akan ada umatku yang menghalalkan khamr dengan nama yang mereka sendin membuatnya" &lt;/i&gt;pada riwayat yang lain &lt;i&gt;"Mereka menamakannya dengan selain namanya”&lt;/i&gt;. Hadits ini dikeluarkan dalam &lt;strong&gt;Ash-Shahihah&lt;/strong&gt; halaman 90, juga akan datang di halaman 86."&lt;br /&gt;Berakhir kalimat Syaikh Al-Albani &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sebagian sendi rusak Sayyid Quthb yang dia sebutkan dalam buku &lt;strong&gt;At-Tashwirul Fanniy fil Qur'an&lt;/strong&gt; dan yang telah dikendarainya dalam menafsirkan ayat-ayat yang mulia, ayat-ayat yang telah dia jadikan sebagai lapangan praktik untuk kaidah-kaidah sesatnya. Begitulah dia melihat bahwa Al-Qur'an seluruhnya adalah tempat untuk mempraktikkan dasar-dasar tersebut. Dia juga telah mempraktikkan dalam buku &lt;strong&gt;Masyahidul Qiyamah fil Qur'an&lt;/strong&gt;, lalu nampak jelas jejaknya pada buku &lt;strong&gt;Azh-Zhilal&lt;/strong&gt;. Sebagaimana dia masih punya kaidah-kaidah lain yang dia praktikkan pada &lt;strong&gt;Azh-Zhilal&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;____________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Ta'thil: menghilangkan makna hakiki, (&lt;i&gt;-pent.&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;[3] Apakah para nabi, para shahabat, dan orang-orang shalih semuanya, mempunyai ketergantungan kepada seni laksana ketergantungan Sayyid Quthub beserta sanjungannya itu?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari: &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Nadzaraat fii Kitaabi At-Tashwiir Al-Fanniy fil Qur'aan Al-Kariim li Sayyid Quthb&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Penulis: &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhaly&lt;/strong&gt;; Edisi Indonesia: &lt;strong&gt;BANTAHAN TERHADAP KITAB AT-TASHWIRUL FANNIY FIL QUR'AN karya Sayyid Quthb&lt;/strong&gt;; Penerjemah: Muhammad Fuad, Lc; Cetakan: Pertama, Maret 2008; Penerbit: Pustaka Ar Rayyan]&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-6898242957504231362?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/6898242957504231362/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=6898242957504231362' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/6898242957504231362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/6898242957504231362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/membantah-ushul-yang-dipegangi-sayyid.html' title='Membantah Ushul yang dipegangi Sayyid Quthb dalam Menafsirkan Ayat-Ayat Al Qur’an yang menjadi Ajang  Praktik Ushul dan Teorinya'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-5933950871813073024</id><published>2008-05-21T18:22:00.004+07:00</published><updated>2008-05-21T18:48:18.456+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Sayyid Quthb'/><title type='text'>MUQADDIMAH</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Segala puji bagi Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt;, Shalawat dan salam bagi Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, keluarga, para shahabat, dan siapa saja yang mengikuti hidayah beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah&lt;i&gt; subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; yang berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik benci."&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; (Ash-Shaff : 9)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarlah Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; yang mulia ketika bersabda: &lt;i&gt;"Senantiasa ada dari umatku yang tampil di atas kebenaran, tidak memudlaratkan mereka siapa yang menelantarkan mereka sampai datang keputusan Allah sedangkan mereka tetap demikian."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(HR. Muslim no. 1920)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beliau&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; telah memberikan berita gembira dan peringatan. Di antara yang diperingatkannya, sabda Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;: &lt;i&gt;"Saya hanya khawatir atas umatku, para imam yang menyesatkan."&lt;/i&gt; (&lt;strong&gt;HR. Abu Dawud&lt;/strong&gt; 2/203, &lt;strong&gt;Ad-Darimi&lt;/strong&gt; 1/70 dan 2/311, &lt;strong&gt;At-Tirmidzi&lt;/strong&gt; 3/231 &lt;strong&gt;At-Tuhfah&lt;/strong&gt;, serta &lt;strong&gt;Ahmad&lt;/strong&gt; 5/178)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga di antara yang Rasulullah&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; peringatkan  dalam kalimat hadits tentang Dajjal, sabda Rasulullah&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;: &lt;i&gt;"Selain Dajjal yang lebih menakutkankn atas kalian."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(HR. Muslim 2137)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis ini lebih membahayakan Islam dibandingkan Dajjal dan musuh-musuh Islam lainnya yang nampak jelas. Mereka tidaklah memerangi Islam secara terang-terangan, namun justru menampakkan diri sebagai muslim dan mengusung slogan-slogan yang berkilau menarik hati. Namun di balik itu dia sembunyikan racun mematikan sekaligus maut. Sesuatu yang disayangkan.... Sangat disayangkan bahwa jenis-jenis ini merangkul banyak pengikut dan tentara pembela, di mana mereka mengagungkannya dengan seagung-agungnya hingga memosisikannya dalam sebuah singgasana yang kebal kritik, meski demikian jauhnya jenis-jenis ini berada dalam kesesatan dan penyimpangan. Juga menyebabkan mereka memandang remeh pelanggaran-pelanggaran maha besar lagi dahsyat yang dimunculkannya, hingga semua perkara itu menjadi lebih halus dari bulu kulit, walau sebenarnya lebih besar dari gunung-gunung yang kokoh. Akhirnya tepatlah mereka terkena perkataan Anas &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sungguh kalian melakukan perbuatan yang dalam pandangan kalian lebih halus daripada bulu kulit, padahal di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kami menilainya sebagai yang membinasakan."&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Andaikan Anas dan para shahabatnya yang cerdas hidup (di masa kini) sehingga melihat jenis ini dan mengetahui keadaan realitanya, maka beliau-beliau akan menganggap apa yang telah mereka (ingkari pada masanya serta mereka) nilai sebagai yang membinasakan itu sangat kecil (jika dibandingkan dengan kesesatan modern). Sungguh beliau-beliau akan melihat perbedaan yang demikian mengejutkan antara realitas masa beliau dengan realitas jenis ini. Sehingga bisa jadi banyak dari mereka akan lari ke atas gunung-gunung dan lembah-lembahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya demi Allah, kenyataan yang pahit benar-benar telah terjadi, sesungguhnya perkara ini persis sebagaimana yang digambarkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Hajj : 46)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berlindung kepada Allah dari realita mereka, kita benar-benar tunduk memohon kepada Allah untuk memberikan keselamatan bagi kaum muslimin dari bala' ini, serta semoga Dia&lt;i&gt; subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; mengambil kuduk orang yang tertimpa bala' ini untuk dibawa kepada kebenaran dan hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara bala' yang diuji dengannya kaum muslimin di masa ini ialah buku-buku dan &lt;i&gt;manhaj&lt;/i&gt; (pedoman) yang diletakkan oleh Sayyid Quthb. la laris di tengah-tengah mereka serta dipropagandakan, sedangkan hati dan mata mereka buta, sehingga mereka tidak mengenali bahayanya yang membinasakan dan kemudaratannya yang menghancurkan. Termasuk yang paling berbahaya di antara buku-bukunya itu: &lt;strong&gt;At-Tashwirul Fanniy fil Qur'an (Visualisasi Seni dalam AI-Qur'an)&lt;/strong&gt;, di mana buku ini demikian dikagumi banyak orang yang buta mata hatinya. Lantas Sayyid Quthb terperdaya dengan kekaguman orang-orang yang buta mata hatinya lagi hina ini hingga dia pun merasa tersanjung, kemudian dengan penuh kebanggaan berkata di penutup bukunya &lt;i&gt;Tashwirul Fanniy fil Qur'an&lt;/i&gt; hal. 253:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;((Sejak tujuh tahun lalu terbit cetakan pertama buku ini, saya memuji Allah subhanahu wa ta’ala bahwa ia (bukunya) meraih taufiq sehingga mendapatkan sambutan di tengah-tengah kesusastraan, keilmiahan, dan keagamaan secara menyeluruh dengan sambutan baik, yang tidak lain menggarisbawahi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Agama tidaklah berhenti di hadapan jalan pembahasan kesenian dan keilmiahan yang meliputi semua kesakralannya, dengan cakupan yang terlepas dari semua ikatan.&lt;br /&gt; Pembahasan keindahan seni dan keilmiahan tidaklah menabrak dan mencoreng Dien, selama niat itu ikhlas serta terlepas dari bualan dan slogan kosong.&lt;br /&gt; Kebebasan berpikir tidaklah berarti bersikap antipati terhadap Dien sebagaimana yang difahami oleh sebagian orang yang ikut-ikutan dalam kebebasan.))&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Quthb telah menjadikan sambutan baik -menurut prasangkanya- di tengah-tengah hal yang dia sebutkan, sebagai bukti bahwa Dien tidaklah berhenti di hadapan jalan pembahasan keindahan seni dan keilmiahan&lt;strong&gt; [1]&lt;/strong&gt; yang meliputi semua kesakralannya dengan cakupan yang terlepas dari semua ikatan. Seorang yang berakal tentu meragukan orang-orang yang menyambut bukunya dengan sambutan semacam ini. Yang mungkin hanyalah: mereka adalah orang-orang bodoh atau orang-orang yang bebas lepas dari urusan Dien sebagaimana kebebasannya yang telah dia akui sendiri sewaktu menulis bukunya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami katakan kepada Sayyid Quthb: Maka apakah yang tersisa dari semua kesakralan (kesucian) itu jikalau ia dikungkung oleh pembahasan seni dan keilmiahan yang terlepas dari semua ikatan?! Bagaimana mungkin dia tidak membentur segala kesucian agama serta mencoreng kedudukannya, sementara dia dalam bahasan ini telah terlepas dari semua ikatan, sehingga tidak ada aqidah yang memagari dan mengikatnya, tidak ada adab, penghormatan, pemuliaan, dan mengagungkan kesucian agama/dien?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah Sayyid Quthb yang menegaskan sendiri di penutup buku ini: &lt;strong&gt;"Saya dengan terang-terangan menegaskan hakikat yang terakhir ini, serta gamblang saya tegaskan bersamanya, bahwa sesungguhnya saya, dalam persoalan ini, tidak tunduk pada suatu aqidah keagamaan yang mengikat pikiranku dari pemahaman." (At-Tashwirul Fanniy&lt;/strong&gt; hal. 255)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Rabi' berkata : Demi Allah, dia telah melakukan banyak hal atas nama kebebasannya itu, betapapun dia menyangkakan untuk dirinya berbagai sangkaan dan juga betapapun selainnya mendugakan baginya segala dugaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya aqidah Islam tidaklah membelenggu akal dan pikiran, bahkan aqidah Islam:&lt;br /&gt;1. Memperlihatkan akal dengan sangat jelas dan mengarahkannya secara benar kepada (sikap) menghormati kebenaran dan mengupayakan menggapai yang hakiki dengan teliti, tenang, dan adab.&lt;br /&gt;2. Melepaskannya dari ikatan khurafat, warisan kepercayaan, dan aqidah keyakinan yang rusak, di mana jatuh kedalamnya Sayyid Quthb dan orang-orang semisalnya.&lt;br /&gt;3. Aqidah Islam memutus segala belenggu dan rantai pengikat hal-hal di atas.&lt;br /&gt;4. Aqidah Islam menempatkan bagi akal batasan-batasan yang tidak boleh dilampauinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan gambaran Sayyid Quthb tentang aqidah Islam, di mana Ahmad Muhammad Jamal telah membantah ajaran yang dia serukan dalam 15 persoalan dalam kitabnya &lt;strong&gt;Maa'idah Al-Qur'an&lt;/strong&gt; hal. 50-51. Di antara perkara yang beliau bantah atas Sayyid Quthb: Pengingkarannya akan keyakinan bahwa kaum mukmin akan melihat Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt;. Beliau katakan di pembukaan debat ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{"Hal pertama yang hendak aku bantah pengarang tentangnya ialah perbuatannya yang terus-menerus mempropagandakan dan mendengung-dengungkan di dalam beberapa tempat pada bukunya, bahwa dia -misalnya- tidaklah memikirkan pemikiran ini, tidaklah tergambar baginya gambaran ini, atau tidaklah berpegang dengan sikap ini bukan disebabkan dia seorang agamis yang aqidah agamanya membelenggunya dari pemahaman dan pengkajian. Akan tetapi, semata karena dirinya seorang pemikir yang menghargai pikirannya."}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mau ikut campur dalam apa yang terjadi antara Sayyid Quthb dengan sanjungannya terhadap pemikiran dan pekerjaannya, selalu dengan (gemboran) bisikan pemikiran ini ke dalam seluruh pendapatnya. Hanya saja, saya hendak turun tangan terhadap luka perasaan yang ditimbulkan oleh sanjungan yang tidak tahu malu dan berbangga ini, bahwa aqidah Islam (yang tidak dianggap oleh pengarang dalam pekerjaannya, untuk menetapkan bahwa yang teranggap baginya hanyalah pemikirannya sendiri dalam pekerjaannya itu) menghalangi antara pemahaman yang dalam dan pembahasan yang bebas dalam upaya mencapai hasil pendapat yang masuk akal lagi dapat diterima, apakah persoalannya demikian, wahai ustadz Sayyid?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri juga menyayangkan Ahmad Muhammad Jamal. Meskipun ia telah mendebat beberapa kesalahan Sayyid Quthb pada buku &lt;strong&gt;Al-Masyahid&lt;/strong&gt; tapi tidak sempurna itu, dikarenakan bersamaan dengan itu ia mengungkapkan kekagumannya pada buku &lt;strong&gt;At-Tashwirul Fanniy&lt;/strong&gt; dan pengarangnya. Saya tidak tahu apakah sebab-sebab yang telah mendorongnya kepada kekaguman ini, terlebih lagi bahwa buku &lt;strong&gt;At-Tashwirul Fanniy&lt;/strong&gt; terkandung di dalamnya banyak kesesatan yang mengecilkan kesesatan yang terdapat dalam buku &lt;strong&gt;Al-Masyahid&lt;/strong&gt;. Bisa jadi dia belum membaca semua kesesatan ini. Saya yakin jika dia membacanya maka tentu dia akan mendebat Sayyid Quthb atau bagian-bagian yang terpenting darinya, hanya Allah&lt;i&gt; subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; satu-satunya yang Maha Tahu tentang para hamba-Nya.&lt;br /&gt;________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Ucapan Sayyid: “Din tidaklah berhenti di hadapan jalan pembahasan keindahan seni dan keilmiahan”, maknanya: Dien/ agama bukan anti kesenian dan keilmiahan, &lt;i&gt;wallahu a’lam&lt;/i&gt; (-pent.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari: &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Nadzaraat fii Kitaabi At-Tashwiir Al-Fanniy fil Qur'aan Al-Kariim li Sayyid Quthb&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Penulis: &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhaly&lt;/strong&gt;; Edisi Indonesia: &lt;strong&gt;BANTAHAN TERHADAP KITAB AT-TASHWIRUL FANNIY FIL QUR'AN karya Sayyid Quthb&lt;/strong&gt;; Penerjemah: Muhammad Fuad, Lc; Cetakan: Pertama, Maret 2008; Penerbit: Pustaka Ar Rayyan]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-5933950871813073024?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/5933950871813073024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=5933950871813073024' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/5933950871813073024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/5933950871813073024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/muqaddimah.html' title='MUQADDIMAH'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-5911559978405735009</id><published>2008-05-15T20:32:00.006+07:00</published><updated>2008-07-21T18:42:40.795+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyimpangan IM'/><title type='text'>Penyimpangan Keenam: Diwarisinya akidah Al-Banna (yaitu meremehkan syirik Uluhiyyah) oleh pengikutnya bahkan oleh para pemimpin dan penasehat mereka</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan Umum Keenam:&lt;br /&gt;Diwarisinya akidah Al-Banna (yaitu meremehkan syirik Uluhiyyah) oleh pengikutnya bahkan oleh para pemimpin dan penasehat mereka; Mushthafa As-Siba'i, Sa'id Hawwa, Umar At-Tilmisani dan lainnya&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Berikut penjelasannya:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adapun &lt;strong&gt;Mushthafa As-Siba'i&lt;/strong&gt; -mursyid umum Al-Ikhwan di Suriah- pernah berkata dalam sebuah &lt;i&gt;qashidah&lt;/i&gt; yang dia susun dalam &lt;i&gt;Ar-Raudhatun Nadiyyah&lt;/i&gt; (sebagaimana yang dia katakan), lalu dia membacanya di depan kamar sebelum berhaji dan sepulangnya, berjudul &lt;i&gt;Munajat baina Yadai Al-Habibil A'Zham&lt;/i&gt;, di antara yang dia katakan padanya &lt;strong&gt;102)&lt;/strong&gt;:&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;Wahai nahkoda perjalanan ke arah Al-Bait dan Al-Haram&lt;br /&gt;Dan ke arah Thibah (Madinah) yang menginginkan Pemimpin seluruh umat shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;br /&gt;Kalau upayamu menuju Al-Mukhtar shallallahu ‘alaihi wa sallam nafilah&lt;br /&gt;Maka upaya semisalku adalah wajib bagi para pemilik cita-cita&lt;br /&gt;Wahai Pemimpinku! Wahai Kekasih Allah! Saya telah datang ke&lt;br /&gt;ambang pintumu mengaduh parahnya penyakitku&lt;br /&gt;Wahai Pemimpinku! Telah memuncak penyakit ini dijasadku&lt;br /&gt;sebab parahnya sakit, maka saya tidak terlena dan tidak pula dapat tidur&lt;br /&gt;(……………….hingga akhir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;Tanggapan atas bait-bait ini:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Dia menganggap perjalanannya menuju kubur Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; sebagai kewajiban, ini adalah bid'ah dalam Dien, sebab perjalanan jauh tidak boleh dilakukan kecuali menuju masjid Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dia menetapkan suatu hukum yang tidak sesuai dengan syari'at dengan menjadikan hal itu sebagai suatu kewajiban. Merupakan perkataan dalam syari'at Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; tanpa dalil bahkan sekedar hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dia beristighatsah kepada Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, menyeru Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;  dan menyebutkan bahwa dirinya datang dari jauh yang berjarak perjalanan sebulan (dari Suriah ke Madinah Munawwarah) dalam keadaan mengaduh, beristighatsah dan memohon perlindungan. Sungguh ini adalah bencana besar, syirik akbar yang mengeluarkan dari Islam. Kenapakah dia tidak mengadu kepada Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri yang tidak mengantuk dan tidak tidur?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah dia mau mengungkapkan kesusahannya kepada Siapa yang telah menurunkan dan menakdirkan kesusahan itu, dimana Dialah yang sanggup untuk menghilangkannya kapan saja Dia &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; berkehendak?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seperti ini keadaan para penasehat manhaj ini, maka bagaimanakah sangkaanmu akan keadaan pengikutnya, sedangkan yang belum ditulis jauh lebih banyak dibandingkan dengan apa yang sudah ditulis. &lt;i&gt;Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Adapun &lt;strong&gt;Sa'id Hawwa&lt;/strong&gt;: Dia telah menyebutkan di dalam bukunya &lt;i&gt;Tarbiyyatuna Ar-Ruhiyyah&lt;/i&gt; pujian untuk Tarekat  &lt;i&gt;Ar-Rifa'iyyah &lt;/i&gt;dan berprasangka bahwa para pengikutnya mempunyai banyak keramat di antaranya; seseorang dari mereka ditikamkan dengan pedang dari punggung hingga menembus dada dan setelah itu dicabut kembali namun tidak mengalami apa-apa. Seolah Sa'id berkeyakinan bahwa mereka itu lebih afdhal dari Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, dimana Nabi&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; pernah dipukul topeng bajanya maka dua besinya menusuk pipi Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; sehingga mengalirlah darah dari wajah Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, ketika itu Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;i&gt;"Bagaimana akan selamat suatu kaum yang mengucurkan darah dari wajah Nabi mereka".&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Sa'id juga menyangka bahwa Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; telah mendinginkan api bagi pengikut tarekat &lt;i&gt;Ar-Rifa'iyyah&lt;/i&gt; sehingga api tidak membakar mereka. Ini adalah bagian dari sihir dan sulap bathil, sementara dia menyangka semua itu termasuk keramat yang dimiliki oleh Syaikh mereka Si Pendusta, Zindiq Ahmad Ar-Rifa'i yang berkata berdasarkan nukilan darinya: "Sayalah tempat kembali orang-orang yang terputus, Sayalah tempat kembali semua kambing yang pincang yang terputus jalanannya, sayalah syaikhnya orang-orang yang lemah, saya syaikh-nya siapa yang tidak punya syaikh sehingga syaitan tidak akan menjadi syaikh walau terhadap seorangpun dari umat Muhammad &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; Telah diambil sumpahku secara umum untuk menjadi wakil Nabi&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; hingga Hari Kiamat. Arsy kiblat cita-cita, Ka'bah kiblat semua dahi, sedangkan Ahmad -maksudnya: dirinya- kiblat semua hati." &lt;strong&gt;103)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan: Kezindiqan apa yang lebih hebat dari ini?! Kebohongan apa yang lebih besar dari kepalsuan ini?! Syirik apa yang lebih dahsyat dari syirik ini?! Apakah kamu hai Rifa'i kiblatnya semua hati, lalu apa yang kamu sisakan untuk Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;?! Tidakkah engkau mendengar firman Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?"&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(QS. An-Naml: 62)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kekafiran terbesar dan kesyirikan yang paling hebat, kesyirikan yang mengeluarkan seseorang dari Islam. Sedangkan siapa saja yang tidak mengkafirkan orang kafir yang terang-terangan dalam kekafirannya maka dia juga kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak kejadian semacam ini dalam barisan kaum sufi yang menyimpang, pengakuan dusta terhadap hak Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dan tidak beradab terhadap-Nya &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, maka mereka akan mendapatkan murka Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; yang pantas atas mereka. Lebih dahsyat lagi dari keburukan ini, apa yang dinukilkan oleh penulis &lt;i&gt;Al-Kasyfu an Haqiqatish Shufiyyah li Awwali Marrah fit Tarikh&lt;/i&gt; tentang Ahmad Rifa'i Al-Ghauts &lt;strong&gt;104)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta bahwa Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; mengekalkan keramat ini pada semua pengikut yang bergabung dengannya, baik shaleh atau &lt;i&gt;thaleh&lt;/i&gt; (jahat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bertakwalah kepada Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; kalian semua yang mengekor pada Al-Ikhwan, bergabung dengan manhaj mereka dan membelanya!! Di manakah &lt;i&gt;wala'&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;bara'&lt;/i&gt; kalian untuk Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dan di jalan-Nya&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; ?! Sesungguhnya Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; telah memerintahkan kita untuk berlepas diri dari ahli kebathilan sekalipun mereka itu orang yang paling dekat kepada kita, Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(QS. At-Taubah: 23-24)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai kalian yang tumbuh dengan air susu tauhid dan mendapatkan gizi pelajaran tauhid di semua jenjang pendidikan, apakah kalian akan menjual kebenaran yang kalian tumbuh di atasnya dengan kebathilan yang Allah Maha Tahu tentang keadaan pengikutnya?! Sesungguhnya sekalipun dihiasi dan diperindah dengan segala macam hiasan maka kebathilan tetap saja bathil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dakwah mana saja yang berdiri untuk memerangi kemungkaran dan menetapkan yang halal -menurut sangkaan bodohnya namun di sisi lain dia meninggalkan pondasi bangunan iman dan asas tegaknya akidah, maka mau tidak mau, suka tidak suka dakwahnya itu adalah bathil, sama saja dia menerima ataupun menolak dikatakan demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan: Dakwah mengajak untuk meninggalkan zina, riba dan minum-minuman keras semuanya adalah dakwah kepada kebenaran, namun hal itu harus dilakukan setelah dia membenarkan akidah. Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; tinggal di Mekkah selama sepuluh tahun dan tidak mengajak kecuali kepada tauhid, Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; katakan kepada kaumnya &lt;i&gt;"Katakanlah Laa ilaaha illallaah, maka kalian akan beruntung! Katakanlah Laa ilaaha illallaah, sebuah kalimat yang akan membuat seluruh bangsa Arab patuh kepada kalian dan kalian akan menguasai dengannya bangsa 'Ajam"&lt;/i&gt;, maka kaum Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menjawab:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(QS. Shad: 5)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah sempurna sepuluh tahun, maka Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; di&lt;i&gt;mi’raj&lt;/i&gt;kan ke langit dan diwajibkan atasnya shalat lima waktu. Namun hingga Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; berhijrah ke Madinah, ditetapkan fardhu-fardhu, disyari'atkan hukum-hukum serta dijelaskan yang halal dan haram, namun dakwah Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; tidak pernah dimulai kecuali dengan &lt;i&gt;tauhid&lt;/i&gt; terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana tersebut dalam hadits Ibnu Abbas &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/i&gt; kisah Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; mengutus Mu'adz &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt; ke Yaman. Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda kepadanya: &lt;i&gt;"Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum dari Ahli Kitab, maka hendaklah awal yang engkau dakwahkan kepada mereka ialah Syahadat Laa ilaaha illallaah dan Muhammad Rasulullah. Kalau mereka menaatimu dalam urusan itu, maka ajarkanlah mereka bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam………"&lt;/i&gt; (Al-Hadits)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka siapa saja yang mendiamkan orang-orang yang &lt;i&gt;thawaf&lt;/i&gt; di kubur, memanggil-manggil penghuni kubur setiap kali mengalami kesusahan, menyembelih untuknya, beristighatsah dengan mereka serta bernadzar untuknya, berdakwah mengajak orang-orang untuk meninggalkan dosa-dosa besar tanpa menyinggung kesyirikan yang mereka lakukan dengan keyakinan bahwa pelakunya tidaklah melakukan kemungkaran, maka sang da'i telah mengerjakan kemungkaran yang lebih dahsyat dari semua kemungkaran yang dia ceramahkan agar ditinggalkan oleh orang-orang. Maka kami menanyakan kepada orang-orang yang menganggap dirinya berdakwah menuju Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;  dengan semua pertanyaan di bawah ini, lalu kami mengharapkan agar mereka menjawabnya dengan tegas. Kalau mereka tidak melakukannya dan tidak mau kembali kepada kebenaran maka Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; -lah tempat kita bertemu dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Apakah yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar kubur Husein, Sayyidah Zainab, Badawi dan selainnya berupa berdoa kepada penghuni kubur itu, beristighatsah kepada mereka untuk mendapatkan kemanfaatan dan menolak kemudharat-an, menyembelih untuknya, bernadzar untuknya dan Iain-Iain -apakah itu mempersekutukan Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; atau tidak?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kalau itu bukan syirik, maka syirik manakah yang menjadi sebab para rasul diutus dengan perintah untuk memeranginya, diturunkan kitab-kitab, dihunus pedang dari sarungnya, serta diciptakan surga dan neraka?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sama ataukah tidak seorang yang berdoa kepada patung yang diukir dari kayu, batu atau lainnya dalam rupa seorang wali, dengan orang yang berdoa kepada wali itu sendiri atau sujud kepadanya, thawaf di kuburnya dan memanggil namanya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Seorang dai yang mengajak manusia untuk beribadah dengan berdzikir, melakukan amalan-amalan sunnah dan meninggalkan berbagai kemungkaran (selain syirik), sementara mereka tenggelam dalam kesyirikan, apakah da'i ini benar atau salah?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah dakwah tersebut sejalan dengan dakwah Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; ataukah menyelisihinya?! Kalau kalian menjawab "Sejalan", maka datangkanlah dalil bahwa Nabi&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; pernah menyambut seseorang sebagai muslim sedangkan orang itu tidak mengkafiri semua yang di-sembah selain Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;! Demi Allah, kalian tidak akan mendapatkannya, kalian tidak akan mendapatkan kecuali sesuatu yang memangkas habis para peribadah kubur di depan mata.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Kalau kalian menjawab bahwa dakwah kalian telah menyalahi dakwah Nabi&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, maka kalian tertuntut wajib untuk memilih salah satu dari dua perkara lalu kalian mengikutinya dengan amalan nyata:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Apakah dakwah Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dan seluruh rasul &lt;i&gt;‘alaihimus sallam&lt;/i&gt; itulah kebenaran yang tidak ada keraguan terhadapnya dan tidak ada celah untuk melenceng darinya, sebab sesungguhnya mereka berjalan dalam dakwah berdasarkan wahyu dan perintah Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, sebagaimana yang Dia &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla  &lt;/i&gt;tetapkan dalam Kitab-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku"."&lt;/i&gt;&lt;strong&gt;(QS. Al-Anbiya': 25)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ataukah kalian akan berkata bahwa dakwah selainnyalah yaug benar sedangkan dakwah Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; adalah salah, maka saya tidak berpandangan bahwa ada seseorang yang ber-&lt;i&gt;intima'&lt;/i&gt;  kepada syari'at Beliau&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; (yakni masih mengaku muslim) akan sanggup berkata seperti ini, sebab kalau dia berani mengatakannya maka dia dipastikan telah kafir.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;strong&gt;Terakhir&lt;/strong&gt;: Saya akan menukilkan kalimat Sa'id Hawwa dari buku &lt;i&gt;Tarbiyyatuna Ar-Ruuhiyyah&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;105) &lt;/strong&gt;karangannya. la mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seorang Nashrani pernah bercerita kepada saya suatu kejadian yang dia alami sendiri dan masyhur diketahui bersama. Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;  mempertemukanku dengannya setelah sampai beritanya kepadaku melalui orang lain. Dia pernah menghadiri &lt;i&gt;halaqah&lt;/i&gt; dzikir lalu salah seorang yang hadir menikam punggungnya dengan pedang hingga menembus dadanya dan dia memegangnya, setelah itu pedang ditarik tanpa meninggalkan bekas dan rasa sakit apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya apa yang terjadi pada berbagai tingkatan generasi Tarekat Ar-Rifa'iyyah termasuk &lt;i&gt;fadhilah&lt;/i&gt; terbesar yang Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;  berikan kepada umat ini, sebab siapa yang menyaksikannya maka telah tegak hujjah atasnya dalam bentuk yang jelas tentang mu'jizat para nabi &lt;i&gt;‘alaihimus sallam&lt;/i&gt; dan keramat para wali. Siapa yang melihat salah seorang umat Islam memegang api sementara api itu tidak menimbulkan apa-apa pada dirinya, bagaimana mungkin dia akan menganggap aneh tatkala Nabi Ibrahim &lt;i&gt;‘alaihis sallam&lt;/i&gt; dilemparkan ke api (namun tidak menimbulkan apa-apa)?! Siapa yang melihat sebilah pedang menembus punggung salah seorang umat Muhammad&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, ditusukkan dari dadanya lalu dicabut tanpa menimbulkan bekas dan mudharat, apakah dia akan menganggap aneh kejadian semisalnya?! Yakni kejadian dibelahnya dada Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema ini sangat penting, kita tidak boleh menyikapinya dengan sikap zhalim terhadap kedudukannya dalam menegakkan hujjali  untuk Dinullah dalam kejadian yang semisal dengannya. Alasan terbesar dari orang yang mengingkari hal ini ialah: "Kejadian-kejadian di Iuar kebiasaan ini juga terjadi pada orang-orang fasik sebagaimana terjadi pada orang-orang shalih". Ini benar, tapi menunjukkan bahwa: Keramat yang dimiliki oleh Syaikh pertama ini (syaikh yang dimuliakan oleh Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dengan keramat tersebut lalu berlanjut dimiliki juga oleh para pengikutnya) adalah bagian kemu'jizatan Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; yakni keramat bagi Syaikh Ahmad Ar-Rifa'i." (selesai ucapan Said Hawwa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan kepada Syaikh Sa'id:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Sumbermu terpercaya sebab datang dari seorang Nashrani!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah majlis dzikir sufi mempunyai sandaran dari syari'at Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dan amalan Salaf &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhum&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah berdzikir kepada Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dengan cara yang Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; syari'atkan melalui lisan Nabi-Nya Muhammad &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; boleh dijadikan jalan sihir dan sulap? Ataukah itu adalah dzikir bid'ah kalian wahai penganut tarekat sufi?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sesungguhnya mu'jizat para nabi&lt;i&gt; ‘alaihimus sallam&lt;/i&gt; itu terjaga, kaum muslimin tidak butuh untuk meyakininya melalui sulapan, perbuatan hina kaum zindiq dan khayalan para pendusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di Yaman ada orang-orang rendahan yang tidak shalat tidak pula berpuasa yang digelari 'ahli debus'. Mereka menusuk sebelah bawah matanya dengan lonceng hingga tertancap besinya dan dibiarkan menggantung sendiri di bawah matanya, demikian yang diperlihatkan kepada penonton sambil memegang banyak ular di tangannya. Apakah dengan menusuk matanya itu mereka tergolong memiliki karamah sementara mereka juga mengatakan telah menusuk lautan Ibnu Ulwan penghuni sebuah kuburan di Yaman?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertakwalah kepada Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; hai Sa'id! Beginikah Islam yang engkau sangka dirimu telah mendakwahkannya di dalam karangan-karanganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tampak dari uslub kalimatmu bahwa engkau hendak menjadikan kelihaian palsu sufi sebagai bukti kebenaran terjadinya pembelahan dada juga memegang api sebagai bukti kebenaran Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; menjadikan api dingin dan keselamatan bagi Ibrahim &lt;i&gt;‘alaihis sallam&lt;/i&gt;. Ini memberikan konsekwensi bahwa kamu menjadikan kehebatan palsu sufi dan khayalan sihir mereka sebagai pokok, sedangkan mu'jizat para rasul sebagai cabangnya, karena hanya pokok yang dijadikan bukti bagi cabang.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Kami katakan padamu: Pahamilah kalau engkau belum faham bahwasanya mu'jizat para rasul didukung oleh kekuasaan ketuhanan yang dibangun di atasnya akidah keimanan, sedangkan kelihaian palsu sufi itu disepuh dengan gerak langkah syaitan sehingga tersesatlah dengannya siapa yang dikehendaki oleh Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; kesesatan baginya dan ditetapkan kesengsaraan, &lt;i&gt;Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah! Peliharalah kami dengan karuniamu dari kesesatan orang-orang yang sesat, berilah kami taufik dengan rahmat-Mu ke jalan orang-orang yang mendapatkan hidayah, serta lindungilah kami dari fitnah-fitnah yang menyesatkan, wahai Rabb alam buana!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun &lt;strong&gt;Umar At-Tilmisani&lt;/strong&gt;, telah dinukilkan bahwa dia menyatakan di dalam bukunya &lt;i&gt;Syahidul Mihrab Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;106)&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebagian orang berkata "Sesungguhnya Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; hanyalah memohonkan ampunan untuk mereka ketika mereka mendatangi Beliau&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; sewaktu Beliau&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; masih hidup saja". Saya kurang mengerti apa sebab mereka membatasi ayat ini dengan doa permohonan ampunan Nabi&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; ketika Beliau masih hidup saja, padahal tidak ada yang menunjukkan pembatasan dalam ayat tersebut?!))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, At-Tilmisani menganggap boleh berdoa kepada Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dan meminta ampunannya sepeninggal Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga mengatakan &lt;strong&gt;107)&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;"Oleh karena itu nampaknya saya cenderung memilih pendapat pihak yang menyatakan bahwa Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dapat memohonkan ampunan saat Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; masih hidup dan setelah wafatnya bagi orang yang mendatangi Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dengan maksud mendapatkan kelapangan dan kedermawanannya)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah itu dia katakan pada halaman yang sama:&lt;br /&gt;"Jika demikian, maka tidak ada alasan untuk bersikap keras mengingkari orang-orang yang meyakini keramat para wali, mendatangi mereka di kuburnya yang suci, dan berdoa di sana ketika susah dan keramat para wali termasuk bukti mu'jizat para nabi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga mengatakan &lt;strong&gt;108):&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;"Kita tidak ambil pusing dengan orang-orang yang menjunjung, para wali Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, peziarahnya dan orang-orang yang berdoa di kuburan mereka.))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ajami (semoga Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; memeliharanya) memberi komentar: "Tidak tertinggal satupun kesyirikan kubur melainkan telah dihalalkan oleh Penasehat Umum Ikhwanul Muslimin dengan kata-katanya Ini."&lt;strong&gt;109)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan: &lt;strong&gt;Kalau keadaan para penasehat dan cendikiawan manhaj Al-Ikhwan ini demikian, maka coba anda bayangkan bagaimana dengan pengikutnya??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seperti ini yang sempat tertulis, maka bagaimana dengan yang belum tertuliskan??&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah masuk akal, seorang menyangka dirinya berakidah tauhid sementara dia memberikan loyalitasnya kepada siapa yang menghalalkan syirik akbar (syirik besar), dan sebaliknya marah serta memperingatkan orang-orang agar menjauhi para pembela akidah tauhid??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya telah mendengar sebuah kabar, jika itu benar maka sungguh ini adalah bencana dahsyat. Saya mendengar seorang pengikut manhaj kontemporer membeli semua kitab yang mengkritik manhaj mereka dalam jumlah yang sangat banyak lalu mereka membakarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau benar demikian, maka ini benar-benar perkara yang buruk dan saya khawatirkan kemurtadan atas pelakunya, sebab siapa yang membakar kitab tauhid, yakni kitab yang membela akidah tauhid dan membantah kaum musyrikin serta menjelaskan keburukan akidah mereka, sungguh perbuatannya itu telah ternilai sebagai memperjuangkan keberhalaan dan memerangi akidah tauhid, &lt;i&gt;Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Al-Ajami menyatakan dalam kitabnya &lt;i&gt;Al-Waqafat&lt;/i&gt; (semoga Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; membalasinya dengan kebaikan):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tentunya At-Tilmisani mengetahui bahwa pada kuburan-kuburan yang ada di Mesir -sebuah negara dimana buku &lt;i&gt;Syahidul Mihrab Umar bin Al-Khaththab&lt;/i&gt; terbit dari sana serta Umar At-Tilmisani sebagai Mursyid Umum di sana- telah dilakukan syirik terbesar yang pernah dikenal oleh bumi; kuburan dithawafi oleh orang-orang dan dimohon darinya semua yang dimohon kepada Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dengan sebab para penghuninya (dianggap sebagai) wali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya banyak di antara mereka (yang dianggap sebagai wali itu) adalah golongan orang-orang zindiq yang menyimpang misalnya; Sayyid Al-Badawi seorang da'i Al-Fathimi yang tidak pernah menghadiri shalat (jama'ah) sama sekali. Juga kelompok sufi sesat misalnya; Asy-Syazali, Ad-Dasuqi, Al-Qanawi dan selainnya di berbagai tempat.))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan: Berdoa kepada selain Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; adalah syirik besar siapapun yang diseru, apakah malaikat  yang, dekat dengan  Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, nabi dan rasul, atau siapa saja, semuanya adalah perbuatan mempersekutukan Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; yang membatalkan keislaman ……..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Al-Ajami meneruskan:&lt;br /&gt;"Itukah wali-wali mereka?! Itulah kubur yang diseru oleh Mursyid Umum Ikhwanul Muslimin yang juga pernah berkata &lt;strong&gt;110)&lt;/strong&gt; dengan pernyataannya: "Kalau demikian keinginan, cinta dan ketergantunganku kepada para wali Allah kalau demikianlah perasaanku yang melimpah ruah dengan ketenangan dan keelokan sewaktu berziarah dan berada di sisi mereka, sesungguhnya ia tidak mencacatkan akidah tauhid -demikian?!-, Sesungguhnya saya tidak mengajak untuk menghadap kepada dzatnya dan seluruh urusan ini dari awal hingga akhirnya adalah urusan menikmati. Lalu saya katakan kepada orang-orang yang keras mengingkari: Pelan-pelan, tidak ada kesyirikan dalam perkara ini, keberhalaan dan pengingkaran terhadap Ilah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ajami mengatakan: Apalagi yang tersisa sesudah diremehkannya perkara tauhid dan akidah ini, sampai-sampai dia menjadikan berdoa kepada mayat ketika susah sebagai kenikmatan yang tidak ada kesyirikan padanya ataupun keberhalaan, inilah prasangka Mursyid Umum Ikhwanul Muslimin……. (Selanjutnya:) Apakah manhaj akidah Ikhwani yang melahirkan semacam At-Tilmisani adalah manhaj Salaf tanpa diragukan lagi?! Apakah sebuah jama'ah yang rela barisannya dipimpin oleh Mursyid Umum yang berkata seperti ini bisa dikatakan jama'ah Salafiyah?! Kecelakaan bagi jama'ah salafiyah kalau alumnusnya seperti ini demikian pula tokoh, mursyid dan pemimpinnya.))