Sekilas tentang Penerbit Pustaka Al-Kautsar

1. Pustaka Al- Kautsar dan Paham Kelompok/ Aliran Ikhwanul Muslimin (IM)

Kepada para pembaca yang budiman, kami ingin mencoba memberikan sekelumit catatan penting tentang penerbit Pustaka Al-Kautsar. Sebab penerbit ini punya andil yang cukup besar dalam menyebarkan paham-paham yang menyimpang dari bimbingan Al-Qur'an dan As-Sunnah berdasarkan paham as-salafush shalih melalui buku-buku terjemah atau karya tulis yang mereka terbitkan dan mereka sebarkan di tengah-tengah umat, tanpa memilah dan menyeleksi jenis penerjemah dan penulis yang beragam dan berpola pikir bertentangan dengan manhaj as-salafush shalih. Dari sana dapat diketahui pula bahwa penerbit Pustaka Al-Kautsar adalah penerbit yang condong kepada paham kelompok aliran sempalan IM, walaupun secara struktur mungkin saja tidak terkait.

Beberapa catatan penting, yang menunjukkan bahwa Penerbit Pustaka Al-Kautsar adalah pengusung paham kelompok aliran IM antara lain:
  1. Penerbit Pustaka Al-Kautsar banyak menerbitkan buku-buku DR. Yusuf Al-Qaradhawi, salah satu tokoh besar kelompok IM. Dalam buku-buku karyanya tidak sedikit didapati penyimpangan manhaj dan aqidah, serta upaya yang sangat keras dalam menanamkan paham kelompok IM.

    Begitu pula dalam Pengantar Penerbit-nya untuk buku Kumpulan Ceramah Pilihan Syaikh Al-Qaradhawi - buku ini juga tidak lepas dari adanya unsur kesesatan 1) -, Pustaka Al-Kautsar memberikan pujian terhadap buku yang dia terbitkan ini dan memposisikannya sebagai bekal dalam menyukseskan misi da'wah. Pada halaman halaman IX buku tersebut, Pustaka Al-Kautsar berkata:

    "Buku yang ada di tangan Anda ini merupakan karya yang sangat berharga dari Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi, sebagai bekal dalam menyukseskan misi dakwah Anda; baik dalam mengisi pengajian-pengajian yang bernuansa agama, atau diskusi-diskusi ilmiah dan kajian-kajian lainnya. Penulis adalah seorang orator ulung dan dai terkemuka yang sangat produktif dan penuh dedikasi. Beliau termasuk pemikir masa kini yang beberapa karyanya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa di dunia ..."

    - sekian penukilan-

    Kami tidak tahu secara persis, apakah pujian Pustaka Al-Kautsar terhadap Al-Qaradhawi dan buku-bukunya tersebut bersumber dari keyakinannya atas kebenaran paham yang dianut oleh Al-Qaradhawi, ataukah hanya dalam rangka mempromosikan buku tersebut agar laris terjual, demi mencapai target-target bisnis yang dicanangkannya. Allah sajalah yang lebih tahu. Tetapi ucapan atau pujian tersebut telah disampaikan dan dibaca oleh khalayak, sehingga dengan itu para konsumen buku-buku Pustaka Al-Kautsar yang mayoritas awam dalam hal manhaj dan liku-liku paham sesat akan memahami bahwa paham kelompok sempalan IM yang dijajakan oleh Pustaka Al-Kautsar dan segenap penerjemah atau penulis yang terkait dengannya, adalah benar dan patut untuk diikuti. Oleh karena itu terpaksa kami harus bangkit untuk menjelaskan hakekat permasalahan yang sebenarnya.

  2. Di antara bukti yang menunjukkan bahwa Pustaka Al-Kautsar adalah penerbit yang menganut paham kelompok aliran IM sekaligus membelanya dengan penuh semangat 'ashabiyyah adalah diterbitkannya sebuah buku khusus mengupas tentang kelompok aliran IM yang ditulis oleh DR. Mahmud Jami', dengan judul Indonesia: "Ikhwanul Muslimin yang Saya Kenal".

  3. Tidak sekadar menerbitkan, bahkan Pustaka Al-Kautsar memuji dan menyanjung kelompok IM dan tokoh-tokohnya. Di antara contohnya adalah pernyataan Pustaka Al-Kautsar dalam Pengantar Penerbit terhadap buku lkhwanul Muslimin yang Saya Kenal. Pada halaman ix berkata:
    "Hasan Al-Banna dan kawan-kawan yang bergabung dalam gerbong lkhwanul Muslimin (IM), betapa sangat menyadari akan hal itu, mereka laksana primadona dan lokomotif dari setiap pergerakan IM, mereka adalah pelanjut estafet senior mereka yang telah lebih dulu kembali menghadap ke haribaan sang kekasih, ..."

    dan pada halaman x mengatakan:
    "..., para tokoh IM dan pengikutnya yang menjadi bintang terang dalam berbagai bidang, serta paradok-paradok seputar IM."