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan: Semoga Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; membalasimu dengan kebajikan wahai Ajami dan memberikan sebaik-baik balasan bagi semua yang memperjuangkan akidah tauhid dengan kalimat yang diucapkannya atau huruf-huruf yang ditulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;___________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari : &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Al Mauridu Al'Adzbi Az-Zalaal Fiima Untuqida 'Alaa Ba'dli Al-Manahij Ad-Da'awiyah Min Al-'Aqaaid wa Al-A'mal&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Penulis: Syaikh &lt;i&gt;Al-Allamah&lt;/i&gt; Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt;; Resensi dan Pujian: Shahibul Fadhilah Asy-Syaikh &lt;i&gt;Al-'Allamah&lt;/i&gt; Shalih bin Fauzan Al Fauzan &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt; - Fadhilatusy Syaikh Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali&lt;i&gt; hafizhahullah&lt;/i&gt;; Edisi Indonesia: &lt;strong&gt;Mengenal Tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin&lt;/strong&gt;; Halaman: 223-235; Penerjemah: Muhammad Fuad Qawam, Lc.; Cetakan Pertama: Sya'ban 1426 H/ September 2005M; Penerbit: Cahaya Tauhid Press, Malang]&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-5911559978405735009?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/5911559978405735009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=5911559978405735009' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/5911559978405735009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/5911559978405735009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/penyimpangan-keenam-diwarisinya-akidah.html' title='Penyimpangan Keenam: Diwarisinya akidah Al-Banna (yaitu meremehkan syirik Uluhiyyah) oleh pengikutnya bahkan oleh para pemimpin dan penasehat mereka'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-3331989490991449769</id><published>2008-05-13T13:50:00.003+07:00</published><updated>2008-06-15T08:41:03.099+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MDMTK'/><title type='text'>Membantah dan mengkritik itu tidak usah menyebut nama orang atau kelompok</title><content type='html'>&lt;strong&gt;2. Membantah dan mengkritik itu tidak usah menyebut nama orang atau kelompok&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di antara upaya saudara Abduh ZA mementahkan prinsip &lt;i&gt;Al-Jarh wat Ta'dil&lt;/i&gt; yang telah diletakkan oleh para 'ulama ahlus sunnah sejak generasi&lt;i&gt; as-salafush shalih&lt;/i&gt; dan terus dipraktekkan hingga hari ini adalah dengan menggiring para pembaca untuk meyakini bahwa mengkritik dan membantah pihak yang salah tidak usah menyebutkan namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan pernyataan Abduh ZA dalam bukunya halaman 13:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;"Itu pun masih ditambah lagi dengan menyebut langsung nama orang yang bersangkutan dan kelompoknya.&lt;/strong&gt; Padahal, Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu Alaihi wa Sallam&lt;/i&gt; justru memberikan contoh yang sebaliknya. Aisyah &lt;i&gt;Radhiyallahu Anha&lt;/i&gt; berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Adalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam apabila beliau mendengar sesuatu --yang buruk-- tentang seseorang, beliau tidak mengatakan 'Ada apa dengan si Fulan,' melainkan beliau mengatakan; Ada apa dengan suatu kaum yang mengatakan begini dan begini?"&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; (HR. Abu Dawud). 45)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemudian saudara Abduh ZA men&lt;i&gt;takhrij&lt;/i&gt; hadits tersebut dengan memberikan catatan kaki no. 24:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Sunan Abi Dawud/Kitab Al-Adab/Bab Fi Husni &lt;/i&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;Al-'Usyrah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;/hadits &lt;strong&gt;nomor 4156&lt;/strong&gt;. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Shahih Abi Dawud&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;/Jilid3/hlm909/hadits nomor 4005." &lt;strong&gt;46)&lt;/strong&gt;&lt;/blockquote&gt;[Cetak tebal pada dua penukilan di atas dari kami]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada halaman 95, kembali saudara Abduh ZA menegaskan:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Tentu saja, &lt;strong&gt;tanpa harus menunjuk hidung atau menyebutkan nama si pelaku, apalagi sampai menelanjangi berbagai kesalahan seseorang "&lt;/strong&gt;&lt;/blockquote&gt;[Cetak tebal dari kami]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita perhatikan bersama beberapa pernyataan para 'ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama'ah, yang secara keilmuan tidak diragukan lagi, untuk mengukur sejauh mana kebenaran dan keilmiahan pernyataan saudara Abduh ZA di atas. Dalam kesempatan ini kami akan tampilkan pernyataan dua 'ulama yang sempat dicatut kebesaran nama keduanya oleh saudara Abduh ZA untuk melegalisir pahamnya tersebut. Kedua 'ulama tersebut adalah Asy-Syaikh &lt;i&gt;Al-'Allamah&lt;/i&gt; 'Abdul 'Aziz bin Baz &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; dan Asy-Syaikh &lt;i&gt;Al-'Allamah Faqihul 'Ashr&lt;/i&gt; Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;□     Asy-Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz &lt;/strong&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;rahimahullah&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt; berkata:&lt;br /&gt;"...Yang wajib atas para 'ulama kaum muslimin adalah menjelaskan hakekat sebenarnya serta berdialog dengan setiap kelompok atau&lt;i&gt; jam'iyyah&lt;/i&gt; serta menasehati semua pihak tersebut untuk berjalan di atas garis yang telah ditentukan oleh Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; terhadap hamba-hamba-Nya dan apa yang telah dida'wahkan oleh Nabi kita Muhammad &lt;i&gt;Shallalahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;. &lt;strong&gt;Barangsiapa melampaui batas ketentuan ini, dan masih terus bersikeras (di atas sikapnya yang salah) demi kepentingan pribadi atau tujuan-tujuan yang tidak tahu kecuali Allah, MAKA WAJIB UNTUK MENYIARKAN KESALAHAN ORANG TERSEBUT SERTA MEMBERI PERINGATAN KERAS TERHADAPNYA, oleh pihak-pihak yang mengetahui hakekat yang sebenarnya. Agar kaum muslimin menjauhi paham mereka, dan agar tidak masuk bergabung bersama mereka pihak-pihak yang tidak mengerti hakekat yang sebenarnya dari kesalahan mereka, yang akhirnya dapat menyesatkan orang tersebut atau memalingkannya dari jalan lurus yang telah Allah perintahkan kepada kita untuk mengikutinya&lt;/strong&gt;, sebagaimana dalam Firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah agar kalian bertaqwa.&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; [Al-An'am: 153]. 47)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;□ Asy-Syaikh Al-'Utsaimin &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; ditanya dengan beberapa pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan:&lt;/strong&gt; &lt;i&gt;Tentang seorang 'ulama yang sudah dikenal sebagai Ahlus Sunnah Wai Jama'ah, dan dikenal selalu berupaya mencari kebenaran, kemudian dia terjatuh pada kesalahan dalam beberapa permasalahan, yang tentunya sangat berbeda dengan seseorang yang selalu menentang Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sehingga jenis yang kedua ini disikapi dengan cara menyebarkan peringatan terhadap (penyimpangan)nya, sementara jenis yang pertama tadi diberikan toleransi terhadap (kesalahan)nya?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jawaban:&lt;/strong&gt; Tetap harus ada upaya pengkritikan terhadap kebatilan dalam semua kondisi. &lt;strong&gt;Jika seandainya tidak mungkin terwujud upaya pembantahan terhadap kebatilan tersebut kecuali dengan menyebutkan nama orang yang berbuat kebatilan tersebut maka HARUS DISEBUTKAN  NAMANYA!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan:&lt;/strong&gt; &lt;i&gt;Karena tidak asing lagi bagi anda (Asy-Syaikh Al-'Utsaimin) bahwa termasuk di antara 'ulama senior kita dari kalangan ahlus sunnah ada yang terjatuh pada kesalahan dalam beberapa perkara manhaj, dan tidak tampak kepadanya dalil dalam perkara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;— Kemudian Asy-Syaikh memotong pembicaraan penanya dengan berkata--: &lt;strong&gt;"TETAP HARUS DIBANTAH!"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan:&lt;/strong&gt; &lt;i&gt;Benar dibantah, tapi apakah harus disebarkan tentangnya?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jawaban: Di zaman kita ini, jika bantahan terhadap kebatilannya sangat bergantung kepada penyebutan namanya, maka HARUS DISEBUTKAN NAMANYA!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan:&lt;/strong&gt; &lt;i&gt;Wahai Syaikh yang mulia, jika ada seseorang yang jatuh dalam beberapa kesalahan, baik dalam perkara aqidah ataupun yang lainnya, namun pada orang tersebut terdapat kebaikan yang banyak. Maka bagaimana ketentuan bermu’amalah dengannya, serta ketentuan mengambil faidah darinya jika ternyata dia adalah seorang yang rajin menulis atau dia memiliki kemampuan-kemampuan yang tidak dimiliki oleh selainnya?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jawaban:&lt;/strong&gt; Jika orang tersebut melakukan kebid'ahan secara terang-terangan, &lt;strong&gt;maka tidak sepantasnya bagi seseorang untuk bermu'amalah dengannya dan sering datang kepadanya.&lt;/strong&gt; Karena walaupun dia tidak terpengaruh dengannya (ahlul bid'ah tersebut), maka bisa saja orang lain terpengaruh (tertarik) dengan ahlul bid'ah tersebut. Hal ini bermakna bahwa umat akan tertipu dan mengira bahwa ahlul bid'ah tersebut berada di atas kebenaran. Yang semestinya dilakukan adalah:&lt;strong&gt; tidaklah seseorang mendatangi ahlul bi'dah, walaupun dia mampu mengambil faedah dari orang tersebut, baik faedah dari sisi harta ataupun ilmu. Disebabkan hal itu mengandung unsur pengelabuan terhadap orang lain. 48)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan lain, Asy-Syaikh Al-'Utsaimin &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; ditanya pula:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan:&lt;/strong&gt; &lt;i&gt;Wahai Syaikh yang mulia, seseorang jatuh dalam beberapa bentuk bid'ah, baik dalam karya-karyanya maupun pernyataan-pernyataannya. Apakah untuk menyebutkan nama orang tersebut atau yang lainnya dari kalangan ahlul bi'dah disyaratkan adanya upaya penegakan hujjah terlebih dahulu?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jawab: Jika orang tersebut masih hidup dan umat banyak yang mengambil (paham-paham bid'ah) darinya, dan dia adalah seorang da'i, MAKA HARUS DISEBUTKAN NAMANYA! &lt;/strong&gt;Kalau dia bukan tergolong da'i, dan umat tidak mengambil (paham-paham bid'ah) darinya, maka tidak disebutkan namanya. Cukup dengan menyebutkan pendapatnya yang ia tersesat padanya, dan kita jelaskan bahwa itu adalah kesesatan. Sebagaimana aku katakan tadi, bahwa menyebutkan dengan penyebutan secara umum lebih baik daripada penyebutan namanya secara langsung. &lt;strong&gt;Namun apabila anda mendengar bahwa orang tersebut masih hidup dan anda melihat umat berdatangan kepadanya serta mengambil paham-paham bid'ah darinya MAKA KITA MENYATAKAN WAJIB UNTUK MENYEBUTKAN NAMANYA SECARA LANGSUNG. Begitu pula jika orang tersebut memiliki karya-karya yang mengandung paham-paham bid'ah WAJIB UNTUK MEMBERIKAN &lt;i&gt;TAHDZIR &lt;/i&gt;(PERINGATAN KERAS) TERHADAP BID'AH-BID'AH-NYA TERSEBUT. 49); 50)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah dengan seksama dan penuh harapan untuk mendapatkan hidayah dari Allah &lt;i&gt;Jalla Jalalahu&lt;/i&gt;, apa yang telah dipaparkan oleh kedua 'ulama di atas. Semoga saudara Abduh ZA dan kelompoknya pun bisa mengambil pelajaran dari nasehat-nasehat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui pula bahwa apa yang telah kami paparkan pada&lt;i&gt; point&lt;/i&gt; pertama di atas, bahwa mengkritik dan membantah kesesatan seorang tokoh atau aliran tertentu bukanlah tergolong perbuatan&lt;i&gt; ghibah&lt;/i&gt;, juga pada &lt;i&gt;point&lt;/i&gt; ketiga yang akan datang dari berbagai perkataan para 'ulama salaf, dengan tegas menjelaskan kepada kita bahwa para 'ulama tersebut mengkritik tokoh-tokoh, paham, dan aliran sesat, atau para perawi yang memiliki kelemahan dalam periwayatan dengan langsung menyebutkan namanya. Hal ini dilakukan sebagai upaya nyata para 'ulama tersebut untuk menyelamatkan dan melindungi umat dari bahaya kesesatan dan kebatilan berikut para pengusungnya, serta membersihkan agama Islam ini dari segala bentuk paham dan aliran yang mengotorinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, dengan tidak adil dan tidak sportif saudara Abduh ZA mengecualikan dirinya dari keterkaitan dan keterikatan terhadap kaidah yang dia letakkan sendiri sebagaimana di atas, yang dengannya dia menyerang ahlus sunnah dan mengesankan bahwa penyebutan nama pihak yang dikritik bukan bagian dari apa yang dicontohkan oleh Rasulullah &lt;i&gt;Shallalahu ‘alaihi wa Sallam&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada catatan kaki no. 23 halaman 13, saudara Abduh ZA mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Kami mohon maaf jika kami juga &lt;strong&gt;terpaksa menyebut nama dan kelompok. &lt;/strong&gt;Akan tetapi, &lt;i&gt;insya Allah&lt;/i&gt; kami akan tetap bersikap adil, obyektif, dan proporsional. Selain itu, kami pun akan menggunakan bahasa sehalus mungkin. Satu hal yang perlu dipahami, buku ini adalah bantahan dan pembelaan, sehingga mau tidak mau kami mesti mengemukakan data dan fakta yang ada."&lt;/blockquote&gt;[Cetak tebal dari kami]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perkataan saudara Abduh ZA di atas, ada beberapa hal yang bisa ditangkap:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bahwa penyebutan nama orang dan kelompok pihak yang dikritik, yang dia lakukan dalam bukunya &lt;strong&gt;&lt;i&gt;STSK&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; sifatnya adalah terpaksa, sehingga karena terpaksa maka boleh menyebutkan nama orang dan kelompok pihak yang dikritik.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Buku &lt;strong&gt;&lt;i&gt;STSK&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; ini adalah buku yang bersifat bantahan dan pembelaan. Karena ini bersifat bantahan dan pembelaan maka boleh menyebutkan nama orang dan kelompok pihak yang dikritik.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena ini adalah bantahan dan pembelaan, maka mau tidak mau terpaksa mengungkapkan data dan fakta yang ada.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bahwa menyebutkan nama orang dan kelompok pihak yang dikritik adalah boleh-boleh saja bila disertai dengan sikap adil, objektif, dan proporsional.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Menanggapi hal ini, kami mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Telah kami sebutkan dalam penjelasan di atas, bahwa penyebutan nama orang dan kelompok yang dikritik adalah sesuatu yang telah dibenarkan secara syar'i dan telah dicontohkan oleh Rasulullah &lt;i&gt;Shallalahu ‘alaihi wa Sallam&lt;/i&gt; serta para 'ulama generasi salaf, dan pernyataan langsung beberapa para 'ulama yang kami nukilkan di atas. Itu semua mereka lakukan karena memang kondisi dan keadaan mengharuskan —dengan terpaksa —untuk menyebutkan nama. Namun anehnya saudara Abduh ZA menganggap bahwa dirinya sajalah yang mempunyai alasan keterpaksaan untuk menyebutkan nama pihak yang dia kritik sementara pihak lain tidak. Sungguh ini sangat tidak adil, tidak objektif, dan tidak proporsional.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perlu diketahui pula bahwa apa yang telah disampaikan dan dituliskan oleh para 'ulama serta para da'i salafy dalam berbagai bentuk bantahan dan kritikannya terhadap kebatilan serta paham dan aliran sesat adalah sebagai bentuk pembelaan terhadap syari'at Islam serta harga diri para 'ulama yang telah dijatuhkan kredibilitasnya. Sehingga terpaksa menyebutkan nama orang dan kelompok yang dikritik.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena itu adalah sifatnya bantahan dan pembelaan, maka mau tidak mau, para 'ulama dan da'i salafi terpaksa mengungkapkan data dan fakta yang ada.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk masalah adil, objektif, dan proporsional, maka melalui tulisan ini akan nampak dan terbukti &lt;i&gt;-Insya Allah-&lt;/i&gt; benar tidaknya apa yang anda klaim tersebut. Semoga Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; selalu menjadikan kita sebagai orang yang adil dan objektif dalam bersikap.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;______________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;45) Cetak tebal dari kami. Demikian kami nukil persis sesuai aslinya. Perhatikan baik-baik pada penyebutan nama periwayat hadits ini. Pada teks 'Arabnya tertulis: &lt;i&gt;"Rawahu Ahmad"&lt;/i&gt; (artinya, diriwayatkan oleh Ahmad); sedangkan pada bagian terjemahnya tertulis "HR. Abu Dawud". Ma'af terjadi ketidaksesuaian antara teks yang berbahasa 'Arab dengan teks Bahasa Indonesia. Mungkin terkesan kepada sebagian pembaca bahwa masalah ini merupakan masalah sepele, padahal ini adalah kesalahan fatal menurut ilmu &lt;i&gt;mushthalahul hadits&lt;/i&gt; sehingga terpaksa kami jelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;46) Untuk catatan kaki saudara Abduh ZA no. 24 di atas ada dua catatan:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Perlu diketahui bahwa di antara permasalahan yang dijadikan bahan kritik oleh saudara Abduh ZA terhadap buku kami &lt;strong&gt;&lt;i&gt;MAT&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; adalah ketika kami menyebutkan sumber/rujukan namun tidak menyebutkan cetakan dan tahun cetaknya. Pembaca bisa melihat sendiri di sini, ternyata saudara Abduh ZA telah melanggar "aturan" dia sendiri, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Menyebutkan kitab &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Sunan Abi Dawud&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; tanpa menyertakan nama penerbit, keterangan cetakan  dan  tahun.   Padahal  beda tahun penerbitan saja bisa jadi berbeda pula penomoran yang dimaksud, apalagi beda penerbit, sebagaimana kata Abduh ZA sendiri dalam &lt;strong&gt;&lt;i&gt;STSK&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; hal. 42 catatan kaki no.  55. Terbukti dalam kitab &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Sunan Abi Dawud&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; dengan cetakan dan penerbit yang ada pada kami, hadits tersebut tertera dengan no. 4788, bukan 4156 seperti kata Abduh ZA. Perhatikan, sangat jauh sekali selisihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Menyebutkan kitab Shahih &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Sunan Abi Dawud&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; tanpa menyertakan nama  penerbit,  keterangan  cetakan  dan tahun.  Padahal  beda tahun  penerbitan saja  bisa jadi  berbeda pula  penomoran yang dimaksud,  apalagi beda penerbit. Terbukti dalam kitab Shahih &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Sunan Abi Dawud&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; dengan cetakan dan penerbit yang ada pada kami,  hadits tersebut tertera dengan no. 4788,  bukan 4005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin akan ada yang mengatakan: "Bukankah saudara Abduh ZA menyebutkan pada "Sumber Rujukan" semua referensi dia secara lengkap, baik judul, nama penulis, penerbit, cetakan, tahun penerbitan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kami jawab : Hal yang sama pun telah kami lakukan dalam metode penulisan buku kami &lt;strong&gt;&lt;i&gt;MAT&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;, yakni kami menyebutkan buku-buku yang menjadi referensi kami secara lengkap, disertai penerbit, cetakan, tahun penerbitan dalam Daftar Pustaka (pada &lt;strong&gt;&lt;i&gt;MAT&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; cetakan kedua), namun saudara Abduh ZA tidak menganggap itu  semua.  Bahkan  kalau  pembaca  memperhatikan  buku  kami &lt;strong&gt;&lt;i&gt;MAT&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;, maka memang merupakan metode kami untuk tidak menyebutkan nama penerbit, cetakan, dan tahun penerbitan pada bagian catatan kaki, tapi kami hanya menyebutkan judul buku dan halaman. Adapun penyebutan selengkapnya tentang buku yang kami jadikan sumber rujukan, baik penulis, penerbit, cetakan, dan tahun penerbitan, kami sebutkan secara lengkap pada bagian Daftar Pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan saudara Abduh ZA ini tidak memiliki pola yang konsisten. Terkadang menyebutkan judul buku rujukan secara lengkap disertai penerbit, cetakan, tahun penerbitan pada bagian catatan kaki terkadang tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di samping itu, saudara Abduh ZA ceroboh dalam menyebutkan judul babnya. Dia menyebutkan Bab &lt;i&gt;Fi Husni &lt;strong&gt;Al-'Usyrah&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;. Padahal yang benar adalah &lt;strong&gt;Al-'Isyrah&lt;/strong&gt;     = dengan harakat &lt;i&gt;kasrah&lt;/i&gt; pada huruf &lt;i&gt;Al-'Ain&lt;/i&gt;). Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kitab &lt;strong&gt;&lt;i&gt;'Aunul Ma'bud Syarh Sunani Abi Dawud&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; karya Syamsuddin AI-'Azhim Abadi. Demikian juga diterangkan dalam kamus-kamus bahasa 'Arab. Begitu juga dalam kitab &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Shahih Sunan Abi Dawud&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; karya Asy-Syaikh Al-Albani, dalam bab ini beliau menyebutkan dengan harakat kasrah pada huruf &lt;i&gt;Al-'Ain&lt;/i&gt; (yakni &lt;i&gt;Al-'Isyrah&lt;/i&gt;), bukan dengan harakat &lt;i&gt;dhammah&lt;/i&gt; seperti yang dilakukan oleh saudara Abduh ZA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma'af, sebenarnya kami tidak ingin sejauh dan sedetail ini dalam memberikan catatan terhadap buku &lt;strong&gt;&lt;i&gt;STSK&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; ini. Namun karena kami melihat sikap saudara Abduh ZA yang berlebihan dan cenderung tendensius dalam mengkritik —sampai-sampai dalam masalah pemakaian huruf "k" atau "q" pun dia beri komentar (misalnya &lt;strong&gt;&lt;i&gt;STSK&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; hal. 205 catatan kaki no. 371), terpaksa kami tampilkan pula catatan-catatan seperti ini dan yang semisalnya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;47) &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Majmu' Fatawa wa Maqajat Mutanawwi'ah Lil-'Allamah Al-Imam 'Abdil 'Aziz bin Baz rahimahullah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;. Dikumpulkan oleh DR. Muhammad Sa'd Asy-Syuwai'ir, Cetakan Darul Qasim, IV/136-137. Lihat&lt;strong&gt;&lt;i&gt; Shuwarun Mudhi'ah Min Juhudil Imam 'Abdil 'Aziz bin Baz rahimahullah fir Raddi 'Alal Mukhalif &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;karya "Abdullah As-Salafy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;48) Dari &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Al-Liqa'ul Babul Maftuh&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; Pertanyaan no. 1347. Lihat http:// www.fatwa1.com/anti-erhab/Salafiyah/naqd/oth naqd-asma.html atau bisa juga dilihat pada kitab &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Liqa'atul Babil Maftuh&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;, III/264.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;49) Dari &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Al-Liqa'ul Babul Maftuh&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; Pertanyaan no. 1536. Lihat http://www.fatwa1.com/anti-erhab/Salafivah/naad/oth  naad-asma.html atau bisa juga dilihat pada kitab &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Liqa'atul Babil Maftuh&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;, III/ 502.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50) Perhatikan, dengan tegas Asy-Syaikh Al-'Utsaimin  menyuruh kita  untuk menyebut nama orang yang dibantah atau dikritik, dan sama sekali beliau tidak menganggap hal tersebut sebagai &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt;. Padahal  beliau  &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; tahu dan faham ayat-ayat dan hadits-hadits yang melarang &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari : &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij Bantahan Terhadap Buku: Siapa Teroris? Siapa Khawarij? (Abduh Zulfidar Akaha); &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;Hal: 97-106; Penulis: &lt;strong&gt;Luqman Bin Muhammad Ba'abduh&lt;/strong&gt;, HP. 081559532868; Cetakan Pertama : Rabi'ul Awwal 1428 H/ April 2007 M; Penerbit: Pustaka Qaulan Sadida Perum Villa Bukit Tidar Blok A-1/401 Malang Telp (0342) 7062995 HP. 334995694)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-3331989490991449769?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/3331989490991449769/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=3331989490991449769' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/3331989490991449769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/3331989490991449769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/membantah-dan-mengkritik-itu-tidak-usah.html' title='Membantah dan mengkritik itu tidak usah menyebut nama orang atau kelompok'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-5511291593925846480</id><published>2008-05-13T13:47:00.001+07:00</published><updated>2008-06-12T21:44:32.501+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MDMTK'/><title type='text'>Dalil-dalil yang menunjukkan tentang adanya jenis-jenis ghibah yang diperbolehkan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita ikuti bersama, beberapa hadits yang menggambarkan tentang sikap dan perkataan Rasulullah &lt;i&gt;shallalahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; yang menunjukkan bahwa menyebutkan aib saudara muslim dalam kondisi yang memang dibutuhkan, tidak tergolong perbuatan&lt;i&gt; ghibah&lt;/i&gt;, atau kalau mau dikatakan &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt; maka itu adalah ghibah yang diperbolehkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara dalil-dalil yang menunjukkan tentang adanya jenis-jenis &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt; yang diperbolehkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a.     Hadits 'Aisyah &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anha&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;, bahwa seorang pria meminta izin (untuk menemui) Rasulullah &lt;i&gt;shallalahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, maka beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Izinkanlah orang tersebut, &lt;strong&gt;sesungguhnya dia sejelek-jelek sanak saudara&lt;/strong&gt;."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;[Muttafaqun 'alaihi] 20)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Al-Bukhari telah berhujjah dengan hadits ini tentang bolehnya melakukan &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt; terhadap pembawa kerusakan dan pengusung &lt;i&gt;syubhat&lt;/i&gt;, yaitu dalam kitab beliau &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Shahihul Bukhari&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; dalam &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Kitabul Adab&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; bab: &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Ma Yajuzu min Ightiyabi Ahlil Fasadi war Riyab&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; artinya: &lt;i&gt;"Bentuk ghibah yang diperbolehkan terhadap pembawa kerusakan dan syubhat (kerancuan)."&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika men&lt;i&gt;syarh&lt;/i&gt; (menjelaskan) hadits di atas &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Al-'Utsaimin&lt;/strong&gt; &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berkata:&lt;br /&gt;"Pria ini tergolong sebagai pembawa kerusakan dan kesesatan, sehingga hal ini menunjukkan tentang bolehnya melakukan&lt;i&gt; ghibah&lt;/i&gt; terhadap orang yang tergolong sebagai pembawa kerusakan dan kesesatan. Hal ini dilakukan agar umat manusia waspada terhadap kerusakannya dan tidak terpesona dengannya." &lt;strong&gt;21)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Al-Imam Al-Qurthubi &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; &lt;/strong&gt;berkata:&lt;br /&gt;"Pada hadits tersebut terkandung hukum bolehnya melakukan&lt;i&gt; ghibah&lt;/i&gt; terhadap orang yang melakukan kefasikan atau kekejian secara terang-terangan atau yang semisal itu dari ketidakadilan di dalam memberikan keputusan hukum serta seruan kepada bid'ah ..." &lt;strong&gt;22)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b.     Hadits Fathimah bintu Qais &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anha&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Fathimah bintu Qais berkata, "Aku datang menemui Rasulullah&lt;i&gt; shallalahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; kemudian aku katakan kepada beliau bahwa Abul Jahm dan Mu'awiyah telah melamarku. Maka berkatalah Rasulullah &lt;i&gt;shallalahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;: &lt;i&gt;"Kalau Mu'awiyah adalah seorang yang shu'luk (faqir) yang tidak punya harta. Sedangkan Abul Jahm adalah seorang yang tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya."&lt;/i&gt; Dalam sebuah riwayat Muslim: &lt;i&gt;"Kalau Abul Jahm adalah seorang yang suka memukul wanita."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;[HR. Muslim] 23)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah barang tentu bagi seorang yang berakal bahwa kedua sifat yang disebutkan oleh Rasulullah &lt;i&gt;shallalahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bagi kedua shahabatnya yang mulia tersebut adalah sifat-sifat kekurangan, terkhusus dalam kondisi keduanya melamar seorang wanita. Apabila ditinjau dengan definisi dan paham saudara Abduh ZA maka sudah barang tentu perkataan dan sikap Rasulullah &lt;i&gt;shallalahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; tersebut adalah tergolong &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt;, yaitu beliau menyebutkan kejelekan atau kekurangan seorang muslim. Tetapi memang sengaja beliau melakukannya karena penjelasan tersebut sangatlah dibutuhkan oleh sang wanita agar ia bisa memilih dan menentukan sikapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika perkara tersebut terkait dengan urusan dan &lt;i&gt;kemashlahatan&lt;/i&gt; seorang wanita padahal dia hanya seorang saja, lalu bagaimana dengan perkara yang terkait dengan urusan dan &lt;i&gt;kemashlahatan&lt;/i&gt; umat (orang banyak), yang dengan keawamannya umat ini sangat mudah untuk tertarik dan tertipu dengan berbagai bid'ah dan kesesatan yang dilakukan oleh tokoh-tokohnya dan dipromosikan oleh para pengikutnya. Maka sudah barang tentu, sebagaimana telah dijelaskan oleh para 'ulama di atas, adalah sesuatu yang wajib untuk dijelaskan kepada umat tentang kesesatan dan kebid'ahan yang dapat membinasakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;c.     Hadits 'Aisyah &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anha&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bahwa Hindun bintu 'Utbah &lt;strong&gt;24)&lt;/strong&gt; berkata: "Wahai Rasulullah sesungguhnya Abu Sufyan adalah pria yang sangat kikir, dan sesungguhnya dia tidak memberikan nafkah yang dapat mencukupiku dan anakku, kecuali apa yang aku ambil darinya dalam keadaan dia tidak mengetahuinya?" Maka Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menjawab: &lt;i&gt;"Ambillah apa yang cukup buat kamu dan anakmu dengan cara yang baik."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;[Muttafaqun 'alaihi] 25)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; &lt;/strong&gt;berkata ketika mengomentari hadits ini:&lt;br /&gt;"Hadits ini dijadikan sebagai dalil tentang bolehnya menyebutkan pribadi seseorang tentang sesuatu yang tidak disukai oleh orang tersebut, jika (dilakukan) dalam upaya mencari fatwa atau pengaduan dan yang semisalnya. Ini adalah salah satu keadaan yang diperbolehkan dengannya perbuatan&lt;i&gt; ghibah&lt;/i&gt;." &lt;strong&gt;26)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon para pembaca sekalian benar-benar memahami dengan baik hadits-hadits di atas beserta penjelasan para 'ulama tentangnya. Karena itu akan sangat membantu para pembaca sekalian dalam memahami pembahasan-pembahasan berikutnya. Ma'af sekali lagi penjelasan-penjelasan tersebut datangnya dari kalangan para 'ulama besar, bukan sekadar dari "da'i-da'i salafi" menurut istilah saudara Abduh ZA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah penjelasan di atas, kita mengetahui bagaimana Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersikap dan berkata. Apakah kita berani menuduh Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; telah berbuat &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt;? Padahal kepada beliaulah ayat-ayat Al-Qur'an — termasuk ayat tentang larangan &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt; — diturunkan. Beliau sendiri, melalui haditsnya, melarang umat ini untuk berbuat &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt;. Tapi ternyata hal itu tidak menghalangi Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; untuk menyebutkan kekurangan dan aib pihak-pihak yang memang harus disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Atsar para 'ulama generasi &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt; dan para 'ulama generasi setelahnya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang akan kami tampilkan beberapa pernyataan para 'ulama generasi &lt;i&gt;as-salafush-shalih&lt;/i&gt; dan para 'ulama generasi setelahnya tentang permasalahan ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;□ Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; &lt;/strong&gt;berkata:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tidak berlaku (larangan) ghibah untuk pengusung bid'ah." &lt;/i&gt;&lt;strong&gt;27)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;□&lt;/strong&gt; Hal yang senada juga diucapkan oleh &lt;strong&gt;Al-Imam Ibrahim An-Nakha'i&lt;/strong&gt; &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;28)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;□ Al-Imam Sufyan bin 'Uyainah&lt;/strong&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt; rahimahullah&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;29)&lt;/strong&gt; berkata: bahwa &lt;strong&gt;Al-Imam Syu'bah bin Al-Hajjaj &lt;i&gt;rahimahullah &lt;/i&gt;30)&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;berkata:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Kemarilah, kita berbuat ghibah demi (membela agama) Allah 'Azza wa Jalla."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat &lt;strong&gt;Abu Zaid Al-Anshari rahimahullah&lt;/strong&gt;: bahwa &lt;strong&gt;Al-Imam Syu'bah&lt;/strong&gt; berkata:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Hari ini bukan hari (menyampaikan) hadits, tapi hari ini adalah hari ghibah. Kemarilah, kita berbuat ghibah terhadap para pendusta."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;31)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;□ Al-Imam Syu'bah bin Al-Hajjaj &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; juga berkata:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Pengaduan dan Tahdzir (peringatan keras dari ahlul batil) keduanya bukan tergolong perbuatan ghibah."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;32)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan, para imam besar dari kalangan &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt; yang dikenal dengan taqwa, &lt;i&gt;zuhud,&lt;/i&gt; &lt;i&gt;wara&lt;/i&gt;', dan sangat takut kepada Allah&lt;i&gt; ’Azza wa Jalla&lt;/i&gt;. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa menjaga hati, lisan, dan seluruh anggota badannya dari berbuat dosa dan kemaksiatan. Namun ternyata &lt;i&gt;toh&lt;/i&gt; mereka menegaskan bahwa yang demikian itu tidaklah termasuk &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;□ Al-Imam 'Abdullah Ibnul Mubarak &lt;/strong&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;rahimahullah&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;33)&lt;/strong&gt; berkata:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Al-Mu'alla bin Hilal dialah orangnya, hanya saja apabila dia meriwayatkan hadits berdusta."&lt;/i&gt; Sebagian orang shufi mengatakan kepada beliau: &lt;i&gt;'Wahai Abu 'Abdirrahman engkau telah berbuat ghibah'?&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;34)&lt;/strong&gt; Maka Al-Imam 'Abdullah Ibnul Mubarak menjawab: &lt;i&gt;"&lt;strong&gt;Diam kamu!&lt;/strong&gt; jika kita tidak menjelaskan, maka bagaimana bisa diketahui antara kebenaran dan kebatilan?!"&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;35)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam 'Abdullah Ibnul Mubarak adalah imam besar di kalangan tabi'ut tabi'in. Diberitakan oleh Asy'ats bin Syu'bah Al-Mishshishi:&lt;br /&gt;"Suatu hari Harun Ar-Rasyid pergi ke Raqqah, rombongan besar manusia berjalan di belakang Al-Imam 'Abdullah Ibnul Mubarak, hingga terputuslah sandal-sandal dan debu-debu pun beterbangan. Tiba-tiba salah seorang budak wanita Amirul Mu'minin melongok dari dalam istana, lalu bertanya: "Siapa dia?" Mereka menjawab: "Seorang 'ulama dari negeri Khurasan telah datang, yaitu 'Abdullah Ibnul Mubarak" Berkatalah sang budak: "Inilah, Demi Allah, kerajaan (yang sebenarnya), bukan kerajaan milik Harun (Ar-Rasyid) yang tidaklah dia mengumpulkan manusia kecuali dengan tentaranya dan para pembantunya." &lt;strong&gt;36)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah seorang imam besar sekaliber Ibnul Mubarak, seorang imam yang sangat perhatian terhadap umat ini, dan seorang imam yang — sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam 'Abdurrahman bin Mahdi— paling besar nasehatnya terhadap umat; menegur keras sikap seorang &lt;i&gt;shufi&lt;/i&gt; yang protes, dengan menganggap perbuatan beliau itu sebagai &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt;, ketika beliau sedang mencerca seseorang yang berdusta dalam periwayatan hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;□ Muhammad bin Bundar Al-Jurjani&lt;/strong&gt; berkata kepada Al-Imam Ahmad&lt;i&gt; rahimahullah&lt;/i&gt; :&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya sangatlah berat bagiku untuk mengatakan bahwa "si fulan begini" dan "si fulan begitu."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;37)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Maka&lt;strong&gt; Al-Imam Ahmad bin Hanbal&lt;/strong&gt; &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; menjawab:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Jika anda diam dan akupun diam, maka kapan seorang yang jahil dapat mengetahui mana (hadits) yang shahih dan mana yang lemah?"&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;38)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;□&lt;/strong&gt;     Putra   Al-Imam  Ahmad  yang  bernama  'Abdullah   rahimahullah berkata:&lt;i&gt; "Telah datang Abu Turab -'Askar bin Al-Hushain - menemui ayahku (yakni Al-Imam Ahmad), ketika ayahku sedang berkata, bahwa "si fulan adalah perawi yang dha'if (lemah)" dan "si fulan adalah perawi yang tsiqah (terpercaya)."&lt;/i&gt; Maka berkatalah Abu Turab (kepada Al-Imam Ahmad): "Wahai Syaikh, janganlah engkau melakukan ghibah terhadap para 'ulama." Maka ayahku menoleh kepada orang tersebut, seraya berkata: &lt;strong&gt;&lt;i&gt;"Celakalah engkau! ini adalah sebuah nasehat, dan ini tidak tergolong perbuatan ghibah."&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;39)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa tindakan seperti di atas, yaitu mengkritisi dan membantah pengusung bid'ah dan kebatilan serta mengingatkan umat dari bahaya mereka, dilakukan oleh para 'ulama &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt; dalam rangka&lt;i&gt; amar ma'ruf nahi munkar&lt;/i&gt; dan melindungi umat dari bahaya paham dan aliran-aliran sesat. Tindakan ini mereka ambil terkhusus setelah munculnya fitnah di tengah-tengah umat dengan lahirnya berbagai aliran dan paham bid'ah, seperti paham Syi'ah, &lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Qadariyah&lt;/i&gt;. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh salah satu 'ulama salaf yang terkenal keimanan, ketaqwaan, dan keilmuannya, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;□ Al-Imam Muhammad bin Sirin &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; 40)&lt;/strong&gt; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam &lt;i&gt;Muqaddimah&lt;/i&gt; kitab &lt;strong&gt;Shahih&lt;/strong&gt; beliau, bahwa Al-Imam Muhammad bin Sirin berkata:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dahulu mereka (para shahabat dan pembesar tabi'in) tidak menanyakan tentang sanad (hadits), namun ketika telah terjadi fitnah, mereka berkata: 'Sebuikanlah kepada kami para perawi kalian'. Maka dilihat, jika para perawi tersebut dari kalangan ahlus sunnah maka diterimalah hadits mereka. Jika ternyata para perawinya dari kalangan ahlul bid'ah maka tidak diterima hadits mereka."&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;□&lt;/strong&gt; Dalam kesempatan lain —masih dalam  &lt;i&gt;Muqaddimah &lt;strong&gt;Shahih Muslim&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;— beliau juga berkata:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka telitilah dari siapa kalian mengambil (mempelajari) agama kalian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;□&lt;/strong&gt; Perlu diketahui pula bahwa &lt;strong&gt;Al-Imam An-Nawawi&lt;/strong&gt; &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; dalam&lt;i&gt; syarh&lt;/i&gt; (penjelasan dan komentar) beliau terhadap &lt;i&gt;Muqaddimah &lt;/i&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;Shahih Muslim&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; memberikan bab untuk kedua riwayat tersebut dengan judul:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab: Penjelasan bahwa sanad (hadits) merupakan bagian dari agama, dan bahwa periwayatan hadits tidak bisa diterima kecuali dari para perawi yang terpercaya, dan bahwa&lt;i&gt; jarh&lt;/i&gt; (kritikan pedas) terhadap para perawi tentang hakekat sebenarnya yang ada pada mereka adalah boleh hukumnya, &lt;strong&gt;bahkan wajib, dan bahwa hal itu tidak tergolong perbuatan &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt; yang diharamkan, justru hal itu termasuk pembelaan terhadap syari'at yang mulia ini.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;□ Al-Khathib Al-Baghdadi &lt;/strong&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;rahimahullah&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt; berkata:&lt;br /&gt;"Sebagian kaum yang tidak mendalam keilmuannya mengingkari pernyataan para &lt;i&gt;huffazh&lt;/i&gt; dari kalangan imam-imam kita serta para ahli dari kalangan ('ulama) salaf kita bahwa "si fulan adalah seorang perawi yang lemah" dan bahwa "si fulan adalah seorang perawi yang tidak terpercaya" serta ucapan-ucapan yang semisal itu, &lt;strong&gt;dan mereka menganggap yang demikian itu sebagai &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt; terhadap pihak yang dikritik ... sesungguhnya hakekat permasalahannya tidak seperti yang mereka (pihak-pihak yang tidak mendalam keilmuannya itu) yakini&lt;/strong&gt;. Karena para ahli ilmu sepakat bahwa sebuah berita tidaklah wajib untuk diterima kecuali dari seorang yang berakal dan jujur serta amanah atas apa yang diberitakannya. Dalam perkara ini ada sebuah dalil tentang bolehnya melakukan &lt;i&gt;Al-Jarh&lt;/i&gt; (kritikan keras) terhadap pihak-pihak yang tidak jujur dalam periwayatannya. &lt;strong&gt;Apalagi sunnah Rasulullah&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dengan jelas memberikan pembenaran terhadap apa yang telah kami sebutkan (tentang bolehnya melakukan &lt;i&gt;Al-Jarh&lt;/i&gt; dan bahwa itu bukanlah tergolong perbuatan &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt;)&lt;/strong&gt; dan bertentangan dengan pernyataan pihak-pihak yang menyelisihi (pernyataan) kami."&lt;strong&gt; 41)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;□ Ibnu Abi Zamanin &lt;/strong&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;rahimahullah &lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;berkata:&lt;br /&gt;"Ahlus Sunnah senantiasa mencela para pengikut hawa nafsu yang menyesatkan dan melarang untuk bermajelis dengan mereka. Memberi peringatan keras dari bahaya fitnah mereka dan mengabarkan tentang nasib mereka. &lt;strong&gt;Ahlus Sunnah tidak memandang hal itu sebagai perbuatan &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt;."&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;42)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;□ Al-Imam Ibnu Katsir &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tidak jauh berbeda dengan perkataan para 'ulama di atas, apa yang ditegaskan oleh Al-Imam Ibnu Katsir &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; di dalam kitab &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Tafsir&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;-nya ketika menjelaskan tentang ayat ke-12 surat Al-Hujurat yang berbicara tentang haramnya&lt;i&gt; ghibah&lt;/i&gt;. Beliau pun menyebutkan beberapa dalil hadits yang telah disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawi di atas. &lt;strong&gt;43)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita menyimak bersama pernyataan sederetan 'ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang tidak diragukan lagi keilmuan, ketaqwaan, kezuhudan, serta nasehat dan perjuangannya untuk umat ini mungkinkah kita yang jauh dari keilmuan, sedikit ketaqwaan, dan hampir-hampir tidak memiliki kezuhudan, akan menuduh para 'ulama tersebut sebagai orang-orang yang tidak mengerti tentang haramnya&lt;i&gt; ghibah&lt;/i&gt;? Atau akan menuduh mereka mencari-cari dan mengoleksi kesalahan orang atau ulama yang tidak disukai untuk kemudian disebarluaskan. Sungguh ini suatu sikap seorang yang sombong dan tidak mengerti tentang kedudukan dan nilai dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau akan ada yang mengatakan, mungkin saja para 'ulama tersebut tidak mengerti tentang ayat-ayat dan hadits-hadits yang disebutkan oleh saudara Abduh ZA. &lt;i&gt;La Haula wala Quwwata ilia billah.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Itulah beberapa &lt;i&gt;atsar&lt;/i&gt; 'ulama generasi as-salafush shalih dan generasi sesudahnya yang dapat kami nukilkan dalam kesempatan yang singkat ini, yang menjelaskan kepada kita semua bahwa membicarakan atau menyebutkan aib atau kejelekan dan kesesatan ahlul bid'ah serta mengkritik penyimpangan paham mereka bukanlah tergolong jenis perbuatan&lt;i&gt; ghibah&lt;/i&gt; yang terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melengkapi pernyataan para 'ulama tersebut, sekarang akan kami tampilkan pernyataan Asy-Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; dalam permasalahan di atas, agar para pembaca tahu bahwa sikap beliau tidak seperti yang digambarkan oleh saudara Abduh ZA ketika menukilkan perkataan beliau dan meletakkannya bukan pada tempatnya sebagaimana telah lalu pada halaman 74.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;□ Asy-Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; &lt;/strong&gt;berkata:&lt;br /&gt;"Jika seseorang menampakkan kebid'ahannya atau kemaksiatannya &lt;strong&gt;maka tidak berlaku hukum (Larangan) &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt; baginya&lt;/strong&gt;. Seseorang yang terang-terangan menampakkan dia meminum khamr, maka dikatakan bahwa dia adalah seorang yang&lt;i&gt; fajir&lt;/i&gt; (jahat), atau terang-terangan merokok dan mencukur jenggotnya, &lt;strong&gt;maka tidak berlaku hukum (larangan)&lt;i&gt; ghibah&lt;/i&gt; baginya.&lt;/strong&gt; Karena dia sendirilah yang membongkar aib dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula seseorang yang menampakkan kebid'ahannya, seperti mereka yang melakukan bid'ah dalam bentuk perayaan maulid, atau malam ke-27 Sya'ban, atau malam Isra' dan Mi'raj menurut keyakinan mereka, atau dengan membangun di atas kubur dan mengapurinya, serta meletakkan bangunan kubah di atasnya, &lt;strong&gt;maka mereka harus diingkari dan dikatakan: "Perbuatan ini tidak boleh, dan tergolong perbuatan bid'ah."&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari itu semua adalah menampakkan kebid'ahan dan kemaksiatannya sehingga&lt;strong&gt; tidak berlaku lagi hukum (larangan) &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt; bagi yang menampakkan hal itu&lt;/strong&gt;, dengan anda katakan: "Coba perhatikan si fulan telah menampakkan sebuah bid'ah tertentu dan menyeru kepadanya, maka waspadailah dia," &lt;strong&gt;44)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20) &lt;strong&gt;HR. Al-Bukhari&lt;/strong&gt; no. 6032, 6054, 6131;  &lt;strong&gt;Muslim&lt;/strong&gt; no. 2591.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21) &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Syarh Riyadhush Shalihin&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; Bab: &lt;i&gt;Ma Yubahu Minal Ghibah.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22) &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Fathul Bari&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;i&gt; Kitabul Adab&lt;/i&gt; di bawah hadits no. 6032.  Lihat juga &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Manhaju Ahlis Sunnati wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawa'if,&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; karya Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhali &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt; hal. 28.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23) &lt;strong&gt;HR. Muslim&lt;/strong&gt; no. 1480. Namun penyebutan lafazh hadits di sini adalah dengan diringkas, sebagaimana diringkas oleh Al-Imam An-Nawawi &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; dalam kitab beliau &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Riyadhush Shalihin&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; hadits no. 1533.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24) Beliau adalah isteri Abu Sufyan&lt;i&gt; radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25) &lt;strong&gt;HR. Al-Bukhari &lt;/strong&gt;no. 5364; &lt;strong&gt;Muslim&lt;/strong&gt; no. 1714.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26) &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Fathul Bari&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;, penjelasan hadits no. 5364. Lihat &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Manhaju Ahlis Sunnati wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawa'if&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;, karya Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhali &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt; hal. 29.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27) Lihat &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Lammud Durril Mantsur&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;, [531] hal.  182.&lt;br /&gt;•    Adapun &lt;strong&gt;Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri&lt;/strong&gt;, beliau adalah &lt;strong&gt;Al-Hasan bin Yasar Al-Bashri&lt;/strong&gt; (w. 110 H), seorang tokoh besar tabi'in. Beliau seorang imam yang&lt;i&gt; tsiqah&lt;/i&gt;,&lt;i&gt; faqih&lt;/i&gt;, dan memiliki keutamaan yang sangat terkenal. Al-Hafizh Adz-Dzahabi berkata: "Beliau adalah pimpinan dalam ilmu dan amal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28) Salah seorang imam terkemuka dari kalangan tabi'in. Beliau adalah &lt;strong&gt;Ibrahim bin Yazid bin Qais bin Al-Aswad bin 'Amr An-Nakha'i&lt;/strong&gt; (w. 196 H). Al-Imam Adz-Dzahabi mengatakan: "&lt;i&gt;Al-Faqih&lt;/i&gt;, luar biasa dalam sifat &lt;i&gt;wara'&lt;/i&gt;*) dan kebaikan, sangat jauh dari ambisi memperoleh popularitas, terdepan dalam ilmu." Dengan sifat &lt;i&gt;wara'&lt;/i&gt;nya&lt;i&gt; toh&lt;/i&gt; beliau menegaskan bahwa tidak berlaku larangan&lt;i&gt; ghibah&lt;/i&gt; untuk pengusung bid'ah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*)&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; Wara'&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; sebagian 'ulama memberikan definisi dengan: Sikap menjauhi perkara-perkara yang tidak penting atau tidak mengandung manfaat baginya, baik dalam bentuk pembicaraan, melihat, mendengar, menyentuh, berpikir, dan seluruh bentuk perbuatan yang zhahir atau pun yang batin yang bisa menyelamatkan dia dari ketergelinciran pada perbuatan syubhat. ...(lihat &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Bahjatun Nazhirin&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; 1/643). Dan ada beberapa definisi yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29) Imam terkemuka dari kalangan Tabi'ut Tabi'in. Beliau adalah &lt;strong&gt;Al-Imam Sufyan bin ‘Uyainah bin Maimun Al-Hilali&lt;/strong&gt; (w. 198 H di Makkah). Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah; mengatakan: "Kalau tidak karena Malik (bin Anas) dan Sufyan (bin ‘Uyainah) niscaya hilanglah ilmu di negeri Hijaz, dan tidaklah aku melihat seorang pun yang memiliki ilmu yang banyak seperti ilmu yang ada pada Sufyan bin 'Uyainah. Dan tidaklah aku melihat orang yang lebih mampu menahan diri dari berfatwa dibandingkan dia."&lt;br /&gt;Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Tidak pernah aku melihat seorang pun dari kalangan &lt;i&gt;fuqaha&lt;/i&gt; (para ahli fiqih) yang lebih berilmu tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah dibandingkan dia."&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan beliau sebagai tokoh besar yang &lt;i&gt;tsiqah&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;hafizh&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;faqih&lt;/i&gt;, imam, hujjah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30) Imam  besar dari  kalangan Tabi'ut Tabi'in,  yang  mendapat gelar &lt;i&gt;Amirul Mu'minin&lt;/i&gt; dalam bidang ilmu hadits. Beliau adalah &lt;strong&gt;Al-Imam Syu'bah bin Al-Hajjaj Al-Bashri&lt;/strong&gt; (w.160 H di Bashrah). &lt;i&gt;Tsiqah&lt;/i&gt;, hujjah, &lt;i&gt;hafizh, mutqin&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;Al-Hakim menyatakan: "Syu'bah adalah imamnya para imam dalam ilmu hadits."&lt;br /&gt;Yazid bin Zurai' berkata: "Syu'bah adalah orang yang paling jujur dalam bidang  hadits."&lt;br /&gt;Abu Bakr Al-Bakrawi berkata: "Aku tidak melihat orang yang lebih kuat ibadahnya kepada Allah dibanding Syu'bah. Sungguh dia sangat banyak beribadah  kepada Allah sampai  kulit punggungnya  mengering."&lt;br /&gt;Beliau adalah orang yang paling penyayang terhadap orang-orang miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31) &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Al-Kifayah fi 'Ilmir Riwayah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; karya Al-Khathib Al-Baghdadi 1/45.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32) &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Syu'abul Iman&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; karya Al-Baihaqi (6791).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33) &lt;strong&gt;Al-Imam 'Abdullah Ibnul Mubarak Al-Hanzhali Al-Marwazi&lt;/strong&gt; (w.  181 H). Beliau adalah tokoh besar Tabi'ut Tabi'in Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: "Beliau seorang yang&lt;i&gt; tsiqah&lt;/i&gt; (terpercaya), &lt;i&gt;tsabit&lt;/i&gt; (kokoh), &lt;i&gt;faqih, 'alim,&lt;/i&gt; dermawan, dan seorang mujahid. Terkumpul padanya (berbagai) sifat-sifat kebaikan."&lt;br /&gt;Keutamaan beliau sangat terkenal dan diakui oleh para imam besar ahlul hadits, antara lain oleh Al-Imam Syu'bah, Sufyam bin 'Uyainah, Yahya bin Ma'in, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34) Pernyataan orang &lt;i&gt;shufi &lt;/i&gt;ini mirip dengan pernyataan saudara Abduh ZA pada &lt;strong&gt;&lt;i&gt;STSK&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; hal. 104:&lt;br /&gt;"...mempelajari tashawuf -selama tidak menyimpang- masih jauh lebih baik daripada menghabiskan waktu hanya untuk menginventarisir kesalahan seseorang yang belum tentu salah." Sisi kemiripannya adalah:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pertama :&lt;/i&gt; Kedua belah pihak sama-sama menilai bahwa sikap seperti itu digolongkan sebagai perbuatan&lt;i&gt; ghibah&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kedua :&lt;/i&gt; Jika yang mengingkari Ibnul Mubarak adalah seorang &lt;i&gt;shufi,&lt;/i&gt; maka saudara Abduh ZA di sini menyarankan untuk belajar &lt;i&gt;tashawwuf.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35) &lt;i&gt;&lt;strong&gt;Al-Kifayah&lt;/strong&gt; &lt;/i&gt;1/45; &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Tadribur Rawi&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; 11/369; &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Tahdzibut Tahdzib&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; [biografi Mu'alla bin Hilal Al-Hadhrami].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36) Lihat &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Tahdzibul Kamal &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;[Biografi 'Abdullah Ibnul Mubarak].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37) Maksudnya adalah berat baginya untuk menyebutkan sisi kekurangan dan cela para perawi hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;38) &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Majmu'ul Fatawa&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; XXVIII/231;  &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Al-Kifayah &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;1/46.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;39) &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Al-Kifayah &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;1/45; &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Tadribur Rawi&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; 11/369.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40) &lt;strong&gt;Al-Imam Muhammad bin Sirin Al-Anshari&lt;/strong&gt; tokoh dan imam besar generasi tabi'in (w. 110 H). Ibnu ‘Aun berkata: "Aku tidak pernah melihat di dunia ini yang sebanding dengan tiga tokoh besar: &lt;strong&gt;Muhammad bin Sirin &lt;/strong&gt;di Iraq, Al-Qasim bin Muhammad di Hijaz, dan Raja' bin Haiwah di Syam."&lt;br /&gt;Al-'ljli berkata: "Saya tidak pernah melihat seseorang yang lebih &lt;i&gt;faqih&lt;/i&gt; dalam sikap &lt;i&gt;wara'&lt;/i&gt;nya dan lebih &lt;i&gt;wara&lt;/i&gt;' dalam ilmu fiqhnya dibandingkan Muhammad bin Sirin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;41) &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Al-Kifayah fi 'Ilmir Riwayah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; karya &lt;strong&gt;Al-Khathib Al-Baghdadi&lt;/strong&gt; 1/37-38.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;42) &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Ushulus Sunnah &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;karya Ibnu Abi Zamanin (293).  Lihat &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Lammud Durril Mantsur&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; [420] hal. '145.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;43) &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Tafsir Ibni Katsir&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;, tafsir ayat ke-12 surat Al-Hujurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;44) Dalam sebuah &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Muhadharah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; (ceramah) yang berjudul &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Afatul Lisan&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; tanggal 29-2-1413 H di Tha'if. Lihat &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Lammud Durril Mantsur&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; [548] hal. 185.&lt;br /&gt;Arti judul ceramah tersebut adalah&lt;strong&gt;&lt;i&gt; "Penyakit-penyakit (bahaya-bahaya) Lisan"&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; namun &lt;i&gt;toh&lt;/i&gt; beliau tidak menggeneralisir semua bentuk &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt; adalah terlarang. Dengan kedalaman ilmunya serta ketinggian taqwanya beliau merinci permasalahan. Tidak sebagaimana yang dikesankan oleh saudara Abduh ZA dalam penukilannya terhadap nasehat beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari nasehat beliau yang kami nukilkan di atas, kita bisa mengetahui bahwa perkataan beliau yang dinukil oleh saudara Abduh ZA: "Sekiranya seseorang tidak boleh berbuat ghibah terhadap saudaranya sesama mukmin sekalipun dia bukan ulama, bagaimana mungkin seseorang dibolehkan mengghibah para ulama kaum mukminin?" maksudnya bukanlah para tokoh-tokoh bid'ah yang dianggap 'ulama atau dipromosikan sebagai 'ulama oleh para pengikutnya. Tidak lain maksud beliau adalah para 'ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah, yang beraqidah dengan aqidah &lt;i&gt;Salaful Ummah.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari : &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij Bantahan Terhadap Buku: Siapa Teroris? Siapa Khawarij? (Abduh Zulfidar Akaha); &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;Hal: 83-96; Penulis: &lt;strong&gt;Luqman Bin Muhammad Ba'abduh&lt;/strong&gt;, HP. 081559532868; Cetakan Pertama : Rabi'ul Awwal 1428 H/ April 2007 M; Penerbit: Pustaka Qaulan Sadida Perum Villa Bukit Tidar Blok A-1/401 Malang Telp (0342) 7062995 HP. 334995694)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-5511291593925846480?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/5511291593925846480/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=5511291593925846480' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/5511291593925846480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/5511291593925846480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/dalil-dalil-yang-menunjukkan-tentang.html' title='Dalil-dalil yang menunjukkan tentang adanya jenis-jenis ghibah yang diperbolehkan'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-2403040272317746060</id><published>2008-05-13T13:32:00.003+07:00</published><updated>2008-12-11T15:24:56.861+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MDMTK'/><title type='text'>Metode Al-Jarh Wat Ta'dil Versi Abduh ZA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;Al-Jarh wat Ta'dil&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt; adalah sebuah metode pengkritikan/bantahan dan dukungan/ rekomendasi terhadap paham atau aliran tertentu beserta para tokohnya. Sehingga paham-paham sesat dan para tokohnya dikritik, dibantah, dan umat diperingatkan dari bahayanya. Sementara kebenaran dan para pembelanya didukung, direkomendasi, dan umat dihimbau untuk selalu merujuk kepadanya. &lt;strong&gt;11)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode ini adalah salah satu bagian dari praktek&lt;i&gt; amar ma'ruf nahi munkar&lt;/i&gt; serta nasehat yang telah dianjurkan bahkan diwajibkan dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah dan Rasul-Nya serta para 'ulama Ahlus Sunnah, sejak masa shahabat dan sesudahnya, telah memberikan contoh nyata penerapan metode &lt;i&gt;Al-Jarh wat Ta’dil&lt;/i&gt; serta meletakkan kaidah-kaidah yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kemudian, penerapan metode ini terus dilanjutkan oleh para 'ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah secara berkesinambungan hingga hari ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun Ahlul Batil dan para pengikut paham serta aliran-aliran yang menyimpang, dengan berbagai bentuk dan warnanya, tidak rela dengan adanya penerapan prinsip &lt;i&gt;Al-Jarh wat Ta’dil&lt;/i&gt; tersebut. Karena itu mereka berupaya merobohkan pilar-pilar prinsip yang mulia ini demi mempertahankan kebatilan dan paham-pahamnya. Mereka sangat khawatir jika prinsip ini diterapkan akan mempersempit ruang gerak mereka dalam upayanya menjajakan kesesatan-kesesatannya di tengah-tengah umat. Upaya merobohkan pilar-pilar &lt;i&gt;Al-Jarh wat Ta’dil&lt;/i&gt; ini berlangsung dari masa ke masa, dengan berbagai macam cara dan &lt;i&gt;syubhat&lt;/i&gt; yang terus berlanjut secara berkesinambungan hingga hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara pihak yang gencar berupaya merobohkan metode &lt;i&gt;Al-Jarh wat Ta’dil&lt;/i&gt; di masa ini adalah kelompok (IM) dan tokoh-tokohnya. Upaya ini mereka selubungi dengan kaidah dan slogan yang selalu mereka dengung-dengungkan, yaitu&lt;strong&gt;&lt;i&gt; "Kita bekerja sama dalam perkara yang kita sepakati, dan saling mentolerir dalam perkara yang kita perselisihkan"&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; Penjelasan rinci tentang slogan IM ini beserta bukti-bukti penerapannya &lt;i&gt;Insya Allah&lt;/i&gt; akan kami tampilkan pada jilid kedua dari buku bantahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pihak di negeri ini yang ikut berupaya merobohkan sendi-sendi &lt;i&gt;Al-Jarh wat Ta’dil&lt;/i&gt; adalah saudara Abduh ZA, dalam bukunya &lt;strong&gt;&lt;i&gt;STSK&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; yang sedang kita bahas ini. Upaya ini dia wujudkan dalam beberapa bentuk, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Memposisikan Al-Jarh wat Ta'dil sebagai perbuatan ghibah.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada halaman 106, saudara Abduh ZA menegaskan:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Meskipun, jika tuduhan itu adalah benar,&lt;strong&gt; maka lebih tepat dikatakan sebagai ghibah&lt;/strong&gt;."&lt;/blockquote&gt;[Cetak tebal dari kami]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempercanggih rekayasanya ini, pada halaman 307-308 saudara Abduh ZA berani menukil pernyataan Asy-Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; dalam salah satu nasehatnya:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Menurut saya, ini adalah perbuatan yang diharamkan. &lt;strong&gt;Sekiranya seseorang tidak boleh berbuat ghibah terhadap saudaranya sesama mukmin sekalipun dia bukan ulama, bagaimana mungkin seseorang dibolehkan mengghibah para ulama kaum mukminin?&lt;/strong&gt; Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; berfirman, &lt;i&gt;"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebiasaan berburuk sangka sejauh mungkin, karena sesungguhnya sebagian dari berburuk sangka adalah dosa. Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan jangan pula sebagian kalian menggunjingkan sebagian yang lain. Apakah salah seorang kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu, kalian tidak menyukainya. Dan takutlah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang."&lt;/i&gt; Dan, hendaknya orang ini tahu akibat dari perbuatan buruknya, bahwasanya apabila dia menjelek-jelekkan seorang ulama, maka hal ini akan menyebabkan semua perkataan haq yang keluar dari ulama tersebut tertolak. Jika demikian, maka bencana penolakan al-haq dan dosanya ditanggung oleh orang yang suka menjelek-jelekkan ulama ini. Sebab, realitanya, menjelek-jelekkan seorang ulama bukan hanya menjelek-jelekkan pribadi ulama bersangkutan, melainkan hal ini adalah sama saja dengan melecehkan peninggalan Nabi Muhammad &lt;i&gt;Shallallahu Alaihi wa Sallam&lt;/i&gt;"&lt;/blockquote&gt;[Cetak tebal dari kami]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saudara Abduh ZA mengatakan pada halaman 104:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Lebih dari itu, sesungguhnya meluangkan diri sejenak untuk mempelajari tashawuf -selama tidak menyimpang- masih jauh lebih baik daripada menghabiskan waktu hanya untuk menginventarisir kesalahan seseorang yang belum tentu salah."&lt;/blockquote&gt;Kemudian setelah itu saudara Abduh ZA menukilkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim, At-Tirmidzi, dan yang lainnya tentang larangan berbuat &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah demikian wahai para pembaca, bahwa mengkritik dan membantah serta menyebutkan kesesatan dan penyimpangan seseorang atau suatu kelompok adalah perbuatan &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt; yang telah Allah larang dalam ayat-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan persangkaan (zhan), karena sebagian dari zhan itu dosa. Janganlah kalian mencari-cari keburukan orang dan janganlah berbuat ghibah (menggunjing) satu sama lain. Adakah seorang di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;[Al-Hujurat: 12]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;i&gt;shallalahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; juga bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Tahukah kalian apa itu ghibah? &lt;/i&gt;(Para shahabat) menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Rasulullah berkata: &lt;i&gt;"(Al-Ghibah itu adalah) Engkau menyebutkan saudaramu dengan sesuatu yang dia benci."&lt;/i&gt; Kemudian ada yang berkata: "Bagaimana pendapatmu jika apa yang aku katakan itu memang nyata ada pada saudaraku tersebut?" Rasulullah menjawab: &lt;i&gt;"Jika padanya memang terdapat apa yang kamu katakan, maka berarti kau telah mengghibahinya. jika ternyata apa yang kamu katakan tidak ada pada diri orang tersebut, maka engkau telah berbuat dusta yang diada-adakan atasnya."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;[Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad, Ad-Darimi] 12)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawab itu, tentunya kita semua sepakat bahwa manusia yang paling tahu dan paling mengerti tentang ayat-ayat Al-Qur'an, beserta makna dan penerapannya, adalah Rasulullah &lt;i&gt;shallalahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, sebagai penerima wahyu dari Allah &lt;i&gt;Jalla Jalalahu&lt;/i&gt; Kemudian beliau sampaikan dan beliau terapkan di hadapan para shahabatnya, di bawah kontrol langsung dari Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;. Kemudian hal itu didengar dan diterima oleh para shahabat, dan mereka mengaplikasikan secara langsung di bawah kontrol Allah dan Rasul-Nya. Kemudian secara turun temurun dipelajari dan diamalkan oleh para 'ulama hingga hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itu, tidak ada jalan lain dalam upaya memahami Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah &lt;i&gt;shallalahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; kecuali dengan merujuk kepada generasi yang telah dibimbing oleh Rasulullah &lt;i&gt;shallalahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; secara langsung, dan para 'ulama yang mengikuti jejak para pendahulu tersebut. Lepas dari kungkungan logika yang membingungkan dan hawa nafsu yang menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penjelasan Al-lmam An-Nawawi &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; 13)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitabnya yang sudah sangat dikenal dan sangat mudah untuk didapatkan, yaitu kitab &lt;i&gt;Riyadhush Shalihin&lt;/i&gt;, Al-lmam An-Nawawi &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; (w. 676 H) telah menyebutkan sebuah bab yang berjudul:&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_CJwtj039JyQ/R-72XfakG3I/AAAAAAAAADU/0ZxTtVSBOSY/s1600-h/mayu.PNG"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_CJwtj039JyQ/R-72XfakG3I/AAAAAAAAADU/0ZxTtVSBOSY/s200/mayu.PNG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183351104580361074" /&gt;&lt;/a&gt;  artinya: &lt;i&gt;Bentuk Ghibah yang Diperbolehkan&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada pembaca yang mengira bahwa Al-Imam An-Nawawi tidak tahu tentang haramnya ghibah, atau lebih tepatnya tidak tahu yang disebutkan oleh saudara Abduh ZA.&lt;strong&gt;14) &lt;/strong&gt;Perlu diketahui bahwa Al-Imam An-Nawawi telah meletakkan 2 (dua) bab secara berurutan yang berjudul: &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_CJwtj039JyQ/R-72mfakG4I/AAAAAAAAADc/bcqbEA5WMlo/s1600-h/tahri.PNG"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_CJwtj039JyQ/R-72mfakG4I/AAAAAAAAADc/bcqbEA5WMlo/s200/tahri.PNG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183351362278398850" /&gt;&lt;/a&gt;  artinya: &lt;i&gt;Pengharaman Ghibah&lt;/i&gt;, kemudian disusul dengan bab: &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_CJwtj039JyQ/R-72wPakG5I/AAAAAAAAADk/VtDPjDINSIc/s1600-h/tahrimu.PNG"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_CJwtj039JyQ/R-72wPakG5I/AAAAAAAAADk/VtDPjDINSIc/s200/tahrimu.PNG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183351529782123410" /&gt;&lt;/a&gt; artinya: &lt;i&gt;Pengharaman mendengarkan Ghibah&lt;/i&gt;. Kedua bab tersebut beliau letakkan secara berurutan &lt;strong&gt;tepat sebelum&lt;/strong&gt; bab: &lt;i&gt;Bentuk Ghibah yang Diperbolehkan&lt;/i&gt;. Dalam kedua bab tersebut beliau menyebutkan dalil-dalil, baik dari Al-Qur'an maupun As-Sunnah, tentang haramnya berbuat dan mendengarkan&lt;i&gt; ghibah&lt;/i&gt;, dengan jumlah dalil yang banyak sekali, jauh melebihi dalil yang disebutkan oleh saudara Abduh ZA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dalamnya keilmuan Al-Imam An-Nawawi &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; tentang haramnya&lt;i&gt; ghibah, toh&lt;/i&gt; ternyata dengan keilmuan dan ketaqwaan-nya, beliau merinci permasalahan tersebut dan meletakkan bab yang menunjukkan adanya jenis-jenis&lt;i&gt; ghibah&lt;/i&gt; yang diperbolehkan. Berbeda sekali dengan rekayasa saudara Abduh ZA, yang dengannya —baik disadari ataupun tidak— ia telah membodohi umat. Bahkan, perlu diketahui juga, membicarakan orang lain dan membongkar kesesatannya dalam rangka menyelamatkan agama dan aqidah umat adalah &lt;strong&gt;wajib&lt;/strong&gt; menurut Al-Imam An-Nawawi. Perhatikan perkataan Al-Imam An-Nawawi yang akan kami nukilkan pada halaman 93.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita mengikuti pembahasan tentang dalil-dalil yang disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawi &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;, mari kita perhatikan terlebih dahulu pernyataan beliau pada muqaddimah bab tersebut.&lt;strong&gt;15)&lt;/strong&gt; Beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketahuilah bahwa perbuatan &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt; diperbolehkan untuk maksud yang benar dan syar'i, yang tidak memungkinkan untuk sampai pada tujuan tersebut kecuali dengan melakukan&lt;i&gt; ghibah&lt;/i&gt;. Hal itu ada enam sebab, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;:&lt;/i&gt; &lt;i&gt;At-Tazhallum&lt;/i&gt; (pengaduan). Boleh bagi seseorang yang terzhalimi untuk mengadu kepada seorang penguasa atau seorang qadhi atau yang lainnya dari pihak-pihak yang memiliki kekuasaan atau kemampuan untuk berbuat sportif terhadap pihak yang menzhaliminya, dengan berkata: &lt;i&gt;"Si Fulan telah menzhalimi saya dengan (perbuatan) ini"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;Kedua:&lt;/strong&gt; &lt;/i&gt;Permintaan tolong untuk merubah sebuah kemungkaran, dan mengembalikan seseorang yang berbuat kemaksiatan kepada kebenaran, dengan berkata kepada pihak yang diharapkan kemampuannya untuk menghilangkan kemungkaran tersebut:&lt;i&gt; "Si fulan berbuat begini, maka laranglah dia dari perbuatan tersebut."&lt;/i&gt; atau yang semisalnya. Yang menjadi maksud adalah upaya menghilangkan kemungkaran. Jika maksudnya selain itu maka haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;Ketiga:&lt;/strong&gt; &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Al-Istifta'&lt;/i&gt; (upaya meminta fatwa), dengan cara berkata kepada sang &lt;i&gt;mufti&lt;/i&gt;: &lt;i&gt;"Ayahku atau saudaraku atau suamiku atau si fulan telah menzhalimi aku, apakah perbuatan itu boleh bagi dia? Dan bagaimana caranya aku bisa lepas dari (kezhaliman)nya serta mendapatkan kembali hakku dan mencegah kezhalimannya?"&lt;/i&gt; atau yang semisal itu. Maka perbuatan seperti ini adalah boleh hukumnya untuk suatu kepentingan tertentu. Walaupun yang lebih hari-hati dan lebih baik adalah dengan mengatakan: &lt;i&gt;"Apa pendapatmu tentang seorang pria atau seorang tertentu, atau suami yang kondisinya seperti ini?"&lt;/i&gt; Karena sesungguhnya telah tercapai maksud dengannya tanpa menunjuk (hidung) secara langsung. Tetapi menunjuk secara langsung pun (dengan menyebut namanya) hukumnya boleh sebagaimana akan kami jelaskan dalam penjelasan tentang hadits Hindun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kemudian beliau menyebutkan sebab ke-4 yang dengannya seseorang diperbolehkan untuk menyebutkan aib atau kekurangan orang lain, dan tidak dikategorikan sebagai perbuatan ghibah.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;Keempat:&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt; Dalam rangka memberikan &lt;i&gt;tahdzir &lt;/i&gt;(peringatan keras) bagi kaum muslimin dari kejahatan dan memberikan nasehat kepada mereka. Hal ini bisa dilakukan dalam beberapa bentuk, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Memberikan &lt;i&gt;Jarh&lt;/i&gt; (Kritikan Pedas) terhadap pihak-pihak yang berhak mendapatkan &lt;i&gt;Al-Jarh&lt;/i&gt; dari kalangan para perawi (hadits) serta para saksi. Ini hukumnya boleh berdasarkan&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;ijma'&lt;/i&gt; (kesepakatan) kaum muslimin.16) Bahkan wajib untuk sebuah kepentingan. ...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika seseorang melihat seorang pelajar yang sering mendatangi seorang &lt;i&gt;mubtadi'&lt;/i&gt; (pengusung bid'ah) atau seorang fasik untuk menimba ilmu darinya. Kemudian dia mengkhawatirkan si pelajar tersebut terpengaruh karenanya, &lt;strong&gt;maka wajib atasnya untuk memberikan nasehat dalam bentuk penjelasan tentang kondisi orang (&lt;i&gt;mubtadi'&lt;/i&gt;) tersebut&lt;/strong&gt;, dengan syarat dia memaksudkan sebagai nasehat. Hal ini di antara perkara yang sering disalahpahami, karena mungkin saja yang mendorong dia untuk melakukan hal itu adalah kedengkian. Sehingga syaithan mengelabuhi dia dan menggambarkan bahwa itu adalah sebuah nasehat. Maka hendaknya dipahami perkara ini dengan baik.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;Kelima:&lt;/i&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Seseorang yang menampakkan (secara terang-terangan) kefasikan dan kebid'ahannya ... maka diperbolehkan penyebutan nama orang tersebut secara langsung dalam perkara-perkara yang dia menampakkannya secara terang-terangan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Namun diharamkan penyebutan nama orang tersebut dalam aib lain, selain yang ditampakkan secara terang-terangan tersebut. Kecuali ada alasan lain, dari yang telah kami sebutkan, yang membolehkan penyebutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;Keenam: &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;Dalam rangka pengenalan. Jika seseorang lebih dikenal dengan julukan tertentu, seperti &lt;i&gt;Al-A'masy&lt;/i&gt; (si kurang awas/ si rabun), &lt;i&gt;Al-A'raj&lt;/i&gt; (si pincang), &lt;i&gt;Al-Askam&lt;/i&gt; (si tuli), &lt;i&gt;Al-A'ma&lt;/i&gt; (si buta), &lt;i&gt;Al-Aliwal&lt;/i&gt; (si juling), dan selain mereka; maka dibolehkan dalam upaya pengenalan kepada mereka dengan penyebutan (julukan-julukan) tersebut. Tapi diharamkan penyebutan julukan-julukan tersebut jika dalam bentuk pelecehan. &lt;strong&gt;17)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah enam sebab (diperbolehkannya ghibah) yang telah disebutkan oleh para 'ulama. Mayoritas dari ke-enam point tersebut telah disepakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;— - &lt;strong&gt;sekian&lt;/strong&gt; An-Nawawi —&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam keadaan yang diperbolehkan padanya seseorang menyebutkan kejelekan atau aib saudaranya sesama muslim sebagaimana disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawi di atas terangkum dalam sebuah bait syair berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Celaan tidaklah tergolong ghibah dalam enam perkara&lt;br /&gt;Seorang yang mengadu, atau memperkenalkan, dan memberi peringatan&lt;br /&gt;Atau seorang yang melakukan kefasikan secara terang-terangan dan seorang yang minta fatwa&lt;br /&gt;Serta orang yang meminta pertolongan dalam upaya menghilangkan kemungkaran&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Asy-Syaikh Al-'Utsaimin &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; 18) &lt;/strong&gt;dalam kitabnya &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Syarh Riyadhish Shalihin &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;pada bab &lt;i&gt;Ma Yubahu Minal Ghibah&lt;/i&gt; berkata ketika menanggapi penjelasan An-Nawawi di atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bab ini telah disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawi &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; tentang hal-hal yang diperbolehkan &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt; padanya. Beliau menyebutkan untuk hal itu itu adanya enam sebab sebagaimana kalian telah mendengarnya. Pernyataan beliau ini (yaitu bahwa &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt; diperbolehkan dengan adanya salah satu dari enam alasan) sudah tidak membutuhkan penjelasan lagi, karena semuanya adalah pernyataan yang baik dan benar, serta didukung oleh dalil-dalil yang akan beliau sebutkan &lt;i&gt;Insya Allah&lt;/i&gt; dalam bab ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini pula yang ditegaskan oleh &lt;strong&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar &lt;/strong&gt;di dalam &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Fathul Bari&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;. Beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para 'ulama telah berkata bahwa &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt; diperbolehkan pada setiap tujuan yang benar secara syari'at... begitu pula barangsiapa yang melihat seorang pelajar yang sering mendatangi seorang &lt;i&gt;mubtadi'&lt;/i&gt; (pengusung bid'ah) atau seorang yang fasik, dan dikhawatirkan sang pelajar tersebut meniru jejak si &lt;i&gt;mubtadi'&lt;/i&gt; atau si fasik tersebut. Di antara yang boleh untuk dilakukan&lt;i&gt; ghibah&lt;/i&gt; terhadap mereka adalah: pihak-pihak yang melakukan kefasikan, atau kezhaliman, atau kebid'ahan secara terang-terangan." &lt;strong&gt;19)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;__________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11) Istilah &lt;i&gt;Al-Jarh wat Ta'dil&lt;/i&gt; pada awalnya diletakkan untuk sebuah metode penyeleksian para perawi hadits atau &lt;i&gt;atsar&lt;/i&gt; dalam periwayatan mereka. Namun pemakaian istilah ini berkembang tidak hanya sebatas pada penyeleksian periwayatan hadits saja, baik pada generasi salaf ataupun sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;• Al-Jarh&lt;/strong&gt; adalah: Suatu sifat atau kriteria tertentu yang ada pada seorang perawi yang berkonsekuensi dilemahkan atau ditolaknya periwayatan dia.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;• At-Ta'dil&lt;/strong&gt; adalah: Suatu sifat atau kriteria tertentu yang ada pada seorang perawi yang berkosekuensi diterimanya periwayatan dia. (Iihat &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Dhawabithul Jarhi wat Ta'dil&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;,  hal.   10-11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12) &lt;strong&gt;HR. Muslim&lt;/strong&gt; no. 2589; &lt;strong&gt;At-Tirmidzi&lt;/strong&gt; no. 1934; &lt;strong&gt;Abu Dawud &lt;/strong&gt;no. 4874; &lt;strong&gt;Ahmad&lt;/strong&gt; II/230, 384, 386, 458; &lt;strong&gt;Ad-Darimi&lt;/strong&gt; no. 2598, dari shahabat Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13) &lt;strong&gt;Al-lmam Al-Hafizh Muhyiddin Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf bin Muriy bin Hasan bin Husain bin Hizam An-Nawawi&lt;/strong&gt;. Seorang imam besar, yang sangat besar jasa dan sumbangsihnya terhadap Islam dan kaum muslimin. Dikenal dengan &lt;i&gt;zuhd&lt;/i&gt;, teladan dalam sifat &lt;i&gt;wara'&lt;/i&gt;, dan terdepan dalam &lt;i&gt;amar ma'ruf nahi munkar&lt;/i&gt;. Beliau memiliki banyak karya tulis yang sangat bermanfaat untuk kaum muslimin. Di antara yang terkenal adalah &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj, Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab, Riyadhush Shajihin&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;, dan masih sangat banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14) Ma'af kami sebutkan ini hanya sekadar mengingatkan saudara Abduh ZA yang sangat mengesankan bahwa yang mengerti tentang haramnya&lt;i&gt; ghibah&lt;/i&gt; dan paling takut melakukannya hanya diri dan kelompoknya saja. Sehingga dengan mudah ia menilai bahwa sikap mengkritik atau menyebutkan kesesatan dan penyimpangan seorang tokoh atau suatu kelompok sebagai perbuatan &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt;. Secara tidak langsung ini adalah bentuk pembodohan terhadap umat yang mayoritas awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15) Hal yang sama telah beliau sebutkan pula dalam &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Syarhu Shahihi Muslim,&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; tepatnya pada kitab &lt;i&gt;Al-Bir wash Shilah wal Adab&lt;/i&gt; Bab: &lt;i&gt;Tahrimil Ghibah&lt;/i&gt;; hadits no. 2589.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16) Perlu diketahui, bahwa saudara Abduh telah menuduh kami berdusta atas nama kesepakatan umat Islam, pada point kelima dari bentuk-bentuk kedustaan yang dituduhkan kepada kami. Dia berkata pada halaman  159:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Masih belum cukup berdusta dengan mengatasnamakan para ulama besar Ahlu Sunnah wal Jama'ah, kali ini Al Ustadz Luqman mencoba mengelabuhi pembaca dengan mengatasnamakan kesepakatan umat Islam. Padahal, yang namanya umat Islam adalah semua orang Islam dari sejak masa Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu Alaihi wa Sallam&lt;/i&gt; hingga sekarang, baik umatnya yang awam maupun para ulamanya, termasuk Nabi sendiri dan para sahabat &lt;i&gt;Radhiyallahu Anhum&lt;/i&gt;."&lt;/blockquote&gt;Bahkan dalam catatan kaki no. 280 ketika menambahkan pernyataannya tersebut, saudara Abduh ZA mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Bahkan, semua nabi dan rasul pun berikut para pengikutnya adalah muslim."