  4. Bukti berikutnya, sikap Pustaka Al-Kautsar yang menganggap semua madzhab, kelompok, dan sebagainya memiliki sandaran dan rujukan yang sama. Hal ini sebagaimana pernyataannya pada pengantarnya terhadap buku STSK halaman xiii:
    "Bagaimanapun masyarakat pembaca harus diberi pengkayaan dengan banyak membaca, tidak peduli dia madzhabnya apa, kelompok mana dan sebagainya. Karena toh kita punya sandaran dan rujukan yang sama, Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam."
    [cetak tebal dari kami]

    Sebenarnya prinsip seperti ini adalah prinsip warisan dari kelompok aliran IM, yaitu:
    "Kita bekerja sama dalam perkara yang kita sepakati, dan saling mentolerir dalam perkara yang kita perselisihkan.”

    Lebih kongkretnya, adalah ucapan Hasan Al-Banna pendiri sekaligus Al-Mursyidul 'Am pertama kelompok IM, ketika memberikan pengarahan kepada 'Umar At-Tilmisani (yang kemudian menjadi Al-Mursyidul 'Am ketiga kelompok sempalan ini) sebagaimana dituturkan oleh 'Umar At-Tilmisani sendiri, bahwa:
    "Pada suatu hari kami bertanya kepada beliau (Hasan Al-Banna) tentang sejauh mana perselisihan antara ahlus sunnah dengan syi'ah. Maka beliau melarang kami untuk masuk ke dalam permasalahan yang rumit seperti ini, yang tidak pantas bagi kaum muslimin untuk menyibukkan dirinya dalam perkara tersebut ....

    ... dan beliau (Hasan Al-Banna) radhiyallahu ’anhu berkata: "Ketahuilah bahwa Ahlus Sunnah dan Syi'ah keduanya sama-sama muslimin. Yang menyatukan mereka adalah kalimat Lailaha Illallah wa Anna Muhammadar Rasulullah, dan ini adalah pokok aqidah. Sunnah dan Syi'ah dalam perkara ini sama, dan sama-sama di atas kecemerlangan. Sementara perbedaan yang terjadi di antara keduanya adalah perbedaan dalam perkara-perkara yang memungkinkan untuk dipersatukan di antara keduanya.

    Kaum Syi’ah adalah suatu kelompok yang pendekatannya menyerupai madzhab yang empat di kalangan ahlus sunnah... dan di sana ada beberapa perbedaan yang masih memungkinkan untuk dihilangkan. Seperti adanya nikah mut'ah dan berbilangnya isteri (poligami) bagi seorang muslim. Yang itu ada pada sebagian kelompok mereka, betapa miripnya hal tersebut yang tidak mengharuskan bagi kita untuk menjadikannya sebagai sebab pemutusan hubungan antara ahlus sunnah dan Syi’ah. Kedua madzhab ini (Ahlus Sunnah dan Syi'ah) telah saling bekerja sama sejak ratusan tahun tanpa adanya gesekan di antara keduanya kecuali dalam karya-karya. Dan perlu diketahui bahwa para imam mereka (syi'ah) telah meninggalkan karya-karya Islam yang berharga, yang senantiasa perpustakaan-perpustakaan (toko-toko buku) terus menyuarakannya." 2)

    Itulah sikap Hasan Al-Banna terhadap kelompok-kelompok dan paham-paham sesat. Bahkan setingkat Syi’ah pun, dia masih menganggapnya serupa dengan madzhab yang empat di kalangan Ahlus Sunnah yang tidak mengharuskan adanya pemutusan hubungan antara sunnah dan syi' ah. Bahkan dipuji olehnya, bahwa para imam syi'ah telah meninggalkan karya-karya Islam yang berharga, yang senantiasa perpustakaan-perpustakaan (toko-toko buku) terus menyuarakannya. Pembahasan selengkapnya beserta dengan bukti-buktinya tentang paham Hasan Al-Banna dan kelompok IM, akan dibahas Insya Allah Pada jilid kedua buku bantahan ini.

    ltulah beberapa bentuk paham IM yang cukup mewarnai cara bersikap Pustaka Al-Kautsar, yang tertuang dalam ucapannya sebagaimana kami nukil di atas.
Kami yakin Insya Allah, jika Pustaka Al-Kautsar --terkhusus saudara Direktur, Bapak Tohir Bawazir- mau sedikit meluangkan waktunya untuk belajar Al-Qur' an dan As-Sunnah sesuai dengan jejak generasi as-salafush shalih tentu dia tidak akan menyatakan ucapan seperti di atas. Dia akan selalu lebih mengedepankan sikap-sikap ilmiah di bawah bimbingan manhaj yang benar dibanding target-target duniawi yang dia canangkan. Dengannya pula Insya Allah dia akan selamat dari berbagai macam paham sesat yang dibawa dan disalurkan oleh kelompok IM, terkhusus melalui salah satu pembelanya, yaitu saudara Abduh ZA, dan Allah jauhkan dari kungkungan hawa nafsu. Dengan belajar dan tafaqquh fiddin dia akan meraih keutamaan yang telah Allah janjikan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:

"Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, niscaya akan Allah faqihkan dia dalam masalah agamanya." [Muttafaqun 'alaihi]3)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga menegaskan:
"Menuntut ilmu (agama) itu wajib atas setiap muslim." [HR. Ibnu Majah) 4).

Jika ternyata Pustaka Al-Kautsar mengatakan bahwa "Kami sudah belajar" atau "Kami sudah mengerti manhaj dan aqidah" atau jawaban-jawaban semisal ini, maka kami bertanya kepada Penerbit Pustaka Al-Kautsar:

Apakah kelompok Syi'ah Rafidhah yang mencaci maki para shahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, menuduh Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha berzina, meyakini bahwa pernyataan-pernyataan para imam mereka setara dengan Al-Qur' an, dan bahwa para imam mereka yang dua belas mengetahui segala sesuatu, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi, termasuk kapan mereka akan mati, bahkan tidaklah mereka mati kecuali dengan kehendak mereka, dan, ... dan, .. .dan seterusnya dari berbagai bentuk bid' ah bahkan syirik akbar yang terdapat pada aliran agama Syi' ah, masih bisa dikatakan bahwa mereka . semua memiliki sandaran dan rujukan yang sama dengan kita? 5) Atau bagaimana penilaian anda terhadap ucapan Hasan Al-'Banna dalam salah satu nasehatnya yang kami nukilkan di atas? Masihkah anda dengan penuh 'ashabiyyah hizbiyyah (membela kepentingan kelompok secara membabi buta) akan membenarkan ucapan Hasan Al-Banna? Innalillah wa Inna Ilaihi Raji'un.

Apakah kelompok tashawwuf dengan segala bentuk tarekatnya dan berbagai kesesatan yang terkandung di dalamnya, mulai dari tingkat amalan bid' ah hingga yang berbau kesyirikan ... mereka semua memiliki sandaran dan rujukan yang sama dengan kita?

Apakah kelompok LDII dan yang semisalnya juga memiliki sandaran dan rujukan yang sama dengan kita?

Jika jawabannya adalah "Ya", maka tolong sebutkan sandaran dan rujukan apa yang menyatukan kita? Jika sandaran dan rujukannya sama, tidak perlu lagi kita menyatakan LDII sesat lagi menyesatkan. Begitu pula Tashawwuf, jika sandaran dan rujukannya sama kenapa harus dinyatakan sesat? Masih ingatkah kita dengan IAIN, Syi'ah, NII-Ma'had Al-Zaitun? Kenapa mereka semua divonis sesat? Sehingga untuk itu Pustaka Al-Kautsar harus menerbitkan sebuah buku yang berjudul Aliran dan Paham Sesat di Indonesia? Yang membuat tersinggung dan menyakiti hati sebagian kaum muslimin yang tidak setuju dengan isi buku tersebut? Toh mereka semua mengklaim bahwa rujukan mereka sama, yaitu Al-Qur' an dan As-Sunnah.

Sungguh sikap dan pernyataan Pustaka Al-Kautsar di atas benar-benar menunjukkan bahwa Pustaka Al-Kautsar adalah penganut paham IM sekaligus sebagai salah satu corong yang menyuarakan dan menyebarkan paham atau aliran tersebut di Indonesia.

Semoga menjadi bahan renungan dan nasehat bagi para pembaca, terkhusus Pustaka Al-Kautsar, untuk segera kembali ke jalan yang lurus dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di bawah bimbingan manhaj dan aqidah as-salafush shalih, serta dengan segera pula meninggalkan 'ashabiyyah hizbiyyah (membela kepentingan kelompok secara membabi buta) dan ambisi duniawinya. Amin Ya Rabbal ' alamin

Kami berencana, Insya Allah, untuk menulis secara khusus kesesatan-kesesatan yang terkandung dalam buku-buku terbitan Pustaka Al-Kautsar, sebagai bentuk nasehat bagi kaum muslimin secara umum dan Pustaka Al-Kautsar secara khusus.