&lt;/blockquote&gt;Meminjam istilah dan logika saudara Abduh ZA di atas, maka Al-Imam An-Nawawi pun —&lt;i&gt;Na'udzubillah&lt;/i&gt;— akan tertuduh telah berdusta atas nama kesepakatan umat Islam. Dengan mengatakan bahwa Al-Imam An-Nawawi "mencoba mengelabuhi pembaca dengan mengatasnamakan kesepakatan umat Islam. Padahal, yang namanya umat Islam adalah semua orang Islam dari sejak masa Rasulullah&lt;i&gt; Shallallahu Alaihi wa Sallam&lt;/i&gt; hingga sekarang, baik umatnya yang awam maupun para 'ulamanya, termasuk Nabi sendiri dan para sahabat &lt;i&gt;Radhiyallahu Anhum&lt;/i&gt;" Bahkan, kata saudara Abduh ZA, "semua nabi dan rasul pun berikut para pengikutnya adalah muslim." Apakah Al-Imam An-Nawawi menganggap yang muslim itu hanya beliau dan kelompoknya saja? Padahal saudara Abduh ZA yang &lt;i&gt;Insya Allah&lt;/i&gt; masih muslim tidak sepakat dengan perkataan Al-Imam An-Nawawi tersebut. Apakah kemudian kita memahami bahwa beliau menganggap yang muslim itu hanya beliau dan kelompoknya saja? Apabila perkataan beliau itu diterapkan pada masa ini, berarti Al-Imam An-Nawawi "seorang yang berpemahaman takfiri yang mudah mengafirkan orang lain. Dan, sama saja beliau dengan khawarij." (ma'af kalimat-kalimat dalam tanda petik redaksinya meminjam dari perkataan saudara Abduh ZA halaman 159-160).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara berpikir saudara Abduh ZA seperti di atas, maka yang selain beliau pun dari kalangan para 'ulama juga bisa tertuduh telah berdusta dengan mengatasnamakan kesepakatan umat Islam. Untuk bantahan selengkapnya  pembaca  bisa  melihat pada  halaman  331-339.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17) Perlu diketahui, julukan-julukan tersebut adalah julukan yang disematkan untuk para &lt;i&gt;muhadditsin&lt;/i&gt;, karena memang dengan julukan itulah mereka dikenal, sehingga dengan terpaksa mereka disebut dan diabadikan dengan julukan-julukan tersebut, yang mayoritas secara makna adalah negatif dan rata-rata manusia tidak akan terima dengan julukan-julukan tersebut.&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;Al-A'masy&lt;/i&gt; adalah Sulaiman bin Mihran Al-Asadi (w. 147, atau 148 H),&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;Al-A'raj&lt;/i&gt; adalah 'Abdurrahman bin Hurmuz Al-Madani (w. 117),&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;Al-Asham&lt;/i&gt; adalah 'Uqbah bin'Abdillah Al-Bashri (w.  166 H),&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;Al-A'ma&lt;/i&gt; adalah seorang Tabi'in yang  bernama As-Sa’ib bin  Farrukh, beliau  banyak meriwayatkan dari shahabat 'Abdullah  bin 'Umar dan 'Abdullah bin 'Amr bin AI-'Ash,&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;Al-Ahwal&lt;/i&gt; adalah 'Ashim bin Sulaiman (w.140 H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18) Ma'af Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; inilah yang beberapa kali nasehatnya dinukil oleh saudara Abduh ZA untuk mengesankan bahwa &lt;i&gt;Al-Jarh wat Ta'dil &lt;/i&gt;yang diterapkan oleh Ahlus Sunnah terhadap ahlul bid'ah adalah sebagai sikap mencari-cari kesalahan orang lain, atau menjelek-jelekkan 'ulama. Lihat penjelasan  pada hlm  100-103.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19) &lt;strong&gt;Fathul Bari&lt;/strong&gt; penjelasan hadits no. 6054, pada &lt;i&gt;Kitabul Adab&lt;/i&gt;;  bab: &lt;i&gt;Ma Yajuzu min Ightiyabi Ahlil Fasad war Riyab&lt;/i&gt; artinya:  Bab yang menjelaskan tentang bentuk &lt;i&gt;ghibah &lt;/i&gt;yang diperbolehkan terhadap pembawa  kerusakan dan &lt;i&gt;syubhat&lt;/i&gt; (kerancuan)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari : &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij Bantahan Terhadap Buku: Siapa Teroris? Siapa Khawarij? (Abduh Zulfidar Akaha); &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;Hal: 72-83; Penulis: &lt;strong&gt;Luqman Bin Muhammad Ba'abduh&lt;/strong&gt;, HP. 081559532868; Cetakan Pertama : Rabi'ul Awwal 1428 H/ April 2007 M; Penerbit: Pustaka Qaulan Sadida Perum Villa Bukit Tidar Blok A-1/401 Malang Telp (0342) 7062995 HP. 334995694)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-2403040272317746060?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/2403040272317746060/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=2403040272317746060' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/2403040272317746060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/2403040272317746060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/metode-al-jarh-wat-tadil-versi-abduh-za.html' title='Metode Al-Jarh Wat Ta&apos;dil Versi Abduh ZA'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_CJwtj039JyQ/R-72XfakG3I/AAAAAAAAADU/0ZxTtVSBOSY/s72-c/mayu.PNG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-1598665684266474103</id><published>2008-05-13T13:19:00.002+07:00</published><updated>2008-12-11T15:24:56.939+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MDMTK'/><title type='text'>Sekilas tentang Penerbit Pustaka Al-Kautsar (lanjutan)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;2. Pustaka Al-Kautsar Berbicara Tanpa Ilmu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Catatan kedua tentang Penerbit Pustaka Al-Kautsar yang dapat kami sajikan dalam kesempatan yang sangat singkat ini adalah sikap &lt;i&gt;sok&lt;/i&gt; tahu dan berbicara tanpa ilmu yang menunjukkan bahwa Pustaka Al-Kautsar jauh dari bimbingan ilmu AI-Qur'an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman &lt;i&gt;Salaful Ummah&lt;/i&gt;. Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Katakanlah: "Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) untuk berkata atas nama Allah sesuatu yang kalian tidak mengetahuinya." &lt;/i&gt;&lt;strong&gt;[Al-A'raf: 33]&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Allah juga berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan ini bersumber dari penyataannya bahwa kelompok &lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt; adalah aliran garis keras yang bisa dibilang sudah punah. Perkataan ini diucapkan dalam pengantarnya terhadap buku &lt;strong&gt;&lt;i&gt;STSK&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; pada halaman xiii:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Bukan &lt;i&gt;Ahlu Sunnah Wal Jama'ah&lt;/i&gt;, namun berakidah Khawarij (&lt;strong&gt;aliran garis keras yang bisa dibilang sudah punah&lt;/strong&gt;)."&lt;/blockquote&gt;[cetak tebal dari kami]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menyebutkan referensi apapun atau pernyataan seorang 'ulama pun Pustaka Al-Kautsar dengan ringan dan tanpa tanggung jawab mengucapkan ucapan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa dikatakan kelompok &lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt; sudah punah, sementara dalam hadits yang diriwayatkan dari shahabat Ibnu 'Umar &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhuma&lt;/i&gt; bahwa Rasulullah &lt;i&gt;Shallalahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Akan muncul sekelompok pemuda yang (pandai) membaca Al-Qur'an namun bacaan tersebut tidak melewati kerongkongannya. &lt;strong&gt;Setiap kali muncul sekelompok dari mereka pasti tertumpas."&lt;/strong&gt; Ibnu 'Umar berkata: 'Saya mendengar Rasulullah mengulang kalimat: &lt;strong&gt;"Setiap kali muncul sekelompok dari mereka pasti tertumpas"&lt;/strong&gt; lebih dari 20 x.' Kemudian beliau berkata:&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;"Hingga muncullah Ad-Dajjal dalam barisan pasukan mereka." [HR. Ibnu Majah] 6)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih tegas lagi Rasulullah &lt;i&gt;Shallalahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda tentang&lt;i&gt; khawarij&lt;/i&gt;, dalam hadits lain yang diriwayatkan dari shahabat Abu Barzah Al-Aslami &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/i&gt;, dengan lafazh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan &lt;strong&gt;mereka pasti akan terus muncul hingga munculnya generasi akhir mereka&lt;/strong&gt;. Jika kalian mendapati mereka, maka bunuhlah." (Beliau ucapkan kalimat ini sebanyak tiga kali).&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; [HR. Al-Hakim (II/146)]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan terdapat lafazh tambahan pada hadits ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;".. .hingga munculnya kelompok terakhir dari mereka (kaum khawarij ini) bersama AI-Masih Ad-Dajjal."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;7)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keterangan hadits-hadits di atas, nampak jelas pada kita bahwa kelompok &lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt; senantiasa ada dan terus muncul hingga akhir zaman nanti, kelompok terakhir mereka akan muncul bersama &lt;i&gt;Al Masih Ad-Dajjal &lt;/i&gt;menjelang datangnya Hari Kiamat. Untuk menegaskan hal ini, Asy-Syaikh &lt;i&gt;Al-'Allamah&lt;/i&gt; Muhammad Nashiruddin Al-Albani &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; meletakkan bab khusus dalam kitabnya yang sangat istimewa &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Silsilatul Ahaditsish Shahihah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; ketika menghasankan hadits Ibnu 'Umar &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhuma&lt;/i&gt; di atas dengan judul bab:&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_CJwtj039JyQ/R-73-vakG7I/AAAAAAAAAD0/vnozwtPPybQ/s1600-h/Buku.GIF"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_CJwtj039JyQ/R-73-vakG7I/AAAAAAAAAD0/vnozwtPPybQ/s200/Buku.GIF" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183352878401854386" /&gt;&lt;/a&gt; yang artinya: &lt;strong&gt;&lt;i&gt;"Kesinambungan Munculnya Kelompok Khawarij."&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hal ini berbeda dengan penegasan Pustaka Al-Kautsar, bahwa &lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt; merupakan aliran garis keras yang bisa dibilang sudah punah. Anehnya kesalahan fatal ini didiamkan begitu saja oleh saudara Abduh ZA! Sekaligus ini sebagai salah satu bukti --dari sekian bukti yang akan datang-- yang menunjukkan tentang ketidakilmiahan buku &lt;i&gt;"Siapa Teroris? Siapa Khawarij?"&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Asy-Syaikh &lt;i&gt;Al-'Allamah&lt;/i&gt; ’Abdul Muhsin bin Nashir Al-'Ubaikan&lt;/strong&gt; &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt; menegaskan dalam sebuah makalahnya &lt;strong&gt;8)&lt;/strong&gt; yang beliau sampaikan dalam acara &lt;i&gt;Daurah&lt;/i&gt; (Kajian Intensif) bersama Asy-Syaikh &lt;i&gt;Al-'Allamah&lt;/i&gt; Shalih As-Sadlan &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt; dan Asy-Syaikh &lt;i&gt;Al-Faqih&lt;/i&gt; Shalih Alusy-Syaikh &lt;i&gt;hafizhahullah &lt;/i&gt;&lt;strong&gt;9)&lt;/strong&gt; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan telah disebutkan dalam sebuah hadits bahwa kaum &lt;i&gt;khawarij&lt;/i&gt; tersebut tidaklah muncul hanya pada satu waktu tertentu saja. Bahkan mereka akan terus muncul dalam zaman yang banyak sekali, hingga munculnya mereka bersama dengan munculnya &lt;i&gt;Al-Masih Ad-Dajjal."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;10) &lt;/strong&gt;Kemudian beliau menyebutkan hadits Abu Barzah Al-Aslami di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;______________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6). &lt;strong&gt;HR. Ibnu Majah&lt;/strong&gt; 173, dari Ibnu 'Umar&lt;i&gt; radhiyallahu ’anhuma&lt;/i&gt;. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Ash-Shahihah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; 2455.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7). Sebagaimana diriwayatkan oleh &lt;strong&gt;Ibnu Abi Syaibah&lt;/strong&gt; (hadits no. 37917); &lt;strong&gt;Ahmad&lt;/strong&gt; (IV/424); &lt;strong&gt;Al-Bazzar&lt;/strong&gt; (IX/294, 305); &lt;strong&gt;An-Nasa'i&lt;/strong&gt; di dalam kitabnya &lt;strong&gt;As-Sunanul Kubra&lt;/strong&gt;. (hadits no. 3566), kemudian di dalam kitab beliau &lt;strong&gt;Al-Mujtaba&lt;/strong&gt; (hadits no. 414); &lt;strong&gt;Ar Ruyani&lt;/strong&gt; (hadits no. 766). Al-Hakim menyatakan: "Hadits ini adalah hadits yang shahih sesuai dengan persyaratan Al-Imam Muslim." Al-Imam Al-Haitsami dalam kitabnya &lt;strong&gt;Majma'uz Zawa'id&lt;/strong&gt; berkata: "Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan seorang rawi yang bernama Al-Azraq bin Qais telah dinyatakan sebagai seorang yang tsiqah oleh Ibnu Hibban, adapun perawi-perawi yang lainnya adalah para perawi hadits dalam (kitab) &lt;i&gt;&lt;strong&gt;Ash-Shahih&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hadits ini dinyatakan lemah oleh &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Al-Albani&lt;/strong&gt; &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; sebagaimana dalam kitabnya &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Dha'if Sunan&lt;/i&gt; An-Nasa’i&lt;/strong&gt; no. 4114. Nampaknya kelemahan ini disebabkan oleh seorang rawi yang bernama &lt;strong&gt;Syarik bin Syihab&lt;/strong&gt;, sebagaimana telah dijelaskan oleh &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Muqbil  &lt;/strong&gt;&lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; dalam kitab &lt;i&gt;&lt;strong&gt;Tatabbu'&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;-nya terhadap kitab &lt;i&gt;Mustadrak Al-Hakim&lt;/i&gt; (11/175) hadits no. 2704 dalam &lt;i&gt;Kitab Qitalu Ahlil Baghi wa huwa Akhirul Jihad&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8). Makalah beliau berjudul &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Al-Khawarij wal Fikrul Mutajaddid.&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9). Saat ini beliau menjabat sebagai Menteri Agama Kerajaan Saudi 'Arabia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10). &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Al-Khawarij wal Fikrul Mutajaddid&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;, hal. 17.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari : &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij Bantahan Terhadap Buku: Siapa Teroris? Siapa Khawarij? (Abduh Zulfidar Akaha); &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;Hal: 66-70; Penulis: &lt;strong&gt;Luqman Bin Muhammad Ba'abduh&lt;/strong&gt;, HP. 081559532868; Cetakan Pertama : Rabi'ul Awwal 1428 H/ April 2007 M; Penerbit: Pustaka Qaulan Sadida Perum Villa Bukit Tidar Blok A-1/401 Malang Telp (0342) 7062995 HP. 334995694)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-1598665684266474103?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/1598665684266474103/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=1598665684266474103' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/1598665684266474103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/1598665684266474103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/sekilas-tentang-penerbit-pustaka-al_13.html' title='Sekilas tentang Penerbit Pustaka Al-Kautsar (lanjutan)'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_CJwtj039JyQ/R-73-vakG7I/AAAAAAAAAD0/vnozwtPPybQ/s72-c/Buku.GIF' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-6689187925762473729</id><published>2008-05-12T13:47:00.001+07:00</published><updated>2008-06-12T21:01:55.720+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MDMTK'/><title type='text'>Sekilas tentang Penerbit Pustaka Al-Kautsar</title><content type='html'>&lt;strong&gt;1. Pustaka Al- Kautsar dan Paham Kelompok/ Aliran Ikhwanul Muslimin (IM)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kepada para pembaca yang budiman, kami ingin mencoba memberikan sekelumit catatan penting tentang penerbit Pustaka Al-Kautsar. Sebab penerbit ini punya andil yang cukup besar dalam menyebarkan paham-paham yang menyimpang dari bimbingan Al-Qur'an dan As-Sunnah berdasarkan paham &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt; melalui buku-buku terjemah atau karya tulis yang mereka terbitkan dan mereka sebarkan di tengah-tengah umat, tanpa memilah dan menyeleksi jenis penerjemah dan penulis yang beragam dan berpola pikir bertentangan dengan manhaj &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt;. Dari sana dapat diketahui pula bahwa penerbit Pustaka Al-Kautsar adalah penerbit yang condong kepada paham kelompok aliran sempalan IM, walaupun secara struktur mungkin saja tidak terkait.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beberapa catatan penting, yang menunjukkan bahwa Penerbit Pustaka Al-Kautsar adalah pengusung paham kelompok aliran IM antara lain:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Penerbit Pustaka Al-Kautsar banyak menerbitkan buku-buku DR. Yusuf Al-Qaradhawi, salah satu tokoh besar kelompok IM. Dalam buku-buku karyanya tidak sedikit didapati penyimpangan manhaj dan aqidah, serta upaya yang sangat keras dalam menanamkan paham kelompok IM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dalam Pengantar Penerbit-nya untuk buku &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Kumpulan Ceramah Pilihan Syaikh Al-Qaradhawi&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; - buku ini juga tidak lepas dari adanya unsur kesesatan 1) -, Pustaka Al-Kautsar memberikan pujian terhadap buku yang dia terbitkan ini dan memposisikannya sebagai bekal dalam menyukseskan misi da'wah. Pada halaman halaman IX buku tersebut, Pustaka Al-Kautsar berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buku yang ada di tangan Anda ini merupakan karya yang sangat berharga dari Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi, sebagai bekal dalam menyukseskan misi dakwah Anda; baik dalam mengisi pengajian-pengajian yang bernuansa agama, atau diskusi-diskusi ilmiah dan kajian-kajian lainnya. Penulis adalah seorang orator ulung dan dai terkemuka yang sangat produktif dan penuh dedikasi. Beliau termasuk pemikir masa kini yang beberapa karyanya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa di dunia ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- sekian penukilan-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak tahu secara persis, apakah pujian Pustaka Al-Kautsar terhadap Al-Qaradhawi dan buku-bukunya tersebut bersumber dari keyakinannya atas kebenaran paham yang dianut oleh Al-Qaradhawi, ataukah hanya dalam rangka mempromosikan buku tersebut agar laris terjual, demi mencapai target-target bisnis yang dicanangkannya. Allah sajalah yang lebih tahu. Tetapi ucapan atau pujian tersebut telah disampaikan dan dibaca oleh khalayak, sehingga dengan itu para konsumen buku-buku Pustaka Al-Kautsar yang mayoritas awam dalam hal manhaj dan liku-liku paham sesat akan memahami bahwa paham kelompok sempalan IM yang dijajakan oleh Pustaka Al-Kautsar dan segenap penerjemah atau penulis yang terkait dengannya, adalah benar dan patut untuk diikuti. Oleh karena itu terpaksa kami harus bangkit untuk menjelaskan hakekat permasalahan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di antara bukti yang menunjukkan bahwa Pustaka Al-Kautsar adalah penerbit yang menganut paham kelompok aliran IM sekaligus membelanya dengan penuh semangat &lt;i&gt;'ashabiyyah&lt;/i&gt; adalah diterbitkannya sebuah buku khusus mengupas tentang kelompok aliran IM yang ditulis oleh DR. Mahmud Jami', dengan judul Indonesia: &lt;strong&gt;&lt;i&gt;"Ikhwanul Muslimin yang Saya Kenal"&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak sekadar menerbitkan, bahkan Pustaka Al-Kautsar memuji dan menyanjung kelompok IM dan tokoh-tokohnya. Di antara contohnya adalah pernyataan Pustaka Al-Kautsar dalam Pengantar Penerbit terhadap buku &lt;i&gt;&lt;strong&gt;lkhwanul Muslimin yang Saya Kenal&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;. Pada halaman ix berkata:&lt;br /&gt;"Hasan Al-Banna dan kawan-kawan yang bergabung dalam gerbong lkhwanul Muslimin (IM), betapa sangat menyadari akan hal itu, mereka laksana primadona dan lokomotif dari setiap pergerakan IM, mereka adalah pelanjut estafet senior mereka yang telah lebih dulu kembali menghadap ke haribaan sang kekasih, ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan pada halaman x mengatakan:&lt;br /&gt;"..., para tokoh IM dan pengikutnya yang menjadi bintang terang dalam berbagai bidang, serta paradok-paradok seputar IM."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bukti berikutnya, sikap Pustaka Al-Kautsar yang menganggap semua madzhab, kelompok, dan sebagainya memiliki sandaran dan rujukan yang sama. Hal ini sebagaimana pernyataannya pada pengantarnya terhadap buku &lt;strong&gt;&lt;i&gt;STSK&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; halaman xiii:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Bagaimanapun masyarakat pembaca harus diberi pengkayaan dengan banyak membaca, &lt;strong&gt;tidak peduli dia madzhabnya apa, kelompok mana dan sebagainya. Karena &lt;i&gt;toh&lt;/i&gt; kita punya sandaran dan rujukan yang sama&lt;/strong&gt;, Kitabullah dan Sunnah Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu Alaihi wa Sallam&lt;/i&gt;."&lt;/blockquote&gt;[cetak tebal dari kami]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya prinsip seperti ini adalah prinsip warisan dari kelompok aliran IM, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Kita bekerja sama dalam perkara yang kita sepakati, dan saling mentolerir dalam perkara yang kita perselisihkan.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih kongkretnya, adalah ucapan Hasan Al-Banna pendiri sekaligus &lt;i&gt;Al-Mursyidul 'Am&lt;/i&gt; pertama kelompok IM, ketika memberikan pengarahan kepada 'Umar At-Tilmisani (yang kemudian menjadi &lt;i&gt;Al-Mursyidul 'Am&lt;/i&gt; ketiga kelompok sempalan ini) sebagaimana dituturkan oleh 'Umar At-Tilmisani sendiri, bahwa:&lt;br /&gt;"Pada suatu hari kami bertanya kepada beliau (Hasan Al-Banna) tentang sejauh mana perselisihan antara ahlus sunnah dengan syi'ah. Maka beliau melarang kami untuk masuk ke dalam permasalahan yang rumit seperti ini, yang tidak pantas bagi kaum muslimin untuk menyibukkan dirinya dalam perkara tersebut ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... dan beliau (Hasan Al-Banna) &lt;i&gt;radhiyallahu ’anhu&lt;/i&gt; berkata: "Ketahuilah bahwa Ahlus Sunnah dan Syi'ah keduanya sama-sama muslimin. Yang menyatukan mereka adalah kalimat &lt;i&gt;Lailaha Illallah wa Anna Muhammadar Rasulullah&lt;/i&gt;, dan ini adalah pokok aqidah. Sunnah dan Syi'ah dalam perkara ini sama, dan sama-sama di atas kecemerlangan. Sementara perbedaan yang terjadi di antara keduanya adalah perbedaan dalam perkara-perkara yang memungkinkan untuk dipersatukan di antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kaum Syi’ah adalah suatu kelompok yang pendekatannya menyerupai madzhab yang empat di kalangan ahlus sunnah... dan di sana ada beberapa perbedaan yang masih memungkinkan untuk dihilangkan. Seperti adanya nikah &lt;i&gt;mut'ah&lt;/i&gt; dan berbilangnya isteri (poligami) bagi seorang muslim. Yang itu ada pada sebagian kelompok mereka, betapa miripnya hal tersebut yang tidak mengharuskan bagi kita untuk menjadikannya sebagai sebab pemutusan hubungan antara ahlus sunnah dan Syi’ah. Kedua madzhab ini (Ahlus Sunnah dan Syi'ah) telah saling bekerja sama sejak ratusan tahun tanpa adanya gesekan di antara keduanya kecuali dalam karya-karya. Dan perlu diketahui bahwa para imam mereka (syi'ah) telah meninggalkan karya-karya Islam yang berharga, yang senantiasa perpustakaan-perpustakaan (toko-toko buku) terus menyuarakannya." 2)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sikap Hasan Al-Banna terhadap kelompok-kelompok dan paham-paham sesat. Bahkan setingkat Syi’ah pun, dia masih menganggapnya serupa dengan madzhab yang empat di kalangan Ahlus Sunnah yang tidak mengharuskan adanya pemutusan hubungan antara sunnah dan syi' ah. Bahkan dipuji olehnya, bahwa &lt;strong&gt;para imam syi'ah telah meninggalkan karya-karya Islam yang berharga, yang senantiasa perpustakaan-perpustakaan (toko-toko buku) terus menyuarakannya&lt;/strong&gt;. Pembahasan selengkapnya beserta dengan bukti-buktinya tentang paham Hasan Al-Banna dan kelompok IM, akan dibahas &lt;i&gt;Insya Allah&lt;/i&gt; Pada jilid kedua buku bantahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ltulah beberapa bentuk paham IM yang cukup mewarnai cara bersikap Pustaka Al-Kautsar, yang tertuang dalam ucapannya sebagaimana kami nukil di atas.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Kami yakin &lt;i&gt;Insya Allah&lt;/i&gt;, jika Pustaka Al-Kautsar --terkhusus saudara Direktur, Bapak Tohir Bawazir- mau sedikit meluangkan waktunya untuk belajar Al-Qur' an dan As-Sunnah sesuai dengan jejak generasi&lt;i&gt; as-salafush shalih&lt;/i&gt; tentu dia tidak akan menyatakan ucapan seperti di atas. Dia akan selalu lebih mengedepankan sikap-sikap ilmiah di bawah bimbingan manhaj yang benar dibanding target-target duniawi yang dia canangkan. Dengannya pula &lt;i&gt;Insya Allah&lt;/i&gt; dia akan selamat dari berbagai macam paham sesat yang dibawa dan disalurkan oleh kelompok IM, terkhusus melalui salah satu pembelanya, yaitu saudara Abduh ZA, dan Allah jauhkan dari kungkungan hawa nafsu. Dengan belajar dan &lt;i&gt;tafaqquh fiddin&lt;/i&gt; dia akan meraih keutamaan yang telah Allah janjikan, sebagaimana sabda Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, niscaya akan Allah faqihkan dia dalam masalah agamanya."&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; [Muttafaqun 'alaihi]3)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/i&gt; juga menegaskan:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Menuntut ilmu (agama) itu wajib atas setiap muslim."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;[HR. Ibnu Majah) 4).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ternyata Pustaka Al-Kautsar mengatakan bahwa "Kami sudah belajar" atau "Kami sudah mengerti manhaj dan aqidah" atau jawaban-jawaban semisal ini, maka kami bertanya kepada Penerbit Pustaka Al-Kautsar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kelompok Syi'ah Rafidhah yang mencaci maki para shahabat Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu 'Alaihi wa Sallam&lt;/i&gt;, menuduh Sayyidah 'Aisyah &lt;i&gt;radhiyallahu 'anha&lt;/i&gt; berzina, meyakini bahwa pernyataan-pernyataan para imam mereka setara dengan Al-Qur' an, dan bahwa para imam mereka yang dua belas mengetahui segala sesuatu, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi, termasuk kapan mereka akan mati, bahkan tidaklah mereka mati kecuali dengan kehendak mereka, dan, ... dan, .. .dan seterusnya dari berbagai bentuk bid' ah bahkan syirik akbar yang terdapat pada aliran agama Syi' ah, masih bisa dikatakan bahwa mereka . semua memiliki sandaran dan rujukan yang sama dengan kita?&lt;strong&gt; 5)&lt;/strong&gt; Atau bagaimana penilaian anda terhadap ucapan Hasan Al-'Banna dalam salah satu nasehatnya yang kami nukilkan di atas? Masihkah anda dengan penuh &lt;i&gt;'ashabiyyah hizbiyyah&lt;/i&gt; (membela kepentingan kelompok secara membabi buta) akan membenarkan ucapan Hasan Al-Banna? &lt;i&gt;Innalillah wa Inna Ilaihi Raji'un.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kelompok &lt;i&gt;tashawwuf&lt;/i&gt; dengan segala bentuk tarekatnya dan berbagai kesesatan yang terkandung di dalamnya, mulai dari tingkat amalan bid' ah hingga yang berbau kesyirikan ... mereka semua memiliki sandaran dan rujukan yang sama dengan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kelompok LDII dan yang semisalnya juga memiliki sandaran dan rujukan yang sama dengan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika jawabannya adalah "Ya", maka tolong sebutkan sandaran dan rujukan apa yang menyatukan kita? Jika sandaran dan rujukannya sama, tidak perlu lagi kita menyatakan LDII sesat lagi menyesatkan. Begitu pula &lt;i&gt;Tashawwuf&lt;/i&gt;, jika sandaran dan rujukannya sama kenapa harus dinyatakan sesat? Masih ingatkah kita dengan IAIN, Syi'ah, NII-Ma'had Al-Zaitun? Kenapa mereka semua divonis sesat? Sehingga untuk itu Pustaka Al-Kautsar harus menerbitkan sebuah buku yang berjudul &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Aliran dan Paham Sesat di Indonesia?&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; Yang membuat tersinggung dan menyakiti hati sebagian kaum muslimin yang tidak setuju dengan isi buku tersebut? &lt;i&gt;Toh&lt;/i&gt; mereka semua mengklaim bahwa rujukan mereka sama, yaitu Al-Qur' an dan As-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sikap dan pernyataan Pustaka Al-Kautsar di atas benar-benar menunjukkan bahwa Pustaka Al-Kautsar adalah penganut paham IM sekaligus sebagai salah satu corong yang menyuarakan dan menyebarkan paham atau aliran tersebut di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga menjadi bahan renungan dan nasehat bagi para pembaca, terkhusus Pustaka Al-Kautsar, untuk segera kembali ke jalan yang lurus dan diridhai oleh Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; di bawah bimbingan manhaj dan aqidah&lt;i&gt; as-salafush shalih&lt;/i&gt;, serta dengan segera pula meninggalkan &lt;i&gt;'ashabiyyah hizbiyyah&lt;/i&gt; (membela kepentingan kelompok secara membabi buta) dan ambisi duniawinya. &lt;i&gt;Amin Ya Rabbal ' alamin&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berencana, &lt;i&gt;Insya Allah&lt;/i&gt;, untuk menulis secara khusus kesesatan-kesesatan yang terkandung dalam buku-buku terbitan Pustaka Al-Kautsar, sebagai bentuk nasehat bagi kaum muslimin secara umum dan Pustaka Al-Kautsar secara khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_________________________________&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Sekadar contoh kesesatan yang ada pada buku ini adalah: Pernyataan Yusuf Al-Qaradhawi dalam ceramahnya yang berjudul&lt;strong&gt;&lt;i&gt; "Mengapa Berperang dengan Yahudi" (Kumpulan Ceramah Pilihan Syaikh Al-Qaradhawi&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; hal. 369/cet. Pertama, Juli 2006), dia berkata:&lt;br /&gt;"Beberapa ikhwan ada yang bertanya kepada saya, "Apakah peperangan dengan Yahudi atas nama agama dan akidah?" Saya jawab, "Bukan! Kita tidak berperang dengan Yahudi karena mereka Yahudi. Ini keliru! Orang-orang Yahudi telah hidup berdampingan dengan kita selama berabad-abad. Mereka mendapat jaminan &lt;i&gt;(dzimmah)&lt;/i&gt; Allah, Rasulullah, dan jamaah kaum muslimin. Mereka punya harta, kekayaan, jabatan, dan kedekatan dengan para penguasa." ...&lt;br /&gt;"Yahudi hidup dalam komunitas muslim, dapat ikut menikmati jabatan, kekayaan, harta, dan keamanan. ..."&lt;br /&gt;Kemudian Al-Qaradhawi juga menyatakan:&lt;br /&gt;"Jadi, pertikaian antara kita dengan mereka bukan lantaran karena mereka Yahudi. Kalau itu yang melatarbelakanginya, maka kita juga wajib memerangi orang-orang Nasrani karena mereka beragama Nasrani. Kita juga wajib memerangi para penyembah berhala karena mereka menganut paganisme. Peperangan antara kita dengan mereka meletus karena mereka menjajah negeri kita." &lt;strong&gt;&lt;i&gt;[Kumpulan Ceramah Pilihan Syaikh Al-Qaradhawi&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;, hal. 369-370&lt;strong&gt;]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat luar biasa, peperangan dengan Yahudi bukan atas nama agama dan aqidah?!? Pernyataan Yusuf Al-Qaradhawi ini merupakan salah satu buah dari paham pendiri sekaligus &lt;i&gt;Al-Mursyidul ’Am&lt;/i&gt; pertama kelompok aliran IM Hasan Al-Banna, dalam ucapannya: &lt;strong&gt;"Pertentangan kami dengan Yahudi bukanlah masalah agama, karena Al-Qur'an menyuruh kita untuk menggandeng dan berteman dengan kaum Yahudi. ... kami tidak keberatan jika pada hari kiamat nanti mereka (Yahudi) bersama kami."&lt;/strong&gt; Bahkan Hasan Al-Banna menegaskan tentang sikap kelompok IM terhadap orang-orang Nashrani, yang diistilahkan oleh mereka dengan "orang-orang &lt;i&gt;Qibthi&lt;/i&gt;": &lt;strong&gt;"Mereka adalah para Ahlul Kitab yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, beriman kepada hari akhir, beribadah untuk-Nya dan mengakui nilai-nilai moral"&lt;/strong&gt;&lt;i&gt; Allahu Akbar!!&lt;/i&gt; Dan masih ada beberapa pernyataan Hasan Al-Banna dan tokoh-tokoh aliran IM lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, paham sesat ini malah dibela oleh saudara Abduh ZA --dengan semangat&lt;i&gt; 'ashabiyyah&lt;/i&gt; dan berbagai dalih yang terlalu dipaksakan--dalam salah satu acara bedah buku &lt;strong&gt;&lt;i&gt;STSK&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; yang diadakan di Surabaya. Pembahasan tentang kesesatan-kesesatan Hasan Al-Banna, Yusuf Al-Qaradhawi, dan beberapa tokoh kelompok aliran IM lainnya disertai dengan bukti-buktinya I&lt;i&gt;nsya Allah&lt;/i&gt; akan kami sajikan secara lengkap beserta bantahannya pada jilid kedua buku bantahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dari Kitab &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Dzikrayat La Mudzakkirat&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;, karya 'Umar At-Tilmisani, hat. 249-250. Lihat &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Da'watul Ikhwanil Muslimin fi Mizanil Islam&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;, hal. 114-115.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;HR. Al-Bukhari&lt;/strong&gt; 71 &amp;amp; &lt;strong&gt;Muslim&lt;/strong&gt; 1037 dari shahabat Mu'awiyah bin Abi Sufyan &lt;i&gt;radhiyallahu ’anhuma&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;HR. Ibnu Majah&lt;/strong&gt; no. 224 dari shahabat Anas bin Malik &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/i&gt;. Dishahihkan oleh &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Al-Albani&lt;/strong&gt; &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; dalam &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Shahih Sunan Ibni Majah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; no.224 dan &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Shahihul Jami’ish Shaghir&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; no. 3913.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di sini kami bahasakan dengan "kita" bukan berarti kami rela masuk dalam ruang lingkup "kita" dalam istilah penerbit. Tak lain kami sekadar membahasakan sesuai dengan bahasa penerbit. Kami tegaskan, bahwa kami berlepas diri dari prinsip dan pemyataan penerbit di atas.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;[Dari : &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij Bantahan Terhadap Buku: Siapa Teroris? Siapa Khawarij? (Abduh Zulfidar Akaha); &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;Hal: 58-66; Penulis:&lt;strong&gt; Luqman Bin Muhammad Ba'abduh&lt;/strong&gt;, HP. 081559532868; Cetakan Pertama : Rabi'ul Awwal 1428 H/ April 2007 M; Penerbit: Pustaka Qaulan Sadida Perum Villa Bukit Tidar Blok A-1/401 Malang Telp (0342) 7062995 HP. 334995694)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-6689187925762473729?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/6689187925762473729/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=6689187925762473729' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/6689187925762473729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/6689187925762473729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/sekilas-tentang-penerbit-pustaka-al.html' title='Sekilas tentang Penerbit Pustaka Al-Kautsar'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-5307474458749625197</id><published>2008-05-12T13:35:00.002+07:00</published><updated>2008-06-12T19:42:25.971+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MDMTK'/><title type='text'>Muqaddimah (6)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Mengapa sibuk membantah sesama muslim dan diam terhadap orang kafir?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pertanyaan atau ucapan seperti ini sering muncul dari berbagai kalangan, baik dari orang-orang awam maupun dari kalangan yang diistilahkan dengan "para aktivis" atau "pegiat da'wah". Kalau munculnya dari orang-orang awam maka hal itu bisa dimaklumi, karena keawamannya itu mereka cenderung menilai dan bersikap berdasarkan tingkat pengetahuannya terhadap agama. Karena bersumber dari orang awam, maka pengaruh dari ucapan tersebut tidak terlalu berarti. Namun apabila ucapan atau pertanyaan seperti itu diucapkan oleh orang-orang yang disebut "para aktivis" atau "pegiat da'wah" maka akan memiliki pengaruh negatif yang cukup berarti, antara lain:&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mendidik umat untuk diam terhadap berbagai penyimpangan dan kesesatan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin. Tentunya bertentangan dengan perintah Nabi &lt;i&gt;Shallalahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dalam beberapa haditsnya, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;”Tolonglah saudaramu, baik yang berbuat kezhaliman maupun yang terzhalimi. Seorang shahabat bertanya: 'Wahai Rasulullah, jelas aku akan menolongnya jika ia adalah pihak yang terzhalimi, tapi bagaimana menurut engkau jika dia adalah pihak yang berbuat kezhaliman, bagaimana mungkin aku akan menolongnya?' Rasulullah menjawab: "Yaitu (dengan cara) kamu mencegah atau melarang dia dari perbuatan zhalim. Maka sesungguhnya itu adalah bentuk pertolongan untuknya,"&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;[HR. Al-Bukhari]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Begitu juga dengan hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Permisalan antara seseorang yang menjalankan syari'at Allah dengan orang yang melanggarnya bagaikan suatu kaum yang mengundi penentuan tempat pada sebnah kapal (bahtera). Sebagian mereka berhasil mendapatkan tempat di bagian atas, sementara yang lain di bagian bawah. Orang-orang yang berada di bagian bawah kapal, jika membutuhkan air minum terpaksa hams melewati orang-orang yang berada di atasnya. Akhirnya mereka berkata: "Kalau seandainya kita lobangi (dinding kapal) sedikit (untnk mendapatkan air) sehingga kita tidak mengganggu orang-orang yang berada di atas kita." Jika mereka membiarkan orang-orang yang ada di bawah dengan kemauannya itu niscaya mereka semua akan binasa. Namun apabila mereka berupaya mencegahnya niscaya mereka akan selamat dan selamat pulalah seluruh (yang ada di kapal tersebut)."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;[Al-Bukhari 2493, 2686]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Akan semakin berkembangnya penyimpangan dan paham sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika upaya pengingkaran terhadap berbagai penyimpangan telah diabaikan, tentu umat yang jauh dari bimbingan ilmu ini akan mengira suatu kesesatan sebagai suatu kebenaran, para pengusung paham dan aliran yang menyesatkan dianggapnya sebagai penyeru kebaikan, dan umatpun akan semakin terpecah belah dalam berbagai kelompok. Para penganut paham Syi'ah yang menyesatkan akan dengan mudah menjerumuskan umat kepada aqidahnya yang menyesatkan itu. Para penganut paham &lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt; akan terus dengan mudah menggiring para pemuda khususnya untuk memusuhi dan mengkafirkan pemerintahnya dan orang-orang yang tidak berada dalam satu kelompok dengan mereka, melakukan pengeboman, pembunuhan, dan berbagai tindakan sadis lainnya dengan mengatasnamakan agamanya. Begitu pula para pengusung paham sesat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Akan semakin menjauhkan umat dari pertolongan Allah &lt;i&gt;’Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dalam menghadapi musuh-musuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua tahu dan yakin, bahwa Allah tidak akan menolong umat ini terhadap musuh-musuhnya selama mereka masih banyak melanggar Allah dan Rasul-Nya. Terkhusus jika pelanggaran tersebut dalam permasalahan aqidah dan manhaj, yang tersebar di tengah-tengah umat dalam berbagai paham dan aliran yang menyelisihi Al-Qur'an dan As-Sunnah dalam koridor bimbingan generasi &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga dengan itu umat akan semakin lemah di hadapan musuh-musuhnya dengan tidak adanya pertolongan dari Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan ini, kami akan nukilkan untuk para pembaca sekalian nasehat Asy-Syaikh &lt;i&gt;Al-'Allamah&lt;/i&gt; DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, salah satu anggota Majelis &lt;i&gt;Hai'ah Kibaril 'Ulama'&lt;/i&gt; Kerajaan Saudi 'Arabia, dalam jawabannya terhadap pertanyaan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan&lt;/strong&gt;: &lt;i&gt;Kenapa harus diterapkan tahdzir (peringatan keras) terhadap berbagai ahlul bid'ah sementara umat ini sedang menghadapi permusuhan dengan kaurn Yahudi, Nashara, dan para sekuleris.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jawaban&lt;/strong&gt;: Tidak mungkin bagi kaum muslimin untuk melawan Yahudi dan Nashara kecuali jika mereka memberantas berbagai bid'ah yang ada di tengah-tengah mereka, mengobati berbagai penyakit (kesesatan) yang ada di antara mereka, sehingga mereka menang atas Yahudi dan Nashara. Namun apabila kaum muslimin masih saja mengabaikan urusan agama mereka dan masih saja melakukan berbagai bid'ah dan perbuatan-perbuatan haram lainnya serta terus meremehkan untuk mengaplikasikan syari'at Allah maka tidak akan mungkin mereka menang atas Yahudi dan tidak pula atas Nashara. Bahkan mereka akan dikalahkan oleh Yahudi dan Nashara dengan sebab sikap meremehkan urusan agama mereka. Karena itu wajib adanya upaya pembersihan masyarakat (muslimin) dari berbagai macam bid'ah dan kemungkaran, serta wajib berupaya menerapkan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya sebelum kita memerangi Yahudi dan Nashara. Kalau kita terus memerangi Yahudi dan Nashara dalam keadaan kondisi kita masih seperti ini, maka kita tidak akan menang atas mereka selama-lamanya! Bahkan merekalah yang akan menang atas kita disebabkan dosa-dosa kita. [dari kitab &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Al-Ijabatul Muhimmah fil Masyakil Al-Mulimmah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;, hal. 28; lihat http:/ /www.misrsalaf.com/vb/showthread.php?t=35 ]&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Berwala’ terhadap orang kafir?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermula dari pembahasan di atas, muncullah tuduhan terhadap Ahlus Sunnah atau &lt;i&gt;salafiyyin&lt;/i&gt; bahwa mereka telah menyerahkan loyalitasnya (ber&lt;i&gt;wala'&lt;/i&gt;) untuk orang-orang kafir. Sehingga &lt;i&gt;salafiyyin&lt;/i&gt; dituduh sebagai antek-antek Yahudi dan Nashara serta antek pemerintah "yang kafir", bekerja untuk kepentingan mereka, &lt;i&gt;murji'ah&lt;/i&gt; terhadap pemerintah &lt;i&gt;khawarij&lt;/i&gt; terhadap para aktivis da'wah, dan berbagai tuduhan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban terhadap tuduhan di atas dan beberapa pembahasan lainnya, termasuk kenapa kami mengistilahkan berbagai kelompok yang kami sebutkan di atas dengan sebutan &lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt;, dan pernyataan kami bahwa Abu Bakar Ba'asyir termasuk tokoh &lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt; Indonesia &lt;i&gt;Insya Allah&lt;/i&gt; akan kami bahas secara lebih khusus pada jilid kedua buku bantahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesalahan yang harus di luruskan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan kekhilafan, dalam kesempatan ini sangat perlu bagi kami untuk menyampaikan kepada para pembaca seluruhnya bahwa kami telah terjatuh pada kesalahan yang cukup fatal dan harus segera dibenahi. Kesalahan tersebut terjadi ketika kami memaparkan tentang tragedi berdarah &lt;i&gt;Al-Harrah&lt;/i&gt;, yang melibatkan shahabat , Abdullah bin Muthi' &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt; yang memiliki &lt;i&gt;ghirah&lt;/i&gt; terhadap Islam dalam sebuah pemberontakan terhadap Khalifah muslimin Pada waktu itu, yaitu Yazid bin Mu'awiyah. Sebagaimana dalam buku kami &lt;strong&gt;&lt;i&gt;MAT&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; (hal. 706-709/ cet. I atau 724-727/ cet. II dan sempat kami singgung pula secara singkat Pada hal. 535/ cet. I atau 553/ cet. II). Sebenarnya, tujuan kami memaparkan kisah tragedi &lt;i&gt;Al-Harrah&lt;/i&gt; itu adalah untuk menjelaskan kepada kaum muslimin, bahwa:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Semua tindakan yang diklaim sebagai jihad atau &lt;i&gt;amar ma'ruf nahi munkar&lt;/i&gt; yang tidak didukung oleh 'ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah tindakan yang salah.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tindakan gegabah akan menimbulkan kerusakan dan efek negatif yang dapat merugikan orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sikap tidak mau mengembalikan permasalahan umat kepada para' ulama besar yang telah diperintahkan oleh Allah akan menimbulkan kerusakan.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Larangan menentang atau memberontak kepada penguasa muslimin walaupun mereka adalah penguasa yang zhalim dan fasik.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;(Silakan para pembaca melihat kembali kisah tragedi &lt;i&gt;Al-Harrah&lt;/i&gt; tersebut untuk dapat mengambil pelajaran darinya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan kami tersebut berupa penggunaan beberapa kata yang sangat tidak tepat atau tidak layak diucapkan kepada seorang shahabat seperti beliau (’Abdullah bin Muthi' &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;) secara khusus atau penduduk Madinah yang sempat terlibat dalam pemberontak terhadap Khalifah Yazid bin Mu'awiyah &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;. &lt;strong&gt;Untuk itu kami ber&lt;i&gt;istighfar&lt;/i&gt; dan bertaubat, semoga Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; mengampuni kami. Sekaligus kami mengingatkan kaum muslimin secara umum dan para pembaca secara khusus untuk tidak mengikuti kesalahan kami tersebut.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persisnya kesalahan-kesalahan tersebut sebagaimana telah dijelaskan dalam buku &lt;strong&gt;&lt;i&gt;STSK&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; halaman 206 hingga 223. Kami pun mengucapkan terima kasih kepada saudara Abduh ZA. Semoga kritikannya pada bagian ini ikhlash karena Allah&lt;i&gt;  Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; dan diterima di sisi-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apakah kritikan ini murni karena Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; ataukah itu hanya sekadar tameng untuk menutupi sesuatu yang dia inginkan, seperti jawaban yang diucapkan oleh ' Ali bin Abi Thalib terhadap kaum &lt;i&gt;khawarij&lt;/i&gt; sebagaimana disebutkan oleh Syaikhul Islam dalam &lt;i&gt;Al-Fatawa&lt;/i&gt; XXVIII/495:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Juga dalam &lt;strong&gt;(Shahih) Muslim&lt;/strong&gt; dan 'Abdillah bin Rafi', sekretaris 'Ali radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Al-Haruriyyah (Khawarij) ketika muncul beliau ('Abdullah bin Rafi') pada waktu itu bersama (Khalifah) 'Ali bin Abi Thalib, mereka (Al-Haruriyyah) berkata: "Tiada hukum (keputusan) kecuali keputusan Allah." Maka (Khalifah) 'Ali menjawab: "Kalimat yang benar tetapi diinginkan dibaliknya suatu kebatilan. "&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuktikannya kita menunggu komentar saudara Abduh ZA dan kelompoknya serta pihak-pihak yang sepaham dengannya terhadap pembahasan yang sama atau mirip dengan pembahasannya pada buku &lt;strong&gt;&lt;i&gt;STSK &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;ini, yang akan kami tampilkan pada jilid kedua buku bantahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah &lt;i&gt;Jalla Jalalahu&lt;/i&gt; menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bisa menilai dan mensikapi segala permasalahan dengan bimbingan Al-Qur'an dan As-Sunnah berdasarkan manhaj &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt; dan terbebaskan dari kungkungan hawa nafsu dan semangat &lt;i&gt;hizbiyyah&lt;/i&gt;. Semoga Allah, menjadikan kami termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlash dan jujur dalam berkata, bersikap, dan beramal. Semoga Allah, melindungi dan jagalah kami di tengah terpaan gelombang fitnah yang dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari : &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij Bantahan Terhadap Buku: Siapa Teroris? Siapa Khawarij? (Abduh Zulfidar Akaha); &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;Hal: 51-56; Penulis: &lt;strong&gt;Luqman Bin Muhammad Ba'abduh&lt;/strong&gt;, HP. 081559532868; Cetakan Pertama : Rabi'ul Awwal 1428 H/ April 2007 M; Penerbit: Pustaka Qaulan Sadida Perum Villa Bukit Tidar Blok A-1/401 Malang Telp (0342) 7062995 HP. 334995694)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-5307474458749625197?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/5307474458749625197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=5307474458749625197' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/5307474458749625197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/5307474458749625197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/muqaddimah-6.html' title='Muqaddimah (6)'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-12735409408840589</id><published>2008-05-12T13:31:00.001+07:00</published><updated>2008-06-12T19:37:11.706+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MDMTK'/><title type='text'>Muqaddimah (5)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Mengapa tidak hanya Imam Samudra saja yang dibantah?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perlu dijelaskan kembali di sini, bahwa buku kami &lt;strong&gt;&lt;i&gt;MAT&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; yang Pada awalnya ditulis dalam rangka membantah Imam Samudra dalam bukunya yang berjudul &lt;strong&gt;&lt;i&gt;"Aku Melawan Teroris!"&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; terpaksa bantahan tersebut sengaja kami perluas tidak hanya sebatas Imam Samudra. Pada mulanya kami hendak memberi judul buku dengan&lt;i&gt; "Imam Samudra Kaulah Teroris Sejati"&lt;/i&gt; namun sengaja kami ubah menjadi &lt;strong&gt;&lt;i&gt;"Mereka Adalah Teroris!"&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; Hal ini mengingat bahwa Imam Samudra hanyalah salah satu korban kesesatan paham &lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt; yang dikembangkan kembali oleh para tokohnya, baik yang telah disebutkan oleh Imam Samudra dalam bukunya tersebut, semacam Safar Al-Hawali dan Salman Al-'Audah, maupun yang belum disebutkannya, yang kesemuanya punya andil dan pengaruh besar dalam menyebarkan paham &lt;i&gt;Khawarij &lt;/i&gt;di berbagai tempat, tak luput pula di negeri kita ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pengaruh negatif kesesatan kelompok-kelompok neo-&lt;i&gt;Khawarij &lt;/i&gt;masa kini dan para tokohnya kian terasa dalam duma Islam, baik pengaruh negatif dalam bentuk paham -yang kami istilahkan dengan teror pemikiran- maupun dalam bentuk teror fisik berupa pembunuhan, pengeboman, dan sebagainya. Justru kami memandang para tokoh itulah yang harus mendapatkan porsi lebih banyak dalam bantahan kami. Karena Imam Samudra dan orang--orang semacamnya hanyalah pemain-pemain di lapangan, yang merupakan salah satu imbas paham &lt;i&gt;Khawarij &lt;/i&gt;yang disebarkan di tengah-tengah umat terkhusus kalangan muda. Al-Qaeda, JI, NII, MMI, HT, IM, LDII, Jamus, &lt;i&gt;Jama'atul Jihad&lt;/i&gt;, adalah kelompok--kelompok berhaluan &lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt; yang terus memangsa korban-korban baru dari kalangan pemuda yang memiliki semangat dan kecintaan yang tinggi terhadap Islam. Namun ketika semangat dan kecintaan yang tinggi terhadap Islam tersebut tidak dibarengi oleh kematangan ilmu Al-Qur' an dan As-Sunnah dalam koridor pemahaman generasi &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt;, maka para pemuda tersebut sangat mudah untuk digiring kepada terorisme yang kejam dengan label Islam dan semboyan jihad &lt;i&gt;fi sabilillah&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah gambaran global kondisi umat dengan berbagai kelompok neo-&lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt; yang tersebar di tengah-tengah mereka. Namun bersama dengan itu saudara Abduh ZA marah dan tersinggung ketika kami tidak mencukupkan bantahan yang kami tulis hanya kepada Imam Samudra saja, malah menyentuh berbagai kelompok lainnya, termasuk kelompok dan aliran kebanggaannya, yaitu IM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berupaya menggambarkan kepada para pembacanya bahwa buku &lt;strong&gt;&lt;i&gt;MAT&lt;/i&gt; &lt;/strong&gt;yang tidak hanya membantah Imam Samudra itu, bagaikan logika "tikus dalam lumbung". Pada &lt;strong&gt;&lt;i&gt;STSK&lt;/i&gt; &lt;/strong&gt;halaman 3 dia mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Kita sudah sering mendengar orang mengatakan, bahwa untuk  mengusir seekor tikus di lumbung padi tidak perlu harus membakar lumbungnya. Cukup tikusnya saja yang dicari dan dikeluarkan dari lumbung."&lt;/blockquote&gt;Benarkah logika saudara Abduh ZA di atas? Demikiankah kondisi sebenarnya? Kami memandang itu adalah suatu logika yang terlalu dipaksakan untuk melindungi paham &lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt; yang dengan sengaja disebarkan oleh berbagai kelompok neo-&lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt; dan tokoh--tokohnya. Lebih tepatnya kondisi yang menimpa umat ini seperti sebuah bejana yang berisi air dijilat oleh seekor anjing. Maka dengan terpaksa air yang ada dalam bejana itu harus dibuang untuk menghindarkan semakin menyebarnya efek negatif jilatan anjing tersebut. Bahkan bejana tersebut harus dicuci dengan air sebanyak tujuh kali cucian yang salah satunya dicampur dengan tanah. Hal ini mengingatkan kami pada sabda Rasulullah &lt;i&gt;Shallalahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Apabila seekor anjing menjilat bejana (milik) salah seorang di antara kalian, maka tumpahkanlah (air yang ada dalam bejana tersebut), kemudian cucilah bejana itu (dengan air) sebanyak tujuh kali." Dalam riwayat lain: "Cucilah bejana itu sebanyak tujuh kali, basuhan yang pertama (dicampur) dengan tanah."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;[HR. Muslim 279].&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ltulah gambaran yang lebih tepat untuk kondisi umat di masa ini. Racun jilatan &lt;i&gt;hizbiyyah&lt;/i&gt; dan paham &lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt; telah mengenai banyak pihak, terkhusus kaum muda. Para neo-&lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt; pun dengan gencar di sana-sini melalui berbagai media meracuni umat dengan pahamnya. Mereka lakukan hal itu dengan menggunakan ayat--ayat Al-Qur' an dan hadits-hadits Rasulullah &lt;i&gt;Shallalahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; berdasarkan logika dan kepentingan kelompok masing-masing di Iuar bimbingan pemahaman generasi &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt; serta para' ulama masa kini yang mengikuti jejak mereka. Umat yang mayoritas awam pun terbawa oleh hingar-bingarnya &lt;i&gt;syubhat-syubhat&lt;/i&gt; tersebut sehingga mereka menganggap tindakan teror sebagai jihad yang mulia dan para teroris pun mereka anggap sebagai mujahidin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau&lt;i&gt; toh&lt;/i&gt; teori ”tikus dalam lumbung" dipaksakan harus dijadikan sebagai gambaran, maka ketahuilah bahwa tikus dalam lumbung padi tersebut tidak hanya seekor saja, tetapi beribu-ribu tikus yang siap beranak-pinak telah menggerogoti padi tak berdaya yang tersimpan dalam lumbung itu. Mau tidak mau dalam rangka menyelamatkan padi yang tersisa sedikit itu harus digunakan cara yang lebih dahsyat untuk menghadapi tikus-tikus kejam yang telah beranak-pinak itu. Ma'af jika ucapan ini terlalu kasar. Tapi itulah yang terpaksa harus kami ucapkan untuk menepis &lt;i&gt;syubhat-syubhat&lt;/i&gt; saudara Abduh ZA yang --disadari atau tidak- telah berposisi sebagai pembela teroris &lt;i&gt;khawarij&lt;/i&gt; dan terorisme dengan cara menebar dusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menuduh kami tidak memiliki bukti dan fakta&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dalam upayanya mementahkan buku&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;MAT&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt; dan menjauhkan umat darinya, saudara Abduh ZA selalu berusaha mengesankan bahwa banyak pernyataan kami yang hanya sebatas tuduhan-tuduhan tanpa bukti dan fakta. Dia hendak mengesankan kepada para pembaca bahwa apa yang kami tuliskan itu tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dengan cara-cara murahan, dia terus mengulang-ulang upayanya ini. Padahal, jika cara yang sarna diterapkan untuk menilai buku-buku terbitan Pustaka Al-Kautsar secara khusus atau bahkan buku-buku para tokoh IM secara umum, maka kesimpulan yang sarna pun bisa diambil, yaitu tokoh-tokoh IM berbicara dan menuduh tanpa bukti dan fakta! Sempat terpikir oleh kami untuk menulis buku khusus tentang kedustaan-kedustaan tokoh-tokoh IM dan tokoh-tokoh &lt;i&gt;hizbiyyah&lt;/i&gt; yang lain, baik yang sudah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar maupun yang lainnya. Oleh karena itu pada buku bantahan jilid pertama ini kami akan menyebutkan sebagian bukti dan fakta yang dipertanyakan itu pada beberapa tempat, bahkan kami letakkan sebuah bab khusus tentang permasalahan ini dengan judul: "Inilah Bukti dan Fakta yang dipertanyakan itu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menuduh kami berdusta atas nama para 'ulama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cukup sampai di sana, bahkan saudara Abduh ZA menggiring para pembaca untuk sampai pada kesimpulan bahwa kami telah berdusta atas nama para 'ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Untuk itu dia meletakkan sebuah catatan tersendiri. Minimalnya ada lima tuduhan yang diarahkan kepada kami terkait masalah ini. Dengan permainan kata-kata dan cara penukilan yang tidak disertai dengan sikap amanah dia berupaya mengelabui para pembaca untuk sampai pada kesimpulan bahwa kami berdusta atas nama para 'ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menyadari bahwa para pembaca mayoritasnya adalah awam dan kondisinya sangatlah heterogen sebagaimana telah kami jelaskan pada pengantar. Sehingga mereka sangat mudah termakan oleh berbagai &lt;i&gt;syubhat&lt;/i&gt; dan permainan kata-kata saudara Abduh ZA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, dalam buku bantahan jilid pertama ini, kami ingin membuktikan kepada para pembaca sekalian bahwa tuduhan saudara Abduh ZA bahwa kami berdusta atas nama para 'ulama adalah kedustaan belaka, yang para pembaca bisa melihatnya pada beberapa tempat dari buku kami ini. Bahkan untuk permasalahan ini kami meletakkan pembahasan khusus di Bagian Kedua buku jilid pertama ini, yang kami beri judul "Kedustaan Tuduhan Dusta". Semoga para pembaca bisa sabar mengikutinya dan semoga Allah&lt;i&gt; ’Azza wa Jalla&lt;/i&gt; membantu para pembaca sekalian untuk bisa memahaminya. &lt;i&gt;Amin Ya Rabbal 'Alamin&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari : &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij Bantahan Terhadap Buku: Siapa Teroris? Siapa Khawarij? (Abduh Zulfidar Akaha); &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;Hal: 46-50; Penulis: &lt;strong&gt;Luqman Bin Muhammad Ba'abduh&lt;/strong&gt;, HP. 081559532868; Cetakan Pertama : Rabi'ul Awwal 1428 H/ April 2007 M; Penerbit: Pustaka Qaulan Sadida Perum Villa Bukit Tidar Blok A-1/401 Malang Telp (0342) 7062995 HP. 334995694)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-12735409408840589?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/12735409408840589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=12735409408840589' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/12735409408840589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/12735409408840589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/muqaddimah-5.html' title='Muqaddimah (5)'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-7714349361555459090</id><published>2008-05-12T13:21:00.001+07:00</published><updated>2008-06-12T19:34:06.809+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MDMTK'/><title type='text'>Muqaddimah (4)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Sekali lagi: upaya penulis STSK menjauhkan umat dari manhaj salaf&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masih dalam upaya saudara Abduh ZA untuk menjauhkan umat --terkhusus para pembacanya- dari manhaj salaf, dalam bukunya tersebut dia selalu berusaha mengesankan bahwa upaya pengkritikan dan pembantahan terhadap berbagai paham sesat yang dianut oleh berbagai kelompok sempalan sebagai sikap mencari-cari dan mengoleksi kesalahan. Sebagai contoh, dalam &lt;strong&gt;&lt;i&gt;STSK&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; pada halaman xxiii saudara Abduh ZA mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;”...  kewajiban kita semua untuk saling mengingatkan dan menasehati , satu sama lain dalam kebenaran dan kesabaran, yang tentu saja dengan cara yang baik dan santun. Bukan dengan cara &lt;strong&gt;mencari-cari dan mengoleksi kesalahan&lt;/strong&gt; orang atau ulama yang tidak disukai untuk kemudian disebar-luaskan ... ."&lt;/blockquote&gt;[cetak tebal dari kami]&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sekali lagi dengan bahasa yang cenderung meremehkan penyimpangan-penyimpangan, saudara Abduh ZA membahasakannya dengan istilah "kesalahan". Benarkah itu sekadar kesalahan? ataukah suatu penyimpangan dan kesesatan? Untuk menjawab itu semua tentunya harus diukur dengan barometer manhaj pemahaman &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt;, generasi yang paling bertaqwa, paling berilmu, dan terbenar dalam memahami dan mengamalkan Al-Qur' an dan As-Sunnah sekaligus sebagai generasi yang paling mengerti cara menyikapi "kesalahan" atau "orang dan kelompok yang &lt;strong&gt;berbeda sikap dan pendapat&lt;/strong&gt;" (menurut istilah saudara Abduh ZA); bukan dengan berbagai logika yang cenderung dikendalikan oleh hawa nafsu dan berbagai kepentingan pribadi dan kelompok. Karena yang demikian itu akan lebih menggiring kita kepada perpecahan yang tak kunjung usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah apa yang kami lakukan itu adalah mencari-cari kesalahan? Ataukah justru kesalahan-kesalahan (baca: penyimpangan dan kesesatan) tersebut telah disebarkan dan dipromosikan secara luas di tengah-tengah umat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nasehat beberapa 'ulama salaf&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu beberapa 'ulama salaf menasehatkan untuk kita selalu merujuk dan berpegang dengan &lt;i&gt;Atsar&lt;/i&gt; (peninggalan-peninggalan) mereka, baik dalam bidang aqidah, akhlaq, manhaj, maupun ibadah. Antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shahabat Hudzaifah Ibnul Yaman &lt;i&gt;radhiyallahu ’anhu&lt;/i&gt; berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;”Bertaqwalah kalian kepada Allah wahai sekalian Al-Qurra' (para ahli membaca Al-Qur'an), ikutilah jejak generasi sebelum kalian. Demi Allah, jika kalian melampaui (berlebihan) maka sungguh kalian telah melampaui batas yang jauh. Namun jika kalian mencampakkan jejak generasi sebelum kalian (dengan menyimpang) ke kanan atau ke kiri, sungguh kalian telah tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.&lt;/i&gt; [lihat&lt;strong&gt; &lt;i&gt;Lammud Durril Mantsur&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; hal. 30].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shahabat 'Abdullah bin' Abbas &lt;i&gt;radhiyallahu ’anhuma&lt;/i&gt; berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Wajib atas kalian untuk beristiqamah dan berpegang kepada atsar, dan berhati-hatilah kalian dari berbagai bid'ah."&lt;/i&gt; [lihat&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;Lammud Durril Mantsur&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt; hal. 30].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan nasehat kedua shahabat Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi wa Sallam&lt;/i&gt; di atas, dengan tegas keduanya mengingatkan kita untuk mengikuti &lt;i&gt;atsar&lt;/i&gt; salaf (jejak generasi &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt;) karena itu adalah jalan keselamatan dan berbagai kesesatan dan paham yang menyimpang. Ini pula yang ditegaskan oleh salah seorang imam dari kalangan Tabi’in, yaitu Al-Imam Al-Auza’i &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;, dalam salah satu nasehatnya beliau mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan atsar-atsar as-salaf, walaupun umat manusia menolakmu, dan hati-hatilah engkau dari logika-logika para tokoh meskipun mereka menghiasinya untukmu dengan perkataan (yang indah)."&lt;/i&gt; [lihat &lt;i&gt;&lt;strong&gt;Lammud Durril Mantsur&lt;/strong&gt;,&lt;/i&gt; hal. 33].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, ada sebuah bait sya'ir yang berisi nasehat seperti nasehat para 'ulama di atas, dan sempat dinukilkan oleh saudara Abduh ZA dalam bukunya tersebut untuk lebih mengesankan bahwa dirinya seolah-olah berada di atas manhaj salaf, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Segala kebaikan terletak pada sikap mengikuti contoh (atsar) generasi salaf&lt;br /&gt;dan segala kejelekan terletak pada sikap mengada-ada (bid' ah) kaum khalaf"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar segala kebaikan terletak pada sikap mengikuti contoh dan jejak generasi salaf. Namun sudahkah saudara Abduh ZA secara khusus atau IM sebagai alirannya sudah menerapkan itu semua? Sudahkah mereka menilai, bersikap, berda'wah, dan beraqidah sesuai dengan contoh dan jejak generasi salaf tersebut? Atau justru dia dan kelompoknya tetap mengikuti hawa nafsu untuk lebih mengedepankan logika dan sikap mengada-ada (bid'ah) yang dimunculkan oleh kaum khalaf?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui jawabannya ikutilah apa yang akan kami paparkan dalam buku bantahan ini, baik pada jilid pertama, terkhusus pada jilid kedua &lt;i&gt;Insya Allah&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Mengapa menggunakan kata-kata keras dan pedas?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka menarik simpati pembaca dan mengesankan bahwa dirinya dan kelompoknya serta kelompok-kelompok yang lain sebagai pihak yang terzhalimi karena beberapa kata pedas dan keras yang kami gunakan dalam buku &lt;strong&gt;&lt;i&gt;MAT&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;, saudara Abduh ZA mencoba menanamkan salah satu pahamnya kepada para pembaca yaitu harus menggunakan kata-kata santun dan beretika dalam mengkritik. Adapun penggunaan kata-kata keras atau pedas --yang ia istilahkan tidak santun dan tidak beretika- menurutnya tidak sesuai dengan syari'at Islam dan jejak&lt;i&gt; as-salafush shalih&lt;/i&gt;. Benarkah itu semua? Para pembaca bisa melihat jawabannya dalam bab II bagian pertama buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar kami menggunakan beberapa kata yang keras dan pedas dalam buku kami &lt;i&gt;&lt;strong&gt;MAT&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;,  namun itu semua kami lakukan sebagai bentuk kepedulian kami terhadap mereka yang terjatuh dalam berbagai kesesatan dan penyimpangan aqidah. Terpaksa hal itu kami lakukan agar mereka sadar bahwa penyimpangan yang mereka lakukan bukanlah sesuatu yang boleh dianggap remeh dalam tinjauan syari' at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa secara hukum asal, da'wah dan nasehat itu dilakukan di atas hikmah dan penggunaan kata-kata yang lembut. Namun ketika kata-kata lembut sudah tidak bermanfaat lagi; sementara kesesatan dan penyimpangannya terus dia lakukan; bahkan ditebarkan di tengah-tengah umat; sehingga semakin banyak korban yang termakan oleh kesesatannya; maka dalam kondisi seperti itu dengan terpaksa digunakanlah kata-kata keras dan pedas. Bukan berarti hal itu menafikan adanya kasih sayang terhadap sesama muslim. Perhatikan nasehat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; seorang 'ulama besar yang tidak diragukan lagi keilmuannya,:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Seorang mu'min terhadap mu'min yang lainnya bagaikan kedua tangan, salah satunya mencuci tangan yang lain, namun bisa saja kotoran (yang melekat di tangan) tidak bisa hilang kecuali dengan bentuk cara (pembersihan) yang keras/kasar. Namun (cara keras/ kasar seperti) itu benar-benar mendatangkan kebersihan dan kehalusan (pada tangan) yang membuat kita memuji cara yang kasar tersebut."&lt;/i&gt; [&lt;strong&gt;&lt;i&gt;Majmu'ul Fatawa&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; XXVIII/53-54].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melengkapi &lt;i&gt;syubhat&lt;/i&gt;nya, dalam pengantar bukunya saudara Abduh ZA sempat menukil nasehat Asy-Syaikh &lt;i&gt;Al-'Allamah&lt;/i&gt; ’Abdul ’Aziz bin Baz &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; dan Asy-Syaikh &lt;i&gt;Al-'Allamah Al-Faqih&lt;/i&gt; Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; untuk mengesankan bahwa kedua syaikh tersebut antipati terhadap penggunaan kata-kata keras dan pedas, bahkan antipati terhadap sikap mengkritik tokoh-tokoh sesat, dan bahwa apa yang kami tuliskan dalam &lt;strong&gt;&lt;i&gt;MAT&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; tidak sesuai dengan nasehat kedua 'ulama besar tersebut. Demikiankah adanya? Para pembaca bisa membuktikannya sendiri dari apa yang akan kami paparkan pada bab II bagian pertama, tentang &lt;i&gt;Metode Al-Jarh wat Ta'dil&lt;/i&gt; versi Abduh ZA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari : &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij Bantahan Terhadap Buku: Siapa Teroris? Siapa Khawarij? (Abduh Zulfidar Akaha); &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;Hal: 42-46; Penulis: &lt;strong&gt;Luqman Bin Muhammad Ba'abduh&lt;/strong&gt;, HP. 081559532868; Cetakan Pertama : Rabi'ul Awwal 1428 H/ April 2007 M; Penerbit: Pustaka Qaulan Sadida Perum Villa Bukit Tidar Blok A-1/401 Malang Telp (0342) 7062995 HP. 334995694)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-7714349361555459090?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/7714349361555459090/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=7714349361555459090' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/7714349361555459090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/7714349361555459090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/muqaddimah-4.html' title='Muqaddimah (4)'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-3123390685370764677</id><published>2008-05-12T13:06:00.002+07:00</published><updated>2008-06-12T19:04:24.330+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MDMTK'/><title type='text'>Muqaddimah (3)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;STSK, penulis, dan penerbitnya termasuk yang menolak manhaj salaf!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di antara yang gencar menolak manhaj salaf ini, walaupun kadang-kadang menampakkan dirinya seolah-olah berada di atas manhaj salaf, adalah saudara Abduh ZA penulis buku &lt;strong&gt;&lt;i&gt;STSK&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; sekaligus Pustaka Al-Kautsar sebagai penerbitnya. Sebuah buku yang pada hakekatnya ditulis untuk membela kepentingan paham dan kelompoknya secara khusus, yaitu IM, sekaligus mewakili kemarahan dan ketersinggungan berbagai kelompok yang berhaluan &lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt;, menyerang secara membabi buta manhaj &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt;. Dengan dihiasi kata-kata indah dan tampilan-tampilan yang dikesankan ilmiah, penulisnya berusaha mengelabui para pembaca yang mayoritas awam untuk secara perlahan membenci dan antipati terhadap manhaj salaf yang haq itu. Dengan ungkapan-ungkapannya yang tampak manis, saudara Abduh ZA hendak membela kelompok atau alirannya secara khusus yaitu Ikhwanul Muslimin (IM). Keadaan ini dijadikan sebagai kesempatan dan peluang emas oleh aliran dan kelompok-kelompok sempalan lainnya dalam menyerang manhaj salaf, para 'ulama, dan para da'inya.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dia berupaya mengesankan penyimpangan-penyimpangan aqidah yang terdapat pada kelompok-kelompok sempalan tersebut hanya sekadar perbedaan pendapat yang bersumber dari perbedaan ijtihad. Di antara contohnya, dia mengatakan pada &lt;strong&gt;&lt;i&gt;STSK&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; halaman 2:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Bagaimana tidak, hampir tidak ada ruang pembenaran bagi semua orang dan kelompok yang &lt;strong&gt;berbeda sikap dan pendapat&lt;/strong&gt; dengan si penulis, Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba'abduh hafizhahullah. Semua yang berbeda dengan pendapat penulis dan kelompoknya, disalahkan dan dipojokkan. ... . Seakan-akan surga yang luasnya seluas langit dan bumi ini hanyalah kavling milik beliau dan kelompoknya dan merupakan zona terlarang&lt;strong&gt; bagi mereka yang berbeda pendapat&lt;/strong&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[cetak tebal dari kami]&lt;/blockquote&gt;Tidak sekadar perbedaan antar kelompok saja, bahkan lebih parahnya lagi saudara Abduh ZA yang berpaham aliran IM ini, hendak melegalisir adanya berbagai perbedaan antar umat manusia, dengan berbagai paham dan ideologinya yang berbeda-beda dan menyimpang dari bimbingan Al-Qur'an dan As-Sunnah dan prinsip/manhaj generasi &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt;, dengan berbagai dalih sebagaimana dia katakan pada halaman 60:&lt;blockquote&gt;"Jadi, adanya perbedaan tersebut adalah sesuatu yang memang terjadi dikarenakan suatu sebab yang jelas, bukan sesuatu yang mengada-ada. Menganggap diri sendiri atau kelompok sendiri yang paling benar bukan saja suatu sikap egois yang hanya mau menang sendiri, bahkan itu sama saja dengan mengingkari fakta yang telah terjadi sejak masa Nabi &lt;i&gt;Shallallahu Alaihi wa Sallam&lt;/i&gt; dan para sahabat. Bagaimana mungkin jika ketika Nabi masih hidup saja ada sebagian sahabat yang berbeda pendapat dan semuanya dibenarkan oleh Nabi dengan argumennya masing-masing; namun kini kebenaran itu menjadi hanya milik Al Ustadz Luqman dan kelompoknya saja?"&lt;/blockquote&gt;Masih pada halaman yang sama, dia melanjutkan:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Bagaimanapun juga, &lt;strong&gt;perbedaan yang terjadi antar-sesama manusia adalah sunnatullah&lt;/strong&gt;. Perbedaan adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. DR. Yasir Burhami berkata, "Dalil-dalil qath'i dari Al-Qur'an dan Sunnah menegaskan bahwa perbedaan adalah sesuatu yang pasti terjadi antar-sesama anak manusia. Dan, itu sudah menjadi ketentuan Allah atas mereka. Allah Ta'ala berfirman,&lt;i&gt; 'Dan tidaklah manusia itu dulunya melainkan hanya satu umat saja, tetapi kemudian mereka berselisih. Dan, kalau saja bukan karena kalimat Tuhanmu yang telah lalu, niscaya Dia akan memutuskan apa yang diperselisihkan di antara mereka.' &lt;/i&gt;Jadi, dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa kalimat-Nya yang telah lalu dan keputusan-Nya yang pertama kali ketika menciptakan makhluk, adalah &lt;strong&gt;tidak memutuskan (siapa benar siapa salah dalam) perbedaan yang terjadi di antara mereka saat itu juga&lt;/strong&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[cetak tebal dari kami]&lt;/blockquote&gt;Perhatikan pernyataan saudara Abduh ZA di atas yang nampak indah tapi hakekatnya adalah sesat menyesatkan. Dari pernyataan itu ada beberapa hal yang bisa disimpulkan, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tidak ada yang boleh mengklaim bahwa diri dan kelompoknya adalah yang paling benar.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengklaim bahwa diri dan kelompoknya yang paling benar adalah suatu sikap egois bahkan mengingkari fakta yang terjadi sejak jaman Nabi s&lt;i&gt;hallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dan para shahabat.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;"Perbedaan pendapat" —ma'af sekadar meminjam istilah saudara Abduh ZA— yang terjadi di tengah-tengah umat sekarang pada hakekatnya sama dengan sebagian shahabat Nabi yang berbeda pendapat dan semuanya dibenarkan oleh Nabi dengan argumennya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;"Perbedaan pendapat" itu adalah suatu sunnatullah yang tidak bisa dipungkiri.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Allah  &lt;i&gt;'Azza wa Jalla&lt;/i&gt; tidak memutuskan siapa benar siapa salah dalam ”perbedaan pendapat" yang terjadi antar makhluk saat itu juga.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Sengaja kami nukilkan pernyataan saudara Abduh ZA di atas sekadar untuk menunjukkan bahwa dia benar-benar telah berjalan di atas paham aliran IM yang cenderung mentoleransi segala bentuk paham yang menyimpang dan melarang pengikutnya untuk berbicara seputar permasalahan yang mereka istilahkan dengan ”perbedaan pendapat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah perselisihan yang terjadi di tengah umat ini sekadar ”perbedaan pendapat" ataukah itu justru penyimpangan¬penyimpangan aqidah? Benarkah Allah S&lt;i&gt;ubhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; tidak memutuskan siapa benar siapa salah dalam ”perbedaan pendapat" tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan dan jawaban selengkapnya &lt;i&gt;Insya Allah&lt;/i&gt; dapat para pembaca sekalian ikuti pada jilid kedua buku bantahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada beberapa ungkapan yang kami tampilkan di atas -yang pada hakekatnya adalah upaya menjauhkan umat dari manhaj salaf, termasuk ucapan saudara Abduh ZA tersebut-sebenarnya adalah ungkapan-ungkapan yang banyak mengacu kepada paham tokoh-tokoh IM, baik Hasan Al-Banna sebagai pendirinya maupun tokoh-tokoh lainnya, termasuk di antaranya Yusuf Al-Qaradhawi tokoh pujaan saudara Abduh ZA dan Pustaka Al-Kautsar. Dalam salah satu tulisannya, Al-Qaradhawi mengatakan:&lt;br /&gt;”Kita menyerukan Jama'ah Salafiyun -apapun kelompok mereka- agar memandang seluruh kaum muslimin sebagai saudara seagama mereka. &lt;i&gt;Toh&lt;/i&gt; mereka semua shalat menghadap kiblat yang sarna; sekalipun berbeda dalam persoalan cabang akidah atau pun persoalan cabang fikih. Dan Mereka semua adalah sasaran musuh-musuh Islam; yang tak mempedulikan perbedaan-perbedaan antar mereka dan menganggap mereka sebagai satu umat yang beriman pada Tuhan serta Rasul yang sama.” [lihat &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Kebangkitan Gerakan Islam Dari Masa Transisi Menuju Kematangan&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;, DR. Yusuf Al-Qaradhawi, Penerbit Pustaka Al-Kautsar-Jakarta; hal. 247]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sekelumit tentang paham Hasan Al-Banna dan pernyataan-pernyataannya, para pembaca bisa mengikutinya pada Bagian Pertama Bab I pembahasan tentang Pustaka Al-Kautsar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari : &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij Bantahan Terhadap Buku: Siapa Teroris? Siapa Khawarij? (Abduh Zulfidar Akaha); &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;Hal: 38-42; Penulis: &lt;strong&gt;Luqman Bin Muhammad Ba'abduh&lt;/strong&gt;, HP. 081559532868; Cetakan Pertama : Rabi'ul Awwal 1428 H/ April 2007 M; Penerbit: Pustaka Qaulan Sadida Perum Villa Bukit Tidar Blok A-1/401 Malang Telp (0342) 7062995 HP. 334995694)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-3123390685370764677?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/3123390685370764677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=3123390685370764677' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/3123390685370764677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/3123390685370764677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/muqaddimah-3.html' title='Muqaddimah (3)'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-2990080751287366510</id><published>2008-05-12T12:56:00.002+07:00</published><updated>2008-06-12T18:44:35.372+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MDMTK'/><title type='text'>Muqaddimah (2)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Mengapa mereka tersesat?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah pertanyaan yang harus diajukan, yaitu: Mengapa mereka tersesat? Padahal mayoritas kelompok atau aliran tersebut menyatakan bahwa mereka berada di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lalu apa yang menyebabkan mereka jatuh pada penyimpangan dan kesesatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya: karena mereka hendak memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak dengan apa yang diajarkan dan diamalkan oleh generasi salaf. Masing-masing kelompok memiliki pemahaman yang berbeda terhadap nash-nash Al-Qur’an dan Al-Hadits serta cenderung bertabrakan satu sama lain sesuai dengan kepentingan kelompoknya masing-masing. Tiap-tiap kelompok menggunakan nash-nash Al-Qur’an dan Al-Hadits  sebagai tameng untuk melindungi penyimpangan dan kesesatan mereka. Dengan cara meletakkannya tidak pada tempatnya, tidak sesuai dengan apa yang telah dipahami, disampaikan dan diamalkan oleh generasi &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt;. Padahal Rasulullah  &lt;i&gt;shallallahu `alaihi wa sallam&lt;/i&gt; sebagai junjungan dan penuntun kita, ketika menjelaskan akan munculnya perpecahan yang akan menimpa umat ini menjadi 73 kelompok, dan beliau  &lt;i&gt;shallallahu `alaihi wa sallam&lt;/i&gt; ditanya tentang ciri-ciri serta kriteria satu-satunya kelompok yang selamat, dengan tegas beliau  &lt;i&gt;shallallahu `alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menjawab:&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;“Mereka (kelompok yang selamat itu) adalah orang-orang yang kondisinya berada di atas apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya pada hari ini.”&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; [HR. Ath-Thabarani]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula ketika beliau &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; mengabarkan kepada para shahabatnya bahwa mereka akan menyaksikan perselisihan yang banyak, dengan tegas beliau memerintahkan para shahabatnya untuk berpegang pada prinsip/manhaj para &lt;i&gt;Al-Khulafa‘ur Rasyidun&lt;/i&gt; bersamaan dengan prinsip/manhaj beliau. Dengan tegas pula beliau memperingatkan para shahabatnya dari bahaya bid’ah (logika, ra’yu, cara, atau paham yang diada-adakan). Rasulullah  shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup (setelahku) akan mendapati perselisihan yang sangat banyak. Maka (dalam kondisi seperti itu) wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnah-ku dan sunnah para Al-Khulafa‘ur Rasyidun yang telah mendapatkan petunjuk setelahku. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi-gigi geraham. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam masalah agama), karena sesungguhnya setiap perkara baru yang diada-adakan itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat. [dalam riwayat lain]: dan setiap kesesatan itu (tempatnya) di neraka."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;[HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hawa nafsu &lt;i&gt;hizbiyyah&lt;/i&gt; (semangat kekelompokan) yang membutakan telah menghalangi mereka dari mengikuti jejak generasi yang telah dipuji oleh Rasulullah  &lt;i&gt;shallallahu `alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dan dijadikan sebagai barometer kebenaran dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sikap seperti itu menggiring mereka untuk terus lebih mengedepankan logika dan cara pandang kelompoknya dibanding pemahamanan generasi &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt;. Sehingga mereka terus berada dalam kungkungan perpecahan dan sikap&lt;i&gt; ‘ashabiyyah&lt;/i&gt; (sikap membela kelompok secara membabi buta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Upaya terselubung menolak manhaj salaf&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat dipungkiri bahwa manhaj salaf dalam memahami Al-Qur‘an dan As-Sunnah bagaikan duri dalam daging bagi para penebar paham sesat, serta menjadi tembok penghalang bagi berbagai kelompok dan aliran sempalan dalam upaya mereka menebarkan pahamnya di tengah umat. Tentunya mereka tidak akan berani terang-terangan menolak untuk kembali kepada Al-Qur‘an dan As-Sunnah berdasarkan manhaj &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt; karena itu merupakan suatu kekonyolan dan akan menyulitkan mereka. Tetapi penolakan tersebut mereka lakukan dengan berbagai ungkapan yang terkesan ilmiah dan tidak menyerang namun pada hakekatnya itu adalah sikap penolakan terhadap manhaj salaf. Sebagian mereka mengatakan bahwa,&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; Janganlah kita terlalu tekstual dalam memahami nash-nash Al-Qur‘an dan As-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kita harus mengaktifkan akal ke arah ijtihad dan pembah-aruan.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masing-masing kelompok bekerja pada bidangnya menutupi kekurangan atau kelemahan kelompok lain.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masing-masing kelompok sama-sama berbuat untuk &lt;i&gt;La ilaha Illallah&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kita harus lebih bisa menyesuaikan dengan kultur setiap daerah.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan terlalu sibuk dengan pusaran polemik masalah aqidah.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kita tidak boleh terlalu bergelut dengan hal-hal yang mengundang perbedaan namun tidak memperhatikan hal-hal yang menjadi kesepakatan.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Atau prinsip utama kelompok IM yang sering mereka dengungkan, yaitu: &lt;i&gt;“Kita bekerja sama dalam perkara yang kita sepakati, dan saling mentolerir dalam perkara yang kita perselisihkan.”&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Itulah beberapa ungkapan dari berbagai kelompok sempalan yang berada di luar garis manhaj generasi &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt;. Dengan ungkapan-ungkapan yang nampak indah dan diplomatis itu, mereka menolak untuk beramal dan beraqidah serta memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits sesuai dengan pemahaman generasi &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari : &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij Bantahan Terhadap Buku: Siapa Teroris? Siapa Khawarij? (Abduh Zulfidar Akaha); &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;Hal: 35-38; Penulis:&lt;strong&gt; Luqman Bin Muhammad Ba'abduh&lt;/strong&gt;, HP. 081559532868; Cetakan Pertama : Rabi'ul Awwal 1428 H/ April 2007 M; Penerbit: Pustaka Qaulan Sadida Perum Villa Bukit Tidar Blok A-1/401 Malang Telp (0342) 7062995 HP. 334995694)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-2990080751287366510?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/2990080751287366510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=2990080751287366510' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/2990080751287366510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/2990080751287366510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/muqaddimah-2.html' title='Muqaddimah (2)'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-3763343503298957515</id><published>2008-05-12T12:48:00.001+07:00</published><updated>2008-06-12T18:42:05.649+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MDMTK'/><title type='text'>Muqaddimah (1)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Muqaddimah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Di antara yang telah dinasehatkan oleh Rasulullah &lt;i&gt;Shallalahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bagi umat ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari shahabat Anas bin Malik &lt;i&gt;radhiyallahu ’anhu&lt;/i&gt; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian, hingga dia menyukai untuk saudaranya sesuatu yang ia sukai untuk dirinya sendiri dari perkara yang baik.&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;[HR. AI-Bukhari, Muslim, An-Nasa'i]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Oleh karena itu, ketika melihat saudara-saudara kami seiman digiring menuju kepada jurang kesesatan oleh para penebar fitnah dan kebatilan maka kami tidak rela, sebagaimana kami tidak rela jika hal itu terjadi pada diri kami sendiri. Kami menginginkan mereka -saudara-saudara kami seiman- bersama-sama berada di atas manhaj dan aqidah yang benar di bawah naungan AI-Qur' an dan As-Sunnah berdasarkan apa yang telah dipahami oleh generasi &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt; yang telah diridhai oleh Allah&lt;i&gt; ’Azza wa Jalla&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Demi mewujudkan keinginan tersebut, kami berupaya menyajikan buku bantahan ini untuk menjelaskan kepada umat hakekat sebenarnya. Kami berusaha menyebutkan nasehat dan pernyataan para 'ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang mendasari aqidah dan pemahamannya dengan aqidah dan paham generasi&lt;i&gt; as-salafush shalih&lt;/i&gt;. Mereka adalah orang-orang yang berjiwa tegas dan bersikap adil terhadap semua pihak. Membantah berbagai kesesatan untuk membersihkan Islam ini dari berbagai permasalahan yang mengotorinya. ltulah yang disabdakan oleh Rasulullah &lt;i&gt;Shallalahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dalam haditsnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ilmu agama ini akan terus dibawa oleh orang-orang adil (terpercaya) dari tiap-tiap generasi, yang selalu berjuang membersihkan agama ini dari:&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tahriful Ghalin&lt;i&gt; (pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh orang-orang yang menyimpang).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Intihalul Mubthilin&lt;i&gt; (Kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ta'wilul Jahilin&lt;i&gt; (Penta'wilan agama yang salah yang dilakukan oleh orang-orang yang  jahil)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; [dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Al-Misykah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; no. 248]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Permusuhan Berbagai Paham Dan Aliran Sesat Terhadap Ahlus Sunnah dan Upaya Mereka Menyebarkan Paham dan Alirannya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya menggiring umat menuju kepada jurang berbagai paham dan aliran yang menyimpang terus dilakukan dengan gencar oleh para pengusung dan simpatisannya melalui berbagai media. Pada saat yang sama mereka memberikan gambaran-gambaran negatif terhadap da’wah Ahlus Sunnah dan para ‘ulamanya, tak luput pula para da’inya. Di satu sisi, kaum Syi’ah dengan berbagai alirannya dan kelompok &lt;i&gt;Shufi&lt;/i&gt; dengan beragam tarekatnya -terkhusus pasa masa ini--  telah menaruh dendam yang sangat besar terhadap da’wah Ahlus Sunnah dan memberikan julukan-julukan negatif dalam rangka menjauhkan kaum muslimin darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kalah gencarnya adalah kaum neo-&lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt; dengan berbagai kelompok dan alirannya, baik Al-Qaeda, JI, &lt;i&gt;Jama’atul Jihad&lt;/i&gt;, NII, LDII, Jamus, maupun IM, HT (Hizbut Tahrir), dan lain sebagainya; begitu juga kaum neo-&lt;i&gt;Mu’tazilah&lt;/i&gt; dengan berbagai lembaga liberalnya, baik JIL, IAIN, dan sebagainya; terus mempropagandakan aqidah mereka di tengah-tengah umat dengan bermacam cara yang tak kalah canggih dibanding kaum Syi’ah dan &lt;i&gt;Shufi&lt;/i&gt;. Berjenis-jenis buku, buletin, dan majalah mereka terbitkan. Begitu pula melalui media internet mereka terus gencar menanamkan aqidah&lt;i&gt; takfir&lt;/i&gt; (menganggap kafir saudaranya muslim) dan penentangan terhadap penguasanya serta berbagai paham lain yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, memprovokasi kaum muslimin untuk membenci dan memusuhi pemerintahnya sehingga wibawa para penguasa tersebut jatuh dan tidak berharga lagi. Bahkan lebih parahnya kelompok-kelompok sempalan itu menggiring umat untuk berkeyakinan bahwa pemerintahnya telah kafir, sehingga harus diserang, digulingkan, atau setidaknya dimunculkan tindakan-tindakan teror. Buletin, buku, majalah, maupun mimbar-mimbar kaum muslimin, baik di masjid-masjid ataupun melalui acara-acara tabligh akbar dan yang semisalnya, telah dijadikan sebagai arena provokasi dalam rangka menimbulkan kebencian dan sikap antipati terhadap &lt;i&gt;Waliyyul Amr&lt;/i&gt;. Semangat &lt;i&gt;hizbiyyah&lt;/i&gt; (kekelompokan) terus ditanamkan melalui acara-acara &lt;i&gt;bai’at&lt;/i&gt; (janji setia) kepada para amir/pimpinan kelompok masing-masing yang diambil dari para pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari : &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij Bantahan Terhadap Buku: Siapa Teroris? Siapa Khawarij? (Abduh Zulfidar Akaha); &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;Hal: 33-35; Penulis: &lt;strong&gt;Luqman Bin Muhammad Ba'abduh&lt;/strong&gt;, HP. 081559532868; Cetakan Pertama : Rabi'ul Awwal 1428 H/ April 2007 M; Penerbit: Pustaka Qaulan Sadida Perum Villa Bukit Tidar Blok A-1/401 Malang Telp (0342) 7062995 HP. 334995694)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-3763343503298957515?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/3763343503298957515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=3763343503298957515' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/3763343503298957515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/3763343503298957515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/muqaddimah-1.html' title='Muqaddimah (1)'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-4900507401709075767</id><published>2008-05-12T12:42:00.001+07:00</published><updated>2008-12-11T15:24:57.414+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MDMTK'/><title type='text'>Pengantar Penulis</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_CJwtj039JyQ/R94aMVry_jI/AAAAAAAAACM/DMARXXUkFp0/s1600-h/Hamdallah.JPG"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_CJwtj039JyQ/R94aMVry_jI/AAAAAAAAACM/DMARXXUkFp0/s320/Hamdallah.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5178605420804242994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sudah menjadi sebuah ketentuan yang telah Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; tetapkan bahwa tidaklah suatu kebenaran ditegakkan kecuali ada pihak-pihak yang berupaya menghalanginya. Tidaklah seorang menyeru kepada kebenaran kecuali di sana ada orang-orang yang tersinggung, marah, atau sakit hati sehingga berupaya menghalangi dan mengaburkan kebenaran tersebut, serta memusuhi para penyerunya dengan segala daya dan upaya mereka. Inilah yang Allah &lt;i&gt;'Azza wa Jalla&lt;/i&gt; tegaskan dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Dan seperti itulah, telah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh dari orang-orang yang berdosa. Cukuplah Rabbmu sebagai pemberi petunjuk dan penolong.”&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;[Al-Furqan: 31]&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;“Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh dari para syaitan (baik dari jenis) manusia maupun (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak melakukannya, maka tinggalkanlah mereka dan (kedustaan) yang mereka ada-adakan.”&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;[Al-An’am: 112]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah para musuh al-haq, dengan berbagai warna dan wajah, mereka bersatu padu dalam memadamkan cahaya al-haq serta memusuhi para penyerunya. Dengan menebar dusta yang dihiasi kata-kata indah mereka saling bekerja sama untuk menimbulkan fitnah yang menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, manusia yang mayoritasnya awam dan jauh dari bimbingan ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah di bawah cahaya pemahaman generasi &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt;, serta sibuk dengan berbagai urusan dalam rangka merealisasikan ambisi duniawinya, membuat mereka semakin jauh dari al-Haq dan semakin sulit membedakan antara yang haq dan yang batil. Semakin mudah tertarik dan terpesona dengan berbagai kedustaan dan upaya penyesatan yang dilakukan oleh para penyeru kebatilan dengan dihiasi kata-kata indah dan tampilan-tampilan yang terkesan ilmiah, sehingga mereka mengira yang haq itu adalah batil dan sebaliknya.  Dengan keawaman dan jauhnya mereka dari ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah di bawah cahaya pemahaman generasi &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt; tersebut membuat mereka cenderung mengedepankan logika dan perasaan dalam menilai atau menyikapi setiap permasalahan yang dihadapinya. Apa yang menurut perasaan dan logikanya baik, maka itu adalah kebenaran. Sebaliknya, apa yang menurut perasaan dan logikanya tidak baik, maka itu adalah suatu kebatilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangatlah mudah mengetahui &lt;i&gt;Siapa Teroris? Siapa Khawarij?&lt;/i&gt; yang sebenarnya jika mereka berani dengan terang-terangan, lantang, dan jujur mengakui berbagai tindakan teror yang dilakukannya, dengan lantang pula mereka berani mengkafirkan pemerintah-pemerintah muslimin. Model pertama ini terwakili oleh Usamah bin Laden dan konco-konconya yang dengan bangga mengakui bahwa peledakan WTC dan yang lainnya adalah hasil dorongan dan ajakannya. Dengan lantang dan berani pula Usamah bin Laden dan kawan-kawannya berani mengkafirkan pemerintah muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sulit bagi kita untuk mengetahui &lt;i&gt;Siapa Teroris? Siapa Khawarij?&lt;/i&gt; yang sebenarnya  apabila mereka hanya berani lempar batu sembunyi tangan. Tak segan berdusta di hadapan masyarakat atau pihak yang berwajib, berkelit, mengingkari bukti dan fakta demi menyembunyikan tindakan-tindakan terornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih parah dari itu semua, ada pihak-pihak yang menampakkan dirinya di hadapan umat sebagai orang yang menentang tindakan teror bahkan menampakkan seolah-olah dirinya berada di atas manhaj generasi &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt;, namun ternyata di balik itu dia menyembunyikan racun paham teroris-&lt;i&gt;khawarij&lt;/i&gt; dan membelanya. Dengan berbagai tampilan yang dikesan-kan ilmiah dan objektif mereka berupaya mengelabui masyarakat umum yang mayoritas awam. Dusta yang mereka sebarkan --diakui ataupun tidak-- merupakan pembelaan terhadap teroris &lt;i&gt;khawarij&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan apa yang telah kami jelaskan di atas,  beberapa bulan yang lalu telah terbit sebuah buku yang berjudul&lt;i&gt; “Siapa Teroris? Siapa Khawarij?”&lt;/i&gt; (selanjutnya kami singkat &lt;strong&gt;&lt;i&gt;STSK&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;) karya seorang yang bernama Abduh Zulfidar Akaha yang diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar Jakarta. Buku tersebut berisi upaya pengaburan terhadap al-haq serta pembelaan terhadap paham dan kelompok-nya secara khusus, sekaligus pembelaan terhadap berbagai paham dan aliran menyimpang lainnya yang berhaluan &lt;i&gt;Khawarij&lt;/i&gt;, sebagai wujud kemarahan dan ketersinggu-ngannya atas terbitnya buku kami yang berjudul&lt;i&gt;&lt;strong&gt; “Sebuah Tinjauan Syari’at Mereka Adalah Teroris!”&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt; (selanjutnya kami singkat &lt;i&gt;&lt;strong&gt;MAT&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisnya marah, tersinggung, dan gerah ketika kami membongkar kedok kesesatan kelompok/alirannya dan kelompok/aliran sempalan lain yang kami kritik. Sehingga dengan penuh semangat &lt;i&gt;‘ashabiyyah hizbiyyah&lt;/i&gt; (semangat membela kepentingan kelompoknya secara membabi buta) dia menuangkan ketersinggung-annya itu dalam buku&lt;i&gt;&lt;strong&gt; STSK&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;-nya tersebut, yang sekaligus mewakili ketersinggungan kelompok-kelompok sempalan lainya atau yang diistilahkannya dengan “para pegiat dakwah di Tanah Air” lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upayanya menuangkan kemarahan dan ketersinggu-ngannya itu, dia mengemasnya dengan berbagai bentuk kemasan yang nampak indah dan menarik. Dengannya dia dapat menyelimuti kemarahan dan ketersinggungannya tersebut sehingga menjadi terkesan sebagai suatu upaya pembelaan terhadap kebenaran atau terkesan mereka sebagai pihak yang terzhalimi sekaligus terkesan bahwa mereka sebagai pihak yang lebih bijaksana dalam menyikapi berbagai perbedaan (baca: berbagai kesesatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu kami merasa berkewajiban untuk tidak membiarkan umat dipermainkan oleh penulis buku &lt;i&gt;&lt;strong&gt;STSK&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt; tersebut, yang dengan segala gaya dan triknya serta permainan kata-kata dia berupaya menyeret dan menjebak para pembaca untuk membenarkan segala kesimpulan yang ditargetkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menyadari bahwa mayoritas pembaca adalah awam dan kondisinya sangatlah heterogen. Ada di antara mereka orang-orang yang tidak percaya dengan berbagai tuduhan saudara Abduh ZA, namun tidak memiliki kemampuan untuk menyaring berbagai trik licik yang dihiasi kata-kata indah. Sebagian mereka ada yang ingin bersikap objektif dengan cara membandingkan kedua buku itu. Tapi sayang jenis pembaca yang kedua ini, disamping tidak punya kemampuan untuk membaca buku &lt;i&gt;&lt;strong&gt;MAT&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt; dengan seksama dan penuh kesabaran --disebabkan terlalu tebalnya buku itu atau adanya beberapa pembahasan yang memang kami akui terlalu sulit bagi sebagian pembaca-- di sisi lain ternyata mereka juga tidak memiliki perangkat ilmu yang cukup untuk mengikuti secara kritis dan objektif berbagai tuduhan saudara Abduh ZA. Sehingga jenis pembaca yang kedua ini pun cenderung membenarkan berbagai tuduhan saudara Abduh ZA tersebut dalam keadaan mereka yakin bahwa mereka tetap di atas sikap objektif dalam menilai. Sementara jenis pembaca yang ketiga adalah mereka yang menelan mentah-mentah segala tuduhan tersebut, mungkin disebabkan tingkat keawamannya atau karena kungkungan semangat &lt;i&gt;‘ashabiyyah hizbiyyah&lt;/i&gt; (semangat membela kepentingan kelompok secara membabi buta) sehingga dia tidak mau lagi memperhatikan dengan seksama segala uraian yang kami paparkan dalam buku &lt;i&gt;&lt;strong&gt;MAT&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt; serta tidak mau menyikapinya dengan objektif, ilmiah, dan proporsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terpanggil untuk segera membongkar kedok-kedok kedustaan dan&lt;i&gt; syubhat&lt;/i&gt; saudara Abduh ZA, sebagai bentuk nasehat bagi saudara-saudara kami kaum muslimin agar tidak terjebak dalam perangkap-perangkap &lt;i&gt;syubhat&lt;/i&gt;nya yang menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya tersebut kami tuangkan dalam sebuah buku bantahan yang Insya Allah akan memaparkan dan membantah berbagai syubhat dan kedustaan penulis buku &lt;strong&gt;&lt;i&gt;STSK&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt; dengan pertolongan dan taufiq Allah, kami telah menyelesaikan jilid pertama buku bantahan tersebut, yang kami beri judul &lt;i&gt;&lt;strong&gt;“Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij”&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perlu kami jelaskan bahwa buku bantahan kami ini terdiri dari dua jilid. Sengaja kami lakukan hal itu mengingat beberapa hal, antara lain:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Terlalu banyaknya &lt;i&gt;syubhat&lt;/i&gt; dan kedustaan yang terkandung dalam buku &lt;i&gt;&lt;strong&gt;STSK&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt; yang harus kami bantah.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sehingga dengan itu kami mengkhawatirkan terlalu tebalnya buku bantahan ini jika diterbitkan dalam satu jilid, yang mengakibatkan para pembaca mengalami kesulitan dalam membaca dan memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Isi buku &lt;i&gt;&lt;strong&gt;STSK&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt; itu sendiri sebenarnya secara garis besar dapat kami simpulkan dalam dua bagian,&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pertama: Meliputi data-data dan fakta-fakta ilmiah yang kami sajikan dalam buku&lt;strong&gt;&lt;i&gt; MAT&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;,  kemudian dipermainkan  dan dipolitisir oleh saudara Abduh ZA untuk menggiring pembaca bahwa kami telah berdusta atas nama ‘ulama atau menuduh tanpa bukti.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kedua: Penanaman sekaligus pembelaan terhadap paham atau alirannya, yaitu Ikhwanul Muslimin (disingkat IM), secara khusus, serta pembelaan terhadap paham &lt;i&gt;&lt;strong&gt;Khawarij&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt; yang dianut oleh berbagai kelompok lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maka jilid pertama ini lebih kami tekankan untuk membantah bagian pertama di atas, dalam rangka membuktikan kedustaan-kedustaan saudara Abduh ZA sekaligus menyebutkan beberapa bukti terhadap apa yang telah kami katakan dalam buku kami &lt;strong&gt;&lt;i&gt;MAT&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; yang dipertanyakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat terlalu banyaknya &lt;i&gt;syubhat&lt;/i&gt; dan kedustaan saudara Abduh ZA yang ia tebarkan dalam bukunya&lt;strong&gt;&lt;i&gt; STSK&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; itu, sebagaimana telah kami katakan di atas, perlu diketahui bahwa buku  bantahan ini belum memuat seluruh bantahan terhadap berbagai syubhat dan kedustaan yang ditebarkannya itu. Kami mencukupkan dengan beberapa bentuk syubhat dan kedustaannya yang para pembaca bisa melihat sendiri berikut bantahannya dalam pemaparan kami. Diharapkan dengan itu para pembaca bisa menilai bobot dan hakekat sebenarnya buku&lt;strong&gt;&lt;i&gt; STSK&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; tersebut, selanjutnya tidak terpesona dan tertipu dengan berbagai tampilan yang dikesankan ilmiah, objektif, dan proporsional sebagaimana dipromosikan oleh penulis dan penerbitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah  Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan taufiq-Nya kepada kami  untuk menyelesaikan buku bantahan jilid pertama ini. Sebagaimana pula kami memohon kepada-Nya untuk melimpahkan taufiq serta kemudahan bagi kami dalam menyelesaikan jilid kedua buku bantahan ini, yang saat ini sedang dalam proses penggarapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lupa pula kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam proses penulisan buku bantahan ini, dengan ide-ide dan saran-sarannya yang sangat berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkhusus kepada Al-Akh Abu ‘Amr Ahmad Alfian yang telah menemani kami dengan segala pengorbanan sejak awal penulisan, baik dalam pengetikan yang cukup melelahkan, ide, dan saran-saran yang sangat bernilai, maupun penyediaan beberapa referensi dalam bentuk buku-buku maupun media internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beberapa &lt;i&gt;asatidzah&lt;/i&gt; yang sangat kami hormati, antara lain: Al-Ustadz Askari bin Jamal Al-Bugisi, pengasuh Ma’had Ibnul Qayyim Balikpapan; Al-Ustadz Qomar Su’aidi, pengasuh Ma’had Darul Atsar Temanggung; Al-Ustadz Ayip Syafruddin pengasuh Ma’had Darus Salaf Al-Islamy Surakarta; dan Al-Ustadz Abdush Shomad Bawazir,  yang telah menyediakan waktu dengan penuh ketekunan dan kesungguhannya untuk membaca apa yang kami tuliskan serta memberikan ide, saran, dan koreksi yang sangat berarti dan ilmiah.  Tak ketinggalan juga Al-Ustadz Ahmad Khadim dan Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi yang turut membantu kami menyediakan beberapa referensi. Semoga Allah  Subhanahu wa Ta’ala membalas mereka semua dengan kebaikan yang berlipat, serta memberkahi ilmu, amalan, dan da’wah mereka, serta melindunginya dari segala kejelekan dan fitnah yang menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ketinggalan ucapan terima kasih kami tujukan pula kepada beberapa &lt;i&gt;thullab&lt;/i&gt; (pelajar) di Ma’had As-Salafy Jember yang telah rela meluangkan waktunya untuk membantu mengoreksi dan mengedit tulisan ini. Semoga amalan mereka diterima dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala . &lt;i&gt;Amin Ya Rabbal ‘Alamin.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menyadari bahwa tulisan kami ini jauh dari sempurna dan masih terdapat kekurangan dan kealpaan di sana sini. Kami mengakui berbagai kekurangan dan kealpaan tersebut. Kami telah berupaya semaksimal mungkin untuk tepat dan tidak terjadi kesalahan, termasuk dalam masalah pengetikan dan penukilan. Namun layaknya manusia biasa, tentu tak akan luput dari kekurangan. Tidak ada yang bisa kami janjikan, kecuali kami telah berusaha untuk lebih objektif, sportif, dan proporsional. Semoga Allah membantu kami mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dalam kesempatan ini, tak lupa kami memohon ma’af yang sebesar-besarnya kepada seluruh pembaca atas berbagai kekurangan dan kealpaan tersebut. Sekaligus kami sangat menanti adanya saran dan kritik yang membangun berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam bimbingan pemahaman &lt;i&gt;Salaful Ummah&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada maksud dan harapan di balik tulisan ini kecuali ridha Allah  &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; dan pahala dari-Nya, kemudian tersampaikannya hidayah bagi saudara-saudara kami kaum muslimin untuk bersama-sama meniti jejak Al-Haq yang telah dituntunkan oleh Rasulullah  &lt;i&gt;shallallahu `alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dan para shahabatnya  &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhum&lt;/i&gt; serta generasi&lt;i&gt; as-salafush shalih&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga apa yang kami sajikan ini bermanfaat untuk diri kami pertama, kemudian untuk saudara-saudara kami.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_CJwtj039JyQ/R94a_Fry_kI/AAAAAAAAACU/C5GQbJCPHBo/s1600-h/shalawat.JPG"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_CJwtj039JyQ/R94a_Fry_kI/AAAAAAAAACU/C5GQbJCPHBo/s320/shalawat.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5178606292682604098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jember, 15 Rabi’ul Awwal 1428 H&lt;br /&gt;3 April 2007 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamba Allah yang faqir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Luqman bin Muhammad Ba’abduh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;(Dari : &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij Bantahan Terhadap Buku: Siapa Teroris? Siapa Khawarij? (Abduh Zulfidar Akaha); &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;Hal: 9-16; Penulis: &lt;strong&gt;Luqman Bin Muhammad Ba'abduh&lt;/strong&gt;, HP. 081559532868; Cetakan Pertama : Rabi'ul Awwal 1428 H/ April 2007 M; Penerbit: Pustaka Qaulan Sadida Perum Villa Bukit Tidar Blok A-1/401 Malang Telp (0342) 7062995 HP. 334995694)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-4900507401709075767?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/4900507401709075767/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=4900507401709075767' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/4900507401709075767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/4900507401709075767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/pengantar-penulis.html' title='Pengantar Penulis'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_CJwtj039JyQ/R94aMVry_jI/AAAAAAAAACM/DMARXXUkFp0/s72-c/Hamdallah.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-7464476122034058778</id><published>2008-05-12T12:34:00.001+07:00</published><updated>2008-12-11T15:24:57.664+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MDMTK'/><title type='text'>Pengantar Penerbit</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_CJwtj039JyQ/R933a1ry_hI/AAAAAAAAAB8/fKS4pRHaC_g/s1600-h/Hamdalah.bmp"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_CJwtj039JyQ/R933a1ry_hI/AAAAAAAAAB8/fKS4pRHaC_g/s320/Hamdalah.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5178567187005373970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Segala pujian kesempurnaan hanya milik Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; yang telah memberikan kemudahan kepada kami untuk menerbitkan buku&lt;strong&gt;&lt;i&gt; “Sebuah Tinjauan Syari’at Mereka Adalah Teroris!”&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; (selanjutnya kami singkat &lt;i&gt;&lt;strong&gt;MAT&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;) karya Al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh yang telah tersebar di berbagai kalangan umat ini. Kami bersyukur kepada Allah ‘&lt;i&gt;Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, dengan izin-Nya saudara-saudara kami kaum muslimin -yang bersungguh-sungguh mencari dan menginginkan kebenaran serta takut terjatuh dalam penyimpangan-penyimpangan aqidah dan manhaj-- dapat memetik manfaat dengan terbitnya buku tersebut. Betapa banyak pihak-pihak yang selama ini tidak mengerti tentang berbagai permasalahan seputar jihad dan hukumnya atau teror dan &lt;i&gt;syubhat-syubhat&lt;/i&gt;nya menjadi tahu dan mengerti setelah membaca buku tersebut. Banyak pula pihak-pihak yang selama ini tersesat dalam kegelapan berbagai paham dan aliran yang menyimpang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah di bawah bimbingan pemahaman &lt;i&gt;as-salafush shalih&lt;/i&gt; menjadi mengerti dan antipati terhadap berbagai paham dan aliran sesat menyesatkan tersebut. Tidak sedikit pula pihak-pihak yang selama ini mengira bahwa kebrutalan itu adalah suatu kepahlawanan, teror itu adalah jihad, para penumpah darah yang diharamkan oleh Allah itu adalah mujahid menjadi mengerti bahwa hakekat permasalahannya adalah tidak seperti yang mereka kira sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kami menyadari bahwa semua itu tidaklah terjadi kecuali karena kehendak dan taufiq Allah  &lt;i&gt;Jalla Jallalahu&lt;/i&gt; saja. Tiada daya dan upaya dari apa yang kami lakukan kecuali dengan pertolongan-Nya semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt;, dalam kesempatan kali ini dengan pertolongan dan taufiq-Nya pula kami menghadirkan di hadapan para pembaca sebuah buku yang berisi bantahan terhadap buku &lt;i&gt;“Siapa Teroris? Siapa Khawarij?”&lt;/i&gt; (selanjutnya kami singkat &lt;i&gt;&lt;strong&gt;STSK&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;) karya Abduh Zulfidar Akaha yang diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar Jakarta. Buku tersebut ditulis sebagai bentuk kemarahan dan ketersinggungan terhadap apa yang telah dituliskan oleh Al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh dalam bukunya &lt;i&gt;&lt;strong&gt;MAT&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt; sekaligus sebagai bentuk pembelaan terhadap kelompok/aliran Ikhwanul Muslimin (IM) yang dianutnya sebagaimana akan dijelaskan oleh penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku bantahan kali ini terdiri dari dua jilid, sebab dan alasannya akan dijelaskan oleh penulis sendiri. Kami memohon kepada Allah untuk memberikan taufiq dan pertolongan-Nya kepada Al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh untuk segera menyelesaikan jilid kedua buku bantahan ini. Agar berbagai macam &lt;i&gt;syubhat&lt;/i&gt; dan kedustaan yang masih tersisa dan mungkin sempat mempengaruhi sebagian pembaca bisa segera dibongkar dan umat terselamatkan –-dengan izin Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; — dari berbagai syubhat dan kedustaan yang ditebarkan dalam buku &lt;i&gt;&lt;strong&gt;STSK&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt; khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku bantahannya kali ini, penulis berupaya tidak sekadar membantah berbagai syubhat dan kedustaan Abduh ZA namun sekaligus berupaya menampilkan faidah-faidah ilmiah yang bermanfaat bagi para pelajar, baik dalam bidang &lt;i&gt;mushthalahul hadits, rijalul hadits, al-jarh wat ta’dil, tafsir, ‘aqidah&lt;/i&gt; maupun berbagai pernyataan para ‘ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dengan memperhatikan kriteria-kriteria ilmiah serta mengedepankan objektivitas dalam penulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah  &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; menjadikan buku bantahan ini bermanfaat terkhusus bagi penulisnya serta kaum muslimin secara umum, sebagaimana kami juga berharap buku bantahan ini menjadi sebagai nasehat dan teguran bagi terhadap seluruh pihak yang masih terkungkung dalam paham-paham &lt;i&gt;hizbiyyah&lt;/i&gt; yang tidak diridhai oleh Allah &lt;i&gt;'Azza wa Jalla.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;Pustaka Qaulan Sadida&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;(Dari :  &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij Bantahan Terhadap Buku: Siapa Teroris? Siapa Khawarij? (Abduh Zulfidar Akaha)&lt;/i&gt;; &lt;/strong&gt;Hal: 5-7; Penulis: &lt;strong&gt;Luqman Bin Muhammad Ba'abduh&lt;/strong&gt;, HP. 081559532868; Cetakan Pertama : Rabi'ul Awwal 1428 H/ April 2007 M; Penerbit: Pustaka Qaulan Sadida Perum Villa Bukit Tidar Blok A-1/401 Malang Telp (0342) 7062995 HP. 334995694)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-7464476122034058778?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/7464476122034058778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=7464476122034058778' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/7464476122034058778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/7464476122034058778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/05/pengantar-penerbit.html' title='Pengantar Penerbit'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_CJwtj039JyQ/R933a1ry_hI/AAAAAAAAAB8/fKS4pRHaC_g/s72-c/Hamdalah.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-7091620673533800588</id><published>2008-04-27T18:52:00.001+07:00</published><updated>2008-05-23T21:29:10.993+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyimpangan IM'/><title type='text'>Penyimpangan Kelima: Kehadiran Al-Banna dalam Perayaan-perayaan Bid'ah dan Ceramah yang Dia Lakukan di sana</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan Umum Kelima:&lt;br /&gt;Kehadiran Al-Banna dalam perayaan-perayaan bid'ah dan ceramah yang dia lakukan di sana&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dikatakan dalam &lt;i&gt;Qafilah Al-Ikhwan&lt;/i&gt;: ((Hasan Al-Banna di Iskandariyyah... (Lalu diteruskan:) Ikhwanul Muslimin Iskandariyyah mengundang kedatangannya pada perayaan maulid Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dalam acara yang dihadiri oleh Fadhilah Mursyid Umum (Al-Banna) di Masjid Nabiyullah Danial. Al-Ikhwan menjemput Ustadz Mursyid di terminal Al-Hadidiyyah sebelum shalat maghrib...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Mursyid memulai ceramahnya dengan &lt;i&gt;hamdalah&lt;/i&gt; sanjungan untuk Allah &lt;i&gt;‘Azza wa jalla&lt;/i&gt;, shalawat dan salam untuk Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, kemudian memasuki pembicaraan sesuai tema acara: Kita menghidupkan peringatan Maulid Rasulullah&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;. Menjadi kewajiban semua orang baik muslimin atau bukan untuk merayakan peringatan yang penuh berkah ini. Rasul kita&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; tidak datang untuk kaum muslimin saja, bahkan Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; diutus sebagai rahmat untuk sekalian alam: jin dan manusia……..&lt;strong&gt;99)&lt;/strong&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mahmud Abdul Halim berkata dalam buku&lt;i&gt; Al-Ikhwanul Muslimuni Ahdats Shana'at At-Tariikh&lt;/i&gt;: "Al-Ikhwan mengadakan perayaan dl persimpangan Al-Abbasiyyah Cairo dalam acara peringatan Perang Badar. Mursyid Umum menyampaikan pidato-nya dalam acara itu dan disebarluaskan oleh koran-koran yang terbit hari berikutnya."&lt;strong&gt;100)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam majalah Ad-Da'wah halaman 4-5 seri XIII bulan Rajab 1397 H dinyatakan: "Sesungguhnya Umar At-Tilmisani menulis sebuah artikel dengan judul &lt;i&gt;Isra&lt;/i&gt;. La katakan di dalamnya "Orang yang mengadakan perayaan acara ini menunjukkan pengagungan-nya terhadal mu'jizat luar biasa itu."&lt;strong&gt;101)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Saya katakan:&lt;/strong&gt; Perayaan maulid adalah bid'ah yang diada-adakan oleh para pengikut Al-Ubaidi yang menguasai Maghrib lalu kerajaan mereka meluas hingga ke Mesir pada abad V H. Perayaan ini tidak pernah dilakukan oleh seorangpun dari Khulafa' yang empat &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhum&lt;/i&gt;, para shahabat lain&lt;i&gt; radhiyallahu ‘anhum&lt;/i&gt; serta generasi abad-abad yang utama, Mungkinkah mereka mengetahui keutamaannya kemudian meninggalkannya?? Ataukah mereka tidak mengetahui keutamaannya??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kalian katakan "Mereka mengetahui keutamaannya lalu meninggalkannya", maka kalian telah berbuat kedustaan atas mereka. Sedangkan apabila kalian mengatakan "Mereka bodoh (tidak mengetahui) hal itu" sementara kalian mengetahuinya, maka kalianlah yang lebih pantas untuk dikatakan bodoh daripada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;99) &lt;i&gt;Qafilah Al-lkhwaan&lt;/i&gt; I/48&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;100) Lihat III/127&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;101) Dinukilkan dari buku &lt;i&gt;Al Ikhwanul Muslimun fl Mizanil lslam&lt;/i&gt;, halaman 71&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari : &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Al Mauridu Al'Adzbi Az-Zalaal Fiima Untuqida 'Alaa Ba'dli Al-Manahij Ad-Da'awiyah Min Al-'Aqaaid wa Al-A'mal&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Penulis: Syaikh &lt;i&gt;Al-Allamah&lt;/i&gt; Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt;; Resensi dan Pujian: Shahibul Fadhilah Asy-Syaikh &lt;i&gt;Al-'Allamah&lt;/i&gt; Shalih bin Fauzan Al Fauzan &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt; - Fadhilatusy Syaikh Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt;; Edisi Indonesia: &lt;i&gt;&lt;strong&gt;Mengenal Tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;; Halaman: 222-223; Penerjemah: Muhammad Fuad Qawam, Lc.; Cetakan Pertama: Sya'ban 1426 H/ September 2005M; Penerbit: Cahaya Tauhid Press, Malang]&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-7091620673533800588?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/7091620673533800588/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=7091620673533800588' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/7091620673533800588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/7091620673533800588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/04/penyimpangan-kelima-kehadiran-al-banna.html' title='Penyimpangan Kelima: Kehadiran Al-Banna dalam Perayaan-perayaan Bid&apos;ah dan Ceramah yang Dia Lakukan di sana'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-5106993944185297937</id><published>2008-04-27T17:30:00.001+07:00</published><updated>2008-05-23T21:24:57.954+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyimpangan IM'/><title type='text'>Penyimpangan Keempat: Al-Banna Meremehkan Tawassul yang Merupakan Jalan Menuju Syirik</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan Umum Keempat:&lt;br /&gt;Dia meremehkan &lt;i&gt;tawassul&lt;/i&gt; yang merupakan jalan menuju syirik serta menganggapnya sebagai cabang permasalahan agama yang tidak terlalu penting&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Al-Banna telah menegaskan bahwa tawassul termasuk urusan &lt;i&gt;furu'&lt;/i&gt; yang masih diperselisihkan dan bukan termasuk perkara akidah. Dia katakan di asas XV dari 20 asas: Berdoa kalau diikuti tawassul kepada Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dengan salah seorang makhluk-Nya merupakan permasalahan furu' yang diperselisihkan berkaitan dengan tata cara doa, serta tidak termasuk dalam perkara akidah. &lt;strong&gt;95)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Saya katakan:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Tawassul&lt;/i&gt; kepada dzat seseorang adalah dilarang dan haram, tidak diketahui seorang shahabat-pun yang melakukannya. Sedangkan perkataan Umar &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt; ketika meminta hujan: "Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu (ketika Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; masih hidup, pent.) lalu Engkau memberikan kami hujan, sedangkan sekarang ini kami bertawassul kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka berikanlah kami hujan". Ini adalah dalil yang menjatuhkan pendapat orang-orang yang meyakini bolehnya bertawassul dengan dzat, sebab andaikan&lt;i&gt; tawassul&lt;/i&gt; dengan dzat &lt;strong&gt;96)&lt;/strong&gt; itu boleh maka Umar radhiyallahu ‘anhu tidak akan berpaling meninggalkan dzat Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dan memilih doa Al-Abbas &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Umar bin Al-Khathab &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt; hanyalah ber-&lt;i&gt;tawassul&lt;/i&gt; dengan doa Al-Abbas &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt; bukan dengan dzatnya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Syaikhul Islam lbnu Taimiyyah &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; ketika ditanya "Apakah boleh bertawassul dengan Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; atau tidak?", maka beliau &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; menjawab: ((Alhamdulillah, adapun bertawassul dengan beriman kepada Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, mencintai dan menaatinya, dengan doa dan syafa'at Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; serta semacamnya dari perbuatan Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dan perbuatan para hamba yang diperintahkan, maka ini sesuai dengan syari'at berdasarkan kesepakatan umat Islam. Para shahabat &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhum &lt;/i&gt;bertawassul dengan Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; semasa hidup Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, lalu mereka bertawassul dengan Al-Abbas &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt; paman Beliau&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; setelah Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; wafat sebagaimana &lt;i&gt;tawassul&lt;/i&gt; mereka dahulu dengan Rasulullah&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari Syaikhul Islam &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; ialah mereka bertawassul dengan doa Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; semasa hidupnya, lalu ketika Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; telah wafat merekapun bertawassul dengan doa paman Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; Al-Abbas &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;. Oleh karena itu Syaikhul Islam&lt;i&gt; rahimahullah&lt;/i&gt; berkata setelah itu: "Adapun ucapan orang "Ya Allah, saya bertawassul kepadamu dengannya &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;", maka dalam hal ini pendapat ulama terbagi menjadi dua sebagaimana perbedaan mereka tentang bersumpah dengan Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;. Mayoritas para imam, seperti Malik, Asy-Syafi'i dan Abu Hanifah berpendapat: Tidak boleh bersumpah dengan Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; atau selain Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dari para nabi ataupun malaikat. Sumpah demikian tidak sah berdasarkan kesepakatan para ulama dan merupakan salah satu riwayat dari pendapat Ahmad, sedangkan riwayat lain dari beliau &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;, yang sah adalah sumpah dengan Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; saja, adapun selain Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; maka tidak sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi Imam Ahmad merubah pendapat beliau: "Ini adalah sumpah terhadap Allah ‘&lt;i&gt;Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dengan makhluk". Riwayat lain dari beliau sama dengan pendapat mayoritas ulama bahwa tidak boleh bersumpah kepada Allah ‘&lt;i&gt;Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dengan Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; demikian pula dengan seluruh malaikat dan nabi, sebab kita tidak mengetahui seseorang Salaf-pun dan para imam yang menyatakan boleh bersumpah dengan Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; kepada Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;. Para ulama Salaf menyatakan tidak boleh bersumpah dengan mereka semua secara mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu Abu Muhammad bin Abdussalam berfatwa “Tidak boleh bersumpah kepada Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dengan seseorang dari nabi, malaikat atau selainnya". Namun disebutkan bahwa Abu Muhammad telah meriwayatkan sebuah hadits dari Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; yang berisi bersumpah dengan Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; kepada Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, lalu beliau mengatakan: "Kalaupun hadits ini benar, maka itu khusus untuk Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;". Hadits itu tidak menunjukkan (bolehnya) bersumpah dengan Nabi&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; sebab Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;i&gt;"Barangsiapa yang hendak bersumpah maka dia harus bersumpah dengan Allah ‘Azza wa Jalla, kalau tidak demikian maka hendaknya dia diam!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;i&gt;"Siapa saja yang bersumpah dengan selain Allah ‘Azza wa Jalla, maka dia telah kafir atau musrik."&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Doa adalah ibadah sedangkan ibadah dasarnya adalah&lt;i&gt; tauqif&lt;/i&gt; (harus dengan dalil) dan&lt;i&gt; ittiba'&lt;/i&gt; (mencontoh rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;) bukan dengan hawa nafsu dan membuat bid'ah, &lt;i&gt;Wallahu a'lam&lt;/i&gt;. &lt;strong&gt;97)&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan: Ucapan bahwa bersumpah kepada Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dengan dzat seseorang dari makhluk atau kedudukannya adalah diharamkan dan tidak boleh, itulah pendapat yang benar karena beberapa sebab:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tidak ada hadits yang sah dari Nabi bahwa Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; melakukannya atau memerintahkannya, demikian juga tidak sah bahwa ada seorang shahabat yang melakukannya atau memerintahkannya. Andaikan &lt;i&gt;tawassul&lt;/i&gt; dengan dzat atau kedudukan itu termasuk ibadah yang disyari'atkan oleh Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; kepada hamba-hamba-Nya, maka tentu para shahabat &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhum&lt;/i&gt; akan menukilkan hadits dari Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; secara &lt;i&gt;mutawatir&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;masyhur&lt;/i&gt; sebagaimana ibadah-ibadah lain yang dinukilkan dari Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; secara &lt;i&gt;masyhur&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Semua riwayat yang menunjukkan bolehnya bersumpah dengan makhluk kepada Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; atau memohon kepada Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dengan kedudukan mereka, maka riwayat tersebut tidak ada yang terlepas dari: apakah ia&lt;i&gt; maudhu'&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;dhaif&lt;/i&gt;. Lihat kitab &lt;i&gt;At-Tawassul wal Wasilah&lt;/i&gt; karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;, juz I kitab &lt;i&gt;Al-Fatawa Al-Kubra&lt;/i&gt; karya Syaikhul Islam juga, &lt;i&gt;Audhahul Isyarahi fir Raddi 'ala Man Ajazal Mamnu' Minaz Ziyarah &lt;/i&gt;&lt;strong&gt;98)&lt;/strong&gt; yang berisi hasil penelitian yang diambil dari kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; dan selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kaedah syari'at: "Kita harus mengembalikan urusan yang kabur kepada yang jelas serta mengembalikan urusan yang dianggap asing kepada yang sudah dikenal dengan cara menjauhi yang asing dan mengambil yang sudah dikenal", sedangkan yang sudah dikenal dalam syari'at Islam adalah: &lt;i&gt;Wasilah&lt;/i&gt; yang di perintahkan ialah dengan amal shaleh, sebagaimana dalam firman Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya ."&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; (QS, Al Maidah: 35)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adapun hadits Utsman bin Hunaif, kalaupun hadits itu shahih maka yang dimaksud ialah bertawassul dengan doa dan bukan dengan dzat. Sedangkan riwayat bahwa dia telah menyuruh seseorang untuk bertawassul dengan dzat di masa Utsman bin Affan &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt; kemudian hajatnya tercapai, maka kabar ini tertolak sebab tiga perkara:&lt;br /&gt;a- &lt;i&gt;Dhaif&lt;/i&gt; riwayatnya.&lt;br /&gt;b- Andai kabar ini benar, maka ia termasuk ijtihad dari Utsman bin Hunaif, namun tidak seorang shahabatpun yang sepakat dengannya.&lt;br /&gt;c- Terpenuhinya hajat laki-laki itu tidak menunjukkan disyari'atkannya apa yang diperintahkan Utsman, bahkan hajatnya terpenuhi sebagai ujian sebagaimana terkadang hajat seorang musyrik terpenuhi di saat dia berdoa kepada selain Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; padahal hal itu tidak menunjukkan bolehnya melakukan syirik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kewajiban kita adalah mengambil pendapat Imam Ahmad yang sesuai dengan jama'ah para Imam dan menolak pendapatnya yang berdiri sendiri, sebab pendapat yang sesuai dengan jama'ah itulah yang paling benar dan paling kita sukai daripada pendapat beliau &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; pribadi, karena meskipun beliau &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; seorang Imam Ahlussunnah yang sejati namun beliau &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; tidaklah ma'shum dari kesalahan. Imam Malik &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; telah berkata: &lt;i&gt;"Semua orang boleh diambil pendapatnya dan dibantah, kecuali pemilik kubur ini (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pendapat yang membolehkan tawassul dengan dzat merupakan kunci dari pintu masuk kepada keburukan yang lebih dasyat, ketahuilah... hal itu adalah syirik akbar (syirik besar), sebab secara umum orang tidak akan merasa cukup sekedar memohon kepada Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dengan dzat saja yang merupakan perbuatan bid'ah, bahkan mereka segera akan dibawa oleh syaitan dari memohon &lt;strong&gt;dengan&lt;/strong&gt; dzat menjadi memohon &lt;strong&gt;kepada&lt;/strong&gt; dzat itu sendiri. Siapa yang memperhatikan dengan jeli keadaan manusia maka dia tidak akan ragu sedikitpun tentang hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dari sini tampak jelas bagi anda: perkataan Al-Banna bahwa&lt;i&gt; tawassul&lt;/i&gt; itu termasuk perkara &lt;i&gt;furu'&lt;/i&gt; adalah perkataan yang bathil, bahkan &lt;i&gt;tawassul&lt;/i&gt; termasuk dalam hukum yang berkaitan dengan akidah, &lt;i&gt;wabillahit taufik&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;______________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;95) &lt;i&gt;Nazharat fi Risalatit Ta'alim&lt;/i&gt;, halaman 177, disusun oleh Muhammad Abdullah Al-Khatib dan Muhammad Abdul Halim Hamid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;96) Bertawassul dengan dzat ialah bertawassul atas nama atau kedudukan orang itu, ini tidak boleh. Yang benar ialah bertawassul dengan doa orang shaleh bukan dengan nama atau kedudukannya saja, &lt;i&gt;wallahu a'lam&lt;/i&gt;, pent&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;97) &lt;i&gt;Al-Fatawa Al-Kubra&lt;/i&gt;, karya Ibnu Taimiyyah I/140-141&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;98) Karya Syaikh kita Penulis kitab tersebut. (Syaikh Muhammad bin Hadi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari : &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Al Mauridu Al'Adzbi Az-Zalaal Fiima Untuqida 'Alaa Ba'dli Al-Manahij Ad-Da'awiyah Min Al-'Aqaaid wa Al-A'mal&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Penulis: &lt;strong&gt;Syaikh &lt;i&gt;Al-Allamah&lt;/i&gt; Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Resensi dan Pujian: &lt;strong&gt;Shahibul Fadhilah Asy-Syaikh &lt;i&gt;Al-'Allamah&lt;/i&gt; Shalih bin Fauzan Al Fauzan &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt; - Fadhilatusy Syaikh Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Edisi Indonesia: &lt;i&gt;&lt;strong&gt;Mengenal Tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;; Halaman: 218-221; Penerjemah: Muhammad Fuad Qawam, Lc.; Cetakan Pertama: Sya'ban 1426 H/ September 2005M; Penerbit: Cahaya Tauhid Press, Malang]&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-5106993944185297937?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/5106993944185297937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=5106993944185297937' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/5106993944185297937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/5106993944185297937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/04/penyimpangan-keempat-al-banna.html' title='Penyimpangan Keempat: Al-Banna Meremehkan Tawassul yang Merupakan Jalan Menuju Syirik'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-6175484604962740499</id><published>2008-04-17T21:08:00.001+07:00</published><updated>2008-05-23T21:09:16.217+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyimpangan IM'/><title type='text'>Penyimpangan Ketiga: Ikhwanul Muslimin menerima orang-orang yang mempersekutukan Allah ‘Azza wa Jalla dengan syirik akbar</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan Umum Ketiga:&lt;br /&gt;Ikhwanul Muslimin menerima orang-orang yang mempersekutukan Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dengan syirik akbar yang berdoa, menyembelih, nadzar dan selainnya- untuk masuk dalam keanggotaannya dan menganggap mereka sebagai saudara padahal akidah mereka meniadakan sendi Islam yang paling agung. Di samping itu mereka menganggap Rafidhah sebagai saudara padahal mereka telah mencela para shahabat Rasulullah&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;  dan meyakini bahwa para imam mereka adalah ma'shum dan selain itu ...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalil kami tentang perkara di atas:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;{1} Ketika menegakkan dakwahnya di Mesir, Hasan Al-Banna diikuti oleh puluhan bahkan ratusan ribu orang, tetapi belum pernah sekalipun kita dengar dia memberikan syarat kepada seseorang yang masuk dalam partainya untuk melepas akidah mereka sebelumnya yakni syirik dan khurafat, Jahmiyyah yang suka me-nolak nama dan sifat-sifat Allah &lt;i&gt;’Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, Mu'tazilah yang meniadakan takdir, mereka yang berpaham bahwa Al-Quran adalah makhluk dan menentang keyakinan bahwa (penghuni surga, ed) kelak akan melihat Allah&lt;i&gt; ’Azza wa Jalla&lt;/i&gt; di akherat dan Iain sebagainya. Belum pernah kita dengar dan kita baca dalam buku-bukunya bahwa dia berkata kepada seseorang: «Janganlah engkau bergabung dalam dakwah kami sampai engkau meninggalkan akidahmu yang lalu».&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;{2} Upaya Syaikh Al-Banna untuk mempertemukan antara Sunnah dan Syi'ah dan menganggap Syi'ah sebagai saudara selslam walaupun mereka memeluk banyak akidah yang bertentangan dengan Islam secara nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya; Sangkaan buruk Syi'ah bahwa para imam mereka ma'shum, dalam persoalan ini mereka telah menyelisihi kesepakatan ulama kaum muslimin bahwa kema'shuman hanya dimiliki oleh para nabi&lt;i&gt; ‘alaihimus sallam&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya juga; Sangkaan buruk Syi'ah atau sebagian dari mereka -semoga Allah &lt;i&gt;’Azza wa Jalla&lt;/i&gt; melaknat mereka -bahwa Jibril &lt;i&gt;‘alaihissallam&lt;/i&gt; telah berkhianat, dimana dia memberikan kerasulan kepada Muhammad &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; yang seharusnya diberikan kepada Ali &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;, ini termasuk kekafiran yang paling busuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga; Makian Syi'ah terhadap Abu Bakar &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;, Umar&lt;i&gt; radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;, Utsman &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;. dan seluruh shahabat &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhum&lt;/i&gt; serta tuduhan dusta mereka terhadap Aisyah Ummul Mukminin &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anha&lt;/i&gt; padahal Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; telah melepaskan beliau &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anha&lt;/i&gt; dari tuduhan zina itu, maka ini adalah kekafiran, pengingkaran dan penentangan terhadap ayat Al-Quran yang telah membebaskan beliau &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anha&lt;/i&gt; dari tuduhan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga; Sangkaan jahat mereka bahwa Al-Quran telah ditukar dan dirubah, serta telah dihapus lebih dari setengahnya, ini berarti mendustakan firman Allah&lt;i&gt;’Azza wa Jalla&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya."&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; (QS. Al-Hijr: 9)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga; keyakinan mereka tentang bolehnya melakukan nikah &lt;i&gt;mut'ah&lt;/i&gt;, dalam hal ini mereka telah menyalahi konsensus kaum muslimin bahwa perkara tersebut sudah dihapus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga; Keyakinan mereka bahwa boleh seorang laki-laki menikahi lebih dari empat perempuan, hal ini juga menyelisihi kesepakatan kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga; Mereka telah mempertuhankan imam-imamnya khususnya atau seluruh ahli bait secara umum dengan cara meng-hambakan anak keturunan mereka kepadanya dengan menamakan anak keturunannya; hamba Az-Zahra, hamba Husein, hamba Kazhim dan Iain-lain. Serta mereka meyakini bahwa siapa di antara mereka yang telah meninggal, maka akan sanggup mengabulkan doa dan menghilangkan kesusahan. &lt;strong&gt;89)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun semua perkara yang mengkafirkan dan bala’ kekufuran yang sangat buruk ini melekat pada Syi'ah, namun Hasan Al-Banna tetap menganggap mereka sebagai saudara dalam Dien kemudian dengan gencarnya dia melakukan upaya rekonsiliasi antara Syi'ah dengan Ahlussunnah dan menguras tenaga yang tidak sedikit demi tujuan ini hingga para pengikutnya setelah itu menempuh jejak manhajnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata &lt;strong&gt;Umar At-Tilmisani&lt;/strong&gt; penasehat umum Ikhwanul Muslimin: ((Antusias Hasan Al-Banna untuk mencapai penyatuan kalimat kaum muslimin, dimana dia mengusulkan diadakannya muktamar untuk mengumpulkan firqah-firqah Islam semoga Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; memberikan mereka petunjuk sehingga menghasilkan konsensus akan suatu hal yang dapat menghalangi mereka dari tindakan mengkafirkan sebagian lainnya secara khusus, sedangkan Al-Quran kita satu, Dien kita satu, Ilah kita satu dan Rasul kita satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Saya katakan: Apakah dapat terbayangkan firqah-firqah yang telah hidup dalam perselisihan selama seribu tahun bahkan lebih kemudian seluruhnya akan bersatu??)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lanjutan ucapan At-Tilmisani:) Fadhilatusy Syaikh Muhammad Al-Qammi salah seorang tokoh ulama dan pemimpin Syi'ah telah berkunjung ke markaz umum (Ikhwanul Muslimin) selama jangka waktu yang relatif tidak singkat. Sebagaimana juga sudah diketahui bersama bahwa Imam Al-Banna telah menemui tokoh utama Syi'ah Ayatullah Al-Kasysyani di musim haji tahun 1948 M hingga terjadi kesatuan faham antara keduanya, seperti yang diisyaratkan oleh salah seorang sosok tokoh Ikhwanul Muslimin hari ini dan salah seorang murid Imam Syahid (!!) yaitu Ustadz Abdul Muta'ali Al-Jabari dalam bukunya. &lt;strong&gt;90)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Al-I’tisham&lt;/i&gt; menukil sebuah ucapan penulis Inggris yang, menyebutkan peran Al-Banna dalam mendekatkan Syi'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Al-Jabari memberikan komentar: Robert benar! Dia telah mencium dengan indera politiknya kurasan tenaga Imam (Al-Banna) dalam mendekatkan antara mazhab-mazhab Islam. Bagaimana seandainya dia mengetahui lebih jauh lagi peran maha besar yang dilakukan oleh Imam dalam urusan ini, dimana kesempatan seperti ini tidaklah cukup untuk menyebutkannya?! &lt;strong&gt;91)&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dinukil dari buku At-Tilmisani &lt;i&gt;Dzikrayat La Mudzakkirat&lt;/i&gt;, ia berkata: ((Di tahun empat puluhan seingat saya, Sayyid Qammi yang bermazhab Syi'ah berkunjung sebagai tamu ke markaz umum Ikhwanul Muslimin. Saat itu Imam (Al-Banna) sedang berupaya serius untuk mendekatkan golongan-golongan yang ada agar musuh-musuh Islam tidak mengambil perpecahan ini sebagai jalan mengoyak persatuan umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari kami menanyakan kepadanya tentang seberapa jauh perbedaan antara Ahlussunnah dan Syi'ah, maka dia melarang kami untuk terjun masuk ke dalam permasalahan-permasalahan semacam ini yang tidak sepantasnya bagi kaum muslimin menyibukkan diri mereka dengannya. Adapun sengketa yang terjadi antara kaum muslimin seperti yang engkau lihat, maka musuh-musuh Islam bekerja di balik itu mengobarkan apinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kami berkata kepada beliau: Kami tidak menanyakan hal ini karena &lt;i&gt;ta'ashshub&lt;/i&gt; (fanatik golongan) atau meluaskan perselisihan antara kaum muslimin tetapi kami menanyakannya demi ilmu, sebab perselisihan antara Ahlussunnah dan Syi'ah sudah disebutkan di dalam karangan yang banyak tanpa batas, sedangkan kami tidak mempunyai cukup waktu untuk mencari di dalam semua buku rujukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ia -semoga Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; meridhainya- menjawab: Ketahuilah! Sesungguhnya Sunnah dan Syi'ah semuanya adalah kaum muslimin yang dikumpulkan oleh kalimat &lt;i&gt;Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah&lt;/i&gt;, inilah asas akidah, sedangkan Sunnah dan Syi'ah dalam masalah ini sama dan semuanya berada dalam kesucian. Adapun perselisihan antara keduanya, maka itu terjadi pada perkara-perkara yang memungkinkan untuk dilakukan rekonsiliasi antara keduanya. &lt;strong&gt;92)&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan: Perkataan bahwa "Syi'ah dan Ahlussunnah sama dan kesemuanya berada dalam kesucian": Perkataan ini tidak akan muncul melainkan dari seorang yang jahil atau salah besar, sebab:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Apakah orang yang memaki Abu Bakar &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt; dan Umar &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;, mengkafirkan dan menuduh keduanya telah melakukan pengkhianatan -adalah sama dengan siapa yang memuliakan keduanya, selalu mendoakan agar mendapatkan keridhaan dan meyakini bahwa keduanya adalah umat Muhammad &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; yang paling afdhal setelah Nabinya &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;?!&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah orang yang meyakini bahwa imam yang dua belas dari ahli bait adalah &lt;i&gt;ma'shum&lt;/i&gt; -sama dengan orang yang menganggap mereka semua sama dengan muslimin lainnya?!&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah orang yang menghambakan generasi penerusnya kepada ahli bait dan menamakan generasinya dengan; hamba Az-Zahra, hamba Al-Husein dan lainnya dapat disamakan dengan orang yang hanya memberikan penghambaan kepada Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; saja?!&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Dan seterusnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Khomaini telah menyatakan dengan tegas di dalam sebagian bukunya bahwa jika Al-Mahdi yang ditunggu-tunggu sudah datang maka dia akan menyelamatkan umat lebih banyak daripada yang diselamatkan oleh Muhammad bin Abdullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya jarak perbedaan antara Ahlussunnah dan Syi'ah sangatlah jauh, tidak mungkin dilakukan rekonsiliasi kecuali salah satu pihak mau melepaskan akidahnya lalu ridha menganut akidah pihak lain. Dan hal ini tidak boleh dilakukan oleh seorang Sunni dan tidak mungkin dilakukan oleh Syi'ah, sekalipun sebenarnya wajib bagi Syi'ah untuk tunduk mengakui kebenaran yang dianut oleh Ahlussunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun perkataannya "Semuanya berada dalam kesucian" Dimanakah kesucian dari kaum yang berpandangan bahwa pendekatan diri kepada Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; yang &lt;i&gt;afdhal&lt;/i&gt; ialah dengan menyakiti Ahlussunnah, demikian banyak kabar tentang permasalahan ini. Saya teringat ketika kami pergi untuk melakukan&lt;i&gt; thawaf ifadhah&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;sa’i &lt;/i&gt;di akhir malam 11 atau 12 Dzulhijjah, maka kami mendapati di bawah Shafa (sebelum sampai ke Shafa) banyak kotoran sepanjang kira-kira 15 m dalam jumlah yang banyak, menunjukkan bahwa pelakunya telah mengumpulkannya dalam karung lalu menyerakkannya, ketika itu orang-orang sepakat menuduh Syi'ah sebagai pelakunya, sebab menyakiti Ahlus-sunnah adalah salah satu sendi dan Dien mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{3} Perkataan Hasan Al-Banna sewaktu menghadiri konferensi gabungan antara Amerika dan Inggris yang menyibukkan dunia Arab sehubungan dengan permasalahan Palestina. Al-Banna bertemu dengan mereka di Mesir mewakili gerakan Islam, ia katakan: "Saya menetapkan bahwa persengketaan kita dengan Yahudi bukan persengketaan agama, sebab Al-Quran mendorong untuk merangkul dan bersahabat dengan mereka, serta Islam adalah syari'at kemanusiaan sebelum menjadi syari'at kaum tertentu. Islam telah memuji mereka dan menciptakan kesepakatan antara kita dengan mereka:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(QS. Al-Ankabut: 46)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala menyinggung tentang Yahudi, maka Al-Quran menyinggungnya dari sisi ekonomi, Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(QS. An-Nisa': 160) 93)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan: Bagaimana mempertemukan hal ini dengan kisah yang diceritakan Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; di dalam surat Al-Baqarah, Al-Maidah dan lainnya tentang Yahudi?! Bagaimana mempertemukan perkataan Al-Banna "Saya menetapkan bahwa persengketaan kita dengan Yahudi bukan persengketaan agama" dengan firman Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;: &lt;i&gt;"Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(Al-Baqarah: 98)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; menurunkan ayat ini tatkala mereka mengatakan kepada Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, "Malaikat mana yang membawa wahyu kepadamu?", Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menjawab: "Jibril &lt;i&gt;‘alaihissallam&lt;/i&gt;". Maka mereka mengatakan, "Itu adalah musuh kami dari jenis malaikat, andaikan yang membawakan wahyu kepadamu adalah Mikail &lt;i&gt;‘alahisssallam&lt;/i&gt; maka kami tentu akan mengikutimu". Maka Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; menurunkan ayat-ayat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana mungkin dia menyatakan persengketaan: kita dengan Yahudi bukanlah persengketaan agama?! &lt;strong&gt;Subhanallah!&lt;/strong&gt; Sesungguhnya ini benar-benar amat sangat mengherankan, ketika Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; menetapkan permusuhan Yahudi terhadap Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, para malaikat, para rasul, Jibril dan Mikail lalu Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; membalas bahwa Dia &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; adalah musuh siapa yang memusuhi semua mereka, lantas laki-laki ini (Al-Banna) datang dan menyangka dirinya seorang da'i yang mengajak kepada Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; kemudian menetapkan: Tidak ada persengketaan dengan Yahudi dalam urusan Dien. Padahal kata 'sengketa' lebih ringan dari 'permusuhan', karena kadang dua orang yang bersaudara (tidak bermusuhan) bersengketa. Sehingga peniadaan sengketa memberikan konsekwensi tidak adanya permusuhan dan perkara lain yang lebih ringan. Ini benar-benar perkara yang aneh dan mengherankan serta sikap buruk yang membingungkan. &lt;i&gt;Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{4} Dia mengadakan perayaan untuk memuliakan Sayyid Muhammad Utsman Al-Miraghni. Al-Banna mengatakan dalam acara tersebut: ((Sesungguhnya rumah Ikhwanul Muslimin benar-benar sangat berbahagia dan sangat terhibur, sebab anda menerima semua hati yang suci ini, para jiwa mulia, rambu jihad, kesatria Arab dan pilihan pemimpin Islam. Saya menghaturkan kepada Pemimpin Sudan yang mulia Sayyid Muhammad Utsman AI Miraghni dan seluruh pihak yang menyambut undangan ini ucapan terima kasih yang melimpah dan dan terbesar …….. (sampai ucapannya:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para hadirin yang mulia! Mungkin banyak yang tidak mengetahui sesungguhnya kami Al-Ikhwan berhutang kepada para pemuka dari Sayyid Al-Miraghni berupa kecintaan yang tulus dan sambutan pemuliaan yang mereka berikan kepada kami sejak dahulu hingga sekarang setiap kali utusan kami pergi ke Sudan... Tidak... bahkan hutang sejak dahulu kala sejak dakwah ini tumbuh di Isma'iliyyah. Mereka adalah pendukung pertama dan para mujahid yang membuatkan markaz bagi dakwah ini ialah para Ikhwan Khatmi Miraghni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda telah menghadiri perayaan Isra' Mi'raj pada tahun 1937 M yang bertempat di surau Sayyid Utsman Al-Miraghni yang mulia di Ismailiyyah, ia masih ada dan saya masih senantiasa mengingat saudara kita di sana. Jiwa Khatmi dan dukungan Khatmi berjalan bersama dakwah ini sejak terbitnya. Yang mulia Sayyid Utsman Al-Miraghni dan putra mahkota Sayyid Muhammad Utsman adalah orang pertama yang membawa bendera ini dan memberikan kabar gembira dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sejarah lama yang kami ungkapkan wahai hadirin yang mulia, kami sampaikan kepada yang mulia Sayyid Muhammad Utsman apa yang tersimpan dalam hati Al-Ikhwan berupa: rasa cinta, kasih dan pemuliaan.)) &lt;strong&gt;94)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya ucapan Al-Banna: "Sesungguhnya kami Al-Ikhwan berhutang budi kepada Sayyid Al-Miraghni berupa kecintaan yang lulus dan sambutan pemuliaan" juga ucapan terakhirnya: "Kami sampaikan kepada yang mulia Sayyid Muhammad Utsman apa yang terpendam dalam hati Al-Ikhwan berupa: rasa cinta, kasih dan pemuliaan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian dan pemuliaan ini benar-benar menunjukkan salah satu  dua perkara:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mungkin dia berserikat dengan Al-Miraghni dalam akidah &lt;i&gt;wihdatul wujud&lt;/i&gt;. Ini adalah akidah buruk, demikian pula yang menyamainya juga buruk, Al-Miraghni merupakan salah seorang tokoh &lt;i&gt;wihdatul wujud &lt;/i&gt;dan pendetanya.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mungkin dia tidak mempunyai &lt;i&gt;wala'&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;bara'&lt;/i&gt;. Apakah seorang yang tumbuh berkembang dengan tauhid dan akidah Salafiyyah akan berfaham demikian?!&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;89) Lihat buku &lt;i&gt;Al-Kafii&lt;/i&gt; tulisan Al-Kalini yang bagi Rafidhah buku ini berkedudukan seperti &lt;i&gt;Shahih&lt;/i&gt; Imam Al-Bukhari di sisi Ahlussunnah, disebutkan dalam I/200, kitab &lt;i&gt;Hujjah&lt;/i&gt;, bab tentang Keghaiban, maksudnya para imam mereka mengetahui permasalahan ghaib Pada I/202, kitab &lt;i&gt;Hujjah&lt;/i&gt;, bab Para Imam mengetahui kapan mereka akan wafat serta mereka tidak akan meninggal kecuali mereka sendiri yang rnemilihnya. Pada I/203, kitab &lt;i&gt;Hujjah&lt;/i&gt;, bab Para imam mengetahui ilmu tentang apa yang telah dan akan terjadi, serta tidak tersembunyi dari mereka sesuatupun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah kesesatan dan kebohongan nyata ini, namun dengan semua ini Ikhwanul Muslimin masih mau mendekatkan antara Ahlussunnah dan Rafidhah, bahkan Ikhwanul Muslimin berpandangan bahwa semua faham mereka Itu tidak mengharuskan Ikhtilaf dengan kita (Syaikh Muhammad bin Hadi &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;90) &lt;i&gt;Limadza Ughtiila Hasan Al-Banna&lt;/i&gt;, halaman 32, dinukil dari: &lt;i&gt;Ikhwanul Muslimun fil Miizan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;91) Hasan Al-Banna Al-Qaid, halaman 78&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;92) &lt;i&gt;Dzikrayat Laa Mudzakkirat&lt;/i&gt;, Umar At-Tilmisani, halaman 249-250&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;93) Kitab &lt;i&gt;Al-Ikhwan Al-Muslimun Ahdats Shana'at At-Tarikh&lt;/i&gt; (I/409) dan &lt;i&gt;Hasan Al-Banna  Mawaqif fid Da’wah wat Tarbiyah&lt;/i&gt; (hal. 488)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari : &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Al Mauridu Al'Adzbi Az-Zalaal Fiima Untuqida 'Alaa Ba'dli Al-Manahij Ad-Da'awiyah Min Al-'Aqaaid wa Al-A'mal&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Penulis: &lt;strong&gt;Syaikh &lt;i&gt;Al-Allamah&lt;/i&gt; Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Resensi dan Pujian:&lt;strong&gt; Shahibul Fadhilah Asy-Syaikh &lt;i&gt;Al-'Allamah&lt;/i&gt; Shalih bin Fauzan Al Fauzan &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt; - Fadhilatusy Syaikh Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Edisi Indonesia: &lt;i&gt;&lt;strong&gt;Mengenal Tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;; Halaman: 210-217; Penerjemah: Muhammad Fuad Qawam, Lc.; Cetakan Pertama: Sya'ban 1426 H/ September 2005M; Penerbit: Cahaya Tauhid Press, Malang]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-6175484604962740499?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/6175484604962740499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=6175484604962740499' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/6175484604962740499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/6175484604962740499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/04/penyimpangan-ketiga-ikhwanul-muslimin.html' title='Penyimpangan Ketiga: Ikhwanul Muslimin menerima orang-orang yang mempersekutukan Allah ‘Azza wa Jalla dengan syirik akbar'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-4508399519601901607</id><published>2008-04-15T20:35:00.001+07:00</published><updated>2008-05-23T20:22:59.563+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyimpangan IM'/><title type='text'>Penyimpangan Kedua: Menyetujui bangunan-bangunan kubur dan masyhad tanpa ada upaya untuk menghilangkan serta menghalangi pembangunan</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan Umum Kedua:&lt;br /&gt;(Ikhwanul Muslimin) Menyetujui bangunan-bangunan kubur dan &lt;i&gt;masyhad&lt;/i&gt; (tempat-tempat ibadah di makam-makam) tanpa ada upaya untuk menghilangkan serta menghalangi pembangunannya berikut menghalangi penganutnya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sesungguhnya bangunan-bangunan kubur dan &lt;i&gt;masyhad&lt;/i&gt; (bangunan ibadah di pekuburan) yang masih saja tegak berdiri di pelbagai wilayah Mesir dan masyarakat dari segala penjuru hilir mudik kepadanya, dimana mereka &lt;i&gt;thawaf&lt;/i&gt; di sekitarnya, mempersembahkan penyembahan baginya dan memanggil-manggil nama para penghuni kubur untuk beristighatsah di dalam kesusahan dan mengharap segala macam hajat. Sesungguhnya semua&lt;i&gt; masyhad&lt;/i&gt; dan bangunan kuburan ini menduduki posisi&lt;i&gt; thaghut&lt;/i&gt; masa jahiliyah; Lata, Uzza, Dzul Kaffain, Dzul Khalashah, Manat dan selainnya yang telah diperangi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak Beliau&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; diutus, sebuah peperangan yang membombardir tanpa henti atau padam kobaran apinya. Setelah Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menang menghadapi kaum musyrikin, maka Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus sebagian shahabat &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhum&lt;/i&gt; untuk merobohkan, menghancurkan dan membakar semua &lt;i&gt;thaghut&lt;/i&gt; itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sesungguhnya menjadi kewajiban setiap da'i yang merasa dirinya berdakwah kepada Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, tatkala hidup di tengah-tengah lingkungan semacam Mesir dan negara lainnya yang mendapatkan &lt;i&gt;bala'&lt;/i&gt; penyakit syirik dan &lt;i&gt;khurafat&lt;/i&gt; yang membinasakan ini …..  untuk memulai dakwahnya dengan menjelaskan tauhid dan menerangkan syirik yang dapat membatalkannya. Adapun seorang yang diam dari syirik sementara dalam waktu yang sama menyangka dirinya berdakwah mengajak kepada Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, padahal wajahnya tidak merah ketika mendengar seruan-seruan kaum musyrikin menyebut nama-nama makhluk untuk memohon sesuatu yang tidak disanggupi kecuaIi oleh Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; saja, apakah yang dimintai itu masih hidup ataukah sudah mati …..  tidak memerangi (mengingkari) &lt;i&gt;masyahid&lt;/i&gt; dan pengunjungnya tidak pula mengingkari sepatah katapun, bahkan dia sendiri pergi ke sana sehingga orang-orang awam menyangka bahwa bangunan kuburan seperti itu merupakan wujud atau realisasi Islam dan apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya adalah sesuai dengan Islam. Syaikh Al-Banna sebagaimana yang sudah disebutkan di depan berceramah di &lt;i&gt;masyhad&lt;/i&gt; Sayyidah Zainab dalam rangka perayaan hijrah, sementara tidak keluar dari bibirnya satu huruf-pun tentang kesyirikan yang terjadi di tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan Al-Banna mengatakan dalam &lt;i&gt;Al-Mudzakkirat&lt;/i&gt; halaman 33: "Dulu kami pada hari Jumat sering melewati Damanhur dan kami memilih melakukan perjalanan menziarahi para wali yang dekat dengan Damanhur. Terkadang kami menziarahi Dasuqi dengan berjalan kaki selepas shalat Shubuh, kami tiba sekitar jam delapan pagi setelah melewati perjalanan 20 km selama 3 jam. Kami berziarah, melakukan shalat Jumat, istirahat setelah makan siang, shalat Ashar dan kembali melalui jalan yang kami tempuh menuju Damanhur sebelumnya, kami tiba di Damanhur kira-kira sesudah Maghrib……."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada halaman yang sama dia mengatakan: "Kadang kami menziarahi makam yang di dalamnya terdapat kubur Syaikh Sayyid Sanjar seorang tokoh tarekat Al-Hashafiyyah yang keshalehan dan ketakwaan para pengikutnya telah dikenal baik. Kami menghabiskan waktu sehari penuh di sana lalu kami kembali." &lt;strong&gt;86)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan: Ziarah terbagi menjadi tiga macam: sunnah, bid'ah dan syirik. Siapa yang menyeru penghuni kubur maka dia musyrik dan ziarahnya syirik, siapa yang menyangka bahwa berdoa di kubur &lt;i&gt;mustajab&lt;/i&gt; maka dia pelaku bid'ah dan ziarahnya bid'ah, sedangkan siapa saja yang menziarah kubur seseorang untuk mendoakan mayat sebab dia tahu kalau orang yang sudah dikubur itu butuh untuk didoakan maka inilah ziarah sunnah yang dimotivasi oleh Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dalam sabda Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;: &lt;i&gt;"Sesungguhnya dulu saya telah melarang kalian dari ziarah kubur, maka (sekarang) ziarahilah, sebab dia mengingatkan akherat!" &lt;/i&gt;&lt;strong&gt;87)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ziarah yang sunnah tidak boleh dilakukan dengan menempuh perjalanan jauh, sebab Rasulullah&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;i&gt;"Tidak boleh melakukan perjalanan jauh kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini dan Masjid Al-Aqsha." &lt;/i&gt;&lt;strong&gt;88)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh kilometer adalah jarak yang membolehkan meng&lt;i&gt;qashar&lt;/i&gt; shalat menurut pendapat sebagian ahli ilmu dan menurut teksnya dalil mendukung mereka, tersebut dalam sebuah hadits: &lt;i&gt;"Tidak halal seorang perempuan yang beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan Hari Akhir untuk berpergian sejarak tiga hari perjalanan &lt;/i&gt;(dalam riwayat lain "sehari semalam", riwayat lain "sehari", riwayat lain "semalam") &lt;i&gt;kecuali dengan mahramnya"&lt;/i&gt;. Semua riwayat ini tidak diragukan lagi keshahihannya. Diriwayatkan pula dari Suhail bin Abu Shaleh dimana Imam Al-Bukhari telah meriwayatkan darinya dengan lafazh: &lt;i&gt;"Tidak halal bagi seorang perempuan yang beriman pada Allah ‘Azza wa Jalla dan Hari Akhir untuk bepergian sejauh perjalanan satu barid"&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Barid&lt;/i&gt; adalah jarak 19,2 km. Maka nampak bahwa jauhnya perjalanan ini adalah jarak &lt;i&gt;qashar&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir: Apakah motivasi Syaikh Al-Banna dan perkumpulannya mendatangi &lt;i&gt;masyhad&lt;/i&gt; dan makam-makam ini sehingga menimbulkan fitnah pada manusia; menjadikannya sebagai saingan Ka'bah tatkala mereka berdoa kepada Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; di sana, bahkan menyamakannya dengan Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; tatkala menyeru kepadanya. Demikianlah yang dikenal dari keadaan kaum musyrikin yang mendatangi tempat-tempat ini.Lalu apakah yang mendorong mereka sehingga mau berjalan kaki menuju makam-makam ini dan menyangka bahwa hal itu adalah suatu pendekatan diri?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya Al-Banna dan teman-temannya meyakini salah salu dari dua perkara: berdoa di sana dan ini adalah bid'ah, atau berdoa kepada penghuni kubur sedangkan ini adalah syirik besar. Maka bukanlah suatu hal yang jauh jika ini terjadi di masa dewasanya dan hari-hari dakwahnya, seorang yang tumbuh berkembang dengan keadaan seperti itu sedari kecilnya dan di hari-hari menuntut ilmunya. Bahkan dengan bangganya dia menyebutkan nostalgia ini dalam &lt;i&gt;Mudzakkirat&lt;/i&gt;-nya. Itu menjadi bukti yang jelas ketidak-taubatannya dari faham tersebut. Sedangkan sikap diamnya terhadap semua &lt;i&gt;masyhad&lt;/i&gt; itu di hari-hari dakwahnya dan dia tidak mengingkari para pengunjungnya adalah bukti kedua, bahkan kedatangannya di situ berceramah dengan tema yang sama sekali tidak menyinggung kesyirikan yang sedang berjalan di sana adalah bukti ketiga dan ada beberapa perkara yang membahayakan:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Menimbulkan prasangka pada umat secara umum bahwa apa yang terjadi di makam itu berupa; berdoa kepada selain Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, beristighatsah kepada makhluk, serta menyembelih dan bernadzar untuk mereka, itulah ajaran Islam. Padahal hakekatnya ini adalah menentang Islam yang benar dan bukan berdakwah mengajak kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Merupakan dukungan bagi para penyembah berhala yang diperangi oleh Islam sejak hari pertama turunnya Al-Quran kepada Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;/i&gt; khususnya dalam surat-surat Makkiyah, Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(QS. Yunus: 106)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Seorang da'i yang menampakkan kepada umat amalan seperti ini akan memberikan kesan bahwa dia telah menampilkan Islam yang benar padahal ini adalah tipuan penampilan tulus yang paling hebat dan tindakanpengelabuan yang terbesar. Saya tidak yakin Al-Banna bermaksud menimbulkan salah sangka terhadap siapa yang menilai dirinya melalui kitab-kitab dan sejarah hidupnya, bahkan akan tampak bagi orang tersebut bahwa perkara yang telah menjatuhkan Al-Banna ke dalamnya ialah kejahilan akan Islam yang benar.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;__________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;86)      &lt;i&gt;Mudzakkiratid Da'wati wad Da'iyah&lt;/i&gt;, halaman 33&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;87)      Dikeluarkan oleh Muslim dalam kisah ziarah Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; ke kubur ibunda Beliau&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, dengan lafazh: &lt;i&gt;"Maka ziarahilah kubur, sebab sesungguhnya dia mengingatkan kematian!&lt;/i&gt; Nomor 996 di akhir kitab &lt;i&gt;Jenazah&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim juga mengeluarkannya melalui jalur Burdah bin Buraidah dari ayahnyn secara &lt;i&gt;marfu'&lt;/i&gt;:&lt;i&gt; "Dulu saya melarang kalian tentang orang-orang mati"&lt;/i&gt; nomor 1976, Juga pada kitab &lt;i&gt;Jenazah&lt;/i&gt; dengan lafazh &lt;i&gt;"Saya telah melarang kalian"&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi pada Kitab &lt;i&gt;Jenazah&lt;/i&gt; bab &lt;i&gt;Rukhshah Ziarah Kubur&lt;/i&gt; dengan lafazh: &lt;i&gt;"Dahulu saya telah melarang kalian dari ziarah kubur, maka sekarang telah diizinkan bagi Muhammad untuk menziarahi kubur ibunya, maka ziarahilah kubur sebab sesungguhnya ia mengingatkan akherat."&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Al-Baihaqi meriwayatkannya dengan lafazh yang lebih sempurna, diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;88)      Syaikh Al-Albani mengatakan dalam &lt;i&gt;Irwail Ghalil&lt;/i&gt; III/226: "Hadits &lt;i&gt;“Tidak boleh melakukan perjalanan jauh kecuali ke tiga masjid…….." shahih mutawatir&lt;/i&gt;, diriwayatkan melalui sekelompok shahabat, di antaranya: Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;, Abu Sa'id Al Khudri &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;, Abu Bashrah Al-Ghiffari &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;, Abdullah bin Umar &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/i&gt;, Abdullah bin Amr &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/i&gt; dan Abul Ju'di &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari : &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Al Mauridu Al'Adzbi Az-Zalaal Fiima Untuqida 'Alaa Ba'dli Al-Manahij Ad-Da'awiyah Min Al-'Aqaaid wa Al-A'mal&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Penulis: &lt;strong&gt;Syaikh &lt;i&gt;Al-Allamah&lt;/i&gt; Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Resensi dan Pujian: &lt;strong&gt;Shahibul Fadhilah Asy-Syaikh &lt;i&gt;Al-'Allamah&lt;/i&gt; Shalih bin Fauzan Al Fauzan &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt; - Fadhilatusy Syaikh Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Edisi Indonesia: &lt;i&gt;&lt;strong&gt;Mengenal Tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;; Halaman: 206-209; Penerjemah: Muhammad Fuad Qawam, Lc.; Cetakan Pertama: Sya'ban 1426 H/ September 2005M; Penerbit: Cahaya Tauhid Press, Malang]&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-4508399519601901607?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/4508399519601901607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=4508399519601901607' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/4508399519601901607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/4508399519601901607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/04/penyimpangan-kedua-menyetujui-bangunan.html' title='Penyimpangan Kedua: Menyetujui bangunan-bangunan kubur dan masyhad tanpa ada upaya untuk menghilangkan serta menghalangi pembangunan'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3740785229719827223.post-6085727579857300741</id><published>2008-04-14T20:21:00.002+07:00</published><updated>2008-05-23T20:16:14.782+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyimpangan IM'/><title type='text'>Penyimpangan Pertama: Meremehkan tauhid ibadah dan tidak menjadikannya sebagai asas berpijak</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan Umum Pertama tentang Aib Ikhwanul Muslimin:&lt;br /&gt;Meremehkan tauhid ibadah dan tidak menjadikannya sebagai asas berpijak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Termasuk bukti bahwa hal ini terjadi pada Ikhwanul Muslimin, pendiri dan peletak manhaj Ikhwani yaitu Hasan Al-Banna &lt;strong&gt;78)&lt;/strong&gt; menyampaikan ceramah di salah satu markaz kesyirikan, bahkan termasuk markaz kesyirikan terbesar di Mesir, yaitu kuburan Sayyidah Zainab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abbas As-Sisi menukilkan cerita itu dalam bukunya &lt;i&gt;Qafilah Al-Ikhwan al-Muslimun&lt;/i&gt; (Kafilah Ikhwanul Muslimun), ia katakan: ((Sebuah kalimat dari Ustadz penasehat alam dalam perayaan hijrah di Sayyidah Zainab. Tersebut dalam kalimatnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan ini wahai saudara-saudara saya hendak memberikan nasehat kepada kalian, sebuah nasehat yang ikhlash dimana saya menekankan kepada kalian untuk menjaganya, yaitu: Kalian mensucikan hati kalian dan menjernihkan jiwa kalian dari orang-orang yang telah menyakiti atau berbuat keburukan terhadap kalian. Demi Allah, sesungguhnya saya benar-benar tidak akan meninggalkan semua hati semacam ini yang tidak mengenal selain makna cinta karena Allah dan tidak bahagia melainkan dengan perasaan persaudaraan yang sejati. Saya tidak akan meninggalkan semua hati yang suci ini dikotori dengan dengki atau kebencian serta dikeruhkan kejernihannya oleh permusuhan.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sesungguhnya Dien itu cinta dan benci, merupakan bagian dan iman bahwa kita mencintai karena Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dan kita membenci karena Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, akan tetapi alangkah beratnya kalau kita dipaksa untuk membenci siapa yang kita cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya iman itu: cinta dan benci. Maka mencintailah, sebab sesungguhnya kalian akan bahagia dengan cinta, dengan perasaan ini kalian berhimpun dan dengannya kalian terikat. Janganlah kalian mengharamkan buat hati kalian nikmat cinta karena Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dan janganlah kalian mengharamkan dari perasaan cinta suci yang bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpanlah batu dan loncatan kebencian hingga saat yang akan datang sebentar lagi, ketika itu kita menghadapi musuh-musuh. Saya tidak memaksudkan musuh-musuh kita dalam selimut, kita tidak mempunyai musuh dalam selimut Alhamdulillah. Kalaupun ada, maka mereka itu ibarat busa seperti busa aliran air yang akan disapu bersih oleh angin hingga berlalu atau enyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kalimat jihad maka itu adalah semangat yang berkobar, sedangkan makna-makna jihad adalah permisalan hidup yang tetap ada dan dituju oleh hati semua anak umat ini yang dizhalimi, dianiaya kebebasan dan hak-haknya serta dikepung dari segala penjuru.)) &lt;strong&gt;79)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendiskusikan pidato Syaikh Al-Banna yang dia sampaikan di salah satu sarang kesyirikan terbesar di Mesir, yakni makam Sayyidah Zainab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak menyebutkan sama sekali syirik akbar yang sedang terjadi di kuburan itu, berupa: berdoa kepada selain Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, istighatsah, ibadah, menyembelih dan lainnya. Seolah dia belum melihat orang-orang yang thawaf di kubur itu dan mengelus-elusnya. Seolah dia belum mendengar suara tinggi orang-orang yang memohon hajat kepada Sayyidah Zainab dimana permohonan seperti ini tidak boleh ditujukan kepada selain Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dan seolah Syaikh Al-Banna tidak menganggapnya sebagai syirik akbar padahal dia mendengar dan menyaksikan di sekeliling kubur Sayyidah Zainab perkara kemungkaran yang menyelisihi syareat bahkan membatalkan, meruntuhkan memangkas habis kelslaman seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyatakan sedang memberikan nasehat yang ikhlash dan menekankan agar menjadi perhatian, akan tetapi ……. apakah nasehat itu?? Dia menasehatkan untuk menjernihkan jiwa dan mensucikan hati dari dengki dan benci, sementara hati itu dipenuhi oleh syirik akbar!! Maka apakah pidato dari seorang yang meyakini bahwa syirik yang dia lihat dan dia dengar di sekitar makam itu membatalkan kelslaman?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tinggalkan jawaban pertanyaan ini untuk para pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi lain, Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan orang-orang yang tidak menghadiri zuur dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya."&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; (QS. Al-Furqan: 72)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna "Tidak menghadiri &lt;i&gt;zuur&lt;/i&gt;": Tidak menghadiri kebathilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;, menyatakan: Ini termasuk sifat para hamba Ar-Rahman, bahwa mereka tidak menghadiri &lt;i&gt;zuur&lt;/i&gt;. Ada yang berkata:&lt;i&gt; zuur&lt;/i&gt; itu syirik dan peribadatan kepada berhala, pendapat lain: kedustaan, kefasikan, kekufuran, perbuatan sia-sia dan kebathilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abul Aliyah &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;, Thawus, Ibnu Sirin &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;, Adh-Dhahhak &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;, Ar-Rabi' bin Anas &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; dan lainnya menyatakan: Perayaan kaum musyrikin. Umar bin Qais berkata: Yakni duduk-duduk menghadiri keburukan dan kelaliman. Malik dan Az-Zuhri berkata: Mereka tidak menghadiri acara minum-minuman khamar tidak pula menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan: Penafsiran bahwa&lt;i&gt; zuur&lt;/i&gt; yang tidak mereka hadiri itu adalah kebathilan dengan segala macamnya merupakan penafsiran yang paling utama dan paling mencakup, sebab masuk di dalamnya mempersekutukan Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, perayaan kaum musyrikin, peribadatan berhala dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubur Sayyidah Zainab termasuk sarang kesyirikan paling besar yang memerangi akidah tauhid yang para rasul -termasuk Rasulullah Muhammad &lt;i&gt;Shallallahu ‘alaihi wa Sallam&lt;/i&gt;- telah diutus dengannya. Tidak boleh seorang muslim memasukinya kecuali dengan perasaan mengingkari perbuatan orang-orang musyrik itu. Barangsiapa yang memasukinya untuk berceramah dengan suatu tema selain pengingkaran terhadap syirik, maka dia telah memberikan dukungan bagi syirik akbar dan menyetujuinya serta dia telah merangkul penganutnya, juga dengan perbuatannya itu dia telah memberikan prasangka terhadap orang-orang jahil bahwa apa yang mereka perbuat itu benar tanpa ragu lagi dan merupakan ibadah pendekatan diri kepada Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, maka ini adalah kezhaliman terbesar dan penipuan yang diharamkan oleh Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dan Rasul-Nya &lt;i&gt;Shallallahu ‘alaihi wa Sallam&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dikatakan: Sesungguhnya Syaikh Al-Banna telah mengajak untuk berjihad dalam pidatonya, berarti dia telah menunaikan kewajibannya??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami katakan: Jihad apa yang diserukan oleh Al-Banna kalau dia telah menyetujui syirik besar yang mengeluarkan dari Islam. Apakah faedah berjihad melawan Yahudi dan Nashrani kalau kita sudah serupa dengan mereka?! Bahkan lebih hina dari mereka, sebab Yahudi mempertuhankan Uzair dan Nashrani mempertuhankan 'Isa &lt;i&gt;‘alaihis sallam&lt;/i&gt; saja, sedangkan Shufiyyah dan orang-orang yang seagama dengannya telah mempertuhankan manusia dalam jumlah yang tidak terhitung lagi. Di antara mereka ada yang menyembah Al-Husein……… Sayyidah Zainab…….Al-Badawi……. Al-Jailani……..Ad-Dasuqi……..dan tuhan-tuhan lain yang tidak terbilang. Cukuplah Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; melindungi kita dari menjadi seperti orang yang menyetujui kemusyrikan terhadap Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; lalu bersamaan dengan itu dia menyangka kalau dirinya berdakwah kepada Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ringkasnya:&lt;/strong&gt; Siapa saja yang mengajak berjihad sedangkan dia tidak mendirikannya di atas pondasi tauhid sebagaimana yang (dilakukan oleh Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu ‘alaihi wa Sallam&lt;/i&gt;, sesungguhnya dia telah sesat lagi menyesatkan dan menyimpang dari jalan lurus yang telah ditempuh oleh semua nabi dan rasul serta disebutkan oleh semua kitab samawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun perkataan Al-Banna dalam bukunya &lt;i&gt;At-Ta'alim&lt;/i&gt; di asas yang keempat dari dua puluh asas: "Jimat, mantera, paranormal, dukun, mengaku mengetahui perkara ghaib dan semua yang masuk dalam bahasan ini, maka semuanya mungkar dan wajib untuk diperangi, kecuali ayat, Al-Quran atau mantera berdasarkan atsar." &lt;strong&gt;80)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia katakan di asas keempat belas: "Menziarahi makam manapun adalah sunnah yang disyareatkan dengan tata cara yang berdasarkan atsar, tetapi memohon dan menyeru bantuan para penghuni kubur -siapapun mereka- memintanya agar memenuhi hajat dari jauh atau dekat, bernadzar untuk mereka, meninggikan kubur, menutupi, menerangi, mengelus, bersumpah dengan selain Allah &lt;i&gt;’Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, serta semua yang digolongkan ke dalamnya, maka termasuk dalam perkara bid'ah dan dosa besar yang wajib diperangi serta kita tidak memberikan penafsiran lain untuk semua perbuatan ini guna menutup jalan ke arah sana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan: Pertama sekali sebelum segala sesuatunya: Di dalam dua asas yang telah ditulis oleh Ustadz Al-Banna ini ada kerancuan, menunjukkan bahwa dia tidak bisa membedakan antara bid'ah, syirik akbar dan syirik kecil. Mengerjakan perdukunan dan mengaku-ngaku tahu ilmu ghaib adalah syirik akbar yang mengeluarkan dari  Islam, demikian juga memohon dan menyeru bantuan para penghuni kubur -siapapun dia- memintanya agar memenuhi hajat, bernadzar untuk mereka dan mengelus kuburnya, maka semua ini syirik akbar yang mengeluarkan dari Islam. Begitu juga menggantungkan jimat, jika dia meyakini jimat itu menolak jin dan semisalnya, semuanya termasuk syirik akbar semisal dengan syirik bangsa Arab yang telah diperangi oleh Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu ‘alaihi wa Sallam&lt;/i&gt; dihalalkan untuk ditumpahkan darahnya, ditawan anak-anaknya dan diambil harta mereka sebagai rampasan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun syirik kecil maka itu semisal bersumpah dengan selain Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dan mantera yang tidak berdasarkan syari'at tapi tidak ada padanya istighatsah kepada jin atau selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bid'ah; membangun kuburan, menutupi dan membuat penerangan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan Al-Banna mencampur-adukkan semua perkara yang berbeda hukumnya ini menunjukkan bahwa dia tidak memiliki ilmu tentang rincian perkara tersebut. Barangsiapa yang berdoa kepada selain Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dan memohonnya untuk mendatangkan kebutuhan dan menolak kemudharatan, maka dia telah kafir, Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Barangsiapa menyembah tuhan lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(QS. Al-Mukminun: 117)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam hadits: "Siapa yang mendatangi dukun, maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam", sedangkan dalam riwayat lain: "Maka dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad &lt;i&gt;Shallallahu ‘alaihi wa Sallam&lt;/i&gt;." &lt;strong&gt;81)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seperti ini hukumnya bagi orang yang sekedar mendatangi dukun, maka bagaimana sangkaanmu tentang dukun itu sendiri?! Siapa yang mengaku dirinya mengetahui ilmu ghaib maka dia telah kafir, siapa yang berkeyakinan ada yang mengetahui ilmu ghaib (selain Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;) maka dia juga kafir, sedangkan siapa saja yang menyangka semua perkara ini adalah dosa besar yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, maka dia salah satu dari dua macam orang: Orang jahil yang tidak mengetahui hukum syareat atau dia adalah orang yang terkena fitnah lalu hendak menyesatkan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bersumpah dengan selain Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, maka ia adalah syirik kecil yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam, dalilnya bahwa para shahabat &lt;i&gt;radhiyallahu ’anhum&lt;/i&gt; dahulu bersumpah atas nama orang tua mereka, Ka'bah dan Nabi &lt;i&gt;Shallallahu ‘alaihi wa Sallam&lt;/i&gt;, kemudian mereka dilarang oleh Nabi &lt;i&gt;Shallallahu ‘alaihi wa Sallam&lt;/i&gt; dalam sabda Beliau &lt;i&gt;Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:&lt;/i&gt; "Janganlah kalian bersumpah dengan orang-orang tua kalian! Barangsiapa yang akan bersumpah maka hendaklah dia diam sumpah demi Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; atau hendaklah dia diam (kalau bukan demi Allah)!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun membangun di atas kuburan, menutupi dan memberikan lampu-lampu padanya, maka ini adalah bid'ah kalau tidak disertai doa kepada penghuni kubur dan tidak bertawassul dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainyapun kita anggap Al-Banna memaksudkan perkataan-nya " kemungkaran" adalah syirik dan kufur, tapi dimanakah realisasi pernyataan ini, sementara dia telah memberikan persetujuan kepada orang yang berdoa kepada penghuni kubur dan mempertuhankannnya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua perkara ini demikian nyata -dia telah meremehkan tauhid Uluhiyyah, meragukan syirik yang membatalkan tauhid, tidak peka terhadap syirik, serta tidak memandangnya sebagai kemurtadan yang meruntuhkan kelslaman dan memangkas hingga akarnya-……….. Kondisi sistem dakwah Al-Banna ini kemudian diwarisi oleh para pemegang kendali dan penasehat manhaj tersebut. Sebaik-baik dari mereka akan mendiamkan syirik dan menyetujuinya, padahal seorang yang diam dari kesyirikan berarti tidak ada kebajikan pada dirinya. Lalu bagaimanakah sementara di antara penasehat dan pemimpin manhaj Ikhwani itu bahkan ada yang terjerembab masuk ke dalam syirik akbar, sebagaimana akan kami sebutkan tentang Sa'id Hawwa, Umar At-Tilmisani dan Mushthafa As-Siba'i, lebih-lebih lagi bawahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fasal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Seorang yang mengucapkan "Laa ilaaha illallah" namun bersamaan dengan itu dia menyeru penghuni kubur dan orang-orang yang mereka sebut sebagai wali-wali -bukan menyeru Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;- dalam perkara yang tidak disanggupi kecuali oleh Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;. Apakah orang tersebut masih teranggap muslim dan apakah dalilnya?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab: Hanya Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; Yang Maha Kuasa memberikan taufik. Kami memohon kepada Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; taufik, bantuan dan kelurusan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah! Sesungguhnya siapa yang mengucapkan kalimal tauhid sedangkan dia juga menyeru selain Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; karena mengharapkan tercapainya kebutuhan dan tertolaknya keburukan -padahal itu adalah perkara pencapaian manfaat dan penolakan mudharat yang tidak disanggupi kecuali oleh Allah&lt;i&gt; 'Azza wa Jalla&lt;/i&gt; - demikian pula bernadzar untuknya, menyembelih dengan namanya, beristighatsah kepadanya dan berlindung kepadanya, maka orang ini musyrik dengan syirik akbar dan kafir terhadap ke-Esaan Allah &lt;i&gt;'Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, walaupun dia shalat, puasa dan menyangka dirinya muslim. Walaupun dia mengulangi &lt;i&gt;kalimat tauhid&lt;/i&gt; tujuh puluh ribu kali dalam sehari, semua itu tidak akan memberikan manfaat kepadanya sama sekali sampai dia mengkafiri semua sesembahan selain Allah&lt;i&gt; 'Azza wa Jalla&lt;/i&gt;. Berikut dalil-dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Firman Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(QS. An-Nahl: 36)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak jelas dari ayat ini bahwa Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; telah mengutus para rasul dengan dua misi:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Beriman kepada Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; saja dan beribadah kepada-Nya dengan apa yang Dia &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; syari'atkan melalui lisan para rasul.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Kafir terhadap&lt;i&gt; thaghut&lt;/i&gt; dan menjauhinya. Semua yang disembah selain Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; adalah &lt;i&gt;thaghut&lt;/i&gt;. Nama 'Thaghut' berasal dari kata &lt;i&gt;tughyan&lt;/i&gt; (yang artinya melampaui batas): Kewajiban setiap makhluk adalah menjadi hamba Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; . Jika yang mereka sembah adalah thaghut -bukan Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; – berarti mereka telah memberikan suatu kedudukan yang melampaui batas haknya kepadanya, oleh sebab itu ia dinamakan &lt;i&gt;thaghut&lt;/i&gt; dan berhala, sama halnya yang disembah itu malaikat yang dekat kepada Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, nabi, rasul, wali, setan, manusia, jin, pohon, batu, patung ukiran atau bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang menyembah Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; sementara tidak kufur kepada &lt;i&gt;thaghut&lt;/i&gt;, maka tidak sah dan tidak diterima ibadahnya sampai dia mengkafiri sesembahan selain Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; itu.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;[2] Perintah beribadah datang dalam Al-Quran terkadang diiringi dengan larangan terhadap syirik, sebagaimana firman Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun,"&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(QS. An-Nisa': 36)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Ibadah yang diperintahkan ialah ibadah yani mempersekutukan Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang juga diiringi dengan kata yang menunjukkan pembatasan (misalnya: &lt;strong&gt;hanya&lt;/strong&gt;); yang bermakna: pembatasan bahwa ibadah hanyalah untuk Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; tidak selain-Nya, Sebagaimana firman Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain hanya Dia. Itulah agama yang lurus."&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; (QS. Yusuf: 40)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firman Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;”Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." &lt;/i&gt;&lt;strong&gt;(QS. Al-Fatihah: 5)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang diiringi dengan keadaan yang menunjukkan kejernihan ibadah dari kotoran-kotoran syirik, sebagaimana firman Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Maka serulah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(QS. Ghafir: 14)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Dalam keadaan kalian memurnikan doa untuk-Nya.&lt;br /&gt;Allah ‘&lt;i&gt;Azza wa Jalla&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku". Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(QS. Az-Zumar: 14-15)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada perintah ibadah secara mutlak dalam ayat-ayat lain (berupa perintah beribadah saja tanpa disertai larangan syirik, pent.), maka perintah itu menjadi terikat (dengan larangan syirik yang ditetapkan oleh ayat-ayat lain, pent.) sebagaimana yang telah ditetapkan dalam ilmu &lt;i&gt;ushul&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat kita ambil faedah dari sini bahwa ibadah apa saja yang dicampuri kesyirikan, maka ibadah itu akan dilemparkan kembali kepada pelakunya dan tidak diterima sama sekali. Hal ini juga ditunjukkan oleh hadits qudsi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; mengabarkan hadits &lt;i&gt;qudsi&lt;/i&gt; ini dari Rabb-nya ‘&lt;i&gt;Azza wa Jalla&lt;/i&gt;: &lt;i&gt;"Sayalah yang paling tidak butuh kepada serikat, siapa saja yang beramal dengan suatu amalan dimana dia mempersekutukan-Ku dengan selain-Ku dalam amalan itu, maka Saya meninggalkannya dengan sekutunya itu." &lt;/i&gt;&lt;strong&gt;82)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Sesungguhnya Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; telah menyebutkan sifat kelemahan dan ketidaksanggupan mendatangkan manfaat sembahan-sembahan itu bagi orang-orang yang memujanya, Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak memberi manfaat kepada mereka dan tidak (pula) memberi mudharat kepada mereka."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(QS. Al-Furqan: 55)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman-Nya menyebutkan ucapan Nabi Ibrahim&lt;i&gt; ‘alaihis sallam&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan."&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; (QS. Al-'Ankabut: 17)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Sesungguhnya Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; telah menyifati semua sesembahan itu bahwa mereka tidak akan sanggup menciptakan makhluk yang paling lemah dan kecil sekalipun semua sesembahan itu bersatu, Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(QS. Al-Hajj: 73)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Sesungguhnya semua&lt;i&gt; ilah-ilah&lt;/i&gt; buatan itu makhluk juga, sedangkan makhluk yang asalnya tidak ada lalu dibuat ada tidaklah benar untuk menjadi &lt;i&gt;ilah&lt;/i&gt;, Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkmi mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sestialu kemanfa'atanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan."&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; (QS. Al-Furqan: 3)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; telah mengabarkan bahwa semua sesembahan itu beserta para penyembahnya akan masuk neraka sebagai bahan bakarnya, yakni sesembahan yang ridho dirinya disombah menyaingl Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;. Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya."&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; (QS. Al-Anbiya': 98-99)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; memastikan kelemahan dan kefakiran seruan-seruan selain-Nya, Dia &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Katakanlah: "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langil dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya"."&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; (QS. Saba': 22)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula tatkala Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; mengingatkan kenikmatan-Nya kepada para hamba dengan menyebutkan sebagian nikmal-nikmat-Nya, maka Dia&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; memulai firman-Nya dengan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani….”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di Hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui."&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; (QS. Fathir: 11-14)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Dia &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu), Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(QS. Fathir: 15-17)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bukankah para penghuni kubur yang didatangi secara berbondong-bondong oleh para penganut faham sufi yang suci (?!) dan diberikan padanya kekuasaan alam semesta termasuk golongan sesembahan saingan yang dikabarkan oleh Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; bahwa ia hanya memiliki kelemahan, ketidakkuasaan dan tidak mampu memberikan apa yang diminta kepadanya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian wahai para penyeru penghuni kubur, orang-orang yang mendukung dan menyangka bahwa itu bukanlah kemungkaran, kalau kalian menjawab: "Ya". Maka inilah yang benar, engkau telah terkalahkan, wajib atasmu sebagai konsekwensinya untuk tunduk kepada kebenaran dan kembali kepadanya, lalu kalian tinggalkan peribadatan selain Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dan mengingkari syirik penyembahan berhala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kalau kalian menjawab: Kami tidak menyeru berhala, namun yang kami seru hanyalah para wali yang difirmankan Allah ‘&lt;i&gt;Azza wa Jalla&lt;/i&gt; tentang mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(QS. Yunus: 62)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bantahannya:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]  Sesungguhnya kata sambung &lt;i&gt;"Alladzina&lt;/i&gt; (orang-orang)" termasuk kata umum, sehingga mencakup semua yang diseru dan disembah selain Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, berupa; malaikat, nabi, wali, pohon, batu, patung, berhala dan selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Jika kalian mengatakan bahwa para wali itu terkecualikan dari ini, maka datangkanlah bukti kalau kalian memang orang orang yang benar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Apabila Allah ‘&lt;i&gt;Azza wa Jalla&lt;/i&gt; telah berfirman kepada Nabi-Nya, hamba-Nya yang paling utama, yang paling dekat hubungannya dan yang paling agung kedudukannya di sisi-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(QS. Al-A'raf: 188)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tentu selain Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; lebih pantas demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Terakhir:&lt;/strong&gt; Siapa saja yang menyeru selain Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dan siapapun seruan itu, apakah ia: wali, nabi, malaikat, manusia, jin, patung berhala dan selainnya, maka dia telah mempersekutukan Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dengan kesyirikan akbar yang mengeluarkannya dari Islam, juga dia telah menentang ayat-ayat yang telah kami sebutkan sebelum ini, sekalipun dia mengucapkan &lt;i&gt;Laa ilaaha illallaah&lt;/i&gt;, shalat, puasa dan menyangka dirinya seorang muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian ini juga disebutkan di dalam Sunnah pada Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;, ia berkata: Pernah suatu hari Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; hadir bersama orang-orang, lalu Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; didatangi oleh seorang laki-laki seraya berkata: Wahai Rasulullah! Apakah iman itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menjawab: Engkau beriman pada Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, hari bertemu dengan-Nya, para rasul-Nya, serta engkau beriman pada kebangkitan akherat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berkata: Wahai Rasulullah! Apakah Islam itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menjawab: Engkau menyembah Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan engkau mendirikan shalat wajib. (Hadits) &lt;strong&gt;83)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; telah menyifatkan Islam dalam sabda Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bahwa "Engkau menyembah Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun", maka nampaklah bahwa ibadah itu tidak menjadi ibadah kecuali jika ia bersih dari kesyirikan sebagaimana dalam hadits qudsi yang lalu: &lt;i&gt;"Sayalah yang paling tidak butuh kepada serikat, siapa saja yang beramal dengan suatu amalan dimana dia mempersekutukan-Ku dengan selain-Ku dalam amalan itu, maka Saya meninggalkannya dengan sekutunya itu."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam Sunnah banyak hadits semisal ini yang memberi batasan tentang ibadah. Di antaranya hadits riwayat MusIim dari Abi Ayyub &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt; bahwa seorang Arab Badu'i menghentikan Nabiyullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; ketika Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; sedang berpergian. Si Badui mengambil tali kekang unta Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; lalu berkata: "Wahai Rasulullah! (atau Wahai Muhammad!) Beritahukanlah kepada saya perkara apa yang dapat mendekatkanku kepada surga dan menjauhkanku dari neraka". Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; berhenti lalu melihat kepada para shahabat Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; seraya bersabda: "Dia telah mendapatkan taufik (atau Dia telah mendapat hidayah)". Si Badui kembali bertanya, "Bagaimana jawabanmu?" Maka Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda: "Engkau menyembah Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; tanpa mempersekutukannya dengan apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyambung tali silaturahmi serta lepaskanlah unta ini!" &lt;strong&gt;84)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam &lt;i&gt;Shahih&lt;/i&gt; Muslim dari hadits Ibnu Umar &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/i&gt; secara &lt;i&gt;marfu’&lt;/i&gt;: "Islam didirikan di atas lima sendi: Mentauhidkan Allah……….(Al-Hadits pada bab rukun Islam dan Tiangnya, dari kitab &lt;i&gt;Iman&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam&lt;i&gt; Shahih&lt;/i&gt; Muslim juga, bab Perintah untuk memerangi manusia sehingga mereka mengatakan &lt;i&gt;Laa ilaha illallah&lt;/i&gt;, mendirikan shalat, menunaikan zakat, mengimani semua yang dibawa oleh Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, memerangi siapa saja yang tidak mau mengeluarkan zakatnya dan kewajiban-kewajiban lain yang ditetapkan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam hadits Abu Malik dari ayahnya yang berkata: Saya telah mendengarkan Rasulullah&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda: "Siapa saja yang mengucapkan &lt;i&gt;Laa ilaha illallah&lt;/i&gt; dan berlepas diri dari semua sesembahan selain Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, maka diharamkan harta dan darahnya, sedangkan perhitungannya di sisi Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;."&lt;strong&gt; 85)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampak jelas dari semua yang kami paparkan bahwa siapa yang mengucapkan kalimat tauhid dengan lisannya namun dia membatalkannya. dengan perbuatan, seperti menyeru makhluk dan meyakini ada kekuasaan pada diri mereka untuk mendatangkan hajat dan menolak keburukan dalam urusan yang tidak disanggupi kecuali oleh Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, maka ucapan lisannya (dengan kalimat &lt;i&gt;Laa ilaha illallah&lt;/i&gt;) itu tidak memberikan manfaat baginya baik di dunia maupun di akherat, sehingga tidak memelihara darahnya di dunia, tidak menyelamatkannya dari neraka dan tidak akan memasukkannya ke surga di akherat. Kebenaran telah nampak jelas bagi yang merindukan kebenaran, namun taufik hanya dari Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_______________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;78)&lt;/strong&gt; Hasan Al-Banna. Disebutkan dalam buku &lt;i&gt;An-Nuqath Fauqal Huruf&lt;/i&gt; tulisan Ahmad Adil Kamal, halaman 81-83: ((Ustadz Hasan Al-Banna dilahirkan di kampung Al-Mahmudiyah Mudiriyah Al-Buhairah Mesir tahun 1904 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menimba ilmu pertama kali di sekolah kampungnya pada tingkat I'dadi (Tsanawiyah) Al-Mahmudiyah lalu Madrasah Mu'allimin Damanhur kemudian Darul Ulum Cairo. Dia teristimewakan dalam setiap tingkatan ini, dimana selalu menduduki rangking pertama sehingga menjadi kebanggaan dan perhatian guru-gurunya. Tadinya disangka dia akan dikirim oleh Kementrian Pendidikan ke Inggris atau Prancis seperti biasa dilakukan terhadap para utusan peringkat pertama alumnus diploma Darul Ulum, namun pada kondisi tertentu pihak Kementrian tidak melakukan kebiasaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz telah menyelesaikan Diploma Darul Ulum selagi umurnya belum mencapai 21 tahun. Terangkat menjadi guru di Madrasah Al-lsma'iliyyah Al-Amiriyyah sebagai tingkatan keenam, dia resmi menerima pekerjaan itu pada tanggal 20 September 1927 M, setelah itu meneruskan menjadi guru di Madrasah Ibtida'iyah selama 19 tahun. Dia mendapatkan derajat kelima, tidaklah dia mendapatkan hal itu melainkan sebab keputusan hukum untuk para pegawai yang berumur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bulan Mei 1946 ustadz mengundurkan diri dari pekerjaannya di Kementerian Pendidikan sebab pendirian koran harian &lt;i&gt;Ikhwanul Muslimin&lt;/i&gt;. Selesai penukilan dengan saduran.))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan: Hasan Al-Banna telah tumbuh berkembang sejak awalnya dengan pemahaman &lt;i&gt;Shufiyyah&lt;/i&gt;, Al-Banna sendiri telah menyebutkan hal tersebut dalam bukunya &lt;i&gt;Mudzakkirat ad-Da'wah wad-Da'iyah&lt;/i&gt;, dengan perasaan bangga, ia katakan di halaman 27: ((Saya berteman dengan Al-lkhwan Al-Hashafiyyah di Damanhur dan saya senantiasa berada di tengah-tengah Masjid Taubah setiap malam…… (lalu dia katakan:) Hadir Sayyid Abdul Wahhab yang memberikan ijazah dalam &lt;i&gt;thariqah&lt;/i&gt; Al-Hashafiyyah Asy-Syadziliyyah, serta saya telah menerima &lt;i&gt;thariqah&lt;/i&gt; Al-Hashafiyyah Asy-Syadziliyah darinya dan dia memberitahukanku tempat-tempat dan aktivitas thariqahnya.))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabir Rezqi berkata dalam bukunya &lt;i&gt;Hasan Al-Banna biaqlami Talamidzatihi wa Mu'ashirihi&lt;/i&gt;, halaman 8: ((Di Damanhur hubungan (Hasan Al-Banna) dengan Al-Hashafiyyah dan dia tertarik menerima&lt;i&gt; thariqah&lt;/i&gt; itu, sehingga dia berpindah dari tingkatan pecinta kepada penglkut yang dibai'at, bahkan ikut serta mendirikan perkumpulan Shufiyyah Hashafiyyah, sebagaimana dia sebutkan dalam &lt;i&gt;Mudzakkirat&lt;/i&gt;-nya halaman 28.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia katakan: Lalu di tengah-tengah perjalanan ini timbul ide bagi kami untuk membuat lembaga perkumpulan kebajikan yaitu Perkumpulan Al-Hashafiyyah Al Khairiyyah dan saya terpilih sebagai sekertaris di dalamnya….. Kemudian saya mengganti perjuangan Ini dengan Perkumpulan Ikhwanul Muslimin sesudah Itu.))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan: Gembiralah jama'ah atau perkumpulan Ikhwanul Muslimin sebab pertaliannya dan &lt;i&gt;intima'-&lt;/i&gt;nya kepada Shufiyyah dengan tenggelamnya sang pendiri ke dalam tasawuf, juga karena Ikhwanul Muslimin menggantikan perkumpulan Shufiyyah Hashafiyyah untuk menempati perannya dan menunaikan tujuannya!?? Allah....Allah....wahai generasi tauhid, janganlah engkau menyiakan akidah tauhidmu jangan pula engkau merusaknya! Bacalah Al-Quran dan lihat kandungannya yang berbicara tentang syirik dan kaum musyrikin dengan peringatan dan ancaman. Bacalah satu ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah."&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; (QS. Al-Jin: 18)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi."&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(QS. Az-Zumar: 65)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah Sunnah dan sirah Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dalam berdakwah, agar kalian dapat melihat bagaimana Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menyeru untuk membuang berhala baik berupa makhluk hidup ataupun benda mati sehingga mentauhidkan Raja Di Raja&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bacalah tentang &lt;i&gt;Shufiyyah&lt;/i&gt; agar kalian dapat melihat ajarannya yang berisi kemusyrikan besar dan mempertuhankan syaikhnya, bahkan agar dapat kalian lihat ajakan yang nyata menuju &lt;i&gt;wihdatul wujud&lt;/i&gt; dan meyakini ajaran ini. Ketahuilah bahwa syirik dan bid'ah adalah perkara yang menjadi tabiat pengikut tasawuf seluruhnya, tidak ada yang selamat darinya termasuk Hasan Al-Banna dan selainnya. Apabila engkau masih ragu tentang perbuatan syirik dan bid'ah yang mereka lakukan, maka bacalah kabar berikut. Namun jika kalian meragukan keabsahannya, maka bukalah buku-buku yang disebutkannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabir Rizqi menukil dari buku &lt;i&gt;Hasan Al-Banna bi Aqlami Talamidzatihi wa Mu'ashirihi&lt;/i&gt; halaman 70-71 dari majalah &lt;i&gt;Ad-Da'wah &lt;/i&gt;Februari 1951 M, kalimat 'Abdurrahman Al-Banna tentang saudaranya Hasan Al-Banna, di sana ia menyatakan: "Sesudah shalat Isya' saudaraku duduk menghadap orang-orang yang berdzikir dari kalangan Al-lkhwanul Hashafiyah, sementara hatinya diterangi dengan cahaya Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;. Sayapun duduk di sampingnya, kami berdzikir kepada Allah&lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; bersama orang-orang yang berdzikir, tidak ada di masjid itu kecuill orang yang berdzikir saja, suara-suara yang terdiam, serta sekedar cahaya pelita Malam menjadi hening kecuali bisikan doa atau kilatan cahaya, seluruh tempat itu diliputi dengan cahaya langit, diselimuti kemuliaan Rabb &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, meleleh seluruh jasmani, terbang arwah, lenyap segala sesuatu yang ada dalam wujud, hilang dan terlepas sebab suara seruan yang sangat manis dan mendendang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;'Allah', Katakanlah!&lt;br /&gt;Tinggalkanlah semua yang wujud&lt;br /&gt;kalau engkau hendak menggapai kesempurnaanku&lt;br /&gt;Semua yang selain Allah kalau engkau teliti&lt;br /&gt;Tidak ada dalam rincian maupun global&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan: Kedua bait ini menyiramkan faham &lt;i&gt;wihdatul wujud&lt;/i&gt; disertai dengan bid'ah-bid'ah dzikir &lt;i&gt;shufi&lt;/i&gt;, sebelumnya juga ucapan saudaranya "lenyap segala sesuatu yang ada dalam wujud... hilang", ini adalah kalimat para penganut &lt;i&gt;wihdatul wujud&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga menukilkan dari sumberyang telah disebutkan, halaman 70-71 dari Abdurrahman Al-Banna, ucapannya: Hal tersebut bahwa tatkala terbit hilal Rabi'ul Awwal, saat itu kami sedang berjalan dalam arak-arakan sore setiap malam hingga malam kedua belas, kami melantunkan qasidah puji-pujian untuk Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;. Di antara qasidahnya yang masyhur dalam acara yang berberkah ini(?):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ilah telah bershalawat kepada Nur yang telah tampak&lt;br /&gt;bagi semesta, lalu dia melebihi matahari dan rembulan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bait berikut ini didengung-dengungkan oleh sekelompok orang, saudaraku melantunkannya dan saya ikut melantunkan bersamanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Inilah kekasih telah hadir bersama para tercinta&lt;br /&gt;Dia memaafkan bagi semuanya akan apa yang telah lalu&lt;br /&gt;Dia telah menggilirkan khamarnya untuk para perindu&lt;br /&gt;Sebagai pemberian, hampir-hampir cahayanya menghilangkan pandangan&lt;br /&gt;Hal kebahagiaan ulangkanlah untuk kami penyebutan Sang kekasih&lt;br /&gt;Engkau telah mencerai-beraikan pendengaran kami wahai penghibur kesusahan&lt;br /&gt;Dan tidaklah kafilah pembela teracung pedangnya&lt;br /&gt;Melainkan tidak diragukan bahwa kekasih kaum telah hadir&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;(Melalui kitab Da'wah Al-lkhwan fi Mizanil Islam, halaman 62-63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan: Dalam bait-bait ini serta bait-bait sebelumnya ada beberapa bid'ah:&lt;br /&gt;[1] Bid'ahnya perayaan Maulid&lt;br /&gt;[2] Bid'ahnya melantunkan pujian dengan suara berjama'ah.&lt;br /&gt;[3] Sangkaan bathil kaum Shufi bahwa Nabi&lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menghadiri perayaan-perayaan mereka yang bid'ah, ini adalah kedustaan terhadap Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah&lt;i&gt; ’Azza wa Jalla,&lt;/i&gt; membalas siapa yang membuat cerita palsu itu dan yang membenarkannya dengan sesuatu yang pantas baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situ juga ada bencana dan musibah maha dahsyat yaitu menyandarkan hak pengampunan dosa kepada Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, dalam qasidahnya "Dia memaafkan semua yang telah lalu". Ini adalah syirik akbar yang menyebabkan kekal dalam neraka, Allah &lt;i&gt;’Azza wa Jalla&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah?"&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; (QS. Ali Imran; 138)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits qudsi dinyatakan: &lt;i&gt;"Hamba-Ku mengetahui kalau dirinya mempunyai Rabb yang mengampunkan dosa dan menyiksa sebabnya"&lt;/i&gt;. Al-Banna mati terbunuh secara tertipu pada tahun 1949 M,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;79)&lt;/strong&gt;&lt;i&gt; Qafilah Al-Ikhwan Al-Muslimun&lt;/i&gt; I/192&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;80)&lt;/strong&gt; &lt;i&gt;Nazharat fi Risalatit Ta'lim&lt;/i&gt;, karya Muhammad Abdullah Al-Khatib dan Muhammad Abdul Halim Hamid, halaman 80.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;81)&lt;/strong&gt; Riwayat pertama oleh Muslim pada kitab &lt;i&gt;Salam&lt;/i&gt;, bab Haramnya Perdukunan dan Mendatangi Dukun.  Riwayat kedua dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam &lt;i&gt;Al-Musnad&lt;/i&gt; 11/429. Hadits ini rijalnya semua &lt;i&gt;tsiqah&lt;/i&gt; mempunyal periwayatan dalam &lt;i&gt;Shahihain&lt;/i&gt; dikeluarkan oleh Al-Bukhari V/53 dan Muslim pada kitab  &lt;i&gt;Iman &lt;/i&gt;nomor 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;82)&lt;/strong&gt; Dikeluarkan oleh Imam Muslim IV/2289 dari hadits Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;. Dalam riwayat lain oleh Ibnu Majah (4255): &lt;i&gt;"Maka Saya berlepas Diri, serta amalan itu untuk sekutunya"&lt;/i&gt;, sanadnya hasan, Al-Mundziri berkata dalam &lt;i&gt;At-Targhib&lt;/i&gt; I/69. "Seluruh para perawinya&lt;i&gt; tsiqah&lt;/i&gt;", dishahihkan oleh Al-Bushairi dalam &lt;i&gt;Az-Zawaid&lt;/i&gt; III/295 dan Al-Iraqi dalam &lt;i&gt;Takhrijul Ihya’&lt;/i&gt; III/294 (Syaikh Muhammad bin Hadi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;83)&lt;/strong&gt; Dikeluarkan oleh Muslim pada kitab &lt;i&gt;Iman&lt;/i&gt;, nomor 9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;84)&lt;/strong&gt; Dikeluarkan oleh Muslim, bab Iman yang Memasukkan ke Surga, nomor hadits 13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;85)&lt;/strong&gt; Dikeluarkan oleh Muslim, bab Rukun Islam dan Tiang Terbesarnya, nomor hadits 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari : &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Al Mauridu Al'Adzbi Az-Zalaal Fiima Untuqida 'Alaa Ba'dli Al-Manahij Ad-Da'awiyah Min Al-'Aqaaid wa Al-A'mal&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Penulis: &lt;strong&gt;Syaikh &lt;i&gt;Al-Allamah&lt;/i&gt; Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Resensi dan Pujian: &lt;strong&gt;Shahibul Fadhilah Asy-Syaikh &lt;i&gt;Al-'Allamah&lt;/i&gt; Shalih bin Fauzan Al Fauzan &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt; - Fadhilatusy Syaikh Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali &lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;; Edisi Indonesia: &lt;i&gt;&lt;strong&gt;Mengenal Tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;; Halaman: 188-205; Penerjemah: Muhammad Fuad Qawam, Lc.; Cetakan Pertama: Sya'ban 1426 H/ September 2005M; Penerbit: Cahaya Tauhid Press, Malang]&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3740785229719827223-6085727579857300741?l=hizb-ikhwani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/feeds/6085727579857300741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3740785229719827223&amp;postID=6085727579857300741' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/6085727579857300741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3740785229719827223/posts/default/6085727579857300741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hizb-ikhwani.blogspot.com/2008/04/aib-pertama-meremehkan-tauhid-ibadah.html' title='Penyimpangan Pertama: Meremehkan tauhid ibadah dan tidak menjadikannya sebagai asas berpijak'/><author><name>Abdullah al-Atsary</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><