_________________________________
  1. Sekadar contoh kesesatan yang ada pada buku ini adalah: Pernyataan Yusuf Al-Qaradhawi dalam ceramahnya yang berjudul "Mengapa Berperang dengan Yahudi" (Kumpulan Ceramah Pilihan Syaikh Al-Qaradhawi hal. 369/cet. Pertama, Juli 2006), dia berkata:
    "Beberapa ikhwan ada yang bertanya kepada saya, "Apakah peperangan dengan Yahudi atas nama agama dan akidah?" Saya jawab, "Bukan! Kita tidak berperang dengan Yahudi karena mereka Yahudi. Ini keliru! Orang-orang Yahudi telah hidup berdampingan dengan kita selama berabad-abad. Mereka mendapat jaminan (dzimmah) Allah, Rasulullah, dan jamaah kaum muslimin. Mereka punya harta, kekayaan, jabatan, dan kedekatan dengan para penguasa." ...
    "Yahudi hidup dalam komunitas muslim, dapat ikut menikmati jabatan, kekayaan, harta, dan keamanan. ..."
    Kemudian Al-Qaradhawi juga menyatakan:
    "Jadi, pertikaian antara kita dengan mereka bukan lantaran karena mereka Yahudi. Kalau itu yang melatarbelakanginya, maka kita juga wajib memerangi orang-orang Nasrani karena mereka beragama Nasrani. Kita juga wajib memerangi para penyembah berhala karena mereka menganut paganisme. Peperangan antara kita dengan mereka meletus karena mereka menjajah negeri kita." [Kumpulan Ceramah Pilihan Syaikh Al-Qaradhawi, hal. 369-370]

    Sangat luar biasa, peperangan dengan Yahudi bukan atas nama agama dan aqidah?!? Pernyataan Yusuf Al-Qaradhawi ini merupakan salah satu buah dari paham pendiri sekaligus Al-Mursyidul ’Am pertama kelompok aliran IM Hasan Al-Banna, dalam ucapannya: "Pertentangan kami dengan Yahudi bukanlah masalah agama, karena Al-Qur'an menyuruh kita untuk menggandeng dan berteman dengan kaum Yahudi. ... kami tidak keberatan jika pada hari kiamat nanti mereka (Yahudi) bersama kami." Bahkan Hasan Al-Banna menegaskan tentang sikap kelompok IM terhadap orang-orang Nashrani, yang diistilahkan oleh mereka dengan "orang-orang Qibthi": "Mereka adalah para Ahlul Kitab yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, beriman kepada hari akhir, beribadah untuk-Nya dan mengakui nilai-nilai moral" Allahu Akbar!! Dan masih ada beberapa pernyataan Hasan Al-Banna dan tokoh-tokoh aliran IM lainnya.

    Anehnya, paham sesat ini malah dibela oleh saudara Abduh ZA --dengan semangat 'ashabiyyah dan berbagai dalih yang terlalu dipaksakan--dalam salah satu acara bedah buku STSK yang diadakan di Surabaya. Pembahasan tentang kesesatan-kesesatan Hasan Al-Banna, Yusuf Al-Qaradhawi, dan beberapa tokoh kelompok aliran IM lainnya disertai dengan bukti-buktinya Insya Allah akan kami sajikan secara lengkap beserta bantahannya pada jilid kedua buku bantahan ini.

  2. Dari Kitab Dzikrayat La Mudzakkirat, karya 'Umar At-Tilmisani, hat. 249-250. Lihat Da'watul Ikhwanil Muslimin fi Mizanil Islam, hal. 114-115.

  3. HR. Al-Bukhari 71 & Muslim 1037 dari shahabat Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ’anhuma.

  4. HR. Ibnu Majah no. 224 dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Ibni Majah no.224 dan Shahihul Jami’ish Shaghir no. 3913.

  5. Di sini kami bahasakan dengan "kita" bukan berarti kami rela masuk dalam ruang lingkup "kita" dalam istilah penerbit. Tak lain kami sekadar membahasakan sesuai dengan bahasa penerbit. Kami tegaskan, bahwa kami berlepas diri dari prinsip dan pemyataan penerbit di atas.

[Dari : Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij Bantahan Terhadap Buku: Siapa Teroris? Siapa Khawarij? (Abduh Zulfidar Akaha); Hal: 58-66; Penulis: Luqman Bin Muhammad Ba'abduh, HP. 081559532868; Cetakan Pertama : Rabi'ul Awwal 1428 H/ April 2007 M; Penerbit: Pustaka Qaulan Sadida Perum Villa Bukit Tidar Blok A-1/401 Malang Telp (0342) 7062995 HP. 334995694)

0 komentar